Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Seandainya waktu bisa diulang


__ADS_3

The University of California ,San Fransisco Medical Center.


Pagi itu di rumah sakit The University of California, keluarga Smith tampak memasuki rumah sakit itu dengan tergesa-gesa.


Dari wajah mereka terpancar kekhawatiran yang luar biasa, bagaimana tidak, saat itu Jacob sedang dibawa kedalam salah satu ruangan yang ada dirumah sakit itu untuk melakukan operasi mengeluarkan peluru yang bersarang didadanya.


Setelah helikopter yang membawa mereka tiba, tampak tim medis sudah siap sedia menyambut mereka.


Dengan cekatan tim medis membawa Jacob menuju ruangan operasi karena kondisinya sudah kurang baik.


Sebelum tiba dirumah sakit itu Edward telah menghubungi keluarganya, dia mengatakan jika saat ini dia sedang menuju kerumah sakit The University of California karena Jacob tertembak.


Tentu kabar itu membuat semua yang ada dirumah keluarga Smith begitu shock mendengarnya, dengan cepat mereka segera menuju rumah sakit itu untuk melihat keadaan Jacob.


Jacob sedang dioperasi didalam sebuah ruangan, Samantha dan Jhon berlari menuju ruangan itu, sedangkan Olivia sedang menemani kakek dan neneknya berjalan dibelakang mereka.


Edward dan Andrew telah menunggu didepan ruangan dimana Jacob sedang menjalankan operasi, wajah Andrew tampak gelisah dan pucat saat melihat kedatangan Jhon.


"Edward, bagaimana dengan keadaan adikmu?" Samantha memegangi tangan Edward dan menangis.


"Mom, tenang saja. Jacob sedang dioperasi." Edward memegangi tangan ibunya untuk menenangkannya.


"Hei boy, bagaimana bisa adikmu tertembak?"


"Dad, itu?"


Sebelum Edward menyelesaikan perkataannya Andrew segera menghampiri Jhon dan berlutut dibawah kakinya.


"Tuan, maaf semua ini karena kelalaianku."


Apapun yang terjadi dia akan menerimanya, seandainya dia lebih cepat datang untuk membantu bosnya mungkin bosnya tidak akan tertembak.


Dia sempat tertahan oleh beberapa anak buah Lucas yang kembali dengan seorang pendeta, saat dia ingin mendekati tempat bosnya berada tiba-tiba saja anak buah Lucas menyerangnya.


Untungnya dapat dia atasi sedangkan pendeta yang dibawa oleh anak buah Lucas pingsan, tapi tadi dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk membawa pendeta itu pergi dari kota Bodie.


"Bukankah aku sudah memperingatimu!!" Jhon menatap Andrew dengan tajam.


"Maaf tuan, aku memang salah jadi lakukan apa yang kau suka." jawab Andrew sambil menunduk.


"Kau!!" jhon meraih kerah baju Andrew hendak memukul wajahnya.

__ADS_1


"Jhon!!" Samantha menahan tangan suaminya.


"Jangan menahanku baby, akan aku bunuh dia!!" ujar Jhon marah.


"Kau gila, dia itu putra sahabatku. Kau jangan lupa, Andrew putra Amber dan Billy! Jika kau membunuhnya apa kau ingin mereka membenci kita!" ujar Samantha frustasi.


"Mom." Edward mendekati ibunya dan memeluknya sedangkan tangis Samantha semakin pecah, dia berharap putranya baik-baik saja didalam sana.


Jhon melepaskan pegangannya dari baju Andrew dan menarik nafasnya untuk meredakan emosinya.


"Maafkan aku tuan." ujar Andrew lagi.


"Sudahlah, pergilah beristirahat kau sudah lelah."


"Terima kasih." Andrew membungkuk dan melangkah pergi.


Hampir saja dia mati, jika dia mati bagaimana dengan calon anaknya yang ada didalam perut Jane? Dia tidak bisa membayangkan jika Jane jadi janda.


Jhon segera menghampiri Edward dan berdiri disamping putranya.


"Ck, aku benci berdiri didepan ruangan operasi ini dan sekarang aku harus berdiri didepan ruangan seperti ini lagi dengan ketakutan yang sama!" gerutunya kesal.


"Hei boy, katakan padaku siapa yang telah menembak adikmu?"


Edward diam saja, yang menembak adiknya? Jelas-jelas tadi dia melihat senjata yang menembaki adiknya berada ditangan kekasih adiknya. Bagaimana jika sampai ayahnya tahu?


