Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Luka yang Kian Berdarah


__ADS_3

Lily’s POV


Selama dalam perjalanan menuju pulang aku menikmati keramaian kota dari kaca mobil yang memang rasanya sudah lama tidak dipandang oleh mataku. Selama itu pula jantungku bertalu-talu tidak karuan karena akan bertemu dengan orang yang kukasihi dan mengasihiku. Macet yang beberapa kali menghalangi jalan kami, membuatku harus lebih bersabar menunggu.


Dari cerita Mas Adnan tentang kegigihan Mas Dion–suamiku– untuk kesembuhkanku membuat hatiku terenyuh. Betapa bahagianya aku mendengar itu. Seharusnya, bisa saja ‘kan Mas Dion meninggalkanku yang mengalami gangguan jiwa lalu menikah lagi. Mas Dion adalah pria yang nyaris sempurna dan pasti banyak wanita yang mengantri untuk dijadikan pasangannya. Eh, apa yang kupikirkan?


Ingatan saat dulu dia harus pergi karena urusan pekerjaannya terbesit di benakku. Di mana dengan berat hati aku melepas kepergiannya dan melambaikan tangan seolah-olah itu adalah kesempatan terakhir untuk melihatnya. Dan firasatku itu benar dengan semua duka yang telah terjadi.


Seperti yang dikatakan Mas Adnan, setiap hari selama lebih dari satu tahun itu dia menungguiku dengan bertemankan doa dan harapan, supaya aku segera sembuh dari keterpurukan. Tetapi selama itu pula aku tidak mewujudkan harapannya, karena jiwaku yang waras melambung entah ke mana.


Ahh, betapa aku merindukan lelakiku itu. Ingin menciuminya, mengungkapkan beribu terimakasih dan berjuta-juta cinta yang belum pernah aku ungkapkan langsung dari mulutku.


Tanpa sengaja aku melihat wajahku dari kaca spion. Aku terkejut melihat pipiku yang sangat tirus sampai-sampai menampakkan bentuk tulangnya. Kuyakin bentuk tubuhku yang lain juga pasti tak kalah menyedihkan. Bagaimana, ‘ya, keadaan Mas Dion?


Mobil sudah berbelok ke komplek perumahan yang kami tuju. Jantungku semakin berdentum hebat. Bayangan akan pelukan haru biru menari-nari di kelopak mataku. Aku sudah gelisah di tempat dudukku. Sungguh hati ini tidak sabar untuk bertemu.


Dari jarak sekitar 200 meter untuk sampai ke gerbang rumah, aku melihat ada beberapa mobil yang parkir di luar gerbang. Aku mengernyit, mengapa mobil-mobil itu sampai parkir di luar pelataran rumah. Apakah sesuatu terjadi? Atau ada suatu acara penting? Karena yang kuingat selama aku tinggal di sana, walaupun mami mengadakan arisan besar tidak sampai membuat tamunya memarkirkan mobil di luar. Kecuali acara pernikahanku dengan Mas Dion dulu.


“Pak, cepat, Pak!” desakku pada sang driver.


“Kenapa, Ly? Sebentar lagi juga sampai.”


Aku memilih diam, tidak menanggapi pertanyaan Mas Adnan yang sedang sibuk dengan hp-nya. Aku menerka-nerka apa yang sedang terjadi di rumah. Hingga mobil yang kami tumpangi sampai di tujuan.


Aku langsung membuka pintu dan menyelonong keluar. Membuat Mas Adnan memanggil-manggil namaku karena khawatir dengan tubuhku yang lemah. Namun aku merasa tidak selemah itu. Sebelum tadi diizinkan pulang, aku diberi makan dan meminum vitamin dulu. Kalau untuk berjalan saja aku mampu. Bahkan tenagaku rasanya semakin bertambah karena penasaran dengan apa yang terjadi di dalam rumah.


“Maaf, Anda siapa?” Seorang security menyapaku dengan pertanyaan saat tanganku menyentuh pagar yang tertutup. Mataku yang semula celingak-celinguk ke dalam, kini aku pusatkan pada security itu. Dia memandangiku dari atas sampai bawah, dengan tatapan penuh selidik. Mungkin karena penampilanku yang sedikit kucel atau karena tubuhku yang kurus kering. Sepertinya dia penjaga keamanan yang baru karena aku pun tidak mengenalnya.

__ADS_1


“Aku mau masuk,” desakku tanpa mau menjawab pertanyaannya. Aku berusaha membuka pagar yang ditahan olehnya.


“Maaf. Untuk bisa masuk ke dalam Anda harus punya surat undangan.”


“Surat undangan apa?” tanyaku tidak ramah. “Aku tinggal di sini jadi untuk apa harus menunjukkan surat undangan biar bisa masuk!” Aku ingin sekali memaki satpam itu karena malah menghalangi niatku untuk segera bertemu keluargaku. Ya, yang ada di rumah ini lah sekarang keluarga yang aku miliki.


