
Malam itu Andrew memacu kendaraannya dengan cepat, dia sedang menuju kerumah kekasih bosnya karena dia mendapat perintah dari bosnya untuk membawakan sesuatu.
Setelah mendapat benda yang diinginkan oleh bosnya dari sebuah pelelangan yang diadakan dikota itu, Andrew segera menuju ketempat bosnya untuk memberikan benda itu.
Dia mengikuti sebuah lelang perhiasan dua jam yang lalu untuk mendapatkan sebuah kalung berlian bernama The Incomparable.
The Incomparable terdiri dari berlian berwarna cokelat kuning 407 karat dan 91 berlian transparan.
Desainnya yang asimetris menyerupai batang pohon menjadi ciri khas tersendiri yang memanjakan mata banyak orang.
Tidak mudah mendapatkan kalung ini karena banyak peminatnya, Andrew harus bersaing dengan beberapa orang kaya lainnya untuk memperebutkan kalung yang indah itu.
Setelah sekian lama bersaing akhirnya dia mendapatkan kalung yang diinginkan oleh bosnya dengan harga fantastis.
Tapi tidak hanya kalung itu, dia juga membawa kalung berlian lainnya, itu juga kalung yang diminta oleh bosnya.
Setelah tiba, Andrew memarkir kendaraannya dengan cepat. Dia segera melangkah menuju rumah kekasih bosnya.
Andrew mengetuk pintu rumah itu dan tampak bosnya membukakan pintu untuknya, sepertinya bosnya memang sudah menunggunya.
"Apa kau mendapatkan apa yang aku minta?" tanya Jacob.
"Tentu master." Andrew memperlihatkan dua buah kalung yang berada didalam.
"Bagus." Jacob mengambil salah satu kalung yang dibawa oleh Andrew.
"Yang satu itu simpan baik-baik, itu akan aku gunakan untuk melamar Alice nanti." perintahnya.
"Baik master."
"Sana kau pergi." usirnya.
"Siap master." tanpa menunggu lama, Andrew segera pergi dari sana dengan kalung berlian The Incomparable ditangannya, sesuai perintah bosnya dia harus menyimpan benda mahal itu dengan baik.
Setelah kepergian Andrew dari sana, Jacob segera berjalan menuju kamar Alice, kekasihnya itu berada didalam kamar setelah mereka selesai makan malam dan tidak keluar lagi.
Jacob masuk kedalam sana dan tersenyum melihat Alice yang sedang mendengarkan music dari ponselnya sambil memejamkan matanya.
Dia segera naik keatas ranjang dan mendekati Alice.
"Alice sayang." Jacob menarik Alice hingga Alice bersandar padanya.
"Hmm?" Alice membuka matanya dan melihat kearah Jacob.
"Ayo kita bicara." ajaknya.
"Mau bicara apa Jac-Jac?"
"Hei bisa tidak kau tidak memanggilku Jac-Jac?"
"Tidak, karena aku suka memanggilmu seperti itu." Jawab Alice sambil tersenyum manis.
"Ck, sudahlah!"
Alice melepaskan headset dari telinganya sambil terkekeh, dia segera mengangkat kepalanya untuk menciumi pipi Jacob.
"Apa kau sudah mencuci semua piring kotornya?" tanyanya.
"Sudah." Jawab Jacob dengan malas.
__ADS_1
Dia kesal karena sekarang dia yang jadi pembantu Alice.
"Bagus, jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
"Ini mengenai hubungan kita sayang?"
"Memangnya ada apa dengan hubungan kita?"
"Oh my, bukankah kau bilang ingin segera menikah denganku?"
"So?"
"Alice sayang aku akan segera melamarmu."
Saat mendengar itu Alice diam saja, menikah dengan Jacob? Dia tidak keberatan tapi ada hal lain yang jadi pertimbangannya.
Alice segera melepaskan diri dan duduk disisi ranjang, cepat atau lambat mereka pasti akan menikah karena Jacob serius berhubungan dengannnya.
"Jac-Jac."
"Ya?"
"Apa kau benar-benar ingin menikah denganku?"
"Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu?" Jacob kembali mendekati Alice dan memeluknya dari belakang.
"Kau tahu bukan aku punya Marry."
"Ya."
"Apa setelah kita menikah kau akan menerima Marry? Maksudku apa kau akan selalu menyayangi Marry bahkan nanti jika kita sudah punya anak?"
