
Alice merebahkan kepalanya diatas paha Jacob dan sedang membaca sebuah buku saat itu, sedangkan Jacob memainkan jari jemarinya dirambut panjang Alice.
Alice sudah membuat surat pengunduran dirinya kembali dan sudah mengirimkan surat itu untuk atasannya.
Dan sekarang, dia merasa sangat bosan karena hanya dirumah saja tanpa melakukan apapun, Alice hendak mengorek informasi dari Becca tapi Jacob selalu mengikutinya dan tidak membiarkan Alice pergi sendirian.
Hal itu membuat Alice kesal dan dia mulai merasa pengunduran dirinya dari pekerjaannya menjadi sia-sia.
"Alice sayang." Jacob mulai menggoda kekasihnya itu karena dia juga bosan.
"Hmm?" Alice masih fokus dengan buku yang dibacanya.
"Hei, apa buku itu lebih menarik dari pada aku?" Jacob mulai kesal karena Alice menjawab seadanya.
"Yang pasti iya."
Saat mendengar itu, Jacob langsung meraih buku yang dipegang oleh Alice, tentu saja hal itu membuat Alice kesal karena bukunya direbut begitu saja.
"Jacob kembalikan!"
Alice segera bangun dari tidurnya, tangannya mulai meraih bukunya yang berada ditangan Jacob tapi Jacob mengangkat buku itu tinggi-tinggi.
"Jacob kembalikan!!" Alice makin kesal.
"Tidak akan." Jacob menjatuhkan buku yang berada ditangannya dan segera menarik Alice kedalam pelukannya.
"Ketangkap kau!" katanya.
"Jacob lepas!" Alice berusaha memberontak tapi Jacob semakin mengencangkan pelukannya.
"Sayang, aku hanya ingin bermesraan denganmu." Jacob berbisik ditelinga Alice dan meniup telinga gadis itu.
"Hei bukankah tiap hari kita sudah bermesraan."
"Ya, tapi kita belum?"
"Dasar mesum!!"
Jacob terkekeh dan mulai menciumi wajah Alice.
"Alice sayang."
"Hm?"
"Apa kau mencintaiku?"
"Tidak!" jawab Alice asal.
"Jangan berbohong sayang."
"Untuk apa aku membohongimu."
"Hei lihat aku."
Jacob memegangi wajah Alice dan ingin menatap matanya tapi Alice langsung memejamkan matanya.
"Hei dasar kau!"
Alice hanya tertawa dan melingkarkan tangannya dileher Jacob, gadis itu mulai membenamkan wajahnya dileher pria yang sudah mencuri hatinya.
Bahkan sekarang dia tidak ingin Jacob pergi dari rumahnya walaupun yah, jika diajak menikah dia belum siap.
"Alice sayang." Jacob mengusap punggung Alice dengan lembut.
__ADS_1
"Hmm?"
"Kapan kita akan menikah?"
"Jacob, aku belum siap menikah."
"kenapa?"
Sekarang Alice mengangkat kepalanya dan menatap mata Jacob dengan lekat.
"Aku akan menikah saat aku sudah membalas kematian keluargaku!" ujarnya.
"Wow, kenapa tidak sekarang saja?"
"Tidak mau, aku akan menikah setelah membalas kematian keluargaku karena aku ingin hidup tenang setelah menikah, agar aku bisa membesarkan anak-anakku nantinya tanpa dibayang-bayangi dendam yang aku pendam."
Jacob mengusap wajah Alice dan menciumi wajahnya, gadis itu telah menyimpan dendam begitu lama dan hal itu pasti tidaklah mudah.
"Sayangku, bagaimana jika pembunuh keluargamu sudah mati?"
"Dari mana kau tahu?"
"Bisa saja sayang karena sampai sekarang baik kau maupun siapapun belum mengetahui siapa pembunuh keluargamu."
Alice kembali memeluk leher Jacob dengan erat dan berkata dengan pelan.
"Aku tidak tahu tapi beri aku waktu Jacob, aku pasti akan menikah denganmu tapi beri aku waktu. Jika memang aku tidak bisa menemukan pelaku yang menghabisi keluargaku maka aku akan menyerah dan pada saat itu aku akan melupakan dendamku dan menikah denganmu."
"Pegang ucapanmu itu sayang, jika dalam waktu tiga bulan kau tidak bisa menemukan pelaku yang telah membunuh keluargamu maka kau harus menikah denganku dan lupakan dendammu."
"Hei kenapa selalu tiga bulan?"
"Alice sayang aku menerima tantangamu untuk bisa bermain piano selama tiga bulan lalu apa kau takut menerima tantanganku ini?"
