
Jacob sedang bersadar ditembok sedangkan satu kakinya terangkat dan kedua tanganya tersilang didepan dadanya, matanya yang tajamnya mengekori pergerakan Alice.
Saat itu Alice sedang sibuk menyiapkan bekal untuk Marry sedangkan Marry sedang menikmati sarapan yang tersedia diatas meja.
Dia sedang menunggu Marry berangkat kesekolah karena dia ingin berbicara dengan Alice berdua, dia hampir mati kesal semalam karena diabaikan oleh Alice.
Bahkan dia tidak bisa tidur sama sekali, apa Alice begitu marah padanya sampai Alice mengabaikannya seperti ini?
Bahkan saat melihatnya Alice tidak menyapanya sama sekali.
Jacob bersorak dalam hati saat melihat Marry telah selesai sarapan dan bangkit berdiri sedangkan Alice memasukkan kotak makan kedalam tas Marry dan memakaikan ransel itu kepunggung Marry.
"Marry sayang, nanti siang aku akan menjemputmu dan kita akan pergi dengan kakak Olivia, okay?"
"Okey mom."
Alice berjongkok dan memeluk Marry sejenak setelah itu dia juga mengantar Marry keluar, diluar sana bus sekolah yang biasa Marry tumpangi sudah menunggu, dengan cepat pula Marry berlari kebus sekolah itu untuk bergabung dengan teman-temannya.
Setelah kepergian Marry, Alice segera kembali didapur, dia ingin membersihkan alat makan yang kotor diatas meja.
Saat dia baru masuk kedalam dapur tiba-tiba pinggangnya diraih oleh Jacob.
"Jac-Jac!"
Jacob membawa Alice dan mendudukkannya diatas meja, dia benar-benar sudah tidak tahan seperti ini dan rasanya dia ingin melempar Alice keatas ranjang.
"Jac-Jac kau mau apa sih?"
Jacob tidak menjawab, dia langsung memeluk Alice dengan erat dan membenamkan wajahnya dileher Alice. Padahal dia hanya diabaikan satu malam saja tapi rasanya dia sudah sangat rindu, bagaimana jika mereka lama tidak bertemu? Dia tidak bisa membayang hal itu!
"Jac-Jac?" Alice mengangkat tangannya dan membelai kepala Jacob dengan lembut.
"Alice sayang, apa kau masih marah padaku?"
"Tidak, aku tidak marah padamu."
"Apa?"Jacob mengangkat kepalanya dan melihat Alice dengan lekat.
"Jadi kau tidak marah padaku?" tanyanya tidak percaya.
"Tidak." jawab Alice sambil menggeleng.
"Oh my! Lalu kenapa kau mengabaikan aku dan tidak mau berbicara denganku dari semalam!!" Jacob jadi kesal.
Jadi Alice tidak marah padanya? Jadi dia uring-uringan sendiri seperti orang bodoh!
Alice melingkarkan tangannya dileher Jacob dan tertawa pelan.
"Itu hukuman untukmu karena telah Menjadikan pernikahan sebagai alat taruhan."
"Maaf sayang, aku dan kakakku hanya bercanda saja, lagi pula taruhan itu sudah lama aku buat sebelum kita bertemu."
"Begitu?"
"Yes."
__ADS_1
"Tetap saja kau salah!!"
"Jadi maukah kau memaafkan aku?" Jacob mengusap wajah Alice dengan lembut.
"Kalau aku tidak mau lalu kau mau apa?" tanya Alice menggoda. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Jac-Jac jika dia tidak mau memaafkannya.
"Oh my, asal kau tahu saja?" Jacob menciumi pipi Alice dan berbisik ditelinganya.
"Aku akan melemparmu diatas ranjang, aku akan membuatmu menangis dan mengerang nikmat karena perbuatanku. Aku akan melakukan itu sampai kau memaafkan aku." bisiknya.
"Dasar otak mesum!"
Jacob terkekeh, dia mulai menggigit telinga Alice dan memainkan bibirnya disana. Alice memejamkan matanya dan mengencangkan pelukannya dileher Jacob.
"Jac."
"Hm?"
"Aku sudah membicarakannya dengan Marry."
"Apa?" Jacob terus dengan aksinya, tangannya kini mulai masuk kedalam baju Alice dan meraba dada kekasihnya.
"Aku sudah meminta persetujuan pada Marry tentang pernikahan kita."
Saat mendengar itu, Jacob langsung menghentikan aksinya lalu menatap Alice dengan lekat, apa Marry setuju Alice menikah dengannya?
