
Alice terbangun dari tidurnya saat mendengar suara di luar sana, ini sudah pagi dan seharusnya dia pergi kekantor.
Tapi dia juga sedang malas melakukan apapun, Alice menarik tangan Jacob yang sedang berada didadanya dan tersembunyi dibalik baju yang dipakainya, dia segera memutar tubuhnya untuk menghadap kearah Jacob yang sedang memeluknya dari belakang.
Senyum mengembang diwajahnya saat melihat wajah tampan kekasihnya yang sedang tertidur, dia tidak pernah menyangka akan memiliki hubungan dengan pria menyebalkan itu.
Alice memandangi Wajah tampan Jacob dengan lekat, rambutnya yang kecoklatan dan bulu matanya yang panjang,sungguh sangat menawan.
Tanpa sadar jari jemarinya mulai bermain diatas pangkal hidung kekasihnya, entah kenapa dia sangat senang melakukan hal itu.
"Alice sayang."
Panggilan Jacob menghentikan tangannya, dengan cepat Alice menarik tangannya kembali dan segera memutar tubuhnya dengan cepat, dia sangat malu karena kedapatan sedang mengagumi wajah tampan kekasihnya.
"Maaf Jac telah membangunkanmu."
"Tidak apa-apa sayang, aku milikmu jadi tubuhku ini adalah milikmu."
"Benarkah?"
"Yes." Jacob memasukkan tangannya kedalam baju Alice dan mulai membelai dada sekalnya yang memang tidak ditutupi apa-apa.
"Jac."
"Hm?"
Alice memejamkan matanya menikmati belaian tangan Jacob dikulitnya sedangkan Jacob terus menciumi tengkuknya.
"Kalau begitu aku akan menjualmu pada tante girang." kata Alice bercanda.
"Hei apa-apaan itu!!"
Alice memutar tubuhnya kembali sambil tertawa.
"Bukankah kau bilang tubuhmu ini milikku? Jadi jika tanganmu masih nakal lagi maka akan aku jual kau."
"Oh my, kau ya!!"
Dengan cepat Jacob bangun dari tidurnya dan me**ndih tubuh Alice, dia segera menggelitik pinggang Alice sampai Alice tertawa terpingkal-pingkal.
"Jac, stop! Aku tidak kuat lagi." kata Alice disela-sela tawanya sedangkan air matanya sudah mengalir dari kedua matanya karena kebanyakan tertawa.
"Jadi apa kau masih ingin menjualku?" Jacob menghentikan aksinya.
"Tentu jika ada kesempatan." jawab Alice asal.
"Kau ya!!"
Jacob segera menunduk dan mengecup bibir Alice dengan lembut.
"Alice sayang."
"Hmm?"
Jacob mengelus wajah Alice dan tersenyum padanya.
"Bagaimana jika kau pindah saja dan tinggal dirumahku?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Hei, aku dengar Lucas mengganggumu lagi."
"Apa Olivia mengatakannya padamu?"
Jacob hanya mengangguk sedangkan tangannya sibuk bermain diwajah Alice.
"Dia tidak mungkin datang kerumahku Jac karena dia tidak tahu rumahku, lagi pula aku tidak bisa tinggal dirumahmu begitu saja."
"Kenapa?"
"Aku punya Marry, aku harus memberikan contoh yang baik padanya dan aku harus membawanya kembali dari rumah orang tuamu karena aku tidak bisa menitipkannya begitu lama disana, bagaimanapun dia adalah tanggung jawabku dan aku tidak boleh merepotkan orang lain."
Jacob segera bangkit dari tubuh Alice dan duduk disisi ranjang, Jacob mengusap rambutnya dan menarik nafasnya dengan berat.
Dia tahu Alice tidak akan mau tinggal dengannya begitu saja apalagi untuk jangka lama.
"Jac." Alice memeluk Jacob dari belakang.
"Aku tahu kau menghawatirkan aku, tapi percayalah aku pasti akan menjaga diri. Jika sampai Lucas datang kemari maka aku akan segera pindah."
"Kau berjanji?"
Alice mengangguk, dia memang berat untuk meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu tapi jika sampai Lucas datang kerumahnya untuk mengganggunya maka saat itu dia akan langsung pindah.
"Baiklah, tapi ingat jangan pergi kemana-mana jika tidak ada hal penting. Aku akan menyiapkan seorang supir pribadi untukmu untuk mengantar dan menjemputmu jika kau pergi kekantor."
"Baiklah, aku terima, mulai sekarang aku akan mendengarkan semua perkataanmu." Alice menciumi wajah Jacob dari belakang.
"Are you serious?" Jacob memegangi tangan Alice yang melingkar dilehernya.
"Yes."
"Dasar kau kadal tua mesum!" gerutu Alice kesal.
Dia segera melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang, Alice segera berjalan kearah kamar mandi sedangkan Jacob melihat kepergian Alice sambil terkekeh.
