
California 07.00 PM
Saat itu disebuah gudang yang sudah tidak terpakai tampak Olivia baru sadar dari pingsannya, dia sedang meringkuk diatas lantai yang dingin sedangkan mulutnya ditutupi dengan lakban dan tangan kaki yang terikat.
Olivia melihat sekelilingnya dan disana, tampak beberapa orang sedang berjaga. Tampaknya mereka adalah anak buah orang yang menculiknya.
Olivia kembali melihat sekitarnya, kenapa dia hanya seorang diri? Kemana mereka membawa Marry?
Dia berusaha menggerakkan tangannya yang terikat dibelakang tapi tidak bisa, sepertinya dia diikat dengan begitu kuat. Wajahnya langsung pucat saat melihat sesuatu yang menempel ditubuhnya.
Dia berharap kakaknya sudah menyadari jika mereka sedang diculik dan dia tahu, ayah dan kakaknya pasti akan datang menolongnya karena dia selalu membawa alat pelacak.
Tapi bukan hal itu yang membuatnya khawatir, dia khawatir akan keadaan Marry, kemana gadis itu dibawa?
Setelah ini dia akan meminta maaf pada kakaknya jika semua ini karena ulahnya, karena dia mengusir dua penjaga yang menjaga Alice, dia berharap Alice baik-baik saja dan tidak tertangkap.
Sedangkan diluar sana yang sudah tampak gelap, Jhon dan Jacob sudah berdiri didepan gerbang gudang tua yang sudah tidak terpakai lagi itu.
Begitu mereka tiba hari sudah gelap karena lokasi yang cukup jauh, tapi itu bukan masalah karena malam hari adalah malam yang paling bagus untuk berburu.
Dengan beberapa anak buah mereka yang sudah bersiap mereka melihat gudang tua yang lumayan besar.
"Andrew, apa kalian sudah siap?"
"Kami sangat siap master." Andrew mengangkat sebuah senjata laras panjang yang dia bawa, senjata itu bernama Barrett M82, senjata paling mematikan yang dikembangkan di USA.
senjata itu adalah senjata favoritenya selama dia menjadi seorang penembak jitu dan dia sangat ingin menggunakan senjata itu dari dulu dan sekarang senjata itu bisa ada ditangannya.
Andrew dan para anak buahnya sedang menunggu perintah dari bosnya sedangkan kedua ayah dan anak itu sedang membuat suatu pertaruhan.
"Hei boy, apa kau tidak mau membuat taruhan denganku?" Jhon bertanya pada putranya.
"Apa daddy melakukan taruhan dulu pada kakek?"
"Tentu, seperti pertaruhan yang aku buat dulu maka aku akan menantangmu, jika kau bisa menang dariku maka aku akan mengabulkan apapun permintaanmu." tantang Jhon.
"Wow dad, jangan terlalu percaya diri karena saat aku menang nanti aku akan memintamu menari perut didepan kami semua."
"Wow, kalau itu aku menolak."
Jacob terkekeh pelan dan melihat gudang itu kembali.
"Daddy, tempat ini hanya untuk pengalihan."
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Lucas orang yang licik, dia membawaku ketempat ini supaya aku sibuk menyelamatkan Olivia sedangkan dia sedang bermain dengan Alice ditempat lain. Dia ini jauh berbeda dengan para musuh daddy dulu."
"Kau sangat pintar, jadi selesaikan permainan ini untuk segera menyelamatkan putri Adam Walker."
"Andrew, bawa mereka berpencar dan bunuh setiap orang yang terlihat dan jangan lupa kembali padaku hidup-hidup." perintah Jacob.
"Siap master." Andrew dan para anak buahnya mulai berjalan didepan, mereka membuka gerbang itu dengan pelan dan mulai berjalan masuk kedalam dengan senjata sudah siap ditangan mereka.
Jacob menarik dua senjata dari balik bajunya begitu juga dengan Jhon, dia juga melakukan hal yang sama.
"So dad, lets start the game dan bersiaplah menari perut didepan kami."
"Wow, okay aku terima tantanganmu."
Mereka berdua berjalan memasuki gudang tua itu sedangkan Andrew dan para anak buahnya sudah berpencar memasuki gudang tua yang sudah tidak terpakai itu.
Suara tembakan mulai terdengar dari dalam sana sedangkan Jhon dan putranya mulai menembaki anak buah Lucas yang mulai terlihat.
