
Terdengar suara ketukan pintu diluar sana, saat mendengar itu Jane segera melangkah kearah pintu untuk membuka pintu kamar hotel itu.
Diluar sana tampak Jacob dan Andrew berdiri didepan pintu kamar itu.
"Mr Smith, ada yang bisa aku bantu?" tanya Jane basa basi.
"Kemana Alice?"
"Ms Alice sedang tidur."
Jacob mengernyitkan dahinya, tidur? Ini sudah jam sembilan kenapa Alice masih tidur? Bukankah Alice bilang ingin menikmati kota New York.
"Boleh aku masuk?"
"Tentu saja." Jane membukakan pintu kamar itu.
Jacob segera masuk melewati Jane sedangkan Andrew berdiri didepan pintu bersama Jane.
"Jane mau ikut sarapan denganku?" ajak Andrew.
"Tidak butuh!!" Jane menjawab dengan ketus.
"Ayolah, ajak Marry. Kalian belum sarapan bukan?"
Jane berpikir sejenak, mungkin tidak ada salahnya apalagi mereka memang belum sarapan sama sekali.
"Baiklah tunggu sebentar."
Tidak lama kemudian Jane keluar dari kamar itu bersama Marry tapi sebelum Jane pergi dia melihat Jacob sedang duduk disisi ranjang. Pria itu tampak sedang mengusap wajah Alice yang sedang tertidur dengan lembut.
Jane merasa dia tidak perlu khawatir lagi dengan Alice karena bisa dia lihat, Jacob Smith tampak begitu mencintai Alice dan pria itulah yang akan menggantikannya nanti menjaga Alice.
"Jay Walker, kau tidak perlu kawatir dengan adikmu lagi karena dia akan baik-baik saja dengan pria itu." kata Jane dalam hati.
Setelah kepergian Jane dari kamar itu, Jacob menunduk dan menciumi wajah Alice yang sedang tertidur,hal itu membuat Alice terbangun dari tidurnya.
"Jacob kenapa kau ada disini?"
"Alice sayang, kenapa kau masih tidur?"
"Jacob aku sangat mengantuk jadi biarkan aku tidur."
"Baiklah, ayo tidur dikamarku."
Jacob segera menggendong tubuh Alice dan membawa gadis itu keluar dari kamar yang tempatinya bersama dengan Jane untuk menuju kedalam kamarnya.
Saat sudah berada dikamarnya, Jacob segera menurunkan tubuh Alice diatas ranjang dan tidur disisinya.
"Sayang, apa kau tidak tidur semalam?"
Jacob mengusap wajah Alice dan menciuminya.
"Aku tidak bisa tidur Jacob, bahkan sampai pagi."
"Kenapa?"
"Aku bisa gila seranjang dengan Jane dan Marry! Ranjang sebesar itu dikuasai oleh mereka berdua sedangkan aku pindah keatas sofa dan kedinginan."
Saat mendengar itu Jacob langsung terkekeh, bisa dia bayangan situasi yang harus dihadapi oleh Alice.
__ADS_1
"Alice sayang, kenapa kau tidak kekamarku saja. Aku bisa memelukmu sampai pagi."
"Terima kasih, tapi Jane mengunci pintu kamar itu dan menyembunyikan kuncinya entah kamana."
"Wah, sekertarismu itu benar-benar ya!!" Jacob jadi kesal mendengarnya.
Alice kembali memejamkan matanya dan memeluk Jacob dengan erat, sedangkan Jacob memainkan jarinya dirambut Alice dan membelainya dengan lembut.
"Sayang."
"Hmmm?"
"Bagaimana jika kita?"
"Apa?"
Jacob mulai menciumi wajah Alice sedangkan tangannya mulai masuk kedalam baju yang sedang dipakai oleh Alice.
"Jacob jangan!"
"Alice sayang, aku mengajakmu kemari untuk bermesraan."
"Aku tahu, apa kita tidak bisa melakukannya nanti saja? Lagipula dalam suatu hubungan bukan mengenai s*ks saja bukan?"
"Kau benar sayang, tapi aku sudah tidak sabar untuk menjadikanmu milikku karena aku tidak ingin ada seorangpun yang menyentuh tubuhmu nantinya."
Alice mengangkat tangannya dan mengusap wajah tampan kekasihnya, dia tahu kekawatiran Jacob tapi bukankah dia sudah jadi miliki Jacob saat malam itu?
"Jacob, bukankah aku ini sudah jadi milikmu? Jadi kau tidak perlu kawatir, aku tidak akan pernah berhubungan dengan pria manapun selain denganmu."
