Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Menjadi Wali


__ADS_3


Hari ini adalah hari penerimaan kelulusan. Hari yang mendebarkan bagi semua siswa kelas Xll di seluruh negeri ini.


Gadis itu dari semalam tidak bisa tenang, tidur pun tidak nyenyak karena memikirkan itu. Sudah bisa dipastikan bukan hanya dia yang begitu, seluruh siswa-siswi di tanah air pasti memiliki perasaan berdebar-debar seperti dirinya.


Menonton drakor, menelepon, main game, makan dan masih banyak lagi kegiatan yang ia lakukan, dan itu semua sama sekali tidak ada yang berhasil untuk mengalihkan rasa gundah di hatinya. Jantungnya berdebar-debar untuk menghadapi hari ini.


Lily sudah bersiap hendak berangkat. Daritadi gadis itu menarik napas untuk menenangkan diri. Namun usaha itu sepertinya sia-sia, bahkan jantungnya semakin berpacu kencang. Dan ada satu hal yang belum disiapkan olehnya, gadis itu harus punya ....


“Kenapa kamu?”


“Aah.” Anak gadis itu sampai melompat karena terkejut mendengar suara yang tiba-tiba. Masuknya Dion ke kamar membuat Lily spontan berteriak. “Kenapa masuk nggak bilang-bilang? Aku kan kaget,” bentaknya sambil menempelkan tangannya di dada yang semakin berdebar tidak karuan.


“Ini kamarku. Jadi tidak perlu izin pada siapa pun.”


Ya, ya. Kau adalah rajanya.


Dion memandang Lily dari atas sampai bawah, “kamu sudah siap?” tanyanya kemudian.


“Mas...” Suara gadis itu seketika melunak dan tersenyum cerah, “bisakah kamu menemaniku ke sekolah?” Gadis itu mendekat dan memasang wajah imut-imut. Tadi malam Lily sudah menelepon papa untuk menemani ke sekolah, namun papa bilang Dion lebih berhak untuk itu. Papa akan menemani kalau Dion tidak bisa.


Lily juga tidak bisa mengutarakan perihal tentang pengambilan kelulusan pada Dion, karena tadi malam pria itu pulang larut malam dari bekerja.


“Mau apa ke sekolah?”


Ih, kok dia jadi berubah jutek lagi, sih? Padahal yang kemarin itu sudah sedikit melunak? Apa kepribadiannya memang begitu?


Melihat Lily diam, Dion bergerak menuju kamar mandi.


“Mas, tunggu dulu, dong.” Gadis itu mengekor dari belakang. “Aku kan belum selesai bicara.”


“Nanti saja bicara, aku sungguh tidak tahan lagi,” jawab pria itu dengan terus berlalu, kemudian menutup pintu setelah masuk ke kamar mandi.


“Nanti kapan? Waktunya sudah sangat mepet. Aku cuman butuh jawaban iya atau nggak.”


Tidak terdengar suara sahutan. Lily bergumam-gumam jengkel karena keinginannya belum tersampaikan. Pria itu sepertinya tidak tertarik dengan tema yang dibicarakan barusan. Dan pria itu juga tidak mungkin bisa memenuhi permintaannya, Dion adalah orang sibuk.


Tidak mau buang-buang waktu untuk menunggu, Lily bergegas turun. Gadis itu akan ke meja makan untuk sarapan terlebih dulu. Kalau saat sarapan Dion masih sempat menyusul, maka akan ditanyakannya nanti. Kalau tidak, ia akan menelepon papa.


Lily selesai dengan urusan sarapannya. Seperti dugaannya, Dion tak kunjung turun sementara waktu tidak banyak lagi untuk dirinya. Gadis itu harus segera tiba di sekolah karena sebentar lagi jarum jam akan menunjukkan angka yang ditentukan. Sudah bisa dipastikan ia akan terlambat sampai di sekolah.

__ADS_1


“Mas Edu, aku berangkat dulu.” Lily tergesa-gesa mengambil tasnya yang bersandar di kursi samping. “Tolong sampaikan pada Mas Dion kalau aku udah berangkat, ya,” ujarnya lagi pada pria yang berdiri di seberang meja makan.


“Tunggu, Nona. Bukankah Anda akan pergi bersama Tuan Dion?”


