Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Bagaimana jika kita buat taruhan lagi?


__ADS_3

Setelah menjemput Marry disekolahnya, mereka segera menuju rumah sakit. Entah kenapa selama diperjalanan kepala Alice semakin bertambah sakit.


Sudah beberapa hari dia seperti ini dan ini pasti karena pekerjaannya yang menumpuk diatas meja, mungkin besok dia harus meminta Jane membawakan semua dokument itu dan mengerjakannya dirumah.


Dia bahkan menyandarkan kepalanya pada kursi dan memejamkan matanya sedangkan Marry duduk disampingnya dan melihat kearahnya dengan khawatir.


"Mommy, are you oke?" Marry memegangi tangan Alice dan pada saat itu Alice membuka matanya, melihat kearah Marry dan tersenyum.


"Yes, i'm okey." jawabnya.


"Are you sick, honey?" Jacob memandangi istrinya, dia sedang berada disamping Marry saat ini.


"No, I just have a headache."


"Jika begitu sebaiknya kita pulang."


"Tidak perlu Jac, kita pergi saja. Lagi pula aku sangat ingin melihat Olivia."


"Are you sure?"


"Yes."


"Baiklah."


Jacob mengusap kepala Alice dengan lembut, setelah itu dia berbicara dengan Marry dan mendengarkan cerita dari Marry tentang teman-teman disekolahnya sedangkan Alice kembali memejamkan matanya.


Mungkin dia butuh istirahat dan mungkin saat mereka pulang nanti dia akan langsung tidur agar denyutan dikepalanya tidak sakit lagi.


Mereka menuju sebuah rumah sakit Sharp Mary Birc yang ada di kota San Diego.


Rumah Sakit Sharp Mary Birch untuk Wanita & bayi baru Lahir, bagian dari Sharp Health Care memiliki 206 tempat tidur.


Rumah sakit Sharp Mary Birch terletak di San Diego, California.


Setelah mereka tiba di rumah sakit Sharp Mary Birch, kepala Alice sudah tidak begitu sakit lagi. Tidak mau membuang waktu mereka segera menuju ruangan dimana Olivia dirawat.


Mereka masuk kedalam sebuah ruangan Vip dimana keluarga mereka berkumpul disana. Alice dan Marry menghampiri Olivia yang sedang berbicara dengan Amanda dan ibu mertuanya sedangkan Jacob menghampiri kakak dan ayahnya.


"Hai guys."


"Hei kenapa kau baru datang?" tanya Olivia.


"Sory, aku menunggu Marry pulang sekolah."


"Oh Marry, sini ikut nenek, kita lihat adik bayi." Samantha menghampiri Marry danmenggandeng tangannya.


Dia membawa Marry untuk melihat anak Olivia yang sedang tertidur, begitu juga dengan putra Amanda, Henry sedang tidur disebuah ranjang yang tersedia disana.


"Hei Alice, kapan kau hamil?" ini pertanyaan dari Amanda.


"Tidak tahu." jawab Alice.

__ADS_1


"Hei apa kalian kurang olahraga?" ini pertanyaan dari Olivia.


"Apa begitu? Apa mau aku ajari?" tanya Amanda lagi.


"Ck apa sih yang kalian bicarakan?" gerutu Alice dengan wajah memerah.


"Ayolah, jangan sampai aku mendahuluimu lagi." Amanda mengelus perutnya yang rata.


Hendry sudah besar dan dia berniat punya anak lagi dengan Edward.


"Benar Alice, ayo berusaha setiap hari biar kau cepat hamil supaya anak-anak kita bisa tumbuh bersama-sama. Nanti kita bisa meminta daddy membuatkan taman bermain untuk anak-anak kita."


"Ya ampun Olivia!! Memangnya aku bisa apa? Aku juga sudah berusaha!" jawabnya.


"Hei apa mau aku ajari?" Amanda segera mendekati Alice dan merangkul bahunya.


"Ajari apa sih?" Alice masih belum mengerti.


"Sini." Amanda membisikkan sesuatu ditelinga Alice dan pada saat Alice mendengar pekataan Amanda wajahnya lansung merah padam.


"Nanti malam dipraktekkan, okey?"


"Astaga Amanda!" Alice kehabisan kata-kata sedangkan Amanda dan Olivia tertawa.


