
Karena Lily memang serius ingin melanjutkan pendidikannya, hari ini juga dia akan menyelesaikan pendaftaran berikut syarat-syaratnya. Lily sampai bolak-balik ke sekolah dan ke rumah untuk mengambil dan menyerahkan semua syarat pendaftaran. Tinggal menunggu pengumuman hasil SNMPTN beberapa minggu lagi, begitu yang dikatakan guru BP. Lily beruntung pendaftaran masih buka.
Mereka keluar dari ruang itu setelah berjibaku dengan urusan pendaftaran. “Makasih lho Lun, kamu tetap nggak jera-jera bantu aku. Kamu memang sahabat terbaik.” Lily menarik tangan Luna dan memeluknya lama di koridor sekolah itu.
“Sama-sama, Cinta.” Luna menepuk-nepuk punggung Lily yang pelukannya tak mau lepas itu. “Mau sampe kapan kamu akan peluk aku?” tanya Luna iseng. Pelukan itupun lepas.
“Lun, hati kamu terbuat dari apa sih, sampe kamu nggak pernah nolak bantuin aku?”
“Terbuat dari apa ya? kasih tahu nggak ya?!” Nada bercandanya terdengar jelas, menusuk-nusuk pipinya sendiri dengan jari telunjuk.
Mereka berdua pun tertawa lepas. Saling bercengkerama membahas awal mereka masuk di sekolah ini, bagaimana pelajarannya, guru-gurunya, bahkan siswa tertampan tidak lupa dalam pembahasan. Bergandengan tangan yang diselingi candaan menuju gerbang sekolah.
“Lily!” Terdengar panggilan seorang laki-laki. Mereka berdua berhenti tertawa dan menyapu pandangan ke segala arah mencari-cari suara siapa itu.
“Axel.” Sahut mereka bersamaan.
“Gimana? kamu dapat peringkat berapa?” tanya Axel pada Lily dengan napas ngos-ngosan karena berlari. Tentu saja Axel harus menanyai Lily lebih dulu daripada Luna, Lily kan gadis yang dia cintai. Luna sendiri tidak tahu menahu tentang perasaan Lily yang sebenarnya terhadap Axel. Yang dia tahu mereka pernah saling mencintai.
“Tiga.” Mengulurkan tangan di hadapan Axel, “selamat ya, kamu juga dapat juara umum. Kamu juga pasti juara kelas kan.” Axel beda jurusan dengan mereka. Kalau Lily dan Luna jurusan ilmu alam, Axel jurusan ilmu sosial.
“Iya, makasih ya.” Menyambut uluran itu. “Kamu juga selamat ya, Lun. Kamu tiap semester selalu jadi juaranya.” Mengulurkan tangan pada Luna, dan merekapun bersalaman saling mengucapkan selamat.
“Kalian mau ke mana?” tanya Axel.
“Pulang,” jawab Lily singkat dan Luna tersenyum tipis. “Kamu, kenapa jam segini masih ada di sekolah?” Lily penasaran saja karena Axel berkeringat.
“Oh, tadi teman-teman ngajakin main basket. Permainan terakhir katanya.”
“Nih, minum dulu.” Lily menyerahkan air botol kemasan yang dikeluarkannya dari dalam tas. Axel menganggap itu adalah sebuah perhatian tapi tidak bagi Lily.
Tidak pakai lama, botol minuman itupun tandas. “Gimana kalo kita makan siang dulu.” Luna dan Lily berpandangan.
__ADS_1
“Nggak, Xel. Aku udah makan tadi.”
“Ayo lah. Sebentar lagi kita akan lulus, dan belum tentu akan sering bertemu, kan. Anggaplah ajakanku ini sebagai acara perpisahan khusus untuk kita bertiga saja.”
“Kita kan akan mengadakan perpisahan beberapa hari lagi. Dan kita juga masih bertemu saat mengambil hasil kelulusan nanti,” masih berusaha menolak.
Axel seenaknya menarik tangan Lily. Luna mengikut di belakang. Mungkin karena pernah pacaran, Axel tidak merasa ragu melakukan itu. Dan mengingat Lily dulu ingin putus karena alasan papa tidak memberi izin untuk pacaran. Jadi menganggap Lily benar-benar mencintainya.
“Xel, motor aku dan Luna gimana?” Menunjuk motor mereka yang tak jauh dari mobil Axel yang terparkir.
“Nanti selesai makan, aku antar kalian lagi ke sini.” Axel membukakan pintu depan buat Lily. Luna duduk di belakang. Merekapun sudah duduk di kursi masing-masing.