"Tapi ingat satu hal sayang, jika aku bisa membuatmu hamil maka kau harus segera menikah denganku mau dendammu sudah terbalas atau tidak!"
"Jangan bermimpi!" Alice menggigiti leher Jacob sedangkan Jacob hanya terkekeh pelan.
Apapun caranya Jacob masih dengan ambisinya membuat Alice hamil agar gadis itu cepat menikah dengannya.
Alice benar-benar bosan, dia ingin menggoda Jacob dan mulai menciumi wajah pria itu, tangannya sudah masuk kedalam baju Jacob dan membelai dadanya.
"Jacob sayang."
"Yes honey." Jacob memejamkan matanya, sekarang gadis itu sudah berani menggodanya.
"Maukah kau mendengarkan permintaanku?"
Tangan Alice mulai merayap diperut Jacob dan memainkan jarinya disetiap otot perut pria itu.
"Sayang katakan apa yang kau inginkan, apapun itu pasti akan aku berikan."Jacob mulai tidak tahan dengan sentuhan tangan Alice.
Alice melebarkan senyumnya saat mendengar itu, gadis itu mulai menggigit telinga Jacob dengan lembut karena sekarang dia yang pegang kendali.
"Sayang cepat katakan apa yang kau inginkan kalau tidak aku akan menerkammu!" Jacob jadi frustasi karena sentuhan Alice.
"Aku bosan jadi ajak aku jalan-jalan." pintanya.
Jacob tertawa dan memegangi wajah kekasihnya itu tapi pada saat itu sebuah ide terbesit dikepalanya.
"Sayang, bagaimana jika besok kita pergi kencan di New York."
Alice melihat Jacob dengan serius.
__ADS_1
"Menginap?" tanyanya.
Saat mendengar itu Jacob bersorak dalam hati sedangkan senyum menghiasi wajahnya.
"Tentu saja menginap sayang." Jacob langsung me**mat bibir Alice.
Selama disana dia ingin menjalankan misinya, apapun yang terjadi nanti dia tidak boleh gagal lagi dan entah kenapa dia jadi teringat taruhannya dengan kakaknya Edward.
Setelah Jacob melepaskan bibirnya, Alice segera bangkit berdiri tapi Jacob menahan tangannya.
"Hei mau kemana?"
"Tentu saja mau bersiap-siap." jawab Alice ceria.
"Sayang apa tidak mau dilanjutkan?"
Alice segera menunduk dan mengecup bibir Jacob.
"Kita simpan untuk nanti." bisiknya.
Setelah itu Alice segera melangkah masuk kedalam kamarnya, sedangkan senyum licik mengembang dibibir Jacob.
Jacob segera mengambil ponselnya untuk menghubungi kakaknya Edward, dia jadi penasaran apa kakaknya yang dingin itu sudah punya pacar?
"Jacob, ada apa kau mencariku?" terdengar suara Edward di sebrang sana.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu." jawab Jacob pula.
"Aku baik."
"Kak Ed, apa kau masih ingat dengan taruhan kita?"
"Tentu saja, kenapa?"
"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Jacob penasaran.
"Tentu saja adikku, jadi Sebaiknya kau siapkan hadiah untukku." Edward menjawab demikian sambil mengusap punggung Amanda yang tertidur disampingnya. (part ini setelah Edward dan Amanda udah ehem?)
"Wow, aku tidak menyangka ternyata kau cepat juga, tapi jangan terlalu percaya diri kak Ed."
Edward hanya terkekeh dan pada saat itu Amanda terbangun dan menanyakan sesuatu padanya.
"Edward, kau berbicara dengan siapa?"
"Maaf membangunkanmu sayang, sebaiknya kau tidur lagi."
Jacob dapat mendengar pembicaraan itu.
"Wah kak Ed, aku terlalu meremehkanmu dan ternyata kau sudah start duluan." katanya tidak percaya.
"So brother, mulailah siapkan hadiahnya dan jika kau tidak mau kalah, maka mulailah bertindak."
"Oke, taruhan masih tetap berjalan selama diantara kita belum ada yang menyebar undangan."
Edward kembali terkekeh, dia tahu adiknya itu tidak terima kekalahan.
"Baiklah, berusahalah lebih keras."
Setelah mengatakan itu, kedua bersaudara itu mematikan sambungan ponsel mereka.
"Kak Ed, aku tidak akan kalah dan Alice sayang, aku pasti akan berhasil mengikatmu besok." kata Jacob dalam hati.
Jacob bangkit berdiri dan berjalan ke arah kamar Alice, rasanya dia sudah tidak sabar untuk besok.
__ADS_1