Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Lalat di ujung pisau


__ADS_3

Saat itu, Marry sudah pulang dari sekolah. Gadis manis itu sedang mengerjakan tugas sekolahnya sedangkan Jacob duduk didekatnya sambil memainkan ponselnya.


Saat itu Alice sedang mencuci piring karena Alice tidak pergi bekerja disebabkan kantornya meledak dan saat ini dia sedang menunggu kabar dari atasannya dimana dia akan dipindahkan nanti.


Marry menutup bukunya setelah menyelesaikan tugasnya, gadis itu segera bangkit berdiri, menghampiri Jacob dan duduk disampingnya.


"Uncle Jacob." panggilnya.


"Yes." Jacob memalingkan matanya dari ponselnya dan melihat kearah Marry.


"Kenapa uncle Jacob tinggal bersama kami, apa Uncle Jacob tidak punya rumah?"


"punya." jawab Jacob singkat.


"Lalu kenapa uncle Jacob tinggal bersama kami?" tanya Marry penasaran.


"Karena aku pacar mommymu." jawab Jacob asal.


"Apa nanti kalian akan menikah?" tanya Marry lagi dengan polos.


Senyum Jacob langsung mengembang diwajahnya.


"Tentu saja, kau tidak keberatan bukan?"


"Tentu tidak uncle, apakah setelah uncle Jacob menikah dengan mommy Alice, aku akan memanggil uncle dengan sebutan daddy?"


"Tentu saja Marry, kau bisa memanggilku daddy."


Marry mengangguk dan kembali bertanya?


"Apa uncle Jacob sayang pada mommy Alice?"


"Hei, berapa usiamu?" Jacob balik bertanya.


"Enam tahun." jawab Marry.


"Marry, tentu aku sangat sayang pada mommy Alice"


"Kalau begitu kapan uncle Jacob dan mommy Alice akan menikah?" tanya Marry lagi.


"Wow, anak-anak jaman sekarang pengetahuannnya berkembang pesat." kata Jacob dalam hati.


"Secepatnya." jawabnya.


Saat itu Alice keluar dari dapurnya dan melihat Marry sedang berbicara dengan Jacob, sekilas dia mendengar percakapan kedua orang itu.


"Hei Jacob, kau tidak sedang meracuni pikiran Marry bukan?"


"Sayang, apa maksud ucapanmu itu?" Jacob tidak terima.


"Marry, kemari." Alice melambaikan tangannya pada Marry.


Marry segera bangkit berdiri, menghampiri Alice dan memeluknya.


"Mommy Alice, kapan kau akan menikah dengan uncle Jacob?"


Hah? Alice langsung melotot pada Jacob. Apa yang pria itu katakan pada Marry?


Alice mengusap kepala Marry dan memandangi wajahnya.


"Marry, jangan dengarkan perkataan uncle Jacob. Apa tugas sekolahmu sudah selesai?"

__ADS_1


"Tentu mom."


"Kalau begitu sebaiknya kau tidur siang."


Marry mengangguk dalam pelukannya, setelah Alice menciumi wajahnya Marry segera masuk kedalam kamarnya.


Alice kembali masuk kedalam dapurnya untuk membuat segelas kopi, dia berencana bersantai disana seorang diri tapi Jacob bangkit berdiri dan mengikuti gadis itu.


Saat tiba disana Jacob menarik sebuah kursi dan duduk disana.


"Sayang, bisa kau buatkan aku segelas kopi?" pintanya.


Alice memutar bola matanya malas, padahal dia lagi ingin sendiri, walau begitu dia tetap membuatkan kopi untuk Jacob.


"Jacob, sampai kapan kau mau tinggal dirumahku?"


"Sampai kau mau jadi istriku dan aku akan membawamu pergi dari sini."


"Jacob, jangan bercanda terus. Kau punya rumah, punya orangtua, apa mereka tidak pernah mencarimu?"


"Tentu saja sayang, tapi aku memberi mereka kabar setiap hari supaya mereka tidak menghawatirkan aku, dan lagipula mereka tahu aku disini."


Alice meletakkan segelas kopi didepan Jacob dan segera duduk dihadapan pria itu, pada saat itu seekor lalat hinggap diatas meja, dengan pelan Alice bangkit berdiri untuk mengambil sesuatu.


Sedangkan Jacob mengambil Ponselnya yang berbunyi dan membaca pesan yang masuk diponselnya.


Itu pesan dari Becca yang mengajaknya untuk bertemu, Jacob malas meladeni Becca dan segera memblokir nomor ponsel mantan kekasihku itu.


Selagi Jacob sibuk dengan ponselnya tiba-tiba saja?