“Ly!” panggil Axel setelah keluar dari gerbang sekolah.
“Heum.” Hanya berdehem menjawab Axel, matanya menatap lurus ke depan.
“Kamu tetap akan melanjut ke sekolah pramugari?”
Tidak, tidak. Belum waktunya dia tahu tentang status menikahku. Aku juga nggak tahu sampai kapan ikatan pernikahan ini akan membelenggu.
“Kenapa diam? atau kamu mau nikah?”
Lily terkesiap. Sama sekali tidak menduga Axel akan melantingkan itu. Laki-laki itu menyadarkannya bahwa dia sekarang adalah seorang istri. Lily menoleh ke belakang, melihat orang yang duduk di kursi penumpang. Luna sama terkejutnya dengan dirinya.
“Kenapa masih diam? apa kamu benar-benar mau menikah?” Melirik Lily yang diam sedari tadi sebentar, lalu membelokkan stir mobilnya menuju sebuah kafe yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari sekolah mereka.
“Ayo turun, kita sudah sampai.”
****
Sekarang mereka sudah duduk di sudut ruang kafe itu. Mereka menunggu makanan yang sudah dipesan. Hanya meja itu yang tersisa buat mereka karena meja yang lain sudah diisi oleh pengunjung yang datang lebih dulu.
__ADS_1
“Ly, kamu belum jawab yang kutanyakan tadi. Kamu akan melanjut sekolah pramugari?” Tatapan Axel benar-benar ingin mendapatkan jawaban yang jujur. Lily dan Luna duduk di depannya.
“Tadinya sih iya. Tapi kalo dipikir-pikir ngeri juga. Mentalku jadi ciut karena akhir-akhir ini banyak pesawat yang jatuh.” Membuat alasan yang masuk akal. Luna menahan senyum mendengar alasan Lily yang lugas itu.
Axel terlonjak mendengar Lily membatalkan cita-cita yang selalu dia banggakan. Sewaktu pacaran dulu Lily dengan tekad yang berapi-api mengutarakan keinginannya menjadi pramugari. Dan setelah mendengar alasan Lily barusan, cukup masuk akal namun masih setengah percaya.
“Kamu yakin? Kok kamu jadi nggak seberani dulu ya.”
Lily mengangkat kedua bahunya, “aku ingin menikmati hidup sampe tua, nggak mau mati muda. Menjadi bos pengusaha kecil-kecilan atau guru tk sekarang ini lebih menarik menurutku, bukan begitu Lun?” Mengedipkan sebelah matanya meminta persetujuan sahabatnya itu.
“Aku sih terserah kamu aja.” Luna.
Axel merasa ada yang disembunyikan dua wanita yang ada di depannya. Dia menatap Lily dan Luna bergantian. Baru saja dia ingin meluncurkan pertanyaan berikutnya, pesanan mereka sudah datang.
Axel belum berniat menyentuh makanannya. Sementara para wanita di depannya sudah asyik mengaduk-aduk spaghetti carbonara yang sudah terhidang.
“Ada yang kalian sembunyikan kan?” tanya Axel penuh selidik.
“Apa yang harus disembunyikan, Xel? Lily balik bertanya dengan tidak acuh. Menyuapkan makanan yang berasal dari Italia itu ke mulutnya.
Axel melihat cincin melingkar di jari manis Lily. Karena tangan Lily yang bergerak-gerak sehingga cahaya lampu mengenai permata cincin, dan itu membuat pandangan Axel silau.
“Kamu pakai cincin?” Axel heran dan menunjuk jemari Lily. Lily sampai menjatuhkan sendok yang berisi spagetinya mendengar pertanyaan Axel. Untungnya saat ini mulutnya sedang kosong, kalau tidak sudah dipastikan dia akan tersedak.
“I-iya. Emang kenapa? nggak boleh?”
“Bukannya kamu paling anti dengan aksesoris begituan? kan kamu sendiri yang bilang nggak suka.” Semakin meyakinkan dirinya kalau ada yang aneh dalam diri Lily.
“Sekarang aku udah suka.” Mengambil kembali sendoknya. “Kamu kenapa sih, Xel. Dari tadi nanya mulu. Tuh, makan makanan kamu, keburu dingin.”
Duhh, kenapa aku sampe lupa lepasin cincin ini sih.
__ADS_1
Sedang Luna hanya bisa diam menikmati makanannya, tidak mau terlibat takut nanti salah bicara.