
Setelah keluar dari apartemen Lucas, Alice menaiki sebuah taxi untuk pulang kerumahnya, selama didalam taxi Alice melamun saja memikirkan banyak hal.
Memikirkan siapa pria tadi dan tentunya memikirkan kemana mantan pacar Jacob berada? Padahal hanya wanita itu satu-satunya petunjuk yang dia punya.
Jika dia bisa bertemu dangan Becca mungkin dia bisa mengetahui siapa yang telah menghabisi keluarganya dengan cepat.
Mungkinkah dia harus bertanya kepada Jacob kemana Becca pergi? Pria itu pasti tahu tapi bisa juga tidak!
Selama diperjalanan Alice hanya melihat jalanan yang dia lalui, salju sudah tampak mulai turun diluar sana dan tanpa sadar Alice mengusap kedua lengannya.
Saat melihat salju dia pasti akan selalu teringat dengan malam penuh darah dimana dia harus melihat seluruh keluarganya mati, sejak saat itu pula Alice tidak begitu suka musim dingin lagi, mungkin karena dia harus mengingat kejadian dimana dia harus melihat mayat keluarganya satu persatu dimalam bersalju itu.
Saat melewati sebuah taman yang ada Alice meminta supir taxi untuk berhenti, Alice keluar dari mobil taxi yang dia tumpangi dan melangkah mendekati taman itu.
Alice duduk disebuah ayunan yang ada disana dan kembali termenung, dia sedang ingin sendiri saat ini untuk menenangkan hatinya.
Alice mendorong ayunan yang didudukinya dengan pelan, gadis itu mengangkat kepalanya untuk melihat butiran salju yang turun dari atas sana, Alice mengulurkan telapak tangannya untuk menadah butiran es itu.
Entah kenapa perasaannya jadi tidak menentu, rasanya dia tidak ingin pulang karena rumahnya selalu sepi sejak kematian keluarganya.
Alice memeluk lengannya karena udara sudah terasa dingin dan menusuk kulit tapi dia enggan beranjak dari sana karena tempat itu terasa menangkan hatinya.
Rasanya dia ingin berlama-lama disana tapi pada saat itu ponselnya berbunyi, Alice mengabaikannya, gadis itu memejamkan matanya dan tidak memperdulikan udara dingin yang mulai menusuk kulitnya.
Tapi lagi-lagi ponselnya berbunyi,hal itu membuat Alice kesal. Tidak bisakah memberikannya waktu beberapa menit saja untuk menikmati kesendiriannya?
Dengan kesal Alice mengambil ponselnya yang berada didalam tas, Alice langsung menjawabnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Siapa?" tanyanya dengan kesal.
"Alice sayang, kenapa kau belum pulang?" terdengar suara Jacob dari ponselnya.
"Jacob, dasar pria ini!!" gerutunya dalam hati.
"Maaf Jacob, aku sedang ingin sendiri."
"Alice sayang, diluar dingin dan sebentar lagi salju akan turun dengan lebat sebaiknya kau cepat kembali." Jacob sedang berdiri dijendela rumah Alice dan melihat salju yang mulai turun diluar sana.
Alice diam saja, justru karena salju itulah yang membuatnya enggan pulang kerumahnya. Apa sebaiknya dia pindah saja agar bayang-bayang kematian keluarganya tidak selalu terngiang dikepalanya? Tapi dia tidak rela menjual rumah yang penuh kenangan akan keluarganya itu.
"Alice,kenapa kau diam saja? Katakan padaku dimana kau berada, aku akan pergi menjemputmu." Jacob kawatir sekarang, ada apa dengan gadis itu?
"Jacob."
"Yes honey."
"Aku malas pulang." Alice mangangkat kepalanya dan kembali melihat butiran salju yang semakin turun dengan lebat.
"Kenapa? Katakan padaku kenapa kau malas pulang sayang?"
"Rumahku sepi Jacob, tidak ada yang menyambut kepulanganku lagi." air mata Alice mulai mengalir dari kedua matanya.
"Apa yang kau katakan? Aku dirumahmu sekarang dan aku akan menyambutmu." jawab Jacob dengan cepat.
Suasana hening disebrang sana karena Alice tidak membuka suaranya.
"Alice apa kau menangis?"
__ADS_1
Alice menyeka air matanya dengan punggung tangannya dan tidak menjawab pertanyaan dari Jacob.
"Alice katakan padaku dimana kau sekarang, aku akan segera kesana."
"Tidak perlu Jacob, sebentar lagi aku akan kembali."
"Jangan sebentar lagi sayang, pulanglah sekarang karena udara semakin dingin. Mulai sekarang aku yang akan menyambutmu, aku juga akan selalu ada untukmu."
"Jadi pulanglah sekarang kalau tidak aku akan memerintahkan Andrew untuk menggeledah kota ini untuk mencarimu."
Senyum Alice langsung mengembang diwajahnya, dia tahu Jacob pasti sangat menghawatirkannya.
"Terima kasih Jacob, aku hanya merasa malas pulang karena rumahku terasa sepi."
"Apa yang kau katakan? Jika kau ingin rumahmu ini ramai maka aku akan membelikan seribu anak bebek untukmu!"
"Apa? Aku tidak mau!"
"Jika kau tidak segera pulang maka aku akan memerintahkan Andrew untuk membelinya."
"Jacob jangan coba-coba kau ya!!" Alice langsung bangkit berdiri dari ayunan yang didudukinya.
Seribu anak bebek? Apa Jacob ingin membuat rumahnya menjadi kandang bebek?
"Jadi, jika kau tidak ingin itu terjadi maka cepatlah pulang."
"Tunggu aku, jika kau berani membelinya maka habislah kau!!"
Alice segera mematikan ponselnya dan menyetop sebuah taxi sedangkan Jacob terkekeh disebrang sana.
Tidak butuh lama karena taman itu memang sudah tidak begitu jauh dari rumahnya, Alice turun dari taxi yang ditumpanginya dan berlari kearah rumahnya.
Jacob membuka kedua tangannya lebar-lebar dengan senyum mengembang diwajahnya.
"My honey, welcome home."
Alice menutup pintu rumahnya kembali dengan cepat, setelah itu Alice segera berlari kearah Jacob dan masuk kedalam pelukannya.
"Aku pulang." Alice membenamkan wajahnya kedada bidang kekasihnya dan memeluknya dengan erat.
Begitu juga dengan Jacob, pria itu memeluk Alice dengan erat dan mengusap-usap punggung kekasihnya itu.
"Alice sayang."
"Hm?"
Alice mengangkat kepalanya untuk menatap wajah tampan kekasihnya.
"Kenapa kau menangis sendiri?'
"Aku tidak!"
Jacob memegangi wajah alice dan mengusapnya dengan lembut.
"Jangan menipuku sayang, lihat mata merahmu ini." Jacob menuduk untuk menciumi kedua mata Alice.
"Bukankah sudah aku katakan? Jika kau ingin menangis maka carilah aku, kau bisa menangis sepuasnya dibahuku dan itu gratis."
__ADS_1
"Menyebalkan, apa saat ini aku harus membayar?"
"Tentu sayang, bayar pakai bibirmu."
Jacob segera menunduk dan mengecup bibir Alice dengan lembut.
"Bibirmu dingin." bisiknya.
"Apa kau bisa menghangatkan bibirku ini Mr Smith?" Alice mulai menggoda.
"Tentu saja sayangku, aku juga bisa menghangatkan seluruh tubuhmu jika kau mau."
"Itu dalam mimpimu Mr Smith."
"Kau menyebalkan."
Alice tersenyum dan mengusap wajah tampan kekasihnya, sekarang dia sangat senang karena pria itu ada disana.
"Terima kasih Jacob."
"Alice sayang, apa itu terima kasih? Aku tidak mengerti dan aku tidak butuh."
Alice menciumi Wajah Jacob sambil terkekeh, gadis itu mulai melepaskan pelukannya dan memundurkan langkahnya.
"Ya sudah, padahal aku ingin memberikan?" Alice menarik sedikit kerah baju yang dipakainya untuk menggoda Jacob, dia bahkan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal dan mulai melangkah pergi.
"Hei apa maksudnya itu?"
"Kau bilang tidak butuh bukan?"
"Oh my, Alice sayang aku berubah pikiran." Jacob mulai mengikuti Alice.
"Maaf anda kurang beruntung Mr Smtih." kata Alice sambil tertawa.
"Sialan aku dipermainkan oleh pacarku sendiri." maki Jacob dalam hati.
"Awas kau ya!!" Jacob segera menangkap tangan Alice dan memeluk gadis itu.
"Jacob aku hanya bercanda."
"Awas jika berani menggodaku lagi."
"Maaf."
Jacob menatap wajah Alice dengan lekat, pria itu tersenyum senang karena Alice sudah terlihat ceria.
"Alice."
"Hm?"
"I love you."
"Aku tahu." Alice segera mengalungkan tangannya keleher Jacob.
Jacob mendekatkan bibirnya dan menciumi bibir kekasihnya dengan mesra.
__ADS_1