Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Hadiah untuk Andrew


__ADS_3

Setelah tiba dikantornya, Jacob tampak begitu gusar, pasalnya senyum Andrew mengembang diwajahnya tanpa henti.


Andrew tampak begitu senang, bahkan saat Jacob berbicara dengannya Andrew menunjukan kebahagiaan yang begitu besar.


Hal itulah yang membuat Jacob gusar, ada apa sih dengan asisten pribadinya itu? Apa dia salah makan obat?


"Hei Andrew, bisa kau tidak tersenyum seperti itu?" Jacob menatap Andrew dengan tajam.


"Apa master?"


"Kau ya!! Membuatku merinding dan jijik jadi hentikan senyumanmu itu!!" bentak Jacob kesal.


Jacob memalingkan matanya untuk melihat layar komputernya kembali, malas melihat wajah Andrew.


"Maaf master, aku terlalu gembira jadinya seperti ini."


"Kenapa? Kau menang lotre?" Jacob masih sibuk memainkan mouse komputernya.


"Ini lebih dari lotre, master lihat ini?" Andrew menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya dan pada saat itu Jacob memalingkan matanya melihat kearah Andrew yang sedang memamerkan cincin dijari manisnya.


"Aku telah menikah dengan Jane." kata Andrew gembira.


"Wow, congratulation for you." jawab Jacob santai, dia kembali melihat layar komputernya.


Andrew kembali tersenyum senang sedangkan Jacob kembali melanjutkan pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.


Pantas saja Andrew begitu gembira ternyata dia sudah menikah sedangkan dia? Bukan saja kalah taruhan dengan kakaknya tapi dia juga kalah dengan asisten pribadinya.


"Dendam sialan!!" gerutu Jacob kesal.


"Yes master?" Jawab Andrew karena dia mengira bosnya itu memanggil diirnya.


Jacob menarik nafansya dengan berat, sepertinya perjalanan cintanya dengan Alice masih panjang.


Jika saja Alice tidak menyimpan dendam mungkin mereka sudah menikah tapi jika tidak begitu mungkin juga mereka tidak akan bertemu dan mungkin saja saat ini dia sudah dengan gadis lain dan Alice dengan pria lain juga.


Walaupun mereka belum melakukan apapun dan belum juga menikah tapi Jacob sangat puas dengan hubungan mereka apalagi mereka belum lama memulai, bukankah lebih menyenangkan bisa menikmati masa pacaran sebelum menikah?


Jacob bangkit berdiri dan berjalan kearah jendela, matanya sibuk melihat pemandangan diluar sana sedangkan pikirannya sedang memikirkan Alice.


"Andrew, bagaimana kerja sama kita dengan Lucas? Kau sudah menyiapkan anak buah bukan?"


"Tentu saja master, tapi bukankah ini sangat beresiko?" Andrew menatap punggung bosnya yang sedang berdiri membelakanginya.


"Resiko? Apa itu?" Jacob memutar tubuhnya dan menatap Andrew dengan tajam.


Andrew menelan ludahnya dengan kasar, dia lupa pria ini tidak akan asal bertindak dan tidak pernah memikirkan resiko atas tindakan yang diambilnya.


"Maaf master, aku sudah menyiapkan semua yang kau perintahkan dan besok malam kau bisa memberikan kejutan kepada Lucas Marcelo."

__ADS_1


"Bagus,bagaimana dengan uncle Billy, apa dia sudah menemukan petunjuk?" Jacob kembali kekursinya dan duduk disana.


"Belum, ayahku masih dirumah sakit." jawab Andrew dengan tidak enak hati.


"Ck..disaat seperti ini malah sakit!!" gerutu Jacob kesal.


Pada saat itu pesan masuk keponselnya, dengan cepat Jacob meraih ponselnya yang berada diatas meja untuk membacanya.


"Jac, saat kau pulang nanti tolong belikan obat untuk nyeri perut dan pembalut super maxi wing." itu pesan dari Alice.


"Hah?" Jacob seperti orang linglung saat membacanya.


"Super maxi wing? Apa itu?" tanyanya pelan.


Jacob menyimpan ponselnya kembali dan melihat kearah Andrew yang masih tampak bahagia.


"Andrew, pergi beli obat untuk nyeri perut dan pembalut super maxi wing." perintahnya.


"Apa master? Pesawat model apa itu?" Andrew tampak bingung.


"Pembalut bodoh!!" teriak Jacob kesal.


"What?" Andrew tidak percaya mendengarnya.


