Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Dicemburui


__ADS_3

Dion mengeret tangan Lily masuk ke dalam kamar dengan paksa. Namun tidak membuat Lily sampai mengaduh kesakitan. Setibanya di kamar, Dion menarik dan menghempas cengkramannya hingga membuat tubuh mungil itu berputar. Usaha Lily meyakinkan diri tidak akan terjadi apa-apa ternyata salah. Nyatanya saat ini di mata Dion terlihat kobaran api amarah.


“Ma-Mas.” Lily gugup dan takut karena tidak tahu apa penyebab Dion seperti ini. Kalau dia ada masalah dengan pekerjaannya, kenapa melampiaskannya padaku. Begitu kira-kira hati Lily berkata.


“Katakan dengan jelas darimana saja kamu hari ini.” Dion berbicara menatapnya seakan ingin mencabik seluruh organ tubuhnya.


“Sepulang dari kampus aku ke toko bunga.” Lily semakin meraba wajah tidak bersahabat Dion.


“Jangan bohong!“ Pria itu mendekat membuat Lily terperangah dan mundur teratur ke belakang.


“Oh, iya. Tadi aku mampir dulu ke toko buku membeli beberapa buku. Tadi bukunya 'kan udah kutunjukkan di mobil.” Lily membuat senyum di bibirnya berharap bisa menekan rasa tegang di antara mereka. Namun tidak berhasil, Dion malah semakin mempertajam sorot matanya.


Lily melihat daun pintu, berharap Fasa masuk dari sana dan membantunya keluar dari situasi ini. Ia merasa tidak baik. Tubuhnya gemetar dan sendi-sendinya mendadak kelu. Sungguh ia merasa takut melihat Dion seperti ini daripada sebelum-sebelumnya.


“Kau berbicara dengan laki-laki berambut sebahu di sana, 'kan?” tanyanya lagi dengan suara dipertegas dan penuh intimidasi. Begitupun dengan sorot matanya yang tidak mau melunak. Membuat Lily terhenyak.


“Laki-laki berambut sebahu?” Lily mencoba mengingat-ingat laki-laki yang dimaksud. “Aku rasa aku nggak ada berbicara dengan orang yang Mas Dion maksud.”


Mendengar itu Dion semakin menatap Lily nyalang. Ia merasa dibohongi. “Lalu siapa orang yang kau ajak bicara tadi?” Dion mencengkram kedua bahu Lily dan mengguncangnya. Membuat gadis itu terperanjat. Tidak pernah Dion berbuat demikian padanya.


Karena Lily yang tak kunjung menjawab, Dion semakin yakin kalau Lily menyembunyikan sesuatu.


“Apa karena kau ingin menemuinya makanya kau menolak kujemput dan kuantar membeli buku tadi pagi?” tuduhnya. “Katakan apa karena kau ada janji bertemu dengannya?” Dion kembali mengguncang tubuh Lily agar gadis itu segera memberi jawaban.


“Siapa yang kamu maksud, Mas? Aku sama sekali nggak ada janji dengan siapapun apalagi dengan laki-laki.” Ingin sekali Lily menangis karena disudutkan begini. Namun ia menahan agar cairan bening itu tidak keluar. Dia tidak melakukan kesalahan


apa-apa, jadi untuk apa dia menangis.


“Lalu laki-laki yang di toko buku itu siapa? Siapa?” Dion mendesaknya lagi agar segera memberitahu. Foto-foto yang diperlihatkan Clara tadi asli bukan editan. Lily tersenyum hangat pada orang itu dan terlihat sangat dekat. Darah Dion jadi mendidih karena mengingat itu lagi.


Lily melihat ke lantai dan berusaha mengingat siapa laki-laki di toko buku yang ia temui. Namun hasilnya nihil karena dia memang tidak bertemu atau membuat janji dengan seorang lelaki seperti yang diucapkan Dion.


Ahh, aku ingat.

__ADS_1


Lily mengangkat wajahnya dan tersenyum sumringah. “Iya. Aku tadi di toko buku memang bertemu seseorang.” Setelah berkata demikian Lily memudarkan senyumnya dan memicingkan mata. “Tapi darimana Mas Dion tahu?”


“Jangan balik bertanya. Katakan saja ada hubungan apa kamu dengan orang itu?” Mendapat senyum Lily barusan membuat pikiran Dion menjalar ke satu nama. Terlintas di kepalanya kalau orang itu adalah Noel, kakak kelas yang disukai Lily sejak lama seperti yang ditulisnya dalam buku diary-nya. Kalau ia, lantas apakah tulisan di halaman terakhir tentang perasaan suka gadis itu padanya adalah semu?


Dion melepaskan cengkramannya dan balik badan. Ia berjalan menjauh sembari memejamkan mata. Tidak sanggup rasanya bila mendengar nama itu tersebut dari bibir mungil Lily. Jelas sekali di buku diary itu Lily mengagum-agumkan sosok Noel sampai puluhan halaman dan itu membuat rasa nyeri di hati Dion berdenyut. Sementara dirinya, Lily menulis tentang dirinya hanya dua halaman kurang tujuh baris. Itupun lebih banyak tentang bagaimana jengkelnya Lily pada dirinya.


