Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Pria yang kesepian


__ADS_3

"Jac-Jac."


"Alice sayang, itukah kau?"


"Ya, maaf telah membuatmu menunggu lama."


"Tidak apa-apa sayang, asalkan kau kembali padaku."


"Terima kasih telah menungguku Jac-Jac, tapi maaf."


"Tidak perlu meminta maaf ayo kita segera menikah."


"Maaf Jac-Jac, tidak bisa."


"Hei apa maksudmu?"


"Jac-Jac, aku sudah menikah dan lihatlah aku sedang hamil tujuh bulan."


"Apa?"


"Maaf Jac-Jac, aku kembali ingin mengatakan hal ini padamu."


"Hei kau jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda dan lihat, suamiku telah menungguku. Aku harap kau bisa melupakan aku dan semoga kau cepat menikah."


"Ah hei Alice sayang, tunggu!"


"Maaf Jac-Jac, aku sudah menemukan ayah yang baik untuk Marry jadi selamat tinggal."


"Tidak Alice, tunggu!!!" teriak Jacob frustasi.


Alice terus berjalan pergi sambil memegangi perutnya yang sudah membesar kearah seorang pria yang tampak sudah menunggunya, sedangkan Marry tampak sedang berdiri disamping pria itu.


"Hei akan ku bunuh kau! Akan aku bunuh!!" teriaknya dengan kencang.


Jacob membuka matanya dan langsung duduk diatas ranjang, mimpi? Hanya mimpi. Benar-benar mimpi yang sangat mengerikan!


Untuk seumur hidupnya baru kali ini dia bermimpi yang begitu menyeramkan bahkan ini lebih menyeramkan dari pada bertemu dengan hantu tanpa kepala.


"Hei Jacob, ada apa denganmu?" Samantha masuk kedalam kamar putranya saat dia mendengar teriakan putranya dari luar sana.


Jacob mengatur nafasnya yang tidak beraturan sambil melihat kearah ibunya yang sedang berjalan kearah jendela.


Sialan! Kenapa harus mimpi buruk seperti itu? Ini benar-benar menyebalkan.


"Jacob apa kau baik-baik saja?" Samantha membuka horden jendela hingga sinar matahari masuk menerangi kamar, setelah itu dia duduk disisi ranjang dan mengusap rambut putranya yang berantakan.


"I'm fine mom."


"Kenapa kau berteriak seperti itu?"

__ADS_1


"Aku hanya bermimpi."


"Baiklah itu hanya mimpi, segeralah pergi mandi dan bergabung dengan kami dimeja makan, okey?"


Jacob hanya mengangguk dan melihat kearah ibunya sedangkan Samantha bangkit berdiri, menciumi dahi putranya dan keluar dari sana.


Jacob melihat kepergian ibunya sambil menarik nafasnya dengan berat, ini sudah hampir satu tahun semenjak kepergian Alice tapi kenapa sampai sekarang Alice belum juga kembali?


Dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari Alice diseluruh kota yang ada di Amarika tapi Alice tidak ditemukan, kemana Alice pergi?


Jika dia tahu Alice akan pergi selama ini mungkin hari itu, saat Alice menghubunginya untuk terakhir kalinya dia akan melacak keberadaan Alice, dia tidak akan membiarkan Alice pergi dari kota Amerika, seandainya dia tahu maka dia tidak akan menghancurkan ponselnya.


Jacob melihat telapak tangannya sejenak kemudian menggenggamnya dengan erat, Alice bagaikan setumpuk pasir yang berada didalam genggamannya, walaupun sudah bisa dia genggam tapi masih bisa lolos dari sela-sela jarinya.


Alice benar-benar hilang begitu saja, tidak ada kabar darinya, tidak menghubunginya bahkan satu pesanpun tidak dikirimkan untuknya. Alice benar-benar gadis tega, awas saja jika sudah ketemu!


Jacob mengusap wajahnya frustasi dan bergumam:


"Alice sayang kemana kau pergi? Waktu terus berlalu, musim terus berganti tapi kenapa kau belum juga kembali padaku? Kau berjanji padaku tidak akan pergi lama tapi ini sudah hampir satu tahun dan kau belum juga kembali!"


"Apa kau tidak rindu padaku? Apa kau terlalu menikmati kesendirianmu sampai kau melupakan aku?"


"Setiap hari aku selalu mengingat dirimu, setiap saat bahkan disetiap waktu aku tidak pernah melupakanmu, tapi kenapa kau belum juga kembali? Apa kau tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini?"


Jacob memejamkan matanya, rasa rindu didalam hatinya semakin hari semakin besar sampai dia sendiri hampir gila.


Dia sangat ingin memeluk Alice seperti dulu, ingin menciuminya seperti dulu tapi sekarang? Hampa, hatinya hampa.


Apa mungkin mimpinya tadi sebagai sebuah pertanda bahwa Alice tidak akan kembali lagi padanya? Apa Alice benar-benar sudah melupakannya dan menikah dengan pria lain? Jika benar tidak akan dia biarkan!


Jacob segera bengun dari atas ranjang, lebih baik dia segera mandi dari pada dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Dia berharap penantian panjangnya cepat berakhir dan dia berharap Alice mengingat dirinya dan kembali padanya.


Mungkin dia harus mencari Alice dinegara lain, tapi dimana? Bumi ini luas!


Setelah selesai mandi dia keluar dari dalam kamarnya, dia berjalan menuju meja makan dimana ayah dan ibunya berada.


Waktu terus berlalu bahkan rumah itu sudah sepi karena Olivia sudah menikah, hanya tinggal dirinya yang masih didalam penantian panjang yang tidak jelas.


"Morning mom, dad."


Jacob menarik sebuah kursi dan duduk dihadapan ayahnya dengan wajah lesu.


"Boy, ada apa denganmu?"


Jacob hanya menjawab dengan sebuah gelengan sedangkan Jhon juga menggeleng melihat putranya yang selalu tampak tidak bersemangat.


"Hei aku dengar terjadi sesuatu diperusahaan?"


"Bukan hal serius tidak perlu daddy pikirkan."

__ADS_1


"Benarkah? Apa perlu daddy turun tangan?"


"Ck, sudah aku katakan daddy tidak perlu turun tangan, hanya segerombolan tikus saja aku bisa bereskan sendiri."


"Oke baiklah, aku percaya padamu."


Samantha menghampiri suami dan putranya dengan dua gelas kopi ditangannya, setelah meletakkan gelas kopi itu diatas meja dia segera duduk disamping putranya.


"Jacob, apa kau belum bisa menemukan Alice?"


Jacob kembali menggeleng dan mengambil gelas kopi yang diletakkan ibunya diatas meja.


"Coba kau pikirkan, kemana kira-kira dia pergi?"


"I dont know mom."


Samantha hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, dulu dia secara kebetulan bertemu dengan suaminya disebuah pesta tapi bukan berarti hal itu akan dialami oleh putranya lagi dan sekarang dia benar-benar sedih melihat keadaan putranya.


Semenjak kepergian Alice, putranya tidak pernah lagi bercanda bahkan senyumnya sudah hilang dan sekarang lihatlah, Jacob bagaikan sebongkah es.


"Boy aku akan meminta bantuan Frans Rional untuk mencarinya jika kau mau."


"Sudahlah dad, jangan menyusahkan orang lain! Aku percaya Alice pasti akan segera kembali."


"Kalau begitu jangan memasang tampang seperti itu setiap hari, aku bosan melihat wajah murung dan kakumu itu."


"Kalau begitu daddy berdiri saja didepan cermin dan lihat wajah jelek daddy sampai puas!"


"Wow, oke baiklah. Setidaknya kau sudah bisa melemparkan sebuah lelucon dan mungkin sebentar lagi hal baik akan terjadi."


"Aku harap begitu." Jacob segera bangkit berdiri.


"Hei mau kemana?"


"Kekantor untuk membasmi tikus!" dia segera melangkah pergi dari sana.


Jhon dan Samantha hanya bisa menggeleng melihat kepergian putranya, kapan semua itu akan berakhir?


"Jhon, aku rindu dengan putra kita yang dulu. Aku tidak tega melihatnya seperti ini terus."


"Baby, aku juga tidak. Tapi ini bagus untuknya, dia harus merasakan bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang sangat dia cintai supaya dia berhenti bermain-main diluar sana."


"Tapi apa kau tidak tega melihatnya seperti itu terus?"


"Aku pernah merasakannya saat aku harus kehilanganmu baby dan aku tahu rasanya, percayalah padaku, saat dia telah menemukan kekasihnya dia akan mencintainya sampai mati dan tidak menyakiti hati wanita lagi."


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Ck, karena kami ini playboy dan kami akan tobat setelah benar-benar menemukan orang yang kami cintai."


"Bagus, kalian berdua memang pinang dibelah dua!"

__ADS_1


Samantha segera bangkit berdiri dan berjalan pergi, dia berharap Alice bisa secepatnya kembali kepada putranya.


__ADS_2