
Hari itu Jacob tidak juga beranjak dari atas ranjang, dia enggan pergi kemana-mana karena dia ingin bersama istrinya saja dirumah
Tentu untuk menjaga istrinya, padahal dia ada rapat penting tapi dia batalkan dan akan dilakukan besok.
Tak henti-hentinya tangan Jacob mengusap perut istrinya, dia melakukan hal itu karena dia sudah tidak sabar ingin perut istrinya cepat membesar.
Alice membiarkan suaminya melakukan apapun yang dia mau, mereka berdua tidur diatas ranjang tapi yang jadi masalahnya?
"Jac, kau ingin mengusap perutku sampai kapan?"
"Oh my honey, aku enggan pergi dan hanya ingin mengelus anak kita seharian ini."
"Ya aku tidak masalah tapi aku bisa masuk angin tahu!!" ujar Alice kesal.
Bagaimana tidak, begitu dia selesai mandi Jacob langsung menggendong istrinya dan membawanya keatas ranjang sebelum Alice memakai bajunya.
Dia melemparkan handuk yang dipakai oleh istrinya begitu saja sampai istrinya tidak memakai apapun, sudah hampir setengah jam mereka seperti itu. Apa suaminya gila? Setidaknya biarkan dia memakai baju terlebih dahulu.
Jacob terkekeh dan menciumi wajah istrinya dengan mesra, dia memang sengaja karena dia ingin mengajak istrinya membuat jenis kelamin untuk anak mereka. Dia akan rajin-rajin menyuntik istrinya dan dia harap anak mereka nanti adalah laki-laki.
"My honey, aku ingin menyuntikmu, apa kau sudah siap?"
"Jac, tapi pelan-pelan, aku masih hamil muda."
"Tentu saja honey."
Tangan nakal Jacob sudah mulai bermain di tubuh istrinya dan menyentuh buah kesukaannya,dia hendak menikmati buah itu tapi tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.
Jacob mengabaikan ponselnya tapi Alice mendorong tubuhnya.
"Jac, jawab dulu ponselmu."
"Ck, menyebalkan!"
Siapa sih yang mengganggu kegiatannya untuk membuat jenis kelamin anaknya.
Jacob bangkit dari atas ranjang untuk mengambil ponselnya yang dia letakkan diatas meja sambil berdecak kesal, siapa sih yang mengganggunya sedangkan Alice juga turun dari atas ranjang untuk memakai baju, jika lebih lama lagi bisa-bisa dia masuk angin.
Setelah mendapatkan ponselnya Jacob segera menjawabnya tanpa melihat lagi siapa yang menghubunginya karena matanya melihat kearah istrinya yang sedang memilih baju didalam lemari dan memakainya.
"Siapa?"
"Jac-Jac, kau ya!!"
Waduh, ternyata kakeknya yang menghubunginya, bisa kena semprot nih.
"Iya kek, ada apa?"
"Kenapa begitu lama menjawab panggilan telephoneku?" terdengar nada kesal dari kakeknya.
"Ya ampun kakek, aku sedang dikamar mandi." tipunya.
"Sudahlah, bagaimana kabar istrimu?"
"Baik, bukannya kakek mau datang?"
"Aku mau kesana tapi pinggang sialan ini! Aku benar-benar benci jadi tua bangka!!"
__ADS_1
Jacob tertawa mendengar ocehan kakeknya, memang penyakit kakeknya hanya satu yaitu sakit pinggang.
"Sudahlah kakek diam saja dirumah nanti aku yang akan pergi kesana dengan istriku."
"Kapan?"
Jacob melirik kearah Alice yang sedang mengaduk-ngaduk isi lemari seperti sedang mencari sesuatu.
"Lusa." jawabnya.
"Hei berikan ponselnya padaku." terdengar suara neneknya disebrang sana.
Seperti yang ayahnya katakan kakek dan neneknya begitu heboh bahkan terdengar mereka sedang rebutan ponsel.
"Ya ampun, kakek, nenek please."
"Huh kau tua bangka tidak bisa mengalah!" gerutu Xiau Yu pada suaminya.
"Hei kau juga tua bangka!" Michael tidak mau kalah.
"Setidaknya aku lebih muda darimu!" jawab Xiau Yu tidak mau kalah pula.
Jacob hanya bisa menggeleng,apa sih yang diributkan kedua tua bangka ini?
"Kalian sesama tua bangka jangan saling mengatai, jika tidak akan aku matikan ponselnya." ancamnya.
"Jika kau berani maka akan aku pukul kau menggunakan tongkat kramat kakekmu!" ancam neneknya dari seberang sana.
