Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Undangan pesta amal


__ADS_3

Saat itu dirumah Olivia tampak sedang duduk santai sambil membaca sebuah majalah untuk ibu hamil, ya saat ini Olivia sedang hamil dan perutnya sudah terlihat membesar.


Dia sedang santai membaca majalah yang dipegangnya sedangkan suaminya sedang memijitkan kakinya.


"Hei nyonya, apa belum puas? Tanganku sudah pegal!" protes suaminya.


"Ck, dasar. Sana ambilkan minuman untukku." perintahnya.


"Ya ampun, aku benar-benar pria bodoh dan gila yang mau menikah denganmu!" suaminya bangkit berdiri.


"Kenapa? Kau menyesal menikah denganku?" Olivia menatap sauminya dengan tajam.


"Tidak, aku lebih menyesal jika tidak menikah denganmu."


"Bagus, sana ambilkan aku air hangat untukku."


"Iya..iya.."


Setelah kepergian suaminya, Olivia kembali membaca majalah yang dipegangnya, dia tampak begitu serius sampai suara ponselnya mengganggunya.


Olivia meraih ponselnya dan meletakkan kembali tanpa menjawabnya karena dia malas menjawab nomor yang tidak dia kenal, tapi lagi-lagi berbunyi dan dia juga mengabaikannya sampai sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.


"Oh menyebalkan, siapa yang mengganggu waktu santaiku?" gerutunya kesal.


Olivia meletakkan majalahnya dan meraih ponselnya kembali, dia segera membuka ponselnya untuk melihat siapa yang telah mengganggu waktu santainya.


Pada saat Olivia membaca pesan yang masuk keponselnya dia langsung menegakkan duduknya.


"Olivia, apa kabarmu?"


"Alice?" gumamnya saat membaca pesan dari layar ponselnya.


"Alice, ini pasti Alice." gumamnya lagi dengan penuh semangat.


Olivia segera memainkan jarinya dengan cepat untuk menulis sesuatu dilayar ponselnya, jika itu Alice sahabat baiknya maka dia akan segera memberitahukan hal ini pada kakaknya, kakaknya pasti akan sangat senang.


"Alice itukah kau?" tanyanya.


"Hm..ya, boleh aku menghubungimu?"


"Tentu, aku yang akan menghubungimu, okey?"


Olivia langsung menghubungi Alice, betapa bodohnya dia tidak menjawab panggilan Alice tadi. Untung saja Alice mengirimkan pesan, jika tidak?


"Hei, kemana saja kau selama ini? Tidak pernah menghubungiku juga tidak pernah mencari kak Jacob! Katakan padaku dimana kau sekarang?" tanya Olivia saat Alice sudah menjawab panggilannya.


"Aku ada di Inggris dan maaf aku tidak bisa menghubungimu karena aku tidak punya ponsel." jawab Alice pula.


"Apa? Apa kau tidak bisa pergi lebih jauh lagi? Apa kau begitu miskin sampai ponsel saja tidak punya?"


"Hei aku memang miskin, aku datang kemari tidak membawa apa-apa, bahkan untuk makan saja aku menumpang. Ponsel yang aku gunakan saat ini aku pinjam punya orang lain dan maaf, aku cuma bisa datang kesini itupun berkat seseorang."


"Dasar bodoh, bukan itu maksudku. Katakan padaku dimana kau sekarang? Aku akan mengatakan pada kakakku, dia pasti akan senang mendengar keberadaanmu dan akan menjemputmu."


Olivia benar-benar tampak senang, bagaimana tidak, penantian panjang kakaknya akan segera berakhir.


"Olivia, apa kabar Jac-Jac?"


"Tidak baik sejak kau meninggalkannya!"


"Apa dia sakit?"

__ADS_1


"Iya, hatinya yang sakit! Dia sudah seperti orang gila mencarimu kemana-mana, setiap hari setiap waktu hanya diam saja, termenung tidak jelas bahkan untuk sebuah senyuman saja aku tidak menemukannya lagi diwajahnya sejak kau pergi."


Alice merasa sangat bersalah, dia tidak tahu Jac-Jac akan seperti itu saat dia pergi.


"Aku minta maaf Olivia, aku benar-benar tidak punya pilihan lain! Aku juga minta maaf karena permasalahanku sampai kau juga terlibat."


"Sudahlah, itu sudah lama berlalu jadi jangan dibahas lagi, oke. Tapi sekarang katakan padaku dimana kau berada. Aku akan meminta kak Jacob untuk menjemputmu, dia pasti akan sangat senang."


"Terima kasih Olivia, tapi maukah kau membantuku satu hal?"


"Apa itu? Aku pasti akan membantumu."


"Begini?"


Alice mengatakan niatnya pada Olivia sedangkan Olivia mendengar keinginan Alice dengan serius.


Setelah beberapa saat mereka berbicara, Olivia menjawab permintaan Alice dengan penuh semangat.


