Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Kenapa Membawa Banyak Baju


__ADS_3

Saat mereka yang di atas motor asyik dengan lamunan masing-masing, tiba-tiba mobil hitam menghadang jalan. Untung Dion mengemudi dengan kecepatan pelan, jadi pria gagah itu bisa mengerem dengan tepat waktu. Dion mengumpat karena terkejut.


Seorang wanita turun dari mobilnya itu dengan wajah serius. Tahu siapa itu, Dion ingin melajukan lagi kendaraannya. Namun wanita itu menghalangi jalan. Dion menetralkan emosinya, masalah ini memang harus segera dituntaskan.


Tanpa disuruh Lily turun setelah melihat siapa yang menghentikan perjalanan mereka. Gadis itu mengerucutkan bibir sesaat. Lalu mengambil langkah hendak pergi dari sana.


Dengan cepat Dion menarik pergelangan tangan Lily yang membuat gadis itu menatap wajah Dion, “kamu tetap di sini dan akan pulang bersamaku,” ujarnya lembut dan menatap dalam manik mata Lily yang sedikit digenangi cairan bening.


“Dion, siapa dia?” tanya Clara dengan tatapan penuh selidik. Pertanyaan itu membuat mereka tersadar.


Lily buang muka. Bagaimanapun, gadis itu masih mengingat jelas akan hal yang membuatnya marah dan cemburu. Gadis penjual bunga itu meronta minta tangannya dilepas, tapi Dion malah menyematkan jari tangan mereka dan menggenggamnya erat.


“Lebih baik kita bicara di sana,” tunjuk Dion pada sebuah bangku taman tanpa menatap Clara. Dion menarik tangan Lily tanpa peduli pada wanita yang berdiri di belakang. Clara mengumpat karena Dion masih tidak acuh padanya hingga detik ini.


“Aku sudah menikah,” ucap Dion kemudian setelah mereka semua duduk. Clara malah tertawa mendengar itu.


“Menikah? Menikah dengan siapa? Dengan dia?” tanya Clara penuh dengan ejekan. Gelak tawanya masih terdengar.


“Benar sekali. Ini istriku.” Mendengar itu, Lily mengangkat wajahnya yang tertunduk sejak tadi untuk melihat wajah di sampingnya. Mencoba membaca wajah itu. Kemudian beralih pada wanita di depan mereka.


Clara langsung terdiam. Menatap pasangan itu bergantian dengan penuh intimidasi, “jangan bercanda, Dion!”


“Sudah aku katakan, aku sudah melupakanmu.”


“Tidak mungkin semudah itu. Kau mencintaiku dengan sungguh-sungguh.” Wanita itu mengibaskan rambutnya dengan elegan.


Dion tersenyum kecut, “itu dulu, sebelum kau mengkhianatiku.”


“Lalu kau menggunakan dia untuk membalasku, begitu?” Clara melirik Lily, “kau ingin membalasku dengan gadis muda ini?”


Dion diam.


“Sayang, aku tahu kau masih marah padaku.” Clara bangkit dari kursinya dan berjalan ke samping Dion, meletakkan tangannya di bahu pria itu, “mari kita lupakan masa lalu dan memulai dari awal.”


“Turunkan tanganmu.” Dion mengeluarkan suara masih tergolong datar tapi dengan penegasan. Ia tidak ingin terlihat buruk di depan Lily dengan suara yang membentak. Namun itu disalahartikan oleh Clara, menganggap Dion sedikit luluh atas perlakuannya. Wanita itu malah mendekatkan bibirnya ke telinga Dion dan berbisik di sana.


Ini sungguh membuat Lily tidak tahan lagi berada di sana. Gadis itu berdiri. Namun jari-jarinya yang masih mengait diantara jari Dion menghentikan niatnya untuk pergi.


“Lepas tanganku.” Lily berusaha melepas tangannya, tapi tangan Dion yang kokoh semakin mempererat genggaman.

__ADS_1


“Lara, aku katakan sekali lagi. Kau hanya bagian dari masa laluku. Dan untuk masa depanku adalah dia. Aku peringatkan lagi, mulai sekarang jangan pernah lagi kau menemui atau menggangguku.” Dion kemudian ikut berdiri.


Seketika hati Lily terasa disirami bunga. Benarkah apa yang diucapkan pria itu?


Dan kemudian Dion menarik tangan Lily untuk pergi dari sana. Belum melangkah jauh Clara berbicara dengan keras, “hei gadis kecil, apakah kau dikontrak oleh Dion untuk menikah dengannya? Berapa imbalan yang diberikannya padamu?”