"Aku tahu sayang."
"Alice sayang, percayalah padaku aku pasti akan pelan-pelan." Jacob berbisik ditelinga Alice dan menggigit telinganya.
"Jacob apa maksudmu pelan-pelan?"
Jacob masih belum menjawab,pria itu terus menciumi wajah Alice sedangkan Alice mencoba mendorong tubuh Jacob, dia ingin mendengar apa maksud dari perkataan Jacob pelan-pelan?
"Sayang,bukankah ini yang pertama kalinya untukmu? Jadi percayalah padaku dan aku akan berusaha pelan-pelan." katanya lagi.
Jacob segera menciumi bibir Alice, dia melupakan sesuatu dan belum menyadarinya.
Alice terbelalak kaget saat mendengar itu, bukankah waktu dia mabuk mereka sudah melakukannya?
Bahkan Jacob memintanya untuk bertanggung jawab. Jangan-jangan?
Alice segera mendorong tubuh Jacob dan tersenyum manis kearah kekasihnya itu.
"Jacob." Alice berusaha memanggil Jacob dengan nada manja yang sedang dibuat-buatnya.
"Yes honey.
"Bukankah waktu itu kita sudah?" Alice mulai memainkan jarinya didada Jacob.
"Hmmm?" Jacob mulai memejamkan matanya.
"Jacob sayang, bukankah waktu aku mabuk kau bilang kita sudah melakukannya?"
Jacob menelan ludahnya dengan kasar, kenapa dia bisa lupa!
__ADS_1
"Alice sayang, kita memang sudah melakukannya waktu itu?"
"Apa?" Alice langsung bangun dari tidurnya dan duduk diatas tubuh Jacob.
"Aku tidak percaya dasar kau penipu!"
Alice langsung menunduk dan menciumi bibir Jacob, tapi bukan untuk menciuminya tapi untuk?
Jacob terbelalak kaget, dengan cepat Jacob segera menekan kepala Alice karena saat itu Alice sedang menggigiti lidahnya dan menariknya.
Jacob hanya bisa pasrah, lagipula dia bisa apa? Lagi-lagi kebohongannya terbongkar. Alice segera melepaskan lidah Jacob dan turun dari atas tubuh pria itu.
Jacob meringgis menahan sakit dilidahnya dan mendekati Alice.
"Alice sayang kenapa kau mengigiti lidahku?"
"Jangan mendekat dasar kau penipu!!" Alice menarik selimut dan kembali tidur.
Jacob kembali mendekati Alice dan berusaha membujuk Alice, tapi Alice tidak memperdulikannya karena dia sangat kesal, kenapa dia bisa menyukai seorang penipu seperti Jacob?
Jacob bangkit berdiri dan mengumpat dalam hati:
"Sepertinya aku sudah pikun karena semua kebohonganku sudah terbongkar!"
Jacob segera meraih ponselnya untuk menghubungi Andrew, dia ingin meminta asistennya itu membeli obat sariawan karena lidahnya benar-benar sakit digigiti oleh Alice.
"Andrew, segera beli obat sariawan untukku!" perintahnya.
"Maaf master, bisa tunggu sebentar aku sedang sibuk."
"Hei apa yang kau lakukan?" Jacob mulai kesal.
"Master aku sedang berada dikamar dengan Jane, bisa kau tunggu sebentar karena ini tanggung?"
"Apanya?" Jacob jadi penasaran.
Pada saat itu terdengar suara Jane berteriak dari sebrang sana.
"Andrew jangan sentuh itu!"
"Jane aku tidak tahan untuk tidak menyentuhnya."
"Sialan!!" Jacob mengumpat dalam hati.
"Jika sudah selesai cepat belikan obat!" teriaknya marah.
"Baik master."
Jacob kembali mendekati Alice sambil memaki.
"Bahkan aku kalah dari bawahanku sendiri, nasib yang sunguh sial!!!"
Sebenarnya Andrew dan Jane hanya main kartu didalam kamar Andrew untuk menghilangkan kebosanan, tentu saja mereka bermain kartu dengan Marry tapi Jacob salah paham saat mendengar dialog Andrew dengan Jane.
Jacob merebahkan dirinya disamping Alice dan menatap langit-langit kamar hotel itu, sekarang dia jadi penasaran dengan perjalanan cinta ayahnya. Apa sesial dirinya saat ini?
"Daddy bersiap-siaplah!!"
Jacob membalikkan badannya, memeluk Alice dan membujuk kekasihnya itu.
__ADS_1