“Nggak. Aku mau ke sekolah, Mas, bukan ke toko bunga atau ke tempat lain. Hari ini pengumuman kelulusan. Lagipula kalau pergi ke mana-mana aku biasanya juga berangkat sendiri,” jawab Lily tanpa memandang wajah pria serius itu. “Memangnya dia mau pergi ke mana sampai aku harus bareng dia,” gumamnya yang masih terdengar oleh Edu. Gadis itu kemudian mengambil ponsel dari tasnya hendak menghubungi papa.


“Anda akan ke sekolah dengan Tuan Dion.”


Menoleh, “nggak mungkin, Mas Edu. Aku belum sempat memberitahukannya tadi dan memintanya menjadi waliku.”


“Tunggulah sebentar lagi, Nona. Tuan Dion akan menemani Anda.”


“Dia pasti sibuk. Nggak mungkin dia ada waktu untuk ke sekolah. Tadi malam aja dia pulang lama, kan.”


Edu diam tidak menjawab, membuat Lily melengos, “aku berangkat, Mas Edu.”


“Kau mau pergi tanpa wali?”


Eh!


Lily menoleh. Tampaklah Dion berjalan mendekatinya dengan pakaian kasualnya. Kaos oblong dilapisi dengan kemeja flanel, dan alas kaki juga menggunakan sandal kasual. Tidak memakai kemeja, dasi, jas dan sepatu seperti biasanya setiap pagi.


Lily terkesima. Jarang-jarang pria itu memakai yang begituan ke luar rumah.



Gadis itu mengangguk.


“Ayo jalan!” Dion melangkah.


“Mas, ini beneran. Mas akan menjadi wali Lily?” Gadis itu mengekor dari belakang sedikit berlari. Biasa, Dion langkahnya lebar-lebar.


“Mm.”


“Tapi kan, tadi aku belum sempat bilang, Mas.” Berusaha menjangkau wajah Dion yang sudah di sampingnya dengan kedua matanya.


“Aku sudah tahu.”


“Udah tahu? Mas tahu darimana? Trus kalau Mas udah tahu, kenapa tadi masih nanya mau apa ke sekolah?”


Dion berhenti dan menghadap Lily, “kau ini berisik sekali. Kau mau ke sekolah atau mau bicara terus?” Dion kesal.

__ADS_1


“Aku kan penasaran, Mas.” Mengerucutkan bibir.


Dion buang muka, melipat tangan di dada, “sekarang tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Darimana Mas Dion tahu kalau aku butuh wali ke sekolah?”


“Papa.”


“Papa? Kapan papa memberitahu?”


Bukannya menjawab, Dion beranjak ke kursi yang ada di samping pintu dan duduk di sana.


“Ihh, Mas Dion kok malah duduk?” sungut gadis itu.


“Sepertinya pertanyaanmu akan panjang. Jadi lebih baik kita duduk dulu sambil minum teh dan makan camilan, sepertinya asyik.” Melihat Edu, “Edu bisa ka–”


“Ihh, Mas. Kita sudah terlambat.” Lily menarik-narik tangan berotot itu sekuat tenaga. Namun pria itu tidak bergeser dari tempatnya.


“Bukannya kamu ingin tanya-tanya dulu?”


“Mas, ih.” Terus menarik-narik.


“Aku akan senang hati menjawab pertanyaanmu.”


“Nggak, Mas, nanti aja nanyanya. Kita udah terlambat berat ini.”


Dion berdiri, “sudah tahu terlambat tapi terus bicara,” gumamnya lalu berjalan. Gadis itu memanyunkan bibir.


Di depan pintu sudah ada mobil dan motor gede. Motor yang berbeda dengan yang dipakai Dion waktu itu. Di samping pintu mobil Fasa berdiri di sana.


“Lakukan seperti yang aku katakan tadi. Semua dokumen ada di meja. Undur jadwalku tiga sampai empat jam ke depan.”


“Saya mengerti, Pak.” Asisten itu mengangguk paham. Dion naik ke atas motor.


“Mas, kalau Mas sibuk aku bisa meminta papa untuk menemaniku ke sekolah,” ujar Lily penuh keseriusan.


“Aku tidak sibuk. Cepat naik!” Menyerahkan helm.


Gadis itu merasa tidak enak hati. Tidak mungkin pria itu tidak sibuk.


“Kamu pegangan yang benar. Aku akan membalap.”

__ADS_1


“Hah!”


__ADS_2