Dion dan Lily serentak berhenti. Bibir gadis itu bergetar menahan tangis, hatinya terluka mendengar kata-kata yang merendahkannya yang keluar dari mulut berbisa Clara.


Dion cepat-cepat mendekat ke Clara. “Jangan kau samakan dia dengan dirimu yang gila harta. Pacarmu yang kau bilang kaya itu kini sudah bangkrut lalu kau meninggalkannya, bukan begitu?” Clara terperangah sedang Dion tersenyum sinis. “Lain kali jaga ucapanmu. Dia jauh lebih terhormat daripada kau.” Setelah mengatakan itu Dion menghampiri Lily, menghapus lembut air mata gadis itu yang entah kapan sudah berjatuhan.


“Jangan kamu dengarkan apa yang wanita itu katakan. Ayo kita pulang.” Pria itu menarik tangan Lily.


“Dion, tunggu!”


Namun Dion terus membawa Lily menuju motornya.


Aku tidak bisa kehilangan dirimu Dion. Awalnya aku hanya iseng dekat dengan Rio untuk menghibur diri saat kau tidak bisa di sisiku. Tapi aku malah terjebak dengan rayuannya. Kamu benar Dion, aku memang meninggalkannya karena dia bangkrut. Aku tidak sanggup memiliki pacar miskin. Dan ternyata dia juga seorang play boy. Dia mengiming-imingi hartanya kepada banyak wanita. Kau sangat berbeda dengannya. Kau dewasa dan pekerja keras, sedangkan dia bisanya hanya berfoya-foya dengan wanita-wanitanya sampai jatuh bangkrut. Aku menyesal telah meninggalkan permata seindah dirimu. Aku akan mendapatkanmu lagi bagaimanapun caranya.


***


Lily malu-malu memegangi jaket denim Dion dari belakang sampai membuat pria itu tersenyum. Sama seperti dirinya yang memiliki pacar dimasa lalu, ia juga harus maklum dengan masa lalu Dion. Tidak mungkin tidak ada wanita yang jatuh hati dengan pria yang nyaris sempurna ini. Sepanjang jalan gadis itu memikirkannya sampai mereka tiba di rumah.


“Kita sudah sampai.”


“Ada yang ingin kau katakan atau tanyakan?”


Lily mengerutkan kening, memangnya dia harus berbicara apa. Gadis itu hanya menggeleng sebagai jawaban.


“Serius?”


“Memang apa yang harus aku katakan dan tanyakan?”


“Aku pikir kau mau makan bakso atau yang lain, tapi sepertinya–”


“Iya. Aku mau, aku mau.”


“Mau apa?”


“Aku mau bakso mercon pake tetelan,” jawab gadis itu girang.

__ADS_1


Dion menyunggingkan senyum, “ayo masuk!” Mereka berjalan beriringan. Di depan pintu seperti biasa sudah ada Edu menyambut.


“Loh, Mas Edu masih ada di sini?” Lily heran, “katanya Mas Edu mengurus motorku.”


“Motor Anda sudah di pabrik, Nona. Jangan khawatir, sebentar lagi akan diantar kemari.”


“Hah, secepat itu?”


“Kenapa? Apa kau mau motormu lama diperbaiki?”


“Bukan, bukan begitu.” Lily tergagap-gagap.


“Ayo jalan!”


Lily terperangah. Orang kaya memang hebat, bisa menyelesaikan apapun hanya dengan sekali jentik.


“Berat sekali tasmu ini. Apa isinya batu?”


Lily menggeleng kepala lagi sambil jalan dan menunduk.


“Lalu apa?”


“Tentu saja baju-bajuku.” Gadis itu jalan mendahului Dion.


Dion mengikutinya, “memangnya kau mau ke mana sampai membawa banyak bajumu?”


Yang benar saja kalau dia tidak tahu alasannya.


Lily mempercepat langkahnya.


“Hei, aku bertanya, kenapa kau membawa banyak baju?”


“Itu karena tadi rencananya aku mau kabur.” Gadis itu berlari ke kamar menahan malu. Dan lagi Dion tersenyum dibuatnya.


“Siapkan seperti permintaannya tadi. Jangan sampai dia kabur lagi, kau mengerti?”


“Iya, Tuan Muda.


Edu melengos dalam hati, memang tadi siapa yang bikin nona kabur?

__ADS_1


“Biar saya saja yang membawakan tas itu, Tuan.”


“Tidak, biar aku saja. Kau siapkan saja semuanya.”


__ADS_2