“Maaf, Ibu. Seperti yang saya bilang tadi. Kalau Ibu adalah salah satu undangan, tolong tunjukkan surat undangannya.” Penjaga itu masih tetap mempertahankan gerbang agar tidak bisa kubuka. Membuatku bertambah kesal setengah mati.


“Surat undangan apa, Pak?” tanya Mas Adnan yang baru saja berdiri di sampingku.


“Surat undangan per–”


“Nona Lily!” teriak seseorang yang baru keluar dari rumah utama sambil berlari menghampiri kami. Dari bentuk tubuhnya dia adalah salah satu penjaga gerbang senior yang aku kenal. “Buka gerbangnya! Buka gerbangnya!” perintahnya pada juniornya masih terus berlari. Namun satpam junior itu diam kebingungan membuat aku bertambah geram lalu mendorong paksa gerbang raksasa itu.


“No–na. Anda da–tang?” tanya satpam senior itu dengan wajah terkejut setelah tiba di dekat kami. Tentu dia terkejut karena yang dia tahu seharusnya aku berada di rumah sakit jiwa.


“I–itu...anu... mmm.” Dia bingung dan gugup untuk menjawab.


Aku semakin tidak sabar untuk mengetahui acara apa yang digelar oleh mertuaku. Jadi kuputuskan untuk melangkahkan kaki dan melihatnya sendiri dengan langsung. Aku mempercepat langkah. Mas Adnan yang mengikutiku dari belakang beberapa kali memintaku untuk berjalan hati-hati. Namun tidak aku gubris.


Mataku semakin jelas melihat dekorasi indah di depan rumah. Berbagai jenis bunga rustic menghias bagian sisi kanan dan kiri pintu. Aku terhenyak untuk beberapa saat. Hingga suara tepuk tangan terdengar riuh dari dalam membuatku tersadar lalu kemudian terdengar suara seperti... instrumen pernikahan.


Siapa yang menikah? Yang kutahu tidak ada lajang di rumah ini. Tidak masuk akal rasanya bila mami dan papi memberi izin pada pelayan untuk menikah di istananya ini. Jantungku tiba-tiba bekerja dengan begitu cepat hingga membuat detakannya tidak karuan.


Dengan cepat aku menaiki anak tangga untuk melihat yang terjadi di dalam. Karena tidak hati-hati, aku tersandung dan membuat sandal jepit yang kupakai putus. Mas Adnan sampai harus meraih tubuhku takut terjatuh. “Hati-hati,” ucapnya kesal.


Lagi-lagi aku tidak terlalu peduli dengan ucapannya karena sungguh penasaran dengan di dalam sana. Aku membuka sandalku dan memilih bertelanjang kaki lalu melanjutkan langkah.

__ADS_1


Pertama kali yang kulihat di dalam adalah punggung orang-orang yang berpakaian indah dan menawan. Mereka berkerumun dan pandangannya lurus ke depan. Musik instrumen piano tentang pernikahan masih terdengar begitu segar di pendengaranku.


“Pernikahan siapa ini, Mas?” tanyaku pada Mas Adnan dengan sedikit keras agar terdengar. Mungkin saja Mas Dion memberitahunya tentang acara ini.


“Tidak tahu.” Aku bisa melihat Mas Adnan juga penasaran dengan pernikahan ini.


Dari tempatku berdiri, aku tidak bisa melihat pengantinnya dengan jelas karena terhalang oleh banyaknya tamu. Aku maju ke depan melalui sisi kanan para tamu untuk melihat siapa yang menikah.


Aku... aku... Hati dan jantungku bagai disayat oleh sembilu menyaksikannya bersanding dengan wanita lain. Bibirku bergetar, juga tubuhku. “Mas Di–on,” gumamku pelan. Seketika tenagaku lenyap bersamaan dengan menyebutkan nama itu.


PRAAAANNKK!!!!!


Sebuah vas bunga yang tadinya ada di atas meja di sampingku tersenggol oleh tanganku. Aku tidak bermaksud untuk memecahkannya. Aku hanya ingin bersandar pada meja itu untuk bisa tetap berdiri menghadapi kenyataan pahit ini.


Kini aku jadi pusat perhatian. Mas Adnan yang sudah berjalan beberapa langkah menuju pasangan pengantin itu terpaksa mundur lagi dan menyangga tubuhku.


“LILY!”


Suara yang seharusnya aku rindukan, namun kenyataannya membuat hatiku disayat-sayat. Pelukan haru biru yang aku bayangkan selama perjalanan tadi, tapi nyatanya orang itu menghempasku ke dalam jurang yang teramat perih. Ingin menyembuhkan luka hatiku yang lalu karena kejamnya takdir, namun yang kudapatkan takdir itu semakin beringas mengoyak-ngoyak lukaku yang masih menganga.


.


.


.


Yang tegar Lily 😭

__ADS_1


__ADS_2