Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Barang Rongsok


__ADS_3

Kedai bakso.


Gadis itu duduk termangu di pojokan menunggu pesanannya setelah histeris dulu melihat keadaan motornya.


Dion sedari tadi mengajak bicara, tapi Lily tidak merespon. Entah itu karena masih marah karena cemburu atau masih syok dengan kejadian barusan, tidak tahu. Pria itu bukanlah orang yang pandai merayu, apalagi yang dihadapi adalah gadis belasan tahun.


“Lepaskan saja tasmu. Bahumu bisa sakit. Mari biar kubantu.”


Gadis itu tetap enggan. Setia menatap tembok di sampingnya. Kalau sempat tas yang berisi pakaian-pakaiannya itu beralih tangan, aksinya untuk kabur akan gagal, meski sebenarnya memang sudah gagal.


Karena gadis itu masih diam, Dion memberanikan diri melepas tali sabuk tas yang melingkar di bahu. Gadis itu sadar karena merasakan sentuhan dibahunya, ia cepat berdiri lalu melepasnya dan meletakkan di pangkuannya dengan dipeluk. Gadis itu buang muka lagi.


Dion tarik napas. Yang diajaknya berbicara ini bukan klien atau bawahannya. Jadi cara tegas dan berwibawa bukan cara yang tepat untuk menghadapinya.


“Clara itu...” Sebentar Dion berhenti untuk melihat reaksi Lily menyebut nama wanita yang datang tadi.


Otak Lily langsung berputar mendengar nama perempuan. Itu pasti nama wanita tadi. Lily kesal setengah mati kenapa ia harus mendengar nama wanita itu.


“Bang, baksonya masih lama?”


Dion tercengang. Baiklah, biarkan saja dulu gadis itu menumpahkan kemarahannya.


“Ini sudah, Neng.” Abang itu datang hanya membawa satu mangkuk bakso untuk Lily. Dion tidak, katanya kenyang padahal dia tidak biasa makan di kedai bakso pinggir jalan, takut tidak sehat. Dion terpaksa ikut masuk karena gadis itu memilih berlari ke sana setelah insiden tadi.


Setelah diletakkan, Lily menyambar botol saus, dituangkan ke mangkuknya sedikit kasar dengan wajah cemberut. Kemudian disusul kecap dan sambal beberapa sendok. Diaduk-aduk juga kasar sampai menumpahkan kuah, lalu Lily memakannya. Dion tertegun dibarengi dengan menelan ludahnya.


“Hati-hati, nanti tersedak!”


Masih tidak meladeni. Bahkan dia semakin cepat makan membuat Dion geleng-geleng kepala. Mangkuk Lily tandas hanya dalam hitungan menit.


“Bang, satu mangkuk lagi, es tehnya juga.”


Dion melotot tidak percaya. Bakso yang dimakan Lily barusan ukuran jumbo. Apa lambungnya akan muat? Dan pria itu bisa melihat bibir Lily tidak lagi warna merah jambu melainkan merah dan sedikit bengkak.

__ADS_1


“Kalau kamu mau makan bakso lagi, sebaiknya di rumah saja. Aku bisa meminta koki membuatkannya.”


“Nggak mau.” Kali ini gadis itu bersuara dengan nada ketus. Sepertinya tadi dia tidak punya tenaga untuk angkat suara. “ Urus saja Tante Genit itu.”


Dion menahan gelak, tidak menyangka gadis yang duduk di sampingnya akan mengatakan begitu.


“Aku tidak punya urusan dengan dia.”


“Huh, tidak punya urusan tapi nempel dan mesra-mesraan,” gumamnya. Dan gumaman demi gumaman terus keluar dari mulutnya.


Dion senang karena gadis di sampingnya itu sedang melayangkan protes kecemburuan. Lebih baik mendengarkan Lily mendumel sendiri agar gadis itu puas, agar hatinya plong. Daripada harus mencarinya ke sana sini atau lebih parah malah mengadu pada Pak Miko. Sampai Abang Tukang Bakso membawakan satu mangkuk bakso lagi.


“Itu baksonya makan lagi.”


Lily semakin cemberut karena daritadi protesnya tidak digubris. Ia melayangkan tatapan sinisnya tapi Dion pura-pura tidak melihat. Gadis itu mengambil dua garpu, dan menusuk-nusuk bakso itu. Sampai kuliner itu benar-benar hancur tidak berbentuk bulat lagi.


