
Hari terus berjalan dan waktupun terus berputar, pagi itu Alice sedang menyiapkan pakaian suaminya.
Ya sekarang perutnya sudah membesar dan sudah mencapai waktunya untuk melahirkan, mereka hanya menunggu hari saja sampai kelahiran anak mereka yang akan melengkapi kehidupan mereka.
Hari ini Jacob harus pergi karena ada rapat penting yang tidak bisa dia tunda sama sekali, tapi tenang saja dia akan mengantarkan Alice pulang kerumah orang tuanya.
Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Alice saat dia sedang tidak berada dirumah, selama Alice hamil Marry memang lebih sering bersama neneknya.
Setelah selesai menyiapkan pakaian untuk Jacob dan meletakkannya diatas ranjang, Alice duduk disisi ranjang bahkan berebahkan dirinya disana.
Dia merasa sedikit lelah apalagi si junior yang semakin aktif didalam sana, tendangan-tendangan kacil terus dia rasakan dan sepertinya dia perlu istirahat sebentar.
Sambil memejamkan matanya Alice mengusap perutnya bahkan tangannya memegangi bagian dimana sijunior sedang menendang, rasanya dia sudah tidak sabar untuk menggendong sijunior.
Ini pasti akan sangat membahagiakan saat si junior sudah hadir dan dia sudah mempersiapkan dirinya untuk melahirkan si junior secara normal dan dia akan berusaha sekuat tenaga nanti.
Saat keluar dari kamar mandi, Jacob tersenyum melihat istrinya sedang merebahkan diri diatas ranjang, dia segera mengahampiri Alice dan duduk disisinya.
"My honey, are you okay?"
"I'm okey Jac, aku hanya butuh istirahat karena si junior begitu aktif."
"Oh ya, sepertinya dia akan menjadi anak nakal nanti."
Jacob mengusap perut istrinya dan pada saat itu sijunior kembali menendang kecil, hal itu membuat senyumnya kembali mengembang diwajahnya.
"Hei boy, apa yang kau lakukan didalam sana?" tanyanya.
Dia segera menunduk untuk menciumi perut istrinya dan kembali berkata:
"Jangan terlalu nakal didalam sana hingga membuat mommymu lelah dan segeralah keluar karena daddy sudah sangat ingin melihatmu dan menggendongmu."
Alice mengusap rambut suaminya, kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya. Jacob terus menciumi perut istrinya, rasanya dia enggan beranjak dari sana karena dia ingin menemani istrinya seharian tapi dia harus segera berangkat kekantornya.
"Jac, pakai bajumu."
"Yes my honey."
Jacob menciumi bibir Alice sejenak setelah itu dia bangkit berdiri untuk memakai bajunya. Alice juga turun dari atas ranjang sambil memegangi perutnya,entah kenapa dia merasa sedikit nyeri, mungkin itu akibat sijunior yang aktif didalam sana.
Alice berdiri didepan suaminya dan membantu suaminya mengancingkan kemejanya sedangkan Jacob melihat wajah Alice kemudian mengusapnya dengan lembut.
"My honey, jika ada apa-apa kau harus segera menghubungiku,okay?"
"Jangan khawatir Jac, disana ada mommy jadi kau tenang saja."
"I know my honey."
Alice memeluki leher suaminya dan mencium pipi suaminya dengan mesra.
__ADS_1
"Jangan khawatir, okay. Bukankah kau ada rapat penting? Jadi sebaiknya kau fokus pada raparmu."
"Oh my honey."
Jacob menciumi bibir istrinya dengan lembut, setelah itu mereka berdua saling pandang dan tidak lama kemudian mereka berdua kembali berciuman, kebahagiaan mereka akan segera lengkap dengan kehadiran si junior yang sebentar lagi akan tiba.
Setelah selesai, mereka berdua keluar dari kamar. Sebelum pergi mereka sarapan terlebih dahulu dan jujur saja lagi-lagi Alice mengalami nyeri diperutnya tapi lagi-lagi dia mengira itu akibat sijunior yang terlalu aktif didalam perutnya.
Setelah mengantar istrinya kerumah orang tuanya Jacob segera berangkat kekantornya dan selama diperjalanan entah kenapa perasaanya tidak menentu tapi dia berusaha menepisnya lagi pula Alice berada dirumah orang tuanya dan menurut perkiraan dokter istrinya akan melahirkan minggu depan.
Jadi dia akan fokus pada rapatnya dan setelah rapatnya selesai dia akan segera kembali kerumah.
Sementara itu, begitu Alice tiba, Samantha meminta menantunya untuk langsung beristirahat didalam kamar.
Alice hanya membolak-balikkan tubuhnya diatas ranjang karena nyeri diperutnya semakin menjadi, dia merasa aneh sedari tadi, apa ini sudah waktunya?
Lebih baik dia bertanya pada ibu mertuanya karena ibu mertuanya lebih berpengalaman, jadi dia berusaha bangun dari atas ranjang sambil memegangi perutnya yang semakin terasa nyeri.
