
Didalam kamar, Alice sedang membantu Marry merapikan barang-barangnya, setelah mereka tiba Jacob langsung membawa Alice dan Marry kerumahnya sedangkan keluarganya kembali kerumah masing-masing.
Alice mengikuti semua keinginan Jacob karena dia juga tidak punya tujuan, lagi pula sebentar lagi mereka akan menikah, dia dan Marry pasti akan tinggal disana.
"Mommy apa kita akan tinggal disini sekarang?" tanya Marry sambil melipat bajunya satu persatu.
"Iya benar, kita akan tinggal disini untuk seterusnya karena sebentar lagi mommy akan menikah dengan uncle Jacob."
"Really?" Marry melihat kearahnya dengan penuh semangat.
"Yes, you don't mind, do you?"
"Of course not, mom." Marry masuk kedalam pelukan Alice dan memeluknya dengan erat.
"Aku sangat senang jika mommy menikah dengan uncle Jacob." katanya lagi.
"Thank you Marry, aku berjanji kami akan selalu menyayangimu." Alice tersenyum sambil mengusap rambut Marry, dia percaya Jacob pasti akan menerima Marry seperti anaknya sendiri nanti.
"But mom, dimana Marry akan bersekolah nanti?"
Alice tampak berpikir sejenak, dia belum memikirkan hal ini, mungkin dia harus membicarakan hal ini dengan Jac-Jac.
"Mommy akan membicarakan hal ini dengan uncle, okey? Kau rapikan barang-barangmu sendiri setelah selesai cari mommy, mommy akan mencari uncle sebentar."
Marry mengangguk dan melepaskan pelukannya, sebelum keluar dari kamar itu Alice menciumi wajah Marry sejenak.
Setelah keluar Alice berjalan menuju kamar Jac-Jac,bdia tahu Jac-Jac ada disana. Tanpa mengetuk lagi Alice membuka kamar itu dan masuk kedalamnya.
Jac-Jac tampak sedang berdiri didepan jendela kamarnya melihat pemandangan diluar sana sambil berbicara dengan Seseorang memulai telephone selulernya.
Alice menghampiri Jac-Jac dengan senyum mengembang diwajahnya, dia segera memeluk Jac-Jac dari belakang.
"Jac-Jac."
Jacob segera memutar tubuhnya dan memeluk Alice.
"Nanti aku hubungi lagi." ujarnya pada seseorang yang sedang berbicara dengannya disebrang sana.
"Apa aku menggangu?" Alice melihat Jacob dengan lekat.
"Tidak sayang, kau tidak pernah menggangguku."
Jacob menunduk untuk menciumi bibir Alice, setelah melepaskan bibirnya dia berbisik ditelinga kekasihnya.
"Alice sayang, apa kau sudah selesai membantu Marry?" bisiknya sedangkan bibirnya terus mengelusuri wajah Alice.
"Nng, belum."
"Jadi? Apa kau sudah sangat merindukan ciumanku?" godanya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu."
"Lalu?"Jacob memandangi wajah Alice dan mengusapnya dengan lembut.
"Maaf merepotkanmu tapi aku ingin meminta bantuanmu mencari sekolah untuk Marry." katanya dengan tidak enak hati.
Jacob kembali terkekeh dan menciumi wajah Alice, dia tahu Alice pasti akan menghawatirkan hal ini jadi dia sudah memerintahkan Andrew untuk mencari sekolah terbaik yang ada dikota itu untuk Marry.
"My honey, kau tidak perlu khawatir, aku telah memerintahkan Andrew mencari sekolah terbaik untuk Marry."
"Really?"
"Yes, aku sudah mempersiapkan diriku untuk menjadi ayah yang baik untuk Marry."
"Oh my Jac-Jac, kau memang yang terbaik."
Alice segera berjinjit dan menciumi bibir Jacob, hal itu tidak disia-siakan oleh Jacob, dia segera menyambut bibir Alice dan me**atnya dengan lembut.
"Alice sayang, aku minta lebih."
"Tapi aku?"
"Stttt.!!" Jacob kembali menciumi bibir Alice dan menggendongnya, dia membawa Alice menuju ranjang dan duduk disisinya sedangkan Alice berada diatas pangkuannya.
Mereka terus berciuman sedangkan tangan Jacob sudah masuk kedalam baju yang dipakai oleh Alice, tangannya terus meraba setiap kulit Alice yang dilaluinya begitu juga dengan bibirnya.
