
Malam itu Jacob tampak uring-uringan sendiri diruang tamu rumah Alice, bagaimana tidak, sejak mereka pulang dari pernikahan kakaknya Alice masih marah karena mendengar taruhan yang dia buat dengan kakaknya.
Alice bahkan tidak mau berbicara dengannya dan bersembunyi didalam kamar Marry, jika saja tidak ada Marry mungkin dia sudah menerobos masuk kedalam kamar itu dan menerkam Alice.
Jacob tampak frustasi, semua ini gara-gara kakaknya dan dia juga sih yang salah, tapi mana dia tahu Alice mendengar pembicaraan mereka?
Jacob mengusap rambutnya dan menghela nafasnya dengan panjang, mungkin nanti malam dia harus menculik Alice dan membawanya dari kamar Marry.
Saat itu ponselnya berbunyi,dengan perasaan malas, Jacob menjawab panggilan yang masuk dari ponselnya.
"Ya?"
"Jacob."
"Uncle Billy, ada apa?"
"Aku sudah menemukannya."
Saat mendengar itu Jacob segera bangkit berdiri.
"Siapa?" tanyanya dengan tidak sabar.
"Dengarkan aku, aku sudah menemukan rekan Adam Walker." jawab Billy dari sebrang sana.
"Ck, aku kira uncle telah menemukan siapa pelakunya!"
"Jacob, dia adalah rekan Adam Walker saat bertugas sebelum Adam Walker dibantai. Mungkin dia punya petunjuk dan tahu siapa yang telah Adam Walker lawan sebelum mereka sekeluarga dibantai."
Jacob kembali duduk diatas sofa, perkataan uncle Billy masuk diakal. Tapi jika rekan Adam Walker tahu lalu kenapa dia tidak mengungkap kasus kematian rekannya?
"Uncle, siapa orang ini dan katakan padaku dimana dia berada?"
"Namanya Marcos, sejak kematian Adam Walker, dia berhenti dari FBI dan menyembunyikan dirinya ditempat terpencil, jarak dari sini ketempatnya mamakan waktu beberapa jam perjalanan." jelas Billy lagi.
"Tidak masalah, uncle ikut denganku besok untuk menemui pria ini."
"Tentu saja, aku harap kita bisa menemukan sesuatu dari pria ini."
"Aku harap juga begitu."
Setelah mematikan ponselnya, Jacob menyimpan benda ltu diatas meja. Dia mulai berpikir, kenapa Marcos menyembunyikan dirinya?
Apa dia juga dikejar oleh orang yang telah menghabisi keluarga Adam Walker? Jika iya berarti orang ini tahu sesuatu dan besok dia akan menemui orang ini untuk menanyakan siapa dalang yang telah membunuh keluarga Alice.
Sepertinya teka teki kematian keluarga Alice akan segera terpecahkan dan dia akan meminta Alice untuk segera pindah. Tapi masalahnya sekarang, Alice sedang marah padanya.
Jacob melihat kamar Marry yang tertutup dan menarik nafasnya dengan berat, tengah malam dia akan benar-benar masuk kedalam kamar itu untuk menculik Alice dan memaksanya berbicara dengannya.
Pada saat itu pintu kamar Marry terbuka, Marry keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar itu kembali.
"Marry." Jacob segera bangkit berdiri dan menghampiri Marry.
"Yes uncle."
"Kau mau kemana?"
__ADS_1
"Mommy memintaku mengambil air minum."
"Apa yang mommy Alice lakukan didalam sana?"bJacob berjongkok didepan Marry dan melihat gadis manis itu.
"Mommy sedang mengobrol dengan kakak Olivia."
"Oke baiklah, maukah kau membantu uncle?"
"Apa?"
"Maukah kau membukakan pintu kamar ini untuk Uncle saat mommy Alice sudah tertidur?"
"Untuk apa Uncle?" Marry melihatnya dengan heran.
"Untuk menculik mommymu." jawab Jacob gamblang.
Marry tampak bingung tidak mengerti dengan maksud Jacob sedangkan Jacob hanya tertawa pelan melihat wajah Marry.
"Ingat, jangan mengunci pintu itu, okay?"
"Baiklah." Marry mengangguk.
Setelah itu dia berlalu pergi untuk mengambil minuman sedangkan Jacob kembali duduk diatas sofa, tidak lama kemudian Marry masuk kembali kedalam sambil membawa segelas air yang dipinta oleh Alice.
