
Pagi itu Alice sedang merapikan mantel yang dipakai oleh Marry karena gadis itu hendak pergi kesekolah dan sedang menunggu bus sekolahnya tiba.
Marry tampak ceria karena sekarang ibu sambungnya itu sudah banyak meluangkan waktu untuknya, tidak seperti saat Alice masih bekerja menjadi polisi.
Pergi pagi bahkan pulang malam sampai mereka jarang bertemu dan gadis itu hanya ditemani bibi Carol saja, sekarang jika Alice tidak pergi kekantor biasanya dia menemani Marry dikamarnya, mengajak Marry mengobrol sebelum tidur.
Marry sangat senang bahkan pagi ini ibunya sudah bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan untuknya dan membangunkannya dengan sebuah ciuman. Gadis itu merasa Alice sudah seperti ibu kandungnya dan dia berharap Alice selalu mencintainya.
"Marry, diluar sangat dingin jadi jangan lepaskan mantelmu ya." pesan Alice pada gadis manis itu.
"Baik mom." Marry memegangi tali tas ranselnya dengan erat.
Alice tersenyum pada gadis manis itu, Marry adalah segalanya baginya dan dia telah berjanji kepada mendiang kakak dan kakak iparnya untuk menjaga Marry dengan baik.
Saat bus sekolah Marry telah tiba Alice menggandeng tangan Marry menuju kearah bus itu.
"Marry sayang, be careful."
"Yes mom."
Sebelum naik keatas bus Marry memeluk Alice dengan erat, mencium wajahnya dan berbisik dengan pelan.
"I love you mommy Alice."
Alice tersenyum dan mengusap kepala Marry.
"I love you too Marry."
Marry segera melepaskan pelukannya dan naik kedalam bus itu, gadis manis itu langsung bergabung dengan teman-temannya sedangkan Alice melambaikan tangannya pada Marry, gadis itu berdiri disana sampai bus yang ditumpangi Marry hilang dari pandangannya.
Alice melangkah kembali kerumahnya, pada saat itu sebuah mobil berhenti didepan rumahnya, tampak Andrew turun dari mobil itu bersama dua orang pria dengan tampang menyeramkan.
"Good morning Ms." sapa Andrew.
"Andrew, kenapa kau bawa temanmu kemari, apa kau pikir rumahku ini tempat perkumpulan?" Alice tampak kesal sambil melihat kedua orang itu.
"Bukan begitu Ms Alice, master yang memerintahkan aku untuk membawa mereka."
Alice mengernyitkan dahinya, Jacob? Untuk apa pria itu memerintahkan Andrew membawa dua orang dengan tampang menyeramkan itu kerumahnya.
Alice segera masuk kedalam rumahnya sedangkan Andrew mengikutinya tapi kedua anak buahnya berdiri didepan sana, dia akan menanyakan hal ini secara langsung pada kekasihnya.
Gadis itu segera masuk kedalam kamarnya karena saat itu Jacob masih tidur, Alice naik keatas ranjang dan menggoyangkan tubuh Jacob agar pria itu bangun dari tidurnya.
"Jacob,bangun."
"Hmm!!" Jacob hanya bergumam saja.
"Bangun kalau tidak aku tendang kau keluar!!" Ancam Alice kesal.
Jacob langsung menarik tangan Alice hingga gadis itu masuk kedalam pelukannya.
"Alice sayang, ini masih pagi jadi biarkan aku tidur."
"Jacob."
__ADS_1
"Hmmm?" Jacob mulai menciumi wajah kekasih cantiknya dengan lembut. Hal inilah yang dia suka,saat bangun dari tidurnya kekasihnya itu ada ditempat tidur bersamanya walaupun mereka tidak melakukan apa-apa.
"Hei!" Alice mulai menahan tangan Jacob yang mulai masuk kedalam bajunya.
"Sayangku,bbiarkan aku melakukan ini dan jangan menahanku."
Alice mulai memejamkan matanya menikmati belaian jari jemari Jacob dikulitnya dan menikmati sentuhan bibir pria itu diwajahnya.
"Jacob jangan!"
"Kenapa sayang, apa kau tidak mau menjadi milikku?"
Alice tersenyum dan memandangi wajah tampan kekasihnya itu, tangannya mulai terangkat untuk membelai rambut Jacob yang berantakan.
"Bukan begitu."
"Jadi, bolehkan?"
Alice mendekatkan wajahnya dan menciumi wajah Jacob dengan mesra, dia juga berbisik ditelinga pria itu.
"Andrew sudah menunggumu diluar sana."