Bibirnya kini sudah bermain dileher Alice, menciuminya dan meninggalkan tanda disana.
"Stts...! Nikmati saja sayang."
Jacob membuka baju yang dipakai Alice dan membuangnya begitu saja, tidak hanya itu dia juga membuka penghalang yang menghalangi pemandangan indah untuk matanya.
"Hm..kau memang semakin kurus tapi buahmu semakin besar dan matang." godanya.
"Ya ampun Jac-Jac!!"
Jacob kembali terkekeh, dia kembali menciumi bibir Alice, menghisapnya dan me**matnya sedangkan tangannya sudah mulai mer*mas buah favoritenya.
Alice mengerang pelan karena sentuhan tangannya, tidak ingin tinggal diam Alice juga memasukkan tangannya kedalam baju Jac-Jac untuk membelai otot-otot dadanya.
"Oh my honey." Jacob membuka bajunya dengan cepat tapi setelah itu dia kembali menciumi bibir Alice.
Alice terus meraba otot dada Jacob sampai dia merasakan sebuah luka disana, itu pasti luka bekas tembakan.
Dia segera mendorong tubuh Jacob untuk melihat luka itu, luka karena kebodohannya.
"Jac-Jac ini?" jari jemarinya terus mengusap luka yang ada didada Jacob.
"Jangan dipikirkan honey." Jacob tahu Alice kembali merasa bersalah, bisa dilihat dari wajah Alice yang tiba-tiba berubah.
__ADS_1
"I'm sorry Jac-Jac." Alice memeluk leher Jacob dengan erat.
"Hei jangan dipikirkan, luka ini suatu kebanggaan untukku karena luka ini aku dapat saat aku menyelamatkan orang yang sangat aku cintai."
"Sorry Jac-Jac and thank you."
"Sttss....jangan berkata seperti itu lagi, aku tidak mau mendengarnya."
Alice melepaskan pelukannya dan menciumi wajah Jacob dengan mesra, dia juga berbisik ditelinga Jacob.
"I love you so much Jac-Jac, forever."
"Oh my!!" dengan cepat Jacob kembali menciumi bibir Alice, dia sungguh senang Alice telah kembali padanya.
"You know honey, you are the best women in my life."
Senyum Alice mengembang diwajahnya, senyum penuh kebahagiaan begitu juga dengan Jac-Jac dia tersenyum dan kembali menciumi wajah Alice, tidak ada yang dia lewatkan dari wajah, bibir terus keleher kini bibirnya sudah berada diatas buah kesukaannya.
Alice menggigit bibirnya dan mengerang pelan saat Jac-Jac sedang mencicipi buahnya, buah ranum dan matang.
"Oh sialan!" Jacob memaki saat merasakan sengatan lebahnya telah bangkit berdiri.
"Kenapa?" Alice memandangi wajah Jac-Jac.
"Tidak, bolehkah?"
Alice mengangguk sambil tersipu malu, dia akan mengijinkan Jacob melakukannya, bukankah sebentar lagi mereka akan menikah?
"Oh my honey, terimalah sengatanku."
Mereka kembali berciuman dengan liar, tangan Jacob terus beraksi menyentuh sana sini, begitu juga dengan Alice, tangannya sibuk menyentuh tubuh kekasihnya tanpa ragu.
Mereka menghentikan aksi mereka saat mendengar suara ketukan pintu dari luar sana.
"Mom, aku sudah selesai." itu suara Marry. Sesuai perkataan ibunya setelah selesai merapikan barang-barangnya dia langsung mencari ibunya.
"Oh tidak, aku lupa dengan Marry." Alice berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Jacob.
"Hei kita belum selesai!" Jacob tampak kesal.
"Mommy,uncle." terdengar suara Marry lagi.
"Sebentar." Alice berteriak dari dalam sana, dia segera memungut pakaiannya dan memakainya dengan cepat.
Jacob mengusap rambutnya frustasi, apa-apaan ini? Padahal tinggal sedikit lagi! Seharunya dia tahu mereka tidak akan pernah berhasil sebelum mereka menikah.
"Sorry Jac-Jac, aku lupa." Alice mendekati kekasihnya dan menciumi bibirnya, setelah itu dia keluar dari sana untuk menemui Marry.
Jacob melihat kepergian Alice sambil memaki, dia juga melihat sengatannya dan bergumam:
__ADS_1
"Sengatku yang malang."
Dia segera bangkit berdiri dan berjalan kekamar mandi.