Marry duduk diatas ranjang dan duduk disamping Alice yang tampak sedang memainkan ponselnya.
"Mom."
"Hmm?"
Saat mendengar pertanyaan dari Marry, Alice meletakkan ponselnya dan mengusap kepala Marry dengan lembut.
"Tidak sayang, kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Alice tersenyum, mungkin ini saatnya dia mengatakan pada Marry jika dia akan menikah dengan Jacob. Dia ingin tahu apakah Marry akan setuju?
"Marry."
"Yes mom."
Alice menarik nafasnya sejenak,dia harus bersiap mendengar jawaban Marry nanti. Jika Marry tidak setuju maka dia tidak akan memaksa gadis itu.
"Bagaimana menurutmu jika mommy menikah dengan uncle Jacob." tanyanya.
"Mommy mau menikah dengan uncle?" Marry melihatnya dengan serius.
"Yes, apa kau memperbolehkan mommy menikah dengannnya?"
Saat itu Marry langsung masuk kedalam pelukannya, dia juga menangis. Hal itu membuat Alice bingung, apa itu tanda jika Marry tidak setuju jika dia menikah dengan Jacob?
"Marry sayang, kenapa kau menangis?" Alice mengusap kepala Marry dengan lembut.
"Apa kau tidak setuju mommy menikah dengan uncle Jacob?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Marry menggeleng dalam pelukannya, dia khawatir jika Alice tidak mencintainya lagi jika mommynya itu sudah menikah nanti.
"Mommy."
"Ya?"
"Apa kau akan tetap mencintai Marry?"
"Hei kenapa kau bertanya demikian?"
Alice melepaskan pelukannya, melihat wajah marry dan mengusap air matanya yang masih mengalir dengan lembut.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mommy Alice, apa setelah mommy menikah mommy akan selalu mencintai dan menyayangi Marry?"
Marry bertanya sambil melihat Alice dengan mata berkaca-kaca.
"Marry sayang, sekalipun mommy menikah kau akan selalu menjadi nomor satu untuk mommy. Kau tahu?" Alice kembali memeluk Marry dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
"Kau adalah segalanya bagiku, jika kau takut aku tidak menyayangimu lagi setelah aku menikah maka aku tidak akan menikah untuk seumur hidupku."
"Lalu bagaimana dengan uncle Jacob?"
"Biarkan saja, dia bisa mencari yang lain."
Saat berkata demikian Alice merasa berat, tapi jika harus memilih diantara Marry dan percintaannya maka dia akan lebih memilih Marry.
"Mommy, apa uncle Jacob akan menyayangi aku?" tanya Marry lagi.
"Dia bilang akan mencintaimu, sekarang aku tanya padamu apa yang kau rasakan selama ini?"
Marry diam saja, selama dia tinggal dengan ayah dan ibu Jacob dia dimanja dan disayang.
Marry melepaskan pelukkanya dan menatap Alice dengan lekat, dia juga mengusap wajah ibunya itu dengan tangan kecilnya.
"Jadi kapan mommy akan menikah dengan uncle?"
"Jadi kau tidak keberatan?"
"Tidak, aku tahu mommy dan uncle akan selalu menyayangi aku jadi aku tidak keberatan." jawab Marry dengan yakin.
"Terima kasih sayang, mommy akan membicarakan masalah ini dengan uncle nanti, Jadi?" Alice menciumi wajah Marry dengan lembut.
"Sebaiknya kita segera tidur karena besok kau harus pergi kesekolah."
Merry mengangguk dan merebahkan dirinya diatas ranjang sedangkan Alice menarik selimut menutupi tubuh Marry.
Sebelum tidur Alice berjalan kearah pintu dan menguncinya, setelah itu dia kembali dan merebahkan diri disamping Marry.
"Mom, uncle diluar?"
"Biarkan saja." sela Alice dengan cepat. Itu balasan karena Jacob telah menjadikan pernikahan sebagai alat taruhan.
Marry memejamkan matanya untuk tidur, dia lupa jika harus membuka pintu untuk Jacob dan tertidur dengan pulas begitu juga dengan Alice, dia juga tertidur disamping Marry.
Tapi tidak dengan Jacob diluar sana, niatnya untuk menculik Alice tengah malam gagal total karena Marry tidak membukakan pintu untuknya dan sialnya pintu kamar itu terkunci rapat.
__ADS_1
Jacob mengumpat kesal, besok dia tidak akan membiarkan Alice melarikan diri karena dia benci situasi seperti itu.