
Dikediaman keluarga Smith, hari itu tiba-tiba mendapat sebuah kiriman barang dirumah itu.
Yang menerima barang itu adalah Olivia Smith, gadis itu membuka pintu rumahnya saat mendengar ketukan pintu diluar sana.
Didepan pintu tampak beberapa orang dengan sebuah piano besar dibelakang mereka, ya piano itu dibeli oleh Jacob saat pria itu pergi dari rumah Alice.
Tidak hanya itu, Jacob juga meminta Andrew mencarikan seorang guru untuk mengajarinya bermain piano nantinya.
"Apa ini kediaman Jacob Smith?" tanya salah seorang kurir yang berada disana.
"Ya." jawab Olivia.
"Kalau begitu kami disini mengantar barang miliknya." para kurir itu menunjukkan piano besar yang berada dibelakang mereka.
Olivia sangat heran, untuk apa kakaknya membeli piano itu?
Tapi dengan bukti pembelian yang ada Olivia mempersilahkan para kurir itu untuk membawa piano itu masuk kedalam.
Setelah kurir itu pergi, Olivia berjalan menuju kamar kakaknya, membuka pintu kamar itu untuk membangunkan kakaknya.
"Kak Jacob, bangun." Olivia mengguncang tubuh kakaknya yang sedang tidur.
"Ck, ada apa sih?" Jacob kesal tidurnya diganggu.
"Kak, untuk apa kau membeli sebuah piano?" tanya Olivia penasaran.
"Apa sudah datang?" Jacob langsung bangun dari tidurnya.
Jacob segera turun dari atas ranjang dan berjalan kearah kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan adiknya.
"Kak Jacob, jawab pertanyaanku, untuk apa piano itu?"
Jacob menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya dan melihat kearah adiknya yang tampak penasaran.
"Tentu saja aku ingin belajar memainkan piano itu." setelah berkata demikian, Jacob segera masuk kedalam kamar mandi.
Sedangkan Olivia tidak percaya dengan apa yang didengarnya, gadis itu segera berlari keluar dari kamar kakaknya sambil berteriak.
"Mom, dad, kak Jacob kerasukan." teriaknya.
Tidak lama kemudian, Jacob keluar dari kamarnya. Saat diluar sana dia mendapat tatapan dari seluruh keluarganya yang sedang berdiri didepan piano besar yag dibelinya.
"Hei boy ,apa-apaan ini?"tanya ayahnya.
"Oh my dad, kau bisa lihat ini hanya sebuah piano." jawab Jacob dengan santai.
"Buat apa kau membeli piano?" Jhon semakin penasaran.
"Karena aku ingin belajar memainkan benda itu dad."
"What??" semua yang ada disana tidak percaya mendengarnya.
Samantha langsung mendekati putranya dan menyentuh dahinya.
"Jacob, kau tidak pulang beberapa hari apa kau jadi gila?"
"Mom, aku tidak gila!" Jacob jadi kesal.
Jhon juga menghampiri putranya dan merangkul bahunya.
__ADS_1
"Boy, sejak jaman kakekmu sampai sekarang didalam darah kita tidak mengalir darah pemusik tapi sekarang, kau ingin memainkan benda itu?"
"Jika kau tidak gila lalu apa namanya?"
"Dad, bukankah sudah aku katakan jika kak Jacob kerasukan?" Olivia menyela perkataan ayahnya.
"Kalian ini ya!!" Jacob tambah kesal.
"Dad, aku juga tidak mau memainkan benda ini tapi ini adalah syarat dari calon istriku." jelasnya.
"Siapa? Alice?" tanya Olivia.
"Kau sudah tahu jadi jangan banyak bertanya."
"Gadis malang itu pintar juga, seharusnya dulu aku juga memberikan syarat pada daddymu agar aku tidak mudah terjerat." Samantha sedikit menyesal.
"Baby!!"
"Just kidding Jhon." kata Samantha sambil tertawa.
Saat itu seseorang mengetuk pintu diluar sana, Olivia segera pergi untuk membuka pintu dan tampak seorang pria tua membawa sebuah buku ditangannya.
Olivia mempersilahkan pria itu masuk kedalam karena pria itu mengatakan dia adalah guru yang dipanggil oleh Jacob.
"Kak Jacob, gurumu sudah datang." ujarnya.
"Oh ya, bagus." Jacob segera menghampiri pria tua itu sedangkan Olivia masuk kedalam kamarnya.