"Daddy tidak perlu khawatir semua sudah ditangani." jawabnya, jangan sampai ayahnya tahu.


"Itu bagus, jika tidak aku akan menghabisinya tanpa ampun!"


Edward melihat kearah ayahnya yang tampak marah, semoga nanti jika sampai ayahnya tahu yang sebenarnya ayahnya tidak melarang hubungan adiknya dengan kekasihnya.


Pada saat itu Olivia berjalan kearah mereka dengan kakek dan neneknya, wajah mereka tampak khawatir apalagi dengan Olivia. Semua yang menimpa kakaknya gara-gara dirinya.


"Kak Ed, bagaimana dengan kak Jacob?"


"Tidak perlu khawatir, dia itu tidak mudah mati." hibur Edward.


Olivia mengangguk dan berdiri disamping ayahnya, mereka menunggu dengan cemas sampai pintu ruang operasi itu terbuka dan seorang dokter muncul dari dalam sana.


"Keluarga pasien."

__ADS_1


"Ya." Samantha langsung mendekati dokter itu dengan cepat.


"Pasien kehabisan banyak darah, apa golongan darah kalian ada yang sama dengan pasien?"


"Aku, golongan darahku sama dengan putraku." Jhon mendekati dokter itu.


"Baguslah, cepat ikut denganku."


Jhon mengangguk dan pada saat itu Samantha menahan tangan suaminya.


"Jhon selamatkan Jacob aku tidak bisa jika harus kehilangannya." pinta Samantha sambil menangis.


"Tenang saja baby, aku akan menyelamatkan putra kita jadi jangan khawatir." setelah berkata demikian Jhon masuk kedalam sana, memberikan darahnya untuk putranya.


Semua kembali tampak khawatir dan berdoa dalam hati, mereka melupakan seseorang,orang itu adalah Alice.


Sedari tadi dia hanya bersandar pada dinding rumah sakit yang tidak jauh dari keluarga itu sambil menangis.


Dia mendengar semuanya, dia mendengar semua pembiacaraan keluarga itu dari awal mereka datang. Bahkan Andrew hampir celaka karena ulahnya, semua karena ulahnya! Jika Andrew mati bagaimana dia bisa menghadapi Jane?


Alice melihat tangannya yang menembaki Jacob, tangannya mulai bergetar saat mengingat kejadian tadi.


Alice mengintip dari balik tembok, dia melihat kearah Olivia yang tampak baik-baik saja dan dia sangat bersyukur, sahabat baiknya itu sudah selamat tanpa luka sedikitpun.


Dia kembali mendengar kekhawatiran dari ibu Jacob yang tidak henti-hentinya, semua ini karena ulahnya. Dia telah membuat keluarga yang sangat baik padanya bersedih, dia telah melukai perasaan keluarga yang mau menerimanya dengan hangat dan begitu menyayangi Marry.


Air mata Alice mengalir dari matanya, seandainya Jacob tidak mengenalnya mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Seandainya dia tidak mencintai Jacob mungkin Jacob tidak akan berada didalam ruangan itu dan mungkin dia tidak membuat keluarga itu bersedih.


"Maaf....maaf....maaf!" gumamnya.


Seharusnya dari awal dia mendengarkan nasehat ayahnya untuk menjauhi keluarga itu, mungkin inilah maksud ayahnya memintanya untuk menjauhi keluarga Smith, supaya mereka tidak celaka karena kebodohannya.


"Maaf telah membuat kalian dalam kesulitan karena aku, maaf telah melibatkan kalian dalam permasalahanku, maaf Jac-Jac. Gara-gara aku kau harus seperti ini, semua gara-gara aku!"


"Seandainya aku tahu Lucas yang telah membunuh keluargaku, mungkin aku sudah membawa Marry pergi, mungkin aku sudah bertarung dengannya waktu kami pertama kali bertemu walaupun aku mati ditempat itu. Ini lebih baik untuk semuanya, seandainya waktu bisa diulang?"


Tiba-tiba saja bayangan wajah keluarganya yang mati setahun lalu terngiang dikepalanya, seandainya dia juga mati saat itu maka dia tidak akan menyeret siapapun dalam permasalahan hidupnya.


Alice menutupi wajahnya dengan satu tangannya, dia berharap Jac-Jac baik-baik saja didalam sana dan kejadian yang dia alami hari ini tidak akan dia lupakan untuk seumur hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2