
“Aku harus bicara dengan dia, Adnan, tolong,” pinta Dion mengiba. Dion melirik Lily yang bersembunyi di balik tubuh Adnan. Gadis itu membuang muka saat tatapan mereka berserobok.
Adnan berpikir sebentar. Dengan langkah berat ia menggeser ke samping. Tatapannya tajam mengisyaratkan supaya Dion jangan sampai menyakiti adiknya itu. Namun itu tidak membuat Dion takut. Karena mana mungkin ia menyakiti istrinya. Istrinya?
“Bagaimana kakimu?” tanya Dion dengan nada cemas. Ia mendekat dan memperhatikan kaki Lily yang diperban.
Gadis itu malah menjauh dan sama sekali tidak ada niat untuk menjawab atau melihat Dion. Sakit hatinya kembali muncul saat Dion datang dengan masih memakai pakaian pernikahannya.
“Lily....”
“Aku akan melupakan semuanya.” Tanpa bisa dicegah air matanya mengumpul kembali di netra mata. Namun meskipun seluruh jiwanya sangat rapuh, Lily berusaha menunjukkan bahwa dirinya kuat. “Aku–aku akan melupakan kalau aku pernah menikah,” ungkapnya lagi dengan sekuat tenaga agar terlihat tegar. Tangannya kemudian terangkat untuk menghapus air mata sialan yang berani meluncur di pipinya.
“Apa yang kamu bicarakan ini?” Dion mencoba kembali mendekat, meraih tubuh kurus gadis itu. Ekor mata Lily yang menangkap pergerakan Dion segera menjauh, tidak ingin tubuhnya disentuh oleh laki-laki itu.
“Dengar, Mas.” Lily menarik pandangannya dari arah lain menemui wajah Dion. Wajah di depannya ini seharusnya ia rindukan, tapi kini sudah berubah menjadi wajah yang paling ia benci, mungkin. “Aku memang gadis menyedihkan. Mungkin paling menyedihkan di dunia.” Jeda sesaat. Bola matanya yang berwarna coklat semakin digenangi air mata. Membuat Dion ingin memeluknya, namun lagi-lagi Lily tidak membiarkan Dion menyentuhnya secuil pun.
“Aku sungguh malang. Kehilangan mama, kemudian kehilangan papa dan keguguran bersamaan. Lalu terpuruk sampe gila. Setelah sembuh dari gila, berharap satu-satunya orang yang aku miliki bisa menghiburku supaya tidak merasa sendiri. Tapi nyatanya apa!” Napas gadis itu terputus-putus. Menunjukkan kalau dirinya sedang kecewa teramat dalam. Air matanya sudah tumpah ruah. “Suami yang aku kira setia dan menyayangiku setulus hati malah kudapati menikah dengan perempuan lain, meninggalkan istrinya yang gila...hu...hu....”
Melihat Lily yang terguncang, Adnan dengan cepat menyambar tubuh Lily supaya tidak tumbang. Dion yang sedari tadi mencoba menyentuh Lily, tetap tidak diizinkan oleh gadis yang hatinya ia sakiti itu.
“Lily....” Hati Dion teriris melihat dan mendengar Lily seperti itu. Terlihat dari matanya yang juga berkaca-kaca.
__ADS_1
“Kamu jahat. Kalian semua jahat.” Lily dengan hati dan wajahnya yang kacau melangkah memasuki rumah. Bi Itan yang sejak tadi sudah berdiri di depan pintu segera menyambut Lily. Antara senang dan bingung, wanita yang sudah lama mengabdikan diri mengurus rumah tuannya itu akhirnya membantu Lily masuk ke dalam tanpa mengeluarkan suara.
Dion hendak mengejar Lily namun dicegah oleh Adnan. “Lebih baik kamu pulang.”
“Aku harus berbicara dengannya.” Dion bersikeras menerobos tubuh Adnan. Namun Adnan tidak membiarkan Dion masuk dengan menahan dada laki-laki itu.
“Jangan memaksanya!” Adnan memberi peringatan dengan suara dipertegas. “Dokter melarang supaya jangan membuat Lily terpuruk lagi. Itu akan berbahaya untuk mentalnya.”