Setelah membersihkan dirinya,Alice segera keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju dapur untuk membuat kopi.
Didalam sana tampak bibi Carol sedang membuat sarapan, Alice mendekati bibi Carol dan menyapanya.
"Pagi bibi."
"Oh Ms Alice, akhirnya kau bangun juga. Aku sudah menunggu sedari tadi."
"Kenapa bi?" Alice mulai mengambil serbuk kopi dari dalam lemari.
"Begini, putriku mengajak aku pindah kekota lain jadi aku tidak bisa bekerja lagi denganmu."
Saat mendengar itu,bAlice menghentikan tangannya dari menyendok serbuk kopi. Bibi Carol mau berhenti? Jadi siapa yang akan menjaga Marry nantinya?
Padahal bibi Carol sudah bekerja lama dengannya sejak kepergian keluarganya tapi dia tidak bisa menahan keinginan bibi Carol, dengan berat hati pula Alice menyetujui keinginan bibi Carol.
"Kapan bibi akan pindah?" tanyanya dengan berat hati.
"Sebenarnya hari ini, maaf memberitahumu secara mendadak dan sesungguhnya aku ingin mengatakan ini sejak kemarin tapi Ms Alice tidak ada dirumah." jelas bibi Carol dengan tidak enak hati.
Alice berusaha tersenyum, rasanya berat berpisah dengan bibi Carol yang telah banyak membantunya tapi cepat atau lambat bibi Carol pasti akan berhenti bekerja darinya.
"Baiklah bibi, aku akan mentransfer gaji bibi nanti." katanya dengan berat hati pula.
__ADS_1
"Terima kasih Ms Alice, setelah membuat sarapan ini aku harus segera pergi karena harus membereskan barang-barangku dan tolong sampaikan salamku untuk Marry, aku harap Ms Alice menjaga Marry dengan baik kedepannya." ujar bibi Carol panjang lebar.
"Pasti bibi, terima kasih."
Alice segera membawa kopi yang dibuatnya kemeja makan, dia hanya termenung memperhatikan bibi Carol membuat sarapan.
Setelah selesai membuat sarapan, bibi Carol segera pamit untuk pergi, dengan berat hati Alice melepas kepergian bibi Carol.
Dia hanya termenung saat bibi Carol meninggalkannya sampai Jacob masuk kedalam sana dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Alice sayang, kenapa kau terlihat sedih?"
"Jac, bibi Carol berhenti bekerja." Alice memeluk pinggang Jacob dengan erat.
"Oh ya,lalu kenapa kau terlihat sedih? Kau bisa mencari orang lain lagi, bukan?" Jacob mengusap kepala Alice untuk menghiburnya.
Alice hanya mengangguk, mungkin dia memang harus mencari pengganti bibi Carol untuk menjaga Marry nanti.
Alice melepaskan pelukannya dan bangkit berdiri, dia hendak membuat kopi untuk Jacob.
Pada saat Jacob hendak duduk ponselnya berbunyi, dengan cepat Jacob menjawab panggilan dari ayahnya.
"Dad, ada apa?"
"Jacob, segera pulang kerumah." perintah ayahnya.
"Apa ada hal penting?"
"Nenek dan kakekmu entah pergi kemana jadi segera pulang bantu kami mencarinya."
"Wow, kemana kakek dan nenek pergi?"
"Boy, jika aku tahu aku tidak akan memintamu untuk pulang."
"Baiklah, aku akan segera pulang."
Jacob mematikan ponselnya dan menghubungi Andrew untuk menjemputnya.
Alice kembali dengan segelas kopi ditangannya, dia segera meletakkan kopi itu didepan Jacob dan duduk dihadapannya.
"Alice sayang, aku harus pergi jadi hari ini kau tidak boleh pergi kemana-mana "
"Baiklah, aku memang tidak akan pergi kemana-mana karena ingin membersihkan rumahku."
"Apa perlu aku panggilkan pembantu dirumahku untuk membantumu?"
"Tidak perlu Jac, aku bisa sendiri."
"Baiklah, tapi ingat jangan pergi kemana-mana."
"Siap bos!!" jawab Alice dengan sigap.
"Kau ini, selalu membuatku gemas."
Alice hanya tersenyum dan menikmati sarapan yang dibuatkan oleh bibi Carol, setelah sarapan mereka habis, Andrew datang kesana untuk menjemput bosnya.
Sebelum pergi Jacob memeluk Alice dan menciuminya dan kembali berpesan agar Alice tidak pergi kemana-mana sampai dia menyiapkan seorang supir untuknya.
Alice mengangguk dan melepas kepergian Jacob, setelah itu dia segera membersihkan rumahnya sedangkan Jacob kembali kerumah orang tuanya dengan penuh tanda tanya, kemana kakek dan neneknya pergi? Padahal besok adalah hari pernikahan kakaknya.
__ADS_1