"Sudah pergi sana, setelah ini kau bisa pilih hadiah pernikahan apa saja yang kau inginkan." Jacob melambaikan tangannya kearah Andrew sebagai tanda jika dia meminta Andrew untuk pergi.


"Apa kau serius master?" tanya Andrew tidak percaya.


"Wah kalau begitu aku mau mobil porsche." jawab Andrew dengan cepat.


Kapan lagi? Mumpung bosnya sedang baik hati. Hanya pergi membeli pembalut saja itu hal mudah apalagi dia sudah pernah membeli testpack dan memanipulasinya.


Siapa tahu bosnya mengabulkan permintaannya.


"Sana kau bisa memilih model yang kau suka." Jacob kembali melambaikan tangannya sedangkan matanya kembali sibuk melihat tulisan dilayar komputernya.


Andrew terbelalak kaget tapi dia langsung tampak senang.


"Terima kasih master." Andrew keluar dari ruangan itu dengan senyum mengembang diwajahnya, dia segera pergi untuk membeli pembalut seperti yang diperintahkan oleh bosnya.


Andrew pergi kesebuah supermarket dan tampak sedang berdiri disebuah rak yang dipenuhi dengan berbagai macam merk pembalut wanita, Andrew menelan ludahnya dengan kasar karena dia bingung, yang mana super maxi wing?


Begitu banyak macam dan merk membuat Andrew bingung, dia mulai meraih salah satu pembalut dan mulai membacanya, tapi yang dia ambil tidak ada tulisan super maxi wing.


Andrew sudah tampak strees, ini lebih sulit dari pada beli test pack. Mana tidak ada yang bisa dia mintai tolong lagi?


Andrew segera melangkah pergi untuk menemui pegawai disana, dia juga berteriak dengan kesal.


"Ambilkan beberapa pembalut super maxi wing untukku." teriak Andrew kesal.

__ADS_1


Pegawai itu hanya tersenyum pada Andrew, setelah apa yang diminta oleh bosnya telah dia dapatkan Andrew segera kembali yang pastinya setelah ini dia mau pergi memilih hadiah untuknya.


Saat Andrew telah kembali, jacob telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia segera pulang karena dia ingin bertemu dengan Alice.


Jacob masuk kedalam rumahnya dengan cepat, senyum mengembang diwajahnya saat melihat Alice sedang meletakkan kepalanya diatas meja, gadis itu tampak tertidur dengan beberapa dokumen didekatnya.


Jacob duduk disamping Alice dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Alice sayang, jangan tidur disini." Jacob menunduk dan berbisik ditelinga Alice.


"Jac,vkapan kau kembali?" Alice terbangun dari tidurnya dan melihat kearah Jacob.


"Baru saja? Bagaimana dengan perutmu?" tangannya sudah mengusap-usap perut Alice.


"Sudah lebih baik, Apa kau membeli apa yang aku minta?"


"Tentu saja sayang." Jacob menunjuk kearah plastik yang diletakkkan oleh Ben didekat mereka.


"Thanks Jac."


"Jika perutmu masih sakit maka besok saja kita pergi kerumah orang tuaku."


"Tidak apa-apa Jac, setelah minum obat dan beristirahat nyerinya juga hilang."


"Kalau begitu segeralah minum obatnya dan tidur denganku." Jacob bangkit berdiri untuk mengambil obat nyeri dan memberikannya kepala Alice.


Setelah meminum obat itu Jacob segera menggendong Alice masuk kedalam kamarnya, diatas ranjang Jacob memeluk Alice sambil mengelus-elus perutnya supaya nyaman.


"Jac, kenapa ibumu memintamu pulang?"


"Entahlah, dia hanya memintaku untuk mengajakmu pulang."


"Hei mereka tidak meminta kita untuk segera menikah bukan?" tanya Alice curiga.


"Kenapa? Apa kau tidak mau menikah denganku?"


"Bukan begitu aku hanya belum siap."


"Dasar kau!!"


Alice membalikkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya didada Jacob, dia mulai memejamkan matanya sedangkan Jacob terus membelai punggung Alice.


"Jac, i love you."


Senyum kembali mengembang diwajah Jacob, dia sangat senang mendengarnya. Cepat atau lambat Alice pasti akan menjadi miliknya.


Jacob menciumi dahi Alice dengan lembut dan berbisik pelan.


"I love you too Alice."

__ADS_1


Jacob mengencangkan pelukannya sendangkan Alice, senyum penuh kebahagiaan menghiasi wajahnya.


__ADS_2