
Olivia melihat ayah dan kakaknya secara bergantian, inilah akibat dari kebodohannya dan jika bom itu meledak lebih baik dia mati sendiri.
Dengan pelan Olivia berjalan mundur, lebih baik dia lari.
"Daddy, kakak maafkan aku,aku sayang kalian." Olivia memutar tubuhnya hendak lari tapi Jacob langsung menahan tangannya.
"Hei mau kemana kau?"
"Kak, bukankah bom ini tidak bisa dilepas? Jadi biarkan aku mati sendiri." jawabnya sambil menangis.
"Ck, jangan terlalu berlebihan jadi kemari kau!" Jacob menarik tangan adiknya.
"Hei Jacob apa yang mau kau lakukan?" Jhon bertanya pada putranya.
"Oh my dad, tidak bisa dilepas bukan berarti aku tidak bisa melakukan apapun pada benda ini."
Jacob membuka sebuah penutup yang ada dirompi itu, saat penutup itu terbuka disana banyak terdapat serangkaian kabel berwarna warni.
Jhon melihat putra dengan heran, apa putranya bisa menjinakkan benda itu? Dia sungguh baru tahu.
"Hei boy sejak kapan kau mengerti dengan mainan seperti ini?"
"Sejak