"Dasar bodoh! Jika aku tidak mau menerima Marry dan menyayanginya buat apa aku berhubungan denganmu."
"Mau aku katakan berapa kali padamu bahwa aku serius berhubungan denganmu dan aku pasti akan menerima Marry juga menyayanginya walaupun dia bukan darah daging kita."
"Sekalipun kita punya sepuluh anak nanti dia akan aku anggap sebagai putriku dan aku akan selalu menyayanginya."
Senyum mengembang diwajah Alice saat mendengar perkataan Jacob, sepertinya sudah tidak ada alasan lagi untuk menolak Jacob dalam hidupnya.
Lagipula dendamnya entah kapan baru bisa terbalas karena tidak ada yang tahu siapa yang telah membunuh keluarganya sampai saat ini.
"Jac-Jac."
"Hmmm?" Jacob menciumi leher Alice dari belakang.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan Marry dan besok aku akan menjemput Marry untuk pulang."
"Kenapa harus membicarakannya dengan Marry?"
"Aku perlu persetujuannya Jac, jadi aku harus membicarakan hal ini padanya."
"Baiklah, aku yakin dia pasti tidak akan keberatan."
"Aku tahu, tapi aku tetap harus mendengar pendapatnya."
"Alice sayang, jika itu yang kau inginkan maka bicarakanlah dengannya."
"Terima kasih Jac."
__ADS_1
"Alice sayang."
"Ya?"
Jacob mengeluarkan kalung yang dia bawa dan segera memakaikannya dileher Alice.
"Ini untukmu."
Alice melihat kalung berlian yang melingkar indah dilehernya, kemudian dia memandangi Jacob.
"Apa ini? Kau ingin menyuapku ya?" katanya bercanda.
"Kau ya!!itu hadiah untukmu."jawab Jacob kesal.
Alice terkekeh pelan dan menciumi wajah Jac-Jacnya.
"Terima kasih Jac."
"Apa kau suka?"
"Apa kau punya yang lainnya?"
"Tentu, kau ingat kalung berlian merah yang aku bawa waktu itu? Aku akan memberikan kalung itu jika kau mau."
"Tidak mau, itu jelek." tolak Alice dengan cepat.
Jacob kembali memeluk Alice dan berbisik ditelinga kekasihnya.
"Alice sayang kau harus ingat, jangan kau lepas kalung itu apapun yang terjadi nanti."
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan kau lepaskan!!"
Alice mengernyitkan dahinya dan melihat kalung yang diberikan oleh Jacob untuknya, walaupun dia tidak mengerti kenapa Jacob memintanya untuk tidak melepaskan kalung itu tapi akan dia turuti perkataan Jacob.
"Baiklah." jawabnya.
Senyum Jacob mengembang diwajahnya, dia segera menarik Alice hingga gadis itu tidur diatas ranjang setelah itu dia juga merebahkan diri disamping Alice.
"Alice sayang, bersiaplah karena aku akan segera melamarmu."
"Aku tunggu Jac-Jac, tapi kau tidak lupa bukan? Saat kau melamarku kau harus memainkan sebuah lagu untukku." Alice segera menciumi bibir Jacob.
Saat mendengar itu, Jacob mengumpat dalam hati:
"Sialan, aku kira dia sudah lupa dengan tantangan itu tapi ternyata?"
"Alice sayang, bagaimana jika?"
"Kenapa? Jangan bilang jika kau belum bisa bermain piano."
"Tidak sayang, aku sudah bisa memainkan benda itu." tipunya.
"Baguslah, aku menantikannya." Alice kembali mengecup bibir Jacob, setelah itu dia masuk kedalam pelukan Jacob dan memejamkan matanya.
Jacob memainkan jari jemarinya dirambut Alice dan menghela nafasnya dengan berat, bagaimana dia bisa bermain piano karena sejak hari itu dia tidak pernah menyentuh benda itu lagi.
Tapi jangan panggil dia Jacob Smith jika dia sampai menyerah, besok dia akan memerintahkan Andrew untuk mencari seorang guru piano yang bisa mengajarinya dengan cepat jika tidak, dia tidak bisa melamar Alice menjadi istrinya tapi jika dia tidak bisa juga? Dia juga tidak akan kehabisan akal karena banyak akal licik diotaknya.
__ADS_1