
Setelah Alice keluar dari ruangannya, Jacob berjalan ke arah Jendela yang ada diruangan itu sedangkan matanya melihat kebawah sana, melihat mobil berlalu lalang tapi walau begitu, pikirannya melayang jauh.
Baru kali ini ada gadis yang berani menolaknya mentah-mentah, setiap wanita yang mendengar namanya pasti akan berlari kearahnya. Tapi Alice Walker?
Benar-benar membuat seorang Jacob Smith penasaran. Bagaimana caranya agar dia bisa dekat dengan gadis itu?
Jacob memainkan jarinya didagunya, memikirkan sesuatu. Jacob memutar langkahnya dan kembali kemejanya.
"Andrew."
Seorang pria langsung masuk dari pintu.
"Yes master."
"Tahan Alice Walker, jangan biarkan dia keluar dari sini." perintahnya.
"Siap master."
"Dan?"
Andrew menunggu perintah selanjutnya, tidak lama kemudian Andrew mengangguk dan segera berlalu pergi untuk menjalankan perintah bosnya.
Sedangkan saat itu Alice sudah berada didalam lift dengan perasaan kesal karena selalu dipermainkan oleh Jacob.
Selama didalam lift Alice memaki dan mengutuki Jacob dalam hati.
"Pria menyebalkan, melibatkan aku dalam masalahnya. Selalu memberikan syarat untuk menandatangani kontrak itu, jika bukan demi perusahaan kak Jay dan Marry aku tidak akan sudi datang kemari."
"Lagipula kenapa dia mengatakan sebaiknya aku tidak perlu tahu siapa pembunuh keluargaku?"
"Dia kira dia itu siapa, temanku bukan, pacar juga bukan! Selalu seenaknya memaksaku, setelah ini aku tidak akan bertemu dengannya lagi." makinya.
Alice menarik nafasnya dengan berat, gadis itu menyandarkan tubuhnya didinding lift dan matanya hanya melihat lampu lift yang menyala.
Selama lift itu bergerak turun, Alice jadi teringat dengan keluarganya yang sudah tiada.
"Seandainya daddy masih hidup, kak Jay dan mommy masih ada mungkin aku tidak akan seperti ini." katanya dalam hati.
Tiba-tiba mata Alice terasa panas tapi dengan cepat dia tahan, dia tidak mau ada yang melihatnya menangis nanti.
Tapi walau begitu, air matanya mengalir juga dari kedua matanya. Kenapa dia jadi rindu pada keluarganya?
Alice mengusap air matanya, apa setelah ini dia pergi kemakam keluarganya saja untuk melepas rindu?
Saat lift yang dia tumpangi telah terbuka Alice keluar dari sana, berjalan dengan cepat menuju pintu keluar. Tapi disana tampak beberapa orang berdiri didepan pintu.
"Excuse me sir, boleh aku lewat?" pintanya.
__ADS_1
Tapi para pria yang tampak terlatih dan memiliki badan besar seperti pegulat itu diam saja, tidak merespon permintaan Alice.
"Sir, boleh aku lewat?" pinta Alice lagi.
Tapi mereka diam saja, tidak juga merespon permintaan Alice.
"Oh my God! Apa aku mencuri sesuatu?"
Alice begitu kesal, padahal dia mau keluar dari tempat itu tapi kenapa tidak boleh?
"Ms Alice Walker." terdengar suara Jacob dibelakangnya.
Alice membalikkan badannya melihat kearah pria itu yang sedang berjalan kearahnya.
"Jacob, apa maksudnya ini?"
Jacob mengangkat tangannya, saat para pria yang berdiri didepan pintu melihatnya merekapun langsung menyingkir dari depan pintu.
"Ms Alice, maafkan orang-orangku. Aku yang memerintahkan mereka untuk menahanmu." kata Jacob dengan dingin.
Alice mengernyitkan dahinya, kenapa tiba-tiba sikap Jacob berubah?
Jacob memberikan isyarat pada asisten pribadinya yang berada disebelahnya dan pada saat Andrew melihat isyarat dari bosnya pria itu langsung mendekati Alice.