Sebelum Jacob menjawab neneknya, neneknya sudah berkata:
"Berikan ponselnya pada istrimu aku ingin berbicara dengannya."
Jacob menghampiri Alice yang masih mencari sesuatu dari dalam lemari.
"Honey, dari nenek." Jacob memberikan ponselnya kepada istrinya.
Alice mengambil ponselnya dan berjalan kearah ranjang, dia juga menjatuhkan diri dan diduduk diatas ranjang.
"Nenek, apa kabar?" tanyanya basa basi.
"Oh cucuku, kabarku baik bagaimana denganmu? Aku dengar kau pingsan?"
"Jangan khawatir nek, aku sudah baik-baik saja."
"Baguslah, aku senang mendengarnya. Besok mungkin kami akan pergi kesana jadi katakan padaku makanan apa yang ingin kau makan, aku akan membuatkannya untukmu."
Alice tersenyum dan memandangi suaminya dengan seksama.
"Tidak perlu repot-repot nek, besok aku akan kesana dengan Jacob."
"Tidak apa-apa sayang. Kau dirumah saja! Besok kami semua yang akan kesana mengunjungimu."
"Baiklah." jawab Alice dengan pasrah.
"Itu bagus, jadi katakan padaku apa yang ingin kau makan? Bakpau, siomay atau dumpling udang?"
"Apa saja boleh nenek, semua makanan yang nenek buat sangat enak."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya."
"Oh my, Samantha ayo kita pergi belanja." teriak Xiau Yu dari sebrang sana.
Alice hanya tertawa mendengarnya, dia segera meletakkan ponsel suaminya diatas ranjang karena neneknya sudah mematikan ponselnya itu, dia memandangi suaminya yang sudah duduk disampingnya.
Dia tidak sedang ingin memakan sesuatu tapi dia ingin? Pasti menyenangkan dan rasanya dia sudah tidak sabar.
"Honey, apa kata nenek?"
"Tidak ada Jac, nenek bilang mereka akan datang dan membawakan makanan untukku besok."
"Oh ya, mereka terlalu heboh."
"Jangan begitu Jac, mereka itu sayang pada kita."
"I know honey." Jacob memegangi tangan istrinya dan mengusapnya dengan lembut.
"Honey, aku baru sadar kau sudah tidak memanggilku Jac-Jac lagi, kenapa?"
Alice memandangi suaminya dengan senyum diwajahnya.
"Entahlah, aku hanya malas. Qpa kau ingin aku memanggilmu seperti itu lagi?"
"No my honey, sejak dulu aku tidak suka dipanggil seperti itu."
"Kenapa?" Alice menatap suaminya dengan heran.
"Bukankah aku sudah pernah bilang? Saat aku dipanggil Jac-Jac aku seperti bayi Jac-Jac difilm The Incredibles." dia lupa dengan saran kakaknya untuk tidak membicarakan tentang super hero jika istrinya sedang hamil.
"Oh ya, aku rasa kau cocok jadi bayi Jac-Jac." Alice tersenyum penuh arti pada suaminya.
"Oh no my honey, karena kakekku memanggilku Jac-Jac jadi aku tidak suka dengan film itu sejak kecil."
"Oh ya?" Senyum Alice semakin lebar sampai membuat Jacob curiga melihatnya.
"Hei kau tidak sedang merencanakan sesuatu bukan?" tanya Jacob curiga.
"Tidak."
"Bagus, sebaiknya kita lanjutkan kegiatan membuat jenis kelamin anak kita."
"Eh Jac!"
"Stt..!!"
Jacob menciumi bibir istrinya dan membuka semua pakaian yang melekat pada tubuh istrinya, begitu juga dengan pakaiannya, sudah dia lepaskan semua.
Jacob menikmati tubuh istrinya dengan bibirnya sampai Alice mengerang akibat sentuhan tangan dan lidah suaminya.
Tidak ada yang dia lewatkan dari atas terus kebawah, dia juga menciumi perut Alice berkali-kali.
Mereka berdua menikmati setiap sentuhan dari pasangan mereka, Jacob menyuntikkan sengatannya saat Alice memintanya dan menggerakkan tubuhnya dengan pelan tapi kemudian tidak ada kata pelan-pelan lagi karena permainan mereka semakin panas dan liar.
Alice terus memanggil nama suaminya dan meminta suaminya supaya menpercepat gerakannya, sekarang dia menyukai perang lebah yang mereka lakukan
__ADS_1
Mereka melakukan kegiatan perang lebah mereka sampai lupa waktu, yang pasti Jacob menyuntik istrinya sampai mereka berdua kelelahan dan Alice tertidur didalam pelukan suaminya.