
Har itu hari pernikahan kakak Jacob, karena Jacob mengajak Alice pergi menghadiri pernikahan kakaknya jadi Alice tampak sedang bersiap-siap.
Tidak hanya itu, ibu Jacob memintanya datang jadi dia juga merasa tidak enak hati apalagi dia sudah menghabiskan waktu dengan Amanda.
Melalui sebuah pesan, Alice dan Olivia sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk pernikahan Amanda. Mereka memilih hadiah dengan terburu-buru karena pernikahan Amanda yang mendadak.
Sangat disayangkan memang, padahal Alice ingin mengajak Amanda menikmati kota itu tapi dia tidak bisa mencegah Amanda.
Alice tampak sedang duduk didepan cermin, dia ingin menggulung rambutnya agar tampak bergelombang.
Dia sedang menunggu alat penggulung rambutnya panas jadi dia hanya duduk didepan cermin sambil memainkan ponselnya.
Pada saat itu Jacob masuk kedalam kamarnya dengan sebuah kemeja ditangannya, dia segera menghampiri Alice, berdiri dibelakangnya dan memegangi kedua bahunya.
"Alice sayang."
"Hmm?"
"Bisa kau setrikakan kemejaku?" sambil memperlihatkan kemeja yang dibawanya didepan Alice.
"Lakukan sendiri!" jawab Alice malas.
"Ayolah, aku tidak bisa."
Alice meletakkan ponselnya diatas meja, dia segera mengangkat kepalanya untuk melihat Jacob yang berdiri dibelakangnya.
"Jac-Jac, aku sedang ingin menggulung rambutku." ujarnya.
"Ayolah sayang, tolong setrikakan kemejaku. Aku tidak tahu bagaimana caranya dan aku juga tidak tahu dimana setrikamu berada." pintanya.
"Begitu."
"Yes."
"Kalau begitu ikut aku." Alice segera bangkit berdiri, dia segera menarik tangan Jacob dan membawa kekasihnya keluar dari kamar.
Mereka berjalan menuju kesebuah kamar dimana disana cucian yang sudah kering berada, karena bibi Carol berhenti mendadak membuat pakaian yang harus disetrika sudah menumpuk.
Alice mengeluarkan setrika dan alasnya dari dalam lemari, dia segera meletakkan benda itu didepan Jacob.
"Kau colok benda itu disana." sambil menunjuk setrika dan sebuah saklar listrik yang ada ditembok.
"Letakkan bajumu disini dan gosok menggunakan benda ini jika sudah panas." katanya lagi.
Jacob melihat benda itu kemudian melihat kearah Alice, kenapa malah diajari? Dia kira Alice akan menyetrikakan bajunya.
"Alice sayang, bisa kau menyetrikannya sebentar." pintanya.
"Maaf Jac-Jac, aku sibuk." Alice segera berlalu pergi, tapi sebelum itu dia kembali berkata:
"Ingat jangan sampai terbakar."
Setelah berkata demikian dia segera keluar dari tempat itu menuju kamarnya untuk menggulung rambutnya.
Jacob menghela nafasnya dengan berat, dia segera merentangkan kemejanya ditempat yang telah tersedia. Kemudian dia mencolokkan kabel setrika disaklar listrik yang ada, dia melakukan sesuai dengan yang dikatakan oleh Alice.
Jacob meletakkan setrika itu begitu saja, dia pikir setrika itu akan panas dalam waktu setengah jam jadi dia keluar dari sana.
Dia masuk kedalam kamar Alice karena dia ingin melihat apa yang dilakukan oleh Alice, didalam sana tampak Alice sedang menggulung rambutnya, dia duduk kembali didepan cermin dengan sebuah alat penggulung rambut yang tampak sudah panas ditangannya.
Dengan hati-hati Alice mulai menggulung rambutnya sedikit demi sedikit agar terlihat menggelombang, dia tampak fokus agar rambutnya tidak terbakar oleh alat penggulung yang semakin panas.
Jacob tersenyum dan kembali menghampiri kekasihnya dan berdiri dibelakang Alice.
"Jac-Jac apa kau sudah selesai?" Alice bertanya padanya.
__ADS_1
"Nanti." Jacob menjawab demikian karena dia pikir setrikanya belum panas.
Alice kembali menggulung rambutnya tanpa curiga, dia pikir mungkin nanti Jacob akan menyetrika kemejanya.
"Alice sayang, berikan padaku alat itu, aku akan membantumu."
"Tidak perlu Jac, aku bisa sendiri dan aku tidak mau kau membakar rambutku!" tolak Alice dengan cepat.
"Oh ayolah sayang, hanya memutar rambutmu dibenda itu saja bukan?"
"Benar."
"Kalau begitu berikan padaku, itu hal mudah dan aku akan menggulung rambutmu dengan bagus." katanya dengan percaya diri.
Alice mengangkat kepalanya dan melihat Jacob, ini hal mudah mungkin Jacob memang bisa menggulungkan rambut bagian belakangnya.
Tanpa curiga Alice memberikan alat penggulung rambutnya kepada Jacob sambil berpesan:
"Gulung yang bagus dan jangan membakar rambutku!!"
"Tentu saja sayang."
Jacob mengambil alat itu dari tangan Alice, dia mulai memundurkan langkahnya supaya dia bisa mulai menggulung rambut Alice.
"Jac-Jac."
"Ya?" Jacob tampak serius.
"Apa kau pernah melakukan hal ini dengan Wanita lain?"
"Tidak, kenapa?"
"Aku hanya ingin tahu saja dan jangan langsung kau lepas rambutku dari alat itu, kau harus menunggu beberapa menit supaya rambutku bisa bergelombang." perintahnya.
Jacob melihat temperatur yang ada dialat penggulung rambut itu yang tampak hanya setengah, pantas saja rambut Alice begitu lama mengelombang dengan alat itu?
"Bukankah lebih panas lebih cepat?" pikirnya.
Jadi tanpa pikir panjang Jacob menaikan suhu dialat penggulung Alice sampai maksimal, dia pikir tidak akan masalah dan pekerjaannya akan cepat selesai sehingga Alice akan memuji dirinya.
"Jac-Jac." Alice memanggilnya lagi.
"Hmm?"
"Jika kita sudah menikah apa kita akan tetap seperti ini?"
"Tentu saja sayang."
Mereka kembali diam, Alice sibuk memainkan ponselnya karena dia sedang mengirim pesan untuk Olivia sedangkan Jacob menunggu rambut Alice yang tergulung dialat penggulung yang semakin panas karena temperatur yang sudah dinaikkannya.
Beberapa menit kemudian mereka mulai mencium sesuatu, bau sesuatu yang terbakar.
Alice mengernyitkan dahinya,apa rambutnya terbakar? Tapi bau itu bukan rambutnya, lalu apa?
"Jac-Jac, apa kau mencium bau sesuatu?"
"Ya, seperti sesuatu yang terbakar."
"Benar, bau ini?"
Mereka sibuk mengendus mencari apa ada yang terbakar dikamar itu?
"Jac-Jac, apa kau tidak jadi menyetrika bajumu tadi?" tanya Alice curiga.
"Jadi, tapi aku letakkan disana karena setrikanya belum panas."
__ADS_1
"Oh my God!" Alice langsung bangkit berdiri saat menyadari sesuatu.
Jangan-jangan setrika yang ditinggalkan Jacob membakar sesuatu!
Alice hendak melihat setrikanya jadi dia hendak berlari dan lupa dengan rambutnya yang masih tergulung dialatnya, dia segera berlari dan pada saat itu rambutnya tertarik dan?
"Ctass!!!" rambutnya yang berada dialat penggulung langsung terputus karena kebakar alat penggulung yang semakin panas.
"Ya Tuhan rambutku!!" Alice melihat potongan rambutnya yang berada dialat penggulung yang tampak mengeluarkan asap.
Dengan cepat Alice mencabut alat penggulung itu dan menghampiri Jacob.
"Rambutku!"
"Bukan salahku." elak Jacob.
"Kau ya!! Bukankah tadi kau bilang bisa!" Alice mangambil potongan rambutnya dari alat penggulung dengan tangan bergetar.
"Memang, tapi ingat kau yang menariknya sayang." Jangan sampai Alice tahu temperatur dialat itu sudah dia naikkan sampai maksimal, karena bisa dia tebak hal itulah yang telah membakar rambut Alice.
"Oh tidak rambutku!" keluh Alice frustasi.
Pada saat itu lagi-lagi bau gosong tercium oleh mereka, dengan cepat mereka berlari keluar dari kamar itu.
Mereka berdua masuk kedalam kamar dimana Jacob meninggalkan setrikanya dan pada saat melihat setrika yang mengeluarkan asap mata Alice terbelalak kaget begitu juga dengan Jacob.
"Jac-Jac!" teriak Alice dengan panik, jangan sampai rumahnya terbakar oleh setrika itu.
Jacob segera berlari untuk mencabut setrika yang sudah mengeluarkan asap diatas kemejanya yang sudah terbakar.
Ya, tadi dia meletakkan setrika diatas kemejanya yang ingin dia rapikan, karena belum pernah melakukan hal itu jadi dia tidak tahu jika setrika bisa membakar sebuah baju lagi pula dia pikir setrika itu akan panas dalam waktu setengah jam.
Jacob menyingkirkan setrika itu dan meraih kemejanya, dia juga mengangkat kemejanya didepan wajahnya dan melihat sebuah lubang disana.
"Lubang yang bagus." gumamnya.
"Jac-Jac, kau ya! Tidak hanya membakar rambutku tapi kau juga membakar kemejamu sendiri, jangan sampai kau membakar rumahku nanti!!" ucap Alice kesal.
"Tapi kita impas bukan?" Jacob memperlihatkan lubang dikemejanya pada Alice sedangkan Alice melihat potongan rambutnya yang dia bawa.
Mereka kemudian tertawa bersama-sama karena itu adalah hal gila yang mereka alami.
"Sudahlah!" ujar mereka bersamaan.
Jacob melemparkan kemejanya begitu saja dan menghampiri Alice, dia segera memeluk Alice dan mengusap wajahnya dengan lembut.
"Alice sayang, maaf mengenai rambutmu."
"Sudahlah Jac, aku memang sudah gila percaya denganmu!"
Jacob terkekeh pelan,dia segera menciumi bibir Alice, begitu juga dengan Alice, dia membalas ciuman kekasihnya dan melingkarkan tangannya dileher Jacob.
Mereka melepaskan ciuman mereka dan kembali tertawa saat melihat wajah mereka berdua, bibir Jacob dipenuhi dengan lipstik Alice sedangkan lipstik yang dipakai oleh Alice sudah berantakan dibibirnya.
"Bibirmu seksi." Jacob menggusap bibir Alice yang dipenuhi dengan lipstiknya yang berantakan karena ulahnya.
"Bibirmu juga." Alice juga melakukan hal yang sama.
Mereka kemudian kembali tertawa bersama, Jacob kembali menunduk dan menciumi bibir Alice dengan mesra.
"Sudahlah, ayo cepat bersiap-siap, nanti kita terlambat pergi kepesta pernikahan kakakmu."
"Kau benar."
Mereka kembali bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan Edward dan Amanda.
__ADS_1