"Jleebbb" Sebuah pisau menancap persis didepan matanya.


Alice mencabut pisau yang menancap diatas meja dan melihatnya, gadis itu tampak tersenyum puas.


"Mati kau!!" gerutunya.


"Sayang, apa kau ingin membunuhku?" Jacob melihat Alice yang berdiri disampingnya.


"Apa? Aku hanya membunuh lalat tidak tahu diri ini yang meskipun sudah aku usir tapi tidak mau pergi juga." Alice memperhatikan lalat mati yang ada di ujung pisau yang dipegangnya.


"Wow, apa kau menyinggungku?" Jacob merasa tersinggung.


"Apa kau merasa seperti lalat ini?" Alice melihat kearahnya.


"Kau ya!!!" Jacob merebut pisau yang dipegang oleh Alice, meletakkan pisau itu keatas meja dan segera menarik tangan Alice hingga gadis itu duduk diatas pangkuannya.


"Alice." Jacob menyelipkan anak rambut Alice dibelakang telinganya.


"Apa sampai sekarang kau belum memiliki perasaan untukku?"


"Jacob, kenapa kau bertanya demikian?"


"Hei kau tahukan tujuanku mendekatimu, aku berada disini untuk mendapatkan hatimu." Jacob menunjuk kedada Alice.


Alice menundukkan wajahnya, dia juga tidak tahu apa dia memiliki perasaan untuk Jacob atau tidak? Yang pasti dia nyaman-nyaman saja dengan pria itu.


"Aku tidak tahu Jacob." jawabnya.


Jacob memeluk Alice dengan erat dan menciumi wajahnya.


"Tidak apa-apa sayang, aku akan menunggu sampai kau membalas perasaanku tapi ingat, jangan terlalu lama kalau tidak, mungkin aku bisa tergoda dengan wanita diluar sana."

__ADS_1


"Jacob.'


"Hm?"


Alice melingkarkan tangannya keleher Jacob dan memeluknya dengan erat.


"Apa kau begitu menyukaiku?"


"Sayang, aku orang yang punya prinsip, jika aku sudah suka maka akan aku dapatkan dengan apapun caranya. Dan kau?" tangan Jacob membelai pungung Alice.


"Kau gadis pertama yang berani menolakku, gadis pertama yang sangat aku inginkan dan kaulah gadis yang ingin aku jadikan sebagai istriku saat ini. Apa kau belum mengerti juga?"


Alice mengangkat kepalanya, menatap Jacob dengan serius sedangkan Jacob tersenyum padanya.


"I love you Alice."


Saat mendengar itu wajah Alice langsung bersemu merah, apa Jacob bersungguh-sungguh dengannya?


Alice kembali memeluk leher Jacob dan membenamkan wajahnya disana.


"Jacob, terima kasih."


"Jadi Alice sayang, apa kau mau menikah denganku?"


"Hei apa ini? Lamaran mendadak!"


Jacob terkekeh, sedangkan Alice kembali menatap wajahnya.


"Jacob, kau tidak melupakan tantanganmu sendiri bukan?"


Jacob terbelalak kaget, sepertinya dia melupakan sesuatu.


Alice menciumi wajah Jacob dan berbisik ditelinganya.


"Kau tidak lupakan dengan persyaratan untuk menjadi suamiku." bisiknya.


"Tentu tidak sayang, mulai besok aku akan belajar main piano."


Alice tersenyum dengan manis, mendekatkan bibirnya ke bibir Jacob.


"Aku tunggu!" ujarnya.


"Oh sayangku, tunggu saja."


Tanpa menunggu lagi Jacob langsung me**at bibir Alice, Alicepun melakukan hal demikian, membalas ciuman Jacob.


Walaupun Alice masih belum tahu apa dia menyukai Jacob atau tidak yang pasti Jacob begitu serius terhadapnya.


Setelah melepaskan bibir Alice, Jacob terus menciumi wajah gadis itu. Rasanya dia tidak mau melepaskan Alice dan masih ingin terus menciuminya.


"Jacob, kopinya sudah dingin." Alice bangkit dari pangkuan Jacob untuk mengambil kopinya.


Jacob segera menyeruput kopinya, setelah itu Jacob bangkit berdiri.


"Alice sayang, aku harus pergi dan sepertinya aku tidak bisa datang untuk beberapa hari ini, jadi kau jangan merindukanku ya." godanya.


"Dalam mimpimu Mr Smit, jangan kembali lagi jika kau belum bisa memainkan sebuah lagu untukku."


"Sayang, kau benar-benar tega." Jacob meraih ponselnya dan melangkah pergi.


Bermain piano? Ini adalah siksaan untuk keluarga Smith.

__ADS_1


__ADS_2