
Pagi itu Marry tampak begitu bersemangat, bagaimana tidak, hari ini Jacob akan membawanya pergi mendaftar disekolah baru.
Dia tampak senang karena sebentar lagi dia akan bersekolah kembali dan mempunyai banyak teman, Marry memakan sarapan yang dibuatkan oleh Alice dengan penuh semangat sedangkan Alice sedang membuat kopi.
Jacob masuk kedalam dapurnya dan pada saat dia melihat kedua gadis itu senyum langsung mengembang diwajahnya, mereka sudah seperti keluarga dan rasanya sudah tidak sabar untuk menikahi Alice tapi ada beberapa hal yang harus dia lakukan terlebih dahulu.
Dia jadi membayangkan Alice berdiri disana dengan perut besar, membuat sarapan untuknya dan Marry tentu untuk anak-anak mereka kelak, sepertinya dia harus punya banyak anak.
Jacob menghampiri Marry dimeja makan dan mengusap ujung kepala gadis itu.
"Marry, are you ready?" tanyanya.
"Yes uncle,vi'm ready." jawab Marry dengan penuh semangat.
"Hei stop call me uncle, now you have to call me daddy, okey?"
"Yes daddy."
"Good girl."
Jacob berjalan mendekati Alice yang sedang membuat kopi, dia memeluk Alice dari belakang dan berbisik ditelinganya.
"Good morning my honey."
"Good morning my Jac-Jac." Alice memalingkan wajahnya untuk menciumi pipi kekasihnya.
"Oh my!" Jacob segera mengangkat dagu Alice untuk menciumi bibirnya.
"Jac!"
"Stts..." dia langsung menciumi bibir Alice dengan lembut kemudian dia melepaskan pelukannya dan berjalan kearah meja makan.
Jacob menarik sebuah kursi dan duduk disana, dia juga mengambil sepotong sandwich yang dibuat oleh Alice.
"Jac-Jac, maaf merepotkanmu hari ini." Alice menghampirinya dengan segelas kopi dan meletakkan kopi itu didepan Jacob.
"It's oke my honey, I don't mind."
"Thank you." Alice juga duduk bersama dengan mereka.
"Alice sayang apa yang mau kau lakukan hari ini?"
"Aku ingin pergi keperusahaan kakakku, aku sudah lama meninggalkannya jadi aku ingin melihat bagaimana keadaan disana."
"Terus?" tanyanya sambil menyeruput kopi yang diberikan oleh Alice.
"Sebenarnya aku ingin mengajak Marry mengunjungi makam keluargaku nanti siang, kau tahu, aku harus meminta ijin pada ayahku."
"Ijin? Untuk apa?" Jacob melihat Alice dengan heran, memangnya orang mati masih bisa memberikan ijin?
"Yah, kita akan segera menikah bukan? Jadi aku harus meminta ijin pada keluargaku."
"Oke ini sangat mengerikan, tapi aku harap mereka mengijinkannya."
Alice tertawa pelan, dia ingin mengunjungi makan keluarganya Karena dia sudah lama tidak kesana.
Lagi pula dia sudah berjanji akan kembali kesana setelah menemukan Marry tapi waktu itu dia tidak bisa kembali.
"Jac-Jac, bagaimana menurutmu jika aku memberikan perusahaan peninggalan kakakku pada Jane?"
__ADS_1
"Kau ingin memberikannya?"
"Aku sudah memikirkan ini sejak lama, berkat Jane perusahaan itu tetap berjalan sampai saat ini dan aku rasa Jane pantas mendapatkannya." Alice melihat Jacob dengan serius.
"My honey, lakukan apa yang menurutmu baik. Lagi pula tanpa perusahaan itu aku masih bisa menghidupi kalian sampai mati tapi kau harus menanyakan masalah ini pada Marry bukan? Bagaimanapun itu hak miliknya."
Alice melihat kearah Marry, Marry baru tujuh tahun apa dia akan mengerti?
"Marry bagaimana menurutmu?" tanyanya.
"Mommy, Marry tidak mau apa-apa. Marry hanya ingin selalu bersama dengan mommy and daddy." jawab Marry.
"Baiklah, aku sudah putuskan untuk memberikan perusahaan itu pada Jane."
"Itu bagus, jadi kalian sudah siap?"
"Yes."
Mereka bangkit berdiri, Marry segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil ranselnya sedangkan Jacob menangkap tangan Alice dan menarik Alice kedalam pelukannya.
"My honey, aku juga akan kemakam keluargamu."
"Untuk apa?"
"Meminta restu apa lagi."
Alice menciumi wajah Jacob sambil tersenyum.
"Jac-Jac, jika ayahku tidak menyetujui hubungan kita bagaimana?"
Jacob diam sejenak untuk berpikir tapi tidak lama kemudian dia menjawab pertanyaan Alice.
"Akan aku gali lubang kubur ayahmu dan akan aku paksa ayahmu supaya menyetujui pernikahan kita."
"Aku akan membantumu memaksa ayahku supaya dia mau menyetujui hubungan kita." katanya disela-sela tawanya.
"Itu bagus."
Jacob mengusap wajah Alice dan menciumi bibirnya dengan lembut.
"I love you honey."
"I know."
Sebelum Marry kembali, mereka kembali berciuman setelah itu mereka pergi dari sana.
Sebelum mengantar Marry untuk mendaftar disekolah baru, Jacob mengantar Alice keperusaaan kakaknya, setelah itu dia pergi dari sana dan mereka berjanji saat siang mereka akan pergi kemakam bersama-sama.
Setelah kepergian Jacob, Alice masuk keperusaan kakaknya, sudah lama tidak bertemu dengan Jane bagaimana kabarnya sekarang? Apa jane sudah punya anak? Dia lupa menanyakan ini pada Andrew kemarin.
Saat Alice membuka pintu rungannya disana tampak Jane sedang melihat tumpukan kertas yang ada diatas meja.
"Jane."
Jane langsung melihat kearah pintu, dia langsung bangkit berdiri saat melihat Alice disana.
"Ms Alice." Jane menghampiri Alice dengan cepat.
"Jane maafkan aku tidak pernah datang kemari."
__ADS_1
"Ms Alice, syukurlah kau baik-baik saja." Jane segera memeluk Alice, dia sangat lega melihat keadaan Alice. Kurang lebih dia tahu apa yang dialami Alice dan Marry selama ini dari suaminya.
"Jane aku minta maaf karena telah merepotkanmu."
"Tidak apa-apa Ms, aku bisa mengerti. Aku sangat senang kau sudah kembali dalam keadaan baik-biak saja." Jane masih memeluk Alice dengan erat.
"Thank you Jane."
"Bagaimana keadaan Marry?" Jane melepaskan pelukannya
"Baik, hari ini dia akan pergi daftar sekolah."
"Aku sangat senang mendengarnya." Jane menarik tangan Alice dan membawanya kearah sofa.
"Jane bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Alice saat mereka sudah duduk diatas sofa.
"Kau tidak perlu khawatir Ms Alice, aku bisa menanganinya selama kau pergi."
Alice tersenyum dan memegangi tangan Jane, dia tahu Jane selalu melakukan yang terbaik untuk perusahaan mendiang kakaknya. Sepertinya keputusan untuk memberikan perusahaan itu pada Jane adalah hal paling tepat.
"Jane dengarkan aku."
"Yes Ms."
"Maafkan aku karena telah meninggalkan perusahaan ini padamu dan tidak memberimu kabar."
"Ms jangan kau pikirkan."
"Tidak, aku sudah memikirkan ini sejak lama dan aku sudah memutuskan untuk memberikan perusahaan ini padamu."
Jane sangat kaget mendengarnya, memberikan perusahaan ini untuknya? Tapi kemudian dia tersenyum dan mengusap punggung tangan Alice dengan lembut.
"Terima kasih Ms tapi aku menolak." jawabnya tanpa ragu.
"Kenapa?
"Ms, aku melakukan semua ini tanpa minta imbalan. Aku bisa disini juga berkat Jay dan aku berhutang budi dengannya, aku melakukan semua ini untuk membalas kebaikan Jay padaku karena jika tidak ada dia, aku yakin aku tidak mungkin bisa seperti ini saat ini."
"Lagi pula semua ini adalah hak Marry, putri tunggal Jay. Aku tidak mau mengambil hak miliknya." ujar Jane lagi.
Alice langsung memeluk Jane sambil tersenyum, kakaknya tidak menolong orang yang salah walaupun dia tidak tahu apa yang telah kakaknya lakukan.
"Kau tahu Jane, aku sudah meminta persetujuan Marry sebelum memutuskan ini."
"Aku tahu, tapi aku menolak. Cukup naikkan gajiku saja dan minta pada Mr Smith untuk menaikkan gaji Andrew." ujar Jane bercanda.
"Pasti." jawab Alice sambil tertawa.
"Oh ya, apa kau sudah punya anak?" Alice melepaskan pelukannya dan melihat kearah Jane.
"Tentu Ms, aku sudah punya seorang anak laki-laki."
"Wah, selamat untukmu."
"Terima kasih Ms."
"Jadi apa pekerjaan hari ini?" Alice bangkit berdiri sambil merenggangkan otot-otot tangannya, dia sudah siap untuk kembali bekerja.
"Lihat itu, itu pekerjaan yang harus Ms Alice kerjakan." Jane juga bangkit berdiri dan menunjukkan setumpuk dokumen diatas meja.
__ADS_1
"Oh no!!"vujar Alice frustasi.
Jane tertawa dan mengikuti Alice menuju mejanya, dia tahu Alice paling tidak tahan dengan pekerjaan seperti itu tapi dia sangat senang Alice telah kembali lagi.