Alice hanya menggerutu dengan wajah merah padam, apa-apaan yang dibisikkan oleh Amanda tadi! Tapi apakah dia harus mencobanya?


Sementara itu para lelaki juga sedang berbicara tak kalah serunya, siapa lagi jika bukan Jhon dengan kedua putranya.


"Daddy berisik! Aku sedang berusaha." Jawab Jacob kesal.


"Oh ya? Jangan lama-lama karena aku sudah ingin punya cucu darimu."


"Ya ampun daddy, aku baru menikah."


"Daddy berilah dia waktu, aku rasa sebentar lagi istrinya juga akan hamil." sela Edward.


"Oke baiklah, memang butuh proses tapi boy, bagaimana jika kita buat taruhan lagi?"


"Maksud daddy?" Jacob dan Edward melihat kearah ayahnya, taruhan apa?


"Siapa diantara kalian yang paling banyak memberikan aku cucu maka aku akan mengabulkan satu permintaan dari kalian." Jhon berkata demikian tanpa tahu Samantha sedang berdiri dibelakangnya.


"Ehem daddy." Jacob dan Edward menunjukkan jarinya kebelakang.


"What?"


"Jhon!!" Samantha mengepalkan kepalan tangannya hingga berbunyi.


"Oh my baby, kami hanya bercanda." jhon langsung mengelak.


"Bercanda? Kau kira kami ini apa!!" Samantha langsung menarik telinga suaminya dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Hei baby, pelan-pelan!"


Jacob dan Edward melihat kepergian kedua orang tuanya sambil menertawakan ayahnya, rasakan!


"Hei brother aku punya saran untukmu." Edward merangkul bahu adiknya.


"Wow tumben kak Ed memberiku saran."


"Ini demi kebaikanmu nanti brother."


"Apa itu? Jangan membuatku penasaran."


Edward melihat Kearah istrinya yang masih asik berbicara dengan adik dan adik iparnya.


Dia ingin memberikan adiknya saran agar adiknya nanti tidak merasakan seperti apa yang dia rasakan saat istrinya hamil. Jujur saja dia kapok dan dia harap adiknya tidak mengalami seperti apa yang dia alami.


"Saat istrimu sedang hamil sebaiknya kau tidak membahas tentang super hero." sarannya.


"What? Kenapa dengan super Hero? Apa ada kejadian dibaliknya?"Jacob melihat kakaknya dengan heran dan dia jadi sangat penasaran tapi kemudian, sebuah seringgai menghiasi wajahnya.


Jacob langsung merangkul bahu kakaknya, sepertinya ini sangat menyenangkan.


"Kak Ed, jangan-jangan saat istrimu hamil kau jadi super hero ya?" godanya.


"Tidak, jangan asal menebak." sangkal Edward dengan cepat.


"Ayolah kak Ed, tidak perlu malu." Jacob masih berusaha menggoda kakaknya.


"Jangan salah paham aku cuma memberimu saran." Edward masih menyangkal.


Dia lupa jika adiknya licik, seharusnya dia diam saja. Edward langsung menghampiri keluarganya, lebih baik dia tidak membahas hal ini lebih lanjut jika tidak adiknya akan tahu apa yang dia alami tapi Jacob tidak menyerah dan mengikuti langkahnya karena dia masih belum selesai menggoda kakaknya.


"Mom, dad, kak Edward jadi super hero." ucap Jacob.


"Hei..hei ..!" Waduh celaka.


"Oh ya? Bukankah dulu kau ingin jadi pilot? Apa cita-citamu berubah sekarang?" tanya Samantha.


"Pilot?" Amanda melihat suaminya sambil tersenyum dan pada saat itu perasaan Edward kembali tidak enak, ini sungguh tidak baik!


"Mom, Jacob hanya salah paham."


"Benarkah, kakak ipar?"


"Oh ya, itu?" ujar Amanda dengan ragu, seharusnya waktu itu dia foto saja.


"Hei..hei...stop menggodaku!" Edward tampak frustasi sedangkan keluarganya tertawa.


Edward hanya bisa menggeleng, mudah-mudahan adiknya nanti akan merasakan apa yang dia rasakan saat istrinya hamil!


Dia berharap demikian karena adiknya menggodanya dan menertawakannya padahal tadinya dia tidak mau adiknya mengalami apa yang dia rasakan tapi adiknya malah mengabaikan nasehatnya, jadi ya sudahlah.

__ADS_1


__ADS_2