Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
While in Bali


__ADS_3

Lily menarik napas dalam, membuangnya. Menarik lagi dan membuangnya. Itu dilakukan hingga beberapa kali. Aroma angin laut dan udara segar dari pohon membuat hidungnya serakah untuk menikmati benda gas tersebut. Maklum, di kota tempatnya tinggal tidak ada lagi udara yang sesegar ini.


Seusai mandi untuk menyegarkan badan yang lelah dan bau akibat perjalanan jauh, kini Lily sedang berdiri di pintu yang menghadap ke laut lepas. Tidak bosan-bosannya dia menikmati pemandangan yang ada meski sudah berjam-jam mereka tiba di sana.


“Mas, pemandangannya kok bisa seindah ini, sih?!” katanya masih dengan suara takjub tanpa menengok yang dia ajak bicara.


Tidak ada balasan. Tidak lama setelahnya samar-samar terdengar suara dengkuran, memaksa Lily untuk menoleh ke belakang. Ternyata Dion tertidur pulas di atas ranjang dengan memeluk tablet yang masih menyala. Lily melihat tidak percaya. Ternyata walau ganteng tidak menjamin orang itu tidak mungkin mendengkur. Ternyata benar tidak ada manusia yang sempurna. Ternyata benar kesempurnaan hanya milik Tuhan.


Lily mengambil tablet itu dan menjauhkannya. Tidak baik tidur dekat dengan benda elektronik itu. Kemudian perhatiannya tertuju pada wajah Dion. Tidak akan ada yang mengira kalau wajah polos yang tertidur ini pernah tidak ramah pada Lily.


Takdir sungguh aneh. Yang dia sukai siapa, yang menikah dengannya juga siapa.


Gadis itu kini sudah menerima pernikahannya dengan senang hati. Meskipun usia mereka terpaut jauh, namun sanubarinya berkata kalau Dion memang yang terbaik jadi pasangan hidupnya. Lily mengembangkan senyum. Berdoa dalam hati semoga kebahagiaan menyertai pernikahannya sampai mereka menua nanti.


Setelah menyelimuti Dion dan menutup pintu dengan hati-hati, Lily turun dari lantai dua itu. Ia merasa rugi kalau datang ke Bali waktu siang dipakai untuk tidur.


•••••


“Ira ....” Orang yang menyebutkan nama itu mendesah panjang.


“Siapa Ira, Asisten Fasa?”


Laki-laki yang sedang bertopang dagu itu tersentak sampai berdiri. Ia bahkan menyenggol minuman dinginnya yang ada di atas meja hingga isinya tumpah sebagian saking terkejutnya.


Fasa menarik napas. “Bukan siapa-siapa, Nona.” Fasa mengatakan itu dengan menahan rasa terkejut dan kesal. Entah sejak kapan Lily berdiri di depannya yang dibatasi dengan meja bundar. Lily mendapati Fasa sedang duduk di bawah payung tepi kolam renang.


Lily mendaratkan tubuhnya di kursi tanpa mengetahui ekspresi kesal Fasa dan tanpa menunggu untuk dipersilakan duduk terlebih dulu.


“Ayo duduk aja, Asisten Fasa. Jangan sungkan.” Sungguh merasa tidak bersalah.


“Kenapa Anda kemari, Nona? Bukankah Anda dan Bapak seharusnya menikmati waktu berdua?” Fasa duduk kembali. Masih menyisakan rasa kesal karena dikejutkan. Belum lagi memikirkan soal pacarnya yang masih marah dan tidak bisa dihubungi.


Wajah Lily merona malu karena mendengar kata menikmati waktu berdua. Maksud Fasa adalah ingin mengusir Lily dari sana secara halus, namun Lily mengartikan Fasa sedang menggodanya. “Mas Dion lagi tidur.” Kembali penasaran dengan nama yang disebutkan Fasa tadi. “Siapa Ira, Asisten Fasa? Apa dia pacarmu?”


Fasa mendesah dalam diam. Ia sudah pusing dari semalam belum menemukan titik terang masalah percintaannya. Lily malah datang mengganggu yang semakin memperkeruh kegalauannya.


Lily menyoroti Fasa dengan mempertajam matanya, “kayaknya Asisten Fasa dibuat galau oleh wanita yang bernama Ira itu. Ayo Asisten Fasa, semangat! Patah tumbuh hilang berganti.”


Fasa mendengus mendengar kata penyemangat Lily. Bukannya mengobati galaunya malah membuatnya semakin terpuruk. Mana mungkin Fasa bisa mengganti kekasihnya dengan orang lain setelah merajut kasih 5 tahun lamanya.


Merasa kata penyemangatnya tidak bereaksi pada Fasa, Lily menyuarakan lagi pendapatnya.

__ADS_1


“Coba Asisten Fasa cerita dulu. Mungkin aku bisa bantu.”


Kalau Anda mau membantu, tolong usir saja saya dari sini agar bisa membujuk kekasih saya yang sedang merajuk. Tentu Fasa berani berucap hanya dalam hati.


“Maaf, Nona. Saya permisi mau masuk ke dalam.” Fasa merasa lebih baik pergi dari sana dan mengurung diri di dalam kamar. Lebih baik menunggu sang pacar memberinya kesempatan untuk menjelaskan kesibukannya. Fasa beranjak dari sana.