"Serahkan padaku, aku akan membantumu."


"Terima kasih Olivia."


"Jangan sungkan kakak ipar."


Setelah mematikan ponselnya, Olivia begitu tampak senang, dia langsung menghubungi kakaknya menanyakan dimana kakaknya berada saat ini sedangkan suaminya yang sedari tadi telah kembali hanya melihatnya dengan heran.


Setelah mengetahui keberadaan kakaknya Olivia bangkit berdiri.


"Hei kau mau kemana?"


"Pulang kerumah untuk memberikan kabar bagus untuk kakakku."


"Oh aku lupa, ayo bereskan barang-barang."


"Eh, untuk apa?"


"Liburan, ayo cepat." Olivia menarik tangan suaminya dan masuk kedalam kamar untuk membereskan barang-barang mereka.


Setelah membereskan barang-barangnya Olivia dan suaminya pergi dari sana untuk pulang kerumahnya.


Saat tiba, Olivia masuk kedalam rumah dengan cepat. Tentu yang dia cari terlebih dahulu adalah kakaknya tapi dia tidak menemui kakaknya disana.


Suaminya sudah bergabung dengan ayah dan kakeknya yang sedang berbincang diruang keluarga sedangkan dia masuk kedalam dapur mencari ibunya.


"Mom, kak Jacob dimana?"


Olivia mengedarkan pandangannya untuk mencari kakaknya.


"Kenapa kau mencari kakakmu."


"Mom ini berita bagus."


"Oh ya, apa anakmu kembar?"


"Ck, bukan mom."


"Lalu?"


"Mom, dengarkan aku."


Olivia berbisik ditelinga ibunya, dia mengatakan jika Alice ada di Inggris saat ini dan dia juga mengatakan Alice meminta bantuannya dan mengundangnya kesebuah pesta amal.

__ADS_1


Saat mendengarnya Samantha sangat senang, setelah ini pasti putranya tidak akan terlihat murung lagi.


"Oke baiklah, aku akan bersiap-siap." ujar Samantha dengan penuh semangat.


"Loh, mommy mau ikut?"


"Tentu saja, aku akan meminta pertanggung jawaban pada gadis yang telah berani membuat putraku murung sepanjang hari."


"Jika dia tidak mau?"


"Dia harus bertanding denganku!"


"Oke baiklah, aku pendukung mommy." jawab Olivia sambil terkekeh.


"Kalau begitu sana, bujuk kakakmu, dia ada didalam kamar."


Olivia mengangguk dan berjalan pergi, dia berjalan kearah kamar kakaknya. Olivia membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk lagi, kakaknya tampak sedang duduk diatas ranjang sambil melihat layar laptopnya dengan serius.


"Kak Jacob, apa yang kau lakukan?" Olivia menghampiri kakaknya dan duduk disisi ranjang.


Jacob memaling matanya dari layar laptop dan melihat kearah adiknya.


"Bekerja." jawabnya singkat.


"Kak ayo pergi liburan."


"Tidak, aku sedang sibuk." Jacob kembali melihat layar laptopnya.


"Ayolah kak, tidak jauh, hanya ke Inggris." Olivia mulai menarik-narik tangan kakaknya.


"Olivia, aku sedang tidak ingin pergi liburan! Jadi kau pergi saja dengan suamimu."


"Kak Jacob, ayolah. Kau pasti akan menyesal jika tidak ikut dengan kami.


"Aku tidak akan menyesal jadi sana pergi!"


"Ck!" Olivia bangkit berdiri dan menarik tangan kakaknya lagi.


"Let's go, kami semua pergi dan kau harus ikut."


"Olivia, jangan menarik tanganku seperti ini, kau sedang hamil!"


"Kalau begitu ayo ikut, jika tidak aku akan menarik tangan kak Jacob sepanjang waktu sampai kakak mau ikut."


"Oke fine." Jacob menutup layar laptopnya.


Sebenarnya dia malas, malas mau pergi kemanapun! Semenjak Alice meninggalkannya dia sudah tidak pernah kemanapun lagi selain bekerja.


Olivia tampak tersenyum, pasti setelah ini kakaknya akan kembali seperti dulu lagi dan tidak akan terlihat murung lagi.


"Aku tunggu diluar, kakak bereskan barang-barang kakak."


"Hei memangnya kita mau pergi berapa lama?"


"Aku yakin kak Jacob tidak akan mau kembali nanti." jawab Olivia sambil tersenyum.


Jacob hanya menghela nafasnya,dia segera bangkit berdiri untuk merapikan barang-barangnya tapi sebelum itu dia menghubungi Andrew.


"Andrew, siapkan pesawat dan tunda semua pekerjaanku sampai minggu depan." perintahnya.


Setelah itu dia segera bersiap-siap. Inggris, mau apa Olivia mengajaknya pergi kesana?

__ADS_1


__ADS_2