"Ms Walker, ini dokumen yang telah ditanda tangani oleh master dan sekarang jika ada apa-apa kau bisa mencariku." jelas Andrew sambil menyodorkan dokument yang dipegangnya.
"Terima kasih."
Jacob melihat kearah gadis itu sejenak, setelah itu Jacob mengeluarkan kaca mata hitamnya dan memakainya.
"Andrew, ayo kita pergi." ajaknya.
Andrew mengangguk dan segera mengikuti langkah bosnya, begitu juga dengan beberapa bodyguard yang berdiri didepan pintu tadi, mereka juga keluar mengikuti pria itu.
Alice sungguh bingung tapi dia tidak mau memikirkannya, Alice berjalan dibelakang orang-orang itu untuk keluar dari sana.
Alice berdiri didepan gedung itu dan melihat kearah Jacob yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
Pria itu bahkan cuek saja dan tidak melihatnya, sibuk berbicara dengan asisten pribadinya.
Ada apa dengan pria itu? Kenapa dia jadi penasaran.
Alice menunduk, belum beranjak dari sana. Rasanya dia ingin menangis lagi tapi berusaha dia tahan, sekarang dia benar-benar ingin pergi kemakam keluarganya.
Alice mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan untuk sekertarisnya.
"Jane, aku sudah mendapat kontraknya dan proyek ini sudah bisa dijalankan. Tapi kau bisa mengambil kontrak itu besok pagi karena aku mau pergi kemakam keluargaku."
__ADS_1
Setelah selesai menulis, Alice mengirim pesan itu untuk sekertarisnya.
"Baik ms Alice." Jabaw Jane.
Setelah membaca pesan itu Alice segera menyimpan kembali ponselnya kedalam tas, Alice hendak melangkah pergi tapi pada saat itu sebuah mobil melaju tidak jauh darinya.
Tampak dari dalam mobil itu, seorang pria menodongkan pistolnya keluar dari jendela yang terbuka. Pistol itu mengarah tepat kearah Alice dan pria misterius itu sudah siap menembakkan pistolnya.
Saat Jacob melihatnya, pria itu langsung beteriak:
"Alice!" Jacob berteriak saat melihat mobil itu yang sudah mendekati Alice dan dengan cepat Jacob berlari kearah Alice untuk menarik gadis itu.
Alice sungguh bingung, beberapa menit kemudian terdengar suara letusan senjata api dan dia sudah berada didalam pelukan Jacob.
Setelah orang yang berada didalam mobil menembakkan senjata apinya, orang itupun langsung melajukan kendaraannya untuk pergi dari tempat itu.
"Jacob."
Alice memanggil pria itu tapi Jacob hanya diam saja, Alice langsung limbung karena menahan berat badan Jacob dan mereka berdua berlutut diatas aspal.
Saat itu Andrew segera berlari kearah bosnya.
"Master!"
"Ja..Jacob." tangan Alice mulai bergetar.
Alice menyentuh bahu Jacob dan tangannya menyentuh sesuatu yang basah, Alice melihatnya, darah!
Ingatan saat kematian keluarganya teringat kembali, saat dia harus melihat mayat seluruh keluarganya dan sekarang dia harus melihat Jacob tertembak didepan matanya karena harus menggantikannya menerima timah panas itu.
"Jacob jangan bercanda denganku." Alice langsung menangis dan memeluk tubuh pria itu dengan erat.
"Jangan menangis Alice, aku tidak apa-apa." bisik Jacob ditelinganya.
"Apanya yang tidak apa-apa? Kenapa kau menahan tembakan itu untukku. Jenapa kau tidak pergi saja dan abaikan aku seperti yang kau lakukan tadi."
Jacob hanya tersenyum dan memeluk tubuh Alice dengan erat.
Alice mengusap air matanya, dia tidak sanggup melihat orang yang dia kenal mati hadapannya.
"Jacob, ayo kita kerumah sakit." ajaknya.
Saat itu Andrew dengan beberapa anak buahnya berdiri didepan Alice.
"Ms Alice, kau harus bertanggung jawab."
"Hah?" Alice sungguh bingung, maksudnya?
__ADS_1