"Lets go dad, jangan sampai Andrew yang menang dan kita harus menari perut didepannya."
"Itu jika dia punya nyali."
"Tapi boy, aku tidak punya lemak diperutku bagaimana aku bisa menari perut nanti jika aku kalah?"
"Dad, tari perut tidak perlu ada lemak?"
"Jadi?"
"Saat kau menari kau harus menggunakan pakaian khusus untuk menari perut."
"Wah, jangan sampai aku kalah."
Mereka berdua mengobrol dengan santai sambil menembaki musuh mereka satu persatu yang hendak menembaki mereka sedangkan suara tembakan yang terdengar dari pistol mereka menjadi penggiring pembicaraan mereka.
Saat itu mereka berjalan dengan santai dan saling membelakangi tentu untuk saling melindungi satu sama lain supaya tidak ada yang bisa melukai mereka.
Disuatu ruangan Olivia sangat senang saat mendengar suara tembakan sedangkan para anak buah Lucas yang menjaganya mulai berlari keluar dan membawa senjata meraka.
Itu pasti ayah dan kakaknya yang telah datang, dia berharap ayah dan kakaknya segera menemukannya karena dia khawatir dengan sesuatu yang menempel ditubuhnya.
Andrew dan anak buahnya mulai menyelusuri tempat itu dan tentu saja menembaki setiap musuh yang terlihat, walaupun itu hanya menjadi tempat pengalihan tapi Lucas tidak bermain-main. Dia menempatkan banyak anak buah disana tentu dia melakukan hal itu supaya Jacob Smith kehabisan waktu, siapa tahu saja salah satu anak buahnya dapat membunuh Jacob Smith?
__ADS_1
Tapi Jika tidakpun dia yakin semua yang ada disana akan mati karena dia sudah menyiapkan suatu kejutan untuk jacob Smith, kejutan itu ada ditubuh Olivia Smith.
Tadinya dia sempat tidak mengenali gadis itu tapi sekarang, dia sudah mengingatnya karena dia pernah melihat wajah Olivia Smith dari sebuah majalah bisnis yang dilihatnya.
Tentu dia menerima informasi dari anak buahnya dari tempat jauh dan dia tahu jika gudang tua itu sedang diserang saat ini, dia tidak khawatir karena target sebenarnya sudah berada ditangannya.
Satu jam telah berlalu, anak buat Lucas sudah bergelimpangan diatas lantai dan bersimbah darah sedangkan anak buah Jacob ada beberapa yang terluka karena tertembak.
Jacob dan ayahnya sedang berdiri disebuah pintu ruangan, itu ruangan terakhir yang belum mereka periksa. Mereka berharap Olivia dalam keadaan baik-baik saja dan tidak terluka sedikitpun.
Sebelum menendang pintu ruangan itu Jacob bertanya pada ayahnya:
"Daddy, berapa hasil buruanmu?"
"Aku lupa menghitungnya."
"Kalau begitu bersiaplah daddy menari perut diacara pernikahanku."
"Hei kenapa berubah?"
Jacob terkekeh, dengan cepat dia menendang pintu ruangan itu dan masuk kedalam, tentu dengan senjata yang sudah siap ditangannya.
Saat melihat adiknya yang tampak terikat Jacob langsung bernafas dengan lega, tapi sesuatu yang menempel ditubuh adiknyalah yang sangat berbahaya.
Andrew segera mendekati Olivia, membuka lakban dimulutnya dan tali yang mengikatnya.
"Daddy, kakak." panggil Olivia setelah lakban yang menutup mulutnya sudah terbuka.
"Kau gadis bodoh." Jhon menyentil dahi putrinya.
"Daddy, bom ini?"
"Apa?" Jhon melihat sebuah rompi yang terpakai ditubuh putrinya.
"Cepat lepaskan benda itu!" Jhon hendak melepaskan bom yang berada ditubuh putrinya tapi langsung Jacob tahan.
"Dad, jika kau melepaskan benda itu maka kita semua akan mati meledak bersama tempat ini."
"Hei boy, apa maksudmu?"
"Dad, saat rompi itu terlepas maka bom itu akan langsung meledak karena dirompi itu sudah ada pemicunya."
"Apa?"
__ADS_1
"Daddy bagaimana ini?" wajah Olivia semakin pucat, sepertinya dia harus mati sendiri tanpa membawa ayah dan kakaknya.