Oh padahal dokter memperkirakan dia akan melahirkan minggu depan tapi sepertinya inilah waktunya, dia mulai merasakan air mengalir disela pahanya, sepertinya air ketubannya sudah pecah.
"Mom!" Alice mulai berteriak sambil memegangi perutnya.
"Mom help!" dia berteriak lagi dan pada saat itu Samantha masuk kedalam kamarnya.
"Alice sayang, ada apa?"
"Mom, sepertinya aku?"
Tidak butuh waktu lama Alice segera dibawa kerumah sakit terdekat karena air ketubannya sudah keluar bayak, pada saat itu Samantha menghubungi putranya untuk memberitahukan jika Alice akan melahirkan tapi tidak dijawab karena memang ada rapat penting jadi Samantha mengirimkan pesan pada putrnya untuk segera menyusul dirumah sakit.
Mereka menunggu dengan cemas diluar ruangan tempat Alice sedang berjuang dan berharap Jacob cepat datang untuk menemani istrinya didalam sana.
Didalam sama Alice sedang berjuang untuk melahirkan buah cintanya dengan Jacob, walaupun suaminya tidak menemaninya tapi itu tidak jadi masalah, semoga saat suminya datang anak mereka sudah lahir.
Saat rapatnya telah selesai Jacob mengambil ponselnya, dia sedikit kaget saat melihat ibunya menghubunginya puluhan kali, saat membaca pesan dari ibunya dia langsung tampak senang.
Sambil berlari Jacob keluar dari kantornya, dia berharap dia bisa menemani Alice melahirkan anak mereka tapi sebelum itu dia harus menjemput Marry terlebih dahulu barulah dia pergi kerumah sakit untuk menemani istrinya.
Dia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dia benar-benar sudah tidak sabar, bahkan dia meminta ijin pada guru Marry untuk membawa Marry pulang karena saat itu memang belum waktunya untuk Marry pulang.
Marry sangat senang saat mendengar ibunya akan melahirkan, berarti sebentar lagi dia akan punya adik, dia tampak begitu tidak sabar sama seperti ayahnya.
Jocob menggandeng tangan Marry dan masuk kedalam rumah sakit dengan cepat untuk mencari ayah dan ibunya sedangkan didepan ruangan tampak orang tuanya masih menunggu.
"Mom, bagaimana dengan keadaan istriku? Apa Alice sudah melahirkan?" tanya Jacob dengan tidak sabar.
"Jacob tenanglah, Alice baik-baik saja dan aku rasa dia sudah melahirkan karena tadi kami sudah mendengar suara tangisan bayi."
"Oh ya Tuhan, syukurlah." Jacob tampak lega tapi sebenarnya dalam hatinya merasa sedikit kecewa karena dia tidak bisa menemani istrinya melahirkan anak mereka.
__ADS_1
Pintu ruanganpun terbuka dan seorang perawat mempersilahkan mereka untuk masuk, Jacob segera menerobos masuk kedalam ruangan dimana istrinya berada.
Senyumnya langsung mengembang saat melihat Alice sedang menggendong buah hati mereka.
"Jac."
"My honey, maafakkan aku karena aku tidak menemanimu."
"Tidak apa-apa Jac, lihatlah putra kita sangat mirip denganmu."
Jacob menciumi dahi istrinya dan melihat wajah putranya, benar sangat mirip dengannya dan semoga semuanya mirip dengannya.
"Mommy,are you okay?" Marry menghampiri ibunya dan memegangi tangannya.
"I'm okey dear."
"Can i see my brother."
"Yes."
Marry tampak begitu senang melihat adik laki-lakinya, tidak saja Marry yang senang semua yang ada disana tampak begitu senang begitu juga dengan Jhon dan Samantha, mereka tampak senang menyambut kelahiran cucu lelaki mereka.
Jacob merangkul bahu istrinya sedangkan matanya tidak lepas dari putranya yang masih merah, lengkap sudah kebahagiaan mereka bedua.
Putranya tampak begitu tampan didalam gendongan istrinya.
"Hei apa kalian sudah memberinya nama?" tanya Samantha.
"Mom, dad, maukah kalian yang memberi nama?" tanya Alice pula.
"Wow, jika ada kakekmu pasti dia akan memberikan namanya untuk anak kalian, Michael Smith."celetuk Jhon.
"Ck, daddy please, apa tidak ada nama lain?" Jacob tampak tidak senang.
"Kenapa? Nama kakekmu bagus."
"Aku tidak mau!"
"Kalian berdua diam! Aku yang akan memberi nama." Samantha berjalan kearah Alice dan mengambil cucunya dalam gendongan menantunya.
"Dia akan dipanggil Albert, Albert Smith." Samantha menciumi pipi cucunya dengan lembut.
"Kau lihat itu boy, mommymu lebih pandai memilih nama jadi mulai sekarang putramu akan dipanggil Albert Smith."
"Oke baiklah, Albert lebih bagus dari pada Michael."
"Boy, kau!!"
"Jangan marah dad,aku hanya bercanda." ujar Jacob sambil tertawa, untung saja tidak ada kakeknya disana.
__ADS_1
Welcome to the world Albert Smith.