Dion berdiri menghampiri Abang Tukang Bakso dan berbicara beberapa waktu. Kemudian Lily melihat Dion mengeluarkan uang dari dompetnya, artinya pria itu yang membayar.


Setelah Dion kembali lagi. “Ihh, ngapain pake dibayarin segala. Aku juga bisa bayar.”


“Nggak mau.”


“Lalu kau mau apa? Mau menemui papa dengan motormu yang rusak itu?”


“Iihh.” Benar juga. Tidak mungkin Lily ke toko bunga atau ke tempat lain dengan keadaan motor yang hampir remuk di bagian depannya. “Lalu motorku bagaimana? Itu motor kesayanganku,” ucapnya lagi lirih.


“Biar saja jadi barang rongsok.”


”Iiihh. Itu motor kesayanganku.” Gadis itu hampir menangis, dengan entengnya pria itu berani berkata begitu.


“Sudah tahu motor kesayangan, kenapa tidak membawanya hati-hati. Sudah diberitahu juga tidak baik berkendara kalau marah tapi tidak didengar. Begini akibatnya.”


“Siapa yang nggak marah ada wanita yang peluk-peluk, cium-cium suami orang.”

__ADS_1


Dion tersenyum.


“Ihh.” Gadis itu melangkah kesal hendak menerobos tubuh Dion yang menghalangi jalannya.


Dion dengan cepat mengambil tas ransel itu dari genggaman Lily dan digendong di depan dada.


“Akan aku jelaskan semua di rumah. Ayo kita pulang,” ujar Dion serius.


Meski terus menggerutu, Lily mengikut dari belakang. Sesaat kemudian Lily terdiam menatap motor kesayangannya yang bentuk bagian depannya sudah berubah.


Dion yang sudah di atas motornya berpaling. Tahu Lily sedih. “Jangan khawatir. Nanti ada yang akan mengambilnya.”


“Apakah tukang rongsok benar-benar akan mengambilmu,” kata gadis itu sendu seraya mengusap-usap bagian kepala motornya.


Dion tergelak. Gadis itu menyangka candaan Dion tadi serius. “Edu yang akan mengurusnya.”


”Apakah kamu akan diurus kepada tukang rongsok?” Lily masih mengelus-elus motornya seakan-akan ia sedang berbicara dengan benda mati itu.


Dion makin tergelak, “Edu akan membawanya ke pabrik terbaik. Jangan khawatir, motor kesayanganmu itu akan kembali seperti semula. Bahkan akan lebih bagus.”


“Benarkah?” Lily menatap Dion tidak percaya, “Aku hanya ingin motorku kembali seperti sebelumnya. Jangan diubah apalagi diganti dengan yang lain.”


“Baiklah. Sekarang pakai helmmu dan naik.”


Bagai dihipnotis gadis itu menurut saja setelah berpamitan terlebih dulu pada motornya. Hal itu membuat Dion tersenyum geleng-geleng kepala lagi tanpa sepengetahuan Lily. Gadis itu wanita yang apa adanya.


Ada gejolak di dalam dada karena untuk pertama kalinya Lily naik motor besar. Perasaan senang karena ini yang diidam-idamkan gadis itu sejak lama, dirinya merasa keren naik motor yang memiliki otot, itu menurutnya. Sesaat gadis itu melupakan marahnya dan menikmati perjalanan.


Lily memilih berpegangan pada belakang motor. Walau sudah diperingatkan untuk berpegangan dengan benar, gadis itu mana mau menyentuh Dion. Ia masih menyisakan sedikit kesal, karena tubuh pria di depannya ini sudah disentuh oleh tante genit tadi. Begitu yang dikatakannya pada Dion.


Dion tidak ambil pusing. Pria yang kata Lily memiliki jakun indah itu lebih memilih untuk mengurangi kecepatan demi keamanan dan keselamatan. Dion bersyukur Lily mau ikut pulang dengannya, meski ia harus menyogok Lily dengan naik motor besarnya. Darimana lagi pria itu tahu kalau bukan dari diary gadis itu.


Sementara di kedai bakso tadi.

__ADS_1


Abang itu tercengang dengan kedua isi mangkuk yang berbeda. Yang satu tandas tidak bersisa, sedang yang satu lagi bakso yang sudah dibentuk menjadi bulat berubah lagi menjadi daging cincang.


__ADS_2