Lily turut bangkit lalu menghadang jalan Fasa yang hendak pergi. “Tunggu dulu, Asisten Fasa. Aku mau berbicara banyak denganmu.”


“Bukankah Anda dari tadi sudah banyak bicara,” ujar Fasa kesal.


Lily terkekeh melihat Fasa yang jadi tidak bersahabat. “Jangan cepat marah, Asisten Fasa.” Lily menahan tangan Fasa yang mau melanjutkan langkahnya. “Tunggu dulu!”


“Lily!”


“Iya.”


Eh, siapa yang memanggilku.


Orang berdua yang sedang berdebat, kompak berpusing ke sumber suara. Dion ada di ambang pintu dan berjalan menemui mereka dengan wajah dingin.


“Eh, Mas Dion udah bangun?”


Dion bergeming, tatapan matanya tajam melihat tangan Lily yang masih menempel di lengan Fasa. Fasa sadar atas ketidaksukaan atasannya itu. Ia segera mundur membiarkan tangan Lily jatuh dengan sendirinya.


“Apanya yang masuk, Mas?” Lily berani benar bertanya padahal Dion sedang dalam marah.


Pertanyaan Lily membuat Dion semakin gusar. “Kau masuk ke kamar!” Tatapannya yang tajam berubah menjadi sangat menakutkan. Lily seketika lumpuh dibuatnya dan menurut apa yang diperintahkan Dion.


Sambil berlari kecil ia menggerutu, “dari sekian banyak ruangan di villa ini, kenapa harus menyuruhku ke kamar.”


Sedangkan Fasa. “Kau tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!” ancam Dion dengan sorot mata yang tetap menakutkan dan tentu Fasa harus mematuhinya. Dion sudah siap pergi dari sana, tapi kemudian berbalik lagi melihat asistennya itu. “Tunggu aku di sini!”


***


Siang telah berganti sore namun cuaca di Bali masih tetap terik. Langkah panjang kaki Dion membawa tubuhnya cepat sampai ke kamar. Terlihat Lily sedang merapikan selimut yang dipakai Dion tadi saat tidur.


“Tidak usah dirapikan!” seru Dion seraya mendekat. Sorot mata gusar masih terbaca di bola matanya.


“Kenapa, Mas?”


“Karena sebentar lagi juga akan berantakan kembali.” Dion semakin dekat.

__ADS_1


Lily bingung dengan apa yang dibilang Dion, namun ia tetap melanjutkan merapikan ranjang. Toh sesuatu yang rapi sedap dipandang mata.


Dion berdecak kesal lalu merebut tangan Lily dari kain penutup ranjang itu. Membuat tubuh mereka saling berhadap-hadapan.


“Tanganmu ini, apa kau tidak bisa mengendalikan tanganmu ini supaya tidak menyentuh tubuh orang sembarangan?” Berteriak.


“Apa maksudmu, Mas?”


Dion kembali berdecak. Kemarahannya sudah di ubun-ubun. “Jangan pernah menyentuh laki-laki lain dengan tanganmu!”


Lily diam. Memutar kembali ingatannya mengapa Dion bersikap begini. Sebelum pria itu tadi tertidur mereka baik-baik saja. Bahkan Dion masih menerangkan tempat-tempat indah yang ada di pulau itu. Dan sore ini berniat mengajaknya ke salah satu tempat terindah.


“Kau paham!”


Teriakan Dion menyadarkannya kembali. “I, iya, aku paham.”


Dion mendesah frustasi. Ia berbalik menuju pintu. Lily pikir Dion akan pergi dari sana. Tapi salah, Dion menutup pintu dan menguncinya.


Lily menelan salivanya yang terasa bagai duri, sakit. Dion kembali berjalan untuk menemuinya. Sebisa mungkin Lily bersikap biasa saja. Kalau tadi ia bisa bicara banyak dengan santai dan sesuka hati pada Fasa, tidak dengan Dion. Gestur tubuh Dion seakan menyihirnya untuk tidak membangkang walau sedikitpun.


“Apa kau sudah sehat?” Suara laki-laki itu melembut dan penuh makna, membuat kulit Lily meremang.


“I, Iya, aku baik-baik saja. Memang kapan aku sakit.” Lily meraba akan terjadi sesuatu setelah ini. Ia mencoba membuat jarak diantara mereka. Tentu Dion tidak membiarkan itu. Dion mengambil pinggang ramping istrinya itu dan menariknya ke dalam pelukan.


“Aku lapar.” Dion mengambil tengkuk Lily dan membenamkan ciuman di bibir ranum gadis itu.


“Mmm.”


Melepaskan ciuman. “Apa?”


“Biar kuambil makanannya ke dapur.” Mendorong dada Dion. Namun tidak berhasil. Pelukan tangan laki-laki itu di pinggang Lily begitu erat.


“Tidak perlu karena makanannya adalah kau.”


Dan terjadilah yang diinginkan Dion. Lily menjerit di dalam hati.


Aaa, seharusnya aku mengatakan kalau aku sakit, sakit yang teramat parah.



__ADS_1



__ADS_2