“Aku tidak mungkin membuatnya terpuruk. Aku hanya ingin memberi pengertian padanya.” Dion mencoba lagi untuk menyusul Lily ke dalam, dia bertekad akan membicarakan yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.
“Pengertian yang bagaimana?” Amarah Adnan yang sedari tadi ia redam akhirnya meledak juga. Ia saja merasa begitu marah melihat Dion duduk dengan anteng di samping pengantin wanitanya tadi, apalagi perasaan Lily.
Meskipun Adnan memberikan serangan dengan mendorong Dion berkali-kali, namun Dion tidak memberikan perlawanan. Ia tahu dirinya salah.
“Adnan, tolong jangan begini.” Dion berdiri kembali setelah tersungkur.
“Pergi dari sini!”
“Aku tidak jadi menikah. Aku sudah membatalkan pernikahan itu.”
Sesaat Adnan tercengang. Ia menatap Dion penuh selidik. Apa benar yang dikatakannya itu? Tetapi kemudian ia menatap marah lagi. Jadi menikah atau tidak, itu tidak penting diketahui Lily. Bukankah kini Lily sudah bukan istrinya lagi seperti yang dikatakan wanita tadi?
__ADS_1
“Jadi aku mohon, biarkan aku berbicara dengan Lily.”
“Tidak bisa,” tolak Adnan dengan tegas. “Kau tidak jadi menikah karena Lily sudah sembuh, ‘kan? Kalau Lily masih berada di rumah sakit jiwa, apa kau juga bisa memastikan akan membatalkan pernikahanmu itu?” Skak mat. Adnan maju dan meraih kerah kemeja Dion. Api kemarahan terlihat jelas di bola matanya. “Apa kau berharap setelah membatalkan pernikahanmu itu Lily mau kembali padamu?”
Cengkraman pada keras kemeja Dion semakin diperkuat. “Laki-laki sejati tidak akan pernah pergi meninggalkan istrinya, bagaimanapun sekaratnya kondisi istrinya itu. Orang kaya seperti kalian tidak akan kubiarkan menyakiti adikku.” Adnan mendorong tubuh Dion dengan kuat sampai membuat pria itu tersungkur ke tanah.
.
.
.
Kilat yang menyambar-nyambar di langit disertai dengan hujan yang begitu deras membuat malam yang dingin ini terasa mencekam. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.01. Adnan yang memutuskan tidur di rumah Lily malam ini masih terjaga. Lily sudah terlelap sedari tadi ditemani oleh Bi Itan di kamarnya.
Adnan bisa bernapas lega karena Lily ternyata tidak sampai meraung-raung menangisi nasib pernikahannya. Tidak seperti yang sempat dipikirkannya bahwa Lily akan kembali terpuruk dan berakhir di RSJ lagi.
Perlahan Adnan bangkit dari sofa tempatnya duduk. Ia kemudian menuju jendela dan sedikit menyingkap gordennya. Ini ketiga kalinya ia mengintip ke luar. Terlihat Dion duduk lunglai di atas tanah yang sama, saat ia mendorongnya tadi hingga terjatuh. Tubuhnya basah kuyup. Adnan yakin, laki-laki itu besok pasti sakit.
Adnan menarik napas. Kekecewaannya pada Dion begitu besar. Bahkan kini menjadi benci. Entah mengapa laki-laki yang membiarkan tubuhnya diguyur hujan itu mengambil keputusan besar untuk menikah, tanpa memberitahunya pula. Namun apapun alasannya menikah lagi, itu tetaplah kesalahan besar. Kata kasarnya, laki-laki itu seperti membuang Lily ke tempat sampah karena tidak bisa dipakai lagi.
Adnan kembali mendesahkan napas. Keinginannya saat ini adalah melihat Lily bahagia. Gadis malang itu juga berhak bahagia, bukan? Adnan kemudian berlalu dari tempatnya berdiri dan memutuskan untuk tidur. Semoga mulai besok waktu mau berpihak pada Lily untuk hidup bahagia.
__ADS_1