“Mas, itu Kak Uni yang menolongku tempo hari saat ponselku dicopet.”


Pikiran ngawur Dion terputus mendengar itu. Ia pun mengurungkan niatnya untuk ke luar dari kamar.


“Iya, Mas, itu Kak Uni. Kami tadi tidak sengaja bertemu di toko buku.” Lily berdiri di depan Dion. Rupanya gadis itu punya keberanian untuk mendekat. “Dan ....” Seketika tawanya pecah.


“Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?” tanya Dion tidak suka. Begitupun telinganya tidak suka mendengar Lily tertawa seperti mengejek.


Lily tetap tertawa meski wajah Dion teramat sangat kesal. “Aku nggak peduli darimana Mas Dion tahu aku bertemu dengannya tadi. Tapi Mas Dion pasti mengira kalau Kak Uni itu laki-laki, 'kan?” Tawanya kian mengisi kamar itu hingga wajahnya merah.


“Berhenti tertawa dan bicaralah yang jelas!” seru Dion. Guratan kebingungan nampak dari gestur wajahnya.


“Baiklah.” Lily berhenti tertawa lalu berjalan ke tepi ranjang dan duduk di sana. Membuat Dion memutar tubuhnya lagi, matanya memperhatikan Lily agar tidak terlewatkan sedikitpun apa yang akan dilakukan gadis itu.


Tentu Dion terperangah dengan penjelasan itu. “Tidak mungkin.” Ia menyangkalnya.


“Iya, Kak Uni memang perempuan, Mas. Awalnya aku juga mengira kalau dia adalah laki-laki karena penampilannya yang tomboy.” Dan lagi, Lily tersenyum mengingat pertemuan mereka di angkot dulu. Bagaimana ia merasa takut dengan penampilan Uni.


“Apa benar begitu?” Dion mendekat dan bertanya penuh selidik.


“Iya, benar. Untuk apa aku bohong, Mas.” Dion menatap lekat-lekat mata Lily. Ya benar, ia tidak menemukan kebohongan di sana. “Nanti kapan-kapan aku akan mengenalkannya pada Mas Dion. Mulai tadi kami sudah berteman. Aku juga udah minta nomor hp-nya. Aku suka ....”


Kata-kata Lily yang panjang tenggelam dalam lamunan Dion. Dion kembali menyambangi pikirannya. Alangkah bodohnya dia dengan cepat bisa terhasut dengan tuduhan Clara. Seharusnya 3 bulan menikah dengan Lily, dia sudah cukup tahu bagaimana sikap dan sifat istrinya itu. Tidak mungkin Lily melangkah sejauh itu, sedangkan diri gadis itu sudah diberikan padanya seutuhnya.


Dion mengutuki kebodohannya. Bukan, dia sedang menyerapahi kecemburuannya yang tidak jelas.


Baiklah, sekarang kembali ke sang mantan, Clara. Wanita itu memiliki niat tidak baik pada pernikahannya, itu yang Dion rasakan. Ia harus benar-benar menjauhkan dirinya dan Lily dari wanita itu.

__ADS_1


“Jadi benar Mas Dion cemburu karena aku dekat dengan Kak Uni?” Melihat ke samping. “Mas, ihh ... Mas nggak dengar, ya, aku ngomong dari tadi?” Lily mengguncang tangan Dion yang sedang duduk melamun di sampingnya.


“Iya, Iya benar.” Tersadar.


“Iya? Jadi Mas cemburu sama Kak Uni?”


Mata Dion membulat penuh. Bagaimana bisa ia keceplosan begini. Dan itupun cemburu pada wanita bergaya laki-laki.


Untuk mengurangi rasa gugup dan salah tingkahnya ia berdehem. “Aku hanya tidak ingin saja kau bergaul dengan sembarangan orang. Kita tidak tahu bagaimana isi hati orang itu.”


“Kak Uni itu orang baik, Mas. Buktinya dia dengan suka rela mau merebut kembali ponselku dari copet.”


Dion diam.


“Haha ....”


“Kenapa kau tertawa lagi?”


“Mas Dion ngaku aja kalau Mas memang cemburu.”


“Aku tidak cemburu.” Dion jengkel setengah mati. Kecemburuannya jadi bahan tawaan gadis itu.


Lily masih tertawa karena Dion menyangkalnya. Dicemburui seperti ini rasanya menyenangkan. Seperti kata orang bijak, cemburu tandanya cinta.


Lily berdiri dan membuka lilitan di lehernya. Tawanya ia ubah menjadi senyum karena wajah Dion yang terus masam.


Saat Lily ingin melangkah, Dion menarik tangannya hingga gadis itu terduduk lagi. “Mau ke mana kamu?”


“Mau mandi.”


“Mau mandi? Setelah kau menertawakanku, kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja.” Bibir Dion menyeringai jahil.


“Apa maksudmu, Mas?”

__ADS_1


“Maksudku adalah ....”


__ADS_2