"Lalu? Apa dia setuju jika kita menikah?"
Senyum Alice mengembang diwajahnya, dia menjawab pertanyaan Jacob dengan mengangguk pelan.
Jacob tampak begitu senang, dia langsung menggedong tubuh Alice dan memutarnya karena saking senangnya.
"Jac!"
Alice memeluk leher Jacob dengan erat karena Jacob memutarnya berkali-kali.
"Jac, hentikan! Kepalaku pusing." pintanya.
"Oke baiklah, aku juga pusing."
Jacob menghentikan memutar tubuh Alice dan hendak mendudukkan Alice diatas meja kembali tapi pada saat itu keseimbangannya hilang, mereka berdua langsung oleng kesamping dan?
"Gubrakkkk!!" tubuh mereka berdua jatuh diatas lantai dengan posisi Alice berada dibawah sedangkan Jacob berada diatas.
"Jac-Jac!!!" teriak Alice kesal.
"Oh my honey, i'm sorry."
"Are you crazy??" Alice mengusap kepalanya yang terbentur lantai.
"Sorry honey."
Jacob segera menarik Alice, mereka berdua duduk diatas lantai sedangkan Jacob mulai mengusap kepala Alice yang terbentur.
"I'm sorry honey." katanya lagi.
__ADS_1
"Kau!! Untung saja kepalaku tidak pecah!" Alice menatapnya dengan tajam.
"Aduh, punggungku juga sakit." keluh Alice sambil memegangi punggungnya.
"Maaf sayang,bmaaf." Jacob merasa sangat bersalah, dia mengangkat Alice dan mendudukkan Alice diatas pangkuannya.
"Maafkan aku sayang." Jacob terus mengusap punggung Alice.
"Sudahlah, kau memang pria gila yang pernah aku temui."
"So, we are crazy couple, right?"
Alice melihat Jacob kemudian dia tertawa, dia mulai mendekatkan bibirnya kebibir Jacob dan mengecupnya dengan lembut.
"Yah, sampai aku juga jadi gila." bisiknya.
"Jadi apa kau sudah siap jadi nyonya Smith?"
"Aku sudah sangat siap."
"Oh my, nyonya Smith, bersiaplah saat malam pernikahan kita aku akan membuatmu tidak bisa bangun dan aku tidak akan mengijinkanmu pergi kemanapun karena kita akan bercinta sepanjang hari."
"Gila!!"
"Aku memang gila."
Jacob me**mat bibir Alice dan berbisik pelan.
"Kau juga."
Setelah itu dia kembali menciumi bibir Alice, mel**atnya dengan lembut, rasanya sudah tidak sabar untuk menikahi Alice dan pastinya akan segera dia lakukan tapi sebelum itu dia harus pergi menemui Marcos hari ini bersama dengan uncle Billy.
Setelah menyudahi ciuman mereka, Jacob segera bangkit berdiri dengan Alice didalam gendongannya, dia kembali mendudukkan Alice diatas meja dan mengusap wajahnya.
"Alice sayang, apa yang akan kau lakukan hari ini? Apa kau akan pergi keperusahaan?"
"Tidak Jac, aku akan menjemput Marry saat dia pulang sekolah dan pergi dengan Olivia, kami sudah berjanji akan makan siang bersama."
"Setelah itu?"
"Tidak ada."
"Oke dengarkan aku, aku harus pergi menemui rekan ayahmu dulu untuk mencari petunjuk. Mungkin dia tahu siapa yang telah menghabisi keluargamu jadi?" Jacob kembali mengusap wajah Alice.
"Aku tidak tahu aku akan cepat kembali atau tidak jadi kau pergilah kerumah orang tuaku, setelah aku kembali aku akan menjemputmu dan Marry."
"Kenapa?"
"Lakukanlah, aku tidak tenang meninggalkan kalian berdua dirumah."
"Kau terlalu berlebihan Jac, aku dan Marry sudah terbiasa berdua dirumah semenjak kematian keluargaku."
"Alice sayang, bisakah kau menuruti permintaanku kali ini?" Jacob melihat wajah Alice dengan serius.
"Oke baiklah, aku akan pergi kerumah orang tuamu dan menunggumu disana."
__ADS_1
"Itu bagus." Jacob kembali menciumi bibir Alice, entah kenapa saat itu sebuah firasat buruk terbersit dibenaknya. Tapi selama Alice dan Marry berada dirumah orang tuanya maka mereka akan baik-baik saja sampai dia kembali nanti.