Jhon dan Samantha saling pandang, sepertinya putra mereka tidak sedang bercanda ingin memainkan alat musik itu.
"Jhon, coba kau tampar aku?"
"Cepat bangunkan aku dari mimpi gila ini."
"Oh baby, itulah keturunan Smith, pantang menyerah. Kami selalu berusaha mendapatkan wanita yang kami cintai, seperti aku dulu."ujar Jhon bangga.
"Kalian ayah dan anak sama-sama gila!"
"Tapi kau sukakan? Dan sebentar lagi akan ada seorang gadis yang terjerat oleh keturunan Smith itu." sambil memandangi Jacob.
"Aku kehabisan kata-kata."
"Sudahlah, lebih baik kita bermain didalam kamar dan biarkan saja putramu itu."
Jhon segera menarik tangan istrinya menuju kamarnya, mereka meninggalkan Jacob yang tampak serius sedang berbicara dengan guru musiknya.
Didalam kamar Jhon segera me**mat bibir istrinya dan membawanya menuju ranjang mereka.
"Jhon lepas, aku harus membuat makanan." Samantha berusaha memberontak.
"Sssttt...baby, biarkan saja. Itu tugas pembantu." Jhon segera melepaskan bajunya.
"Jhon, kita ini sudah tua!"
"Memangnya tidak boleh?"
"Tidak juga!"
Jhon kembali me**mat bibir Samantha, tangannya mulai masuk kedalam baju yang dipakai oleh istrinya.
__ADS_1
"Baby, walaupun kau sudah tua tapi kau tetap cantik dimataku." bisik Jhon ditelinga istrinya.
Samantha mengalungkan tangannya dileher suaminya dan tersenyum padanya, walaupun anak mereka sudah besar tapi Jhon tidak berubah, selalu bersikap romantis seperti dulu.
"Kau juga sama Jhon, dari dulu sampai sekarang kau adalah pria terbaik untukku."
Jhon menciumi wajah istrinya dan kembali berbisik.
"Thank you baby, sudah menjadi ibu dari anak-anakku."
"Jhon."
"Sstttts...!" Jhon kembali me**mat bibir istrinya.
Tangannya tidak tinggal diam, dalam sekejap mata saja baju yang dipakai oleh istrinya sudah dia lepaskan.
Begitu juga Samantha, tangannya sudah bermain ditubuh suaminya.
Jhon mengangkat tubuh istrinya hingga duduk diatas pangkuannya dan membenamkan wajahnya didada istrinya.
"Baby, kau sama seperti dulu, selalu membuatku bergairah."
Jhon menciumi leher istrinya sedangkan tangan Samantha sibuk meremas rambut suaminya menikmati setiap sentuhan tangan dan bibir Jhon dikulitnya.
"Jhon, kau juga selalu bisa membuatku gila "
Jhon mengangkat kepalanya dan menciumi bibir istrinya.
"I love you baby."
Samantha membelai kepala suaminya dan menciumi dahinya.
"I love you too Jhon."
Merekapun kembali berciuman dan tangan mereka sibuk menyentuh sana sini hingga menimbulkan erangan-erangan dari bibir mereka.
"Are you ready baby?" Jhon bertanya dengan nafas yang sudah memburu.
Samantha mengangguk, dia juga sudah tidak tahan. Jhon sudah siap tapi pada saat itu?
"Dreenggggg!!!" terdengar suara piano yang mengerikan diluar sana.
"Jhon, tunggu." Samantha mendorong suaminya.
"Abaikan saja baby." Jhon kembali, hmmm?
Tapi lagi-lagi terdengar suara piano yang mengerikan diluar sana.
"Jacob!" sekarang nafsunya langsung hilang.
Samantha segera mendorong tubuh suaminya, dia cuma bisa menggeleng dan masuk kedalam kamar mandi.
Jhon mengumpat kesal, Sepertinya putranya benar-benar sudah gila.
Olivia yang berada didalam kamarnya menutup kupingnya dengan bantal dan berteriak pada kakaknya.
"Kak Jacob, sebaiknya kau kembali kerumah Alice!!!"
Sedangkan Jacob tampak frustasi begitu pula dengan guru musiknya.
__ADS_1
"Dari pada memainkan benda ini lebih baik selama tiga bulan ini aku berusaha menghamilinya." katanya putus asa.