"sialan Andrew!" maki Jacob kesal.
Alice terkekeh dan kembali menciumi wajah kekasihnya.
"Jadi segeralah bangun karena aku ingin mendengar penjelasan tentang kedua anak buahmu itu, kau tidak membawa mereka untuk tinggal disini bukan?" Alice segera duduk diatas ranjang dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakkan.
Jacob segera bangun dan memeluk Alice dari belakang, pria itu membenamkan wajahnya ketengkuk Alice untuk menghibur aroma manis tubuh kekasihnya.
"Alice sayang, mulai sekarang mereka akan menjagamu dan mengikutimu pergi."
"Alice sayang, aku tidak mau kau disentuh oleh pria lain lagi seperti kemarin jadi biarkan mereka menjagamu."
"Tapi Jacob itu terlalu berlebihan." Alice memegangi lengan Jacob yang berada diperutnya dan menyandarkan tubuhnya di tubuh kekasihnya itu.
"Tidak sayang, jika kau menolak maka akan aku tambahkan menjadi sepuluh orang."
"Hei apa-apaan itu!!"
Jacob terkekeh, dia sangat suka waktu seperti itu.
"Alice."
"Hmmm?"
"Apa bibirmu masih sakit?"
"Yeah."
"Oh my, aku bisa gila!" maki Jacob kesal.
"Bersabarlah sayang."
"Sampai kapan sayang, aku sudah tidak sabar ingin mencium bibir manismu itu!" Jacob mulai tampak frustasi.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah membelikan boneka karet itu? Maka bertahanlah menggunakan itu!"
"Kau ya!!!"
Jacob mulai mengelitiki kekasihnya itu sampai Alice tertawa, gadis itu berusaha melarikan diri tapi Jacob tidak melepaskannya.
Pria itu tetap dengan aksinya, memberikan hukuman pada kekasihnya itu karena telah membeli boneka karet berbentuk aneh itu.
"Jacob maaf, aku tidak kuat lagi." pinta Alice sambil menahan tawanya.
"Awas jika kau berani membeli benda aneh itu lagi!!" ancam Jacob kesal.
"Iya maaf." Alice memeluk Jacob dengan erat dan mengusap air matanya karena tertawa saat mendapat hukuman dari kekasih tampannya.
Senyum Jacob mengembang diwajahnya, dia tidak akan membiarkan siapapun merebut Alice darinya.
"Alice sayang, i love you."
Alice menciumi wajah Jacob dengan mesra, dia tahu pria itu mencintainya tapi dia masih malu untuk mengungkapkan perasaannya.
"Aku tahu Jacob, segerelah mandi, aku juga sudah harus pergi kekantor."
Jacob mengerutu kesal, padahal dia masih ingin bermanja dengan kekasihnya itu. Jacob membiarkan Alice keluar dari kamar itu, pria itupun segera mandi dan tidak lama kemudian Jacob sudah tampak rapi dan keluar dari kamar itu.
Diluar sana tampak Andrew sudah menunggunya dengan segelas kopi yang telah di hidangkan oleh Alice.
Andrew segera bangkit berdiri saat melihat bosnya berjalan kearahnya
"Master, ada yang ingin bertemu denganmu hari ini."
"Siapa?" tanya Jacob dengan malas.
"Master umpan yang telah kau lempar ke Brazil telah ditangkap."
"Oh." Jawabnya dengan santai.dia tidak terkejut karena dia sudah memperkirakannya.
Jacob segera duduk didepan Andrew dan pada saat itu Alice menghampiri mereka dengan segelas kopi ditangannya.
Alice meletakkan gelas kopi itu diatas meja, setelah itu Alice menciumi wajah Jacob dan berkata:
"Aku harus pergi karena dikantor banyak pekerjaan."
"Berhati-hatilah sayang,kedua pria itu akan menjagamu." Jacob juga menciumi pipi kekasihnya.
"Tentu." Alice segera pergi dari rumahnya dan tentunya dengan dua bodyguard yang berada didepan rumahnya.
Setelah Alice pergi kedua pria itu mulai tampak serius.
"Andrew, apa Lucas Marcelo ingin bertemu denganku?"
"Yes master."
Jacob menyeruput kopinya dengan santai, seperti perkiraannya Lucas pasti ingin bertemu dengannya.
Bisa dia tebak pria itu pasti ingin menanyakan kemana Becca pergi, tapi percuma karena Becca sudah menjadi lumut dikolam buayanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo temui pria ini." Jacob segera bangkit berdiri.
Mereka segera keluar dari rumah itu untuk menemui seorang tamu yang tidak diundang.