Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Kekhawatiran


__ADS_3

Saat Edward sudah tiba, dia segera masuk kedalam rumah. Disana tampak kakek dan neneknya tampak begitu khawatir sedangkan ibunya sedang menangis didalam pelukan neneknya.


"Hei guys apa yang terjadi?"


Saat mendengar suara Edward, Samantha segera melepaskan pelukannya dan melihat kearah putranya dengan mata berkaca-kaca.


"Edward, kenapa kau kembali sendiri? Mana Amanda?"


"Mom aku meninggalkannya karena aku tidak punya waktu untuk mengajaknya "


"Kau bodoh, kenapa kau meninggalkannya sendirian?" Samantha mengusap air matanya yang terus mengalir, beberapa jam sudah berlalu sejak suami dan putranya pergi tapi mereka belum juga kembali, dia sangat khawatir, apa mereka berhasil menyelamatkan putrinya?


"Sorry mom, tapi Amanda baik-baik saja disana."


Edward mendekati ibunya, duduk disamping ibunya, dia pulang ingin menghibur ibunya karena dia tahu ibunya pasti sangat khawatir saat ini.


"Mom, sudah berapa lama daddy dan Jacob pergi?"


"Sudah beberapa jam lalu Edward dan mereka belum juga kembali." Samantha kembali menangis dan memeluk putranya, entah kenapa perasaannya sangat tidak baik, seperti akan terjadi sesuatu antara suaminya atau putranya.


"Mom jangan khawatir, mereka pasti baik-baik saja."


"Aku harap begitu Edward."


"Tapi jika mommy khawatir, katakan padaku dimana mereka berada, aku akan pergi menyusul mereka."


"Mommy tidak tahu Edward."


Samantha sedikit menyesal, seharusnya dia ikut saja tadi. Walaupun dia tidak bisa memegang senjata tapi dia bisa memukul seseorang.


"Hei Edward." sela Michael Smith.


"kenapa kakek?"


"Sana kau cari lokasi mereka berada setelah itu kita susul mereka."


"Kakek, mau apa kau pergi kesana?"


"Tentu untuk memukul musuh dengan tongkatku ini." jawab kakeknya dengan penuh percaya diri.


"Michael, sebelum kau bisa memukul seseorang dengan tongkatmu kau sudah mati ditembak oleh musuh terlebih dahulu." ujar Xiau yu dengan kesal.


"Ck, menyebalkan!" gerutu Michael kesal.


"Sudahlah kakek, kita tunggu saja sampai mereka kembali. Aku yakin Jacob dan daddy akan menyelamatkan semuanya dan segera kembali."


Michael Smith hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, dia juga berharap demikian tapi entah kenapa semenjak putra dan cucunya pergi perasaan tidak baik menyelimuti hatinya, itulah sebabnya dia ingin ikut untuk memastikan keadaan semua karena tidak enak hanya menunggu dengan perasaan was-was.


Mereka Kembali menunggu walau tidak bisa dipungkiri suasana diruang keluarga itu terasa tegang dan hati semua yang ada disana dipenuhi dengan kekhawatiran yang teramat sangat.


Sementara itu Jhon sedang diperjalanan untuk mengantar putrinya kembali, selama diperjalanan Olivia tampak begitu murung.


Dia sangat menghawatirkan keadaan Alice dan juga Marry, dimana mereka berada saat ini?


Pada saat itu Olivia menyadari sesuatu, dia lupa mengatakan kepada kakaknya jika Marry diculik bersama dengannya tadi, jangan-jangan Marry ada digudang tua itu dan mati meledak!


Wajah Olivia kembali pucat, betapa bodohnya dia, jika sampai itu terjadi maka secara tidak langsung dialah yang telah membunuh Marry karena tidak mengatakan pada kakak dan ayahnya jika dia bersama Marry tadi.

__ADS_1


Dilihat bagaimanapun gudang tua itu lumayan besar dan terdapat banyak ruangan disana, bagaimana jika Marry di ikat didalam salah satu ruangan yang ada disana seperti dirinya dengan kondisi yang sama.


Marry tidak bisa berteriak juga tidak bisa melarikan diri, ketakutannya semakin menjadi saat membayangkan hal itu.


"Daddy."


Jhon melihat kearah putrinya, suaranya bergetar dan wajahnya tampak pucat. Apa putrinya sakit?


"Hei girl, ada apa denganmu?"


"Tidak apa-apa, boleh aku pinjam ponselmu?"


Jhon memberikan ponselnya sedangkan Olivia mengambil ponsel itu dengan tangan bergetar, jika sampai Marry mati karena kebodohannya maka dia tidak akan memaafkan dirinya.


Olivia ingin menulis sesuatu diponsel ayahnya tapi dia mengurungkan niatnya, dia ingin mengatakan kepada kakaknya jika Marry diculik dengannya tadi dan saat dia sadar, Marry sudah tidak ada.


Tapi dia ragu karena semua sudah terlambat, untuk apa dia mengatakan hal itu lagi sedangkan gudang tua itu sudah meledak dan habis terbakar? Dia tidak mau membuat kakaknya emosi saat ini.


Olivia mulai menangis, Marry tidak memakai alat pelacak apapun jadi akan sangat sulit mengetahui keberadaannya, apa dia masih hidup? Atau sudah mati!


Tapi Olivia berharap Marry sedang bersama dengan Alice saat ini dan dia berharap mereka dalam keadaan baik-baik saja karena bisa dia simpulkan dari pembicaraan kakaknya tadi Alice juga diculik.


"Daddy." Olivia memeluk ayahnya dan menangis, dia tidak bisa membayangkan keadaan Marry dan Alice saat ini karena pria itu, sangat berbahaya.


"Olivia, kenapa kau menangis?" Jhon mengusap kepala putrinya untuk menenangkannya.


"Daddy, semua salahku, semuanya salahku." katanya lagi sedangkan tangisannya semakin pecah.


"Hei jangan menyalahkan diri sendiri."


"Tapi daddy?"


Olivia mengusap air matanya dan melihat ayahnya.


"Apa kalian tahu kalian sedang di incar seseorang hari ini?"


Olivia menjawab dengan sebuah gelengan.


"Apa kalian tahu akan diculik hari ini?"


Olivia kembali menggeleng.


"Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri, tidak ada satu orangpun yang mau melibatkan diri dalam bahaya. Jika kalian tahu akan mengalami hal ini aku yakin, kalian sudah bersembunyi didalam rumah dan tidak berani keluar. Jadi jangan menangis lagi."


"Jadi semua ini bukan salahku?"


"Tidak ada yang salah disini."


"Apa benar?" Olivia menatap ayah dengan serius.


"Benar, percayalah pada kakakmu dia pasti bisa menyelamatkan semuanya dan jangan menangis lagi,nanti kau jadi jelek."


"Daddy!!"


Olivia kembali memeluk ayahnya, dia berharap kakaknya bisa cepat kembali bersama dengan Alice dan juga Marry, dalam hatinya berharap Marry masih hidup saat ini.


Setelah memakan beberapa jam perjalanan akhirnya mereka tiba, mereka segera masuk kedalam dan pada saat kemunculan mereka semua yang sudah menunggu langsung tampak lega.

__ADS_1


Olivia berlari dan memeluk ibunya dengan erat, begitu juga dengan Samantha, dia juga memeluk putrinya dan terpancar kelegaan dari wajahnya.


"Daddy, dimana Jacob?" Edward menghampiri ayahnya.


"Hei kapan kau kembali?"


"Dad, aku kembali karena khawatir dengan kalian. Sekarang katakan padaku dimana Jacob?"


"Sedang menyelamatkan kekasihnya."


"Jhon, apa Alice belum ketemu?"


"Sepertinya dia dibawa ketempat yang berbeda dan Jacob sedang pergi mencarinya."


"Mommy, waktu aku diculik aku bersama dengan Marry tapi saat aku sadar, Marry sudah tidak ada bersamaku." Olivia kembali menangis.


"Ya Tuhan!" Samantha kembali lemas, bagaimana jika terjadi sesuatu yang sangat berbahaya dengan Marry? Gadis itu masih kecil dan belum tahu apa-apa.


"Dad, katakan padaku dimana Jacob berada, aku akan menyusulnya."


"Jacob tidak mengatakan padaku jadi kau hubungi dia dan tanyakan padanya."


"Baiklah." Edward segera mengambil ponselnya untuk menghubungi adiknya.


Saat panggilan itu sudah dijawab oleh adiknya, dia langsung menanyakan keberadaan adiknya.


"Brother, katakan dimana kau? Aku akan pergi membantumu."


"Kak Ed, saat kau datang aku sudah selesai." jawab Jacob, dia sedang melihat sebuah kota yang berada didepannya.


"Cepat katakan,aku akan segera pergi."


"Saat kau datang jangan menyesal karena sudah ketinggalan permainan."


"Hei aku serius."


Jacob terkekeh disebrang sana.


"Aku tunggu kedatanganmu kak Ed untuk membereskan mayat musuhku karena saat ini aku ada di kota Bodie."


"Apa?"


"Jadi masih mau datang?"


"Oke baiklah, musuhmu gila!"


"Jika tidak melawan orang gila maka tidak seru."


"Aku akui kau juga gila, tapi aku akan pergi."


"Baiklah kak Ed, aku tunggu dan jangan lupa bawa helikopter."


Edward segera mematikan ponselnya dan menyimpannya, dia harus segera pergi walaupun nanti dia tidak bisa membantu apapun tapi dia ingin memastikan adiknya dalam keadaan baik-baik saja.


"Guys, aku akan pergi."


"Baiklah, pastikan adikmu baik-baik saja." Jhon menepuk pundak putranya.

__ADS_1


"Tentu!" setelah berkata demikian Edward segera pergi dari sana untuk menuju kota Bodie, saat itu waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi waktu California.


__ADS_2