
Setelah Alice diperiksa oleh dokter pribadinya, Jacob tampak sedang memijit-mijit lengan Alice yang terbaring diatas ranjang dan tampak lemah sedangkan Alice menikmati pijitan suaminya sambil memejamkan matanya.
Bagaimana tidak kepalanya benar-benar sangat sakit saat ini, bahkan saat dia sadar dari pingsannya Alice langsung meminta suaminya membawanya kedalam kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Semua itu gara-gara suaminya yang memutar tubuhnya disaat kepalanya benar-benar sudah pusing.
Saat melihat Alice pingsan karena ulahnya Jacob langsung memerintahkan Ben untuk memanggil dokter pribadinya.
Dia benar-benar panik dan membawa Alice masuk kedalam kamar mereka, Jacob membaringkan Alice ditempat tidur dan selama menunggu dokter pribadinya datang tak henti-hentinya dia memanggil istrinya, dia juga memijit-mijit tangan istrinya.
Dia menunggu disana dengan khawatir sampai istrinya sadar dari pingsannya, seharusnya dia tidak memutar istrinya tadi tapi mau bagaimana lagi dia begitu senang mengetahui Alice sedang hamil, inilah yang sangat dia nantikan.
Jacob juga sudah memberi kabar gembira itu kepada keluarganya, tentu mereka sangat senang mendengarnya karena anggota keluarga mereka akan bertambah lagi.
Senyum penuh kebahagian mengembang diwajahnya saat melihat istrinya sedang menikmati pijitannya.
Jacob segera menghentikan pijitannya dan merebahkan diri disamping istrinya, dia juga menciumi dahi Alice dan memeluknya dengan erat.
"My honey, are you okay?" bisiknya.
"I'm oke Jac."
"I'm sory honey, aku begitu bahagia sampai aku lupa dengan keadaanmu."
"Tidak apa-apa Jac, aku tahu."
"Oh my honey."
Jacob menciumi istrinya kembali, hatinya benar-benar dipenuhi dengan kebahagiaan saat ini. Tangannya sudah masuk kedalam baju Alice untuk mengusap perut istrinya.
Rasanya sudah tidak sabar menanti kehadiran anaknya, pada saat itu tiba lengkap sudah kebahagiaannya dan dia berharap mereka punya banyak anak nantinya.
"Honey, apa kau tahu?"
"Hmmm?"
"Selain mendapatkan dirimu hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku, ini adalah hadiah yang paling baik yang pernah aku dapatkan."
"Benarkah?"
"Tentu honey, aku sangat mencintaimu dan didalam sini?" Jacob menunjuk perut istrinya.
"Sudah tumbuh buah cinta kita berdua, tidak sia-sia aku menyengatmu setiap hari saat kita bulan madu."
Alice memeluki suaminya dengan senyum kebahagiaan diwajahnya, benar, buah cinta mereka sudah bertumbuh dan sebentar lagi mereka akan menyambut buah cinta mereka berdua.
__ADS_1
"I'm sorry Jac, padahal tadinya aku ingin memberikan hadiah ini dengan benar, tapi keadaanku malah seperti ini."
"Kau selalu memberikan aku kejutan jadi aku telah menyiapkan sebuah hadiah kecil untukmu supaya kau dapat menebaknya tapi aku malah gagal."
Yah dia memang sudah menyiapkan sebuah kotak kecil dan sebuah hadiah didalamnya, dia ingin suaminya menebak hadiah yang ada didalamnya tapi dia malah gagal dan dia merasa sedikit kecewa.
"It's okey my honey, aku sangat bahagia mendapatkan hadiah darimu." Jacob mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"But honey, what gift do you want to give me?" dia jadi penasaran.
"Hm...itu?" Alice melepaskan pelukkannya dan bangun dari tidurnya, dia duduk diatas ranjang sedangkan suaminya juga mengikutinya duduk diatas ranjang.
"Pergilah ambil, aku menyimpan kotak itu diatas piano."
"Oh my honey, aku sangat ingin melihatnya."
Jacob bangun dari atas ranjang, dia segera keluar dari kamarnya untuk mengambil kotak yang dimaksud oleh istrinya.
Benar saja, sebuah kotak kecil berada diatas piano dan dia langsung mengambil kotak itu.
Selama dia berjalan kearah kamarnya, Jacob membuka kotak itu. Senyumnya langsung mengembang diwajahnya saat melihat sebuah boneka lebah kecil berada didalam kotak, ternyata istrinya menyiapkan boneka itu untuknya.
Jacob masuk kedalam kamarnya dan menghampiri istrinya, dia juga menunjukkan boneka lebah kecil dan menyimpan kotak yang dia bawa keatas meja.
"My honey, apa maksudnya ini?" Jacob duduk disamping Alice yang sedang bersandar diujung ranjang.
Jacob terkekeh dan membolak balikkan boneka lebah yang berada ditangannya, bahkan dia melihat boneka itu dengan teliti.
"Ini hadiah yang bagus tapi honey, kenapa lebah ini tidak ada jenis kelaminnya."
"Ya ampun Jac!"
Jacob kembali terkekeh, dia menunduk dan menciumi perut Alice sambil berkata:
"Karena belum ada jenis kelaminnya jadi daddy akan rajin-rajin menjengukmu supaya kau cepat besar."
Alice mengusap kepala suaminya sambil tersenyum, dia benar-benar bahagia begitu juga dengan Jacob.
Pada saat itu pintu kamar mereka diketuk dari luar sana, Ben memberitahu bahwa keluarganya sudah datang.
Jacob membuka pintu kamarnya dan pada saat itu ayah dan ibunya berdiri diluar dan tampak begitu senang.
"Loh, kenapa kalian datang?"
"Tentu saja ingin melihat menantuku!" Samantha langsung masuk kedalam kamar putranya untuk melihat menantunya.
__ADS_1
"Ya ampun mom, kan bisa besok."
"Sudahlah boy, mommymu begitu senang mendengarnya sampai dia tidak sabar untuk datang." Jhon menepuk bahu putranya.
Sebenarnya dia juga sangat senang mendengar kabar gembira ini, tapi istrinya lebih heboh saat mendengar kabar yang diberikan oleh putranya.
"Kalian berdua saja yang datang?"
"Yah kakekmu tak kalah hebohnya dan mau datang tapi aku mencegahnya dengan alasan menjaga Marry."
"Kakek selalu heboh didalam segala situasi."
"Yah kau benar, jadi bersiap saja besok dia akan datang dengan nenekmu, kedua orang tua itu tidak bisa diam dirumah."
"Ha..ha..ha..! Daddy benar."
Mereka berjalan bersama masuk kedalam dan disana tampak Samantha duduk disamping Alice dan memegangi tangannya.
"Alice sayang aku dengar kau pingsan, apa kau baik-baik saja?"
"Yes mom, aku baik-baik saja." Alice tersenyum pada ibu mertuanya.
"Itu bagus, gejala kehamilan itu beda-beda jadi kau harus menjaga dirimu baik-baik. Hindari kerja berat dan jangan sampai kau lelah, jika kau ingin melakukan sesuatu minta dia yang melakukannya." Samantha melihat kearah putranya.
"Tidak perlu mommy katakan aku pasti akan melakukannya." jawab Jacob dengan cepat.
"Oh ya, lalu kenapa Alice bisa pingsan padahal kau ada dirumah? Cepat katakan!" Samantha melotot pada putranya.
"Ya ampun mom, dia pingsan bukan karena kelelahan tapi karena aku terlalu bersemangat memutarnya."
"Apa kau bilang?" Samantha bangkit berdiri dan mengepalkan tangannya.
Apa putranya gila memutar istrinya sampai pingsan?
Waduh, Jacob menelan ludahnya, seharusnya dia tidak menjawab ucapan ibunya, kalau begini bisa dibanting ibunya lagi nih.
"Mom, you look so beautiful today." godanya.
"Tidak perlu merayu karena dari dulu aku memang sudah cantik." Samantha mendekati putranya.
"Dad, bawa mommy pulang sana."
"Sorry boy, aku sekutu mommymu."
"Ya ampun, sial!"
__ADS_1
Saat Samantha membanting putranya diatas lantai Jacob hanya bisa menerimanya, mana mungkin dia melawan ibunya jadi dia hanya bisa pasrah.
Alice hanya bisa menertawakan suaminya yang berusaha meminta ampun pada ibunya, mungkin dia perlu membantu suaminya tapi ini tontonan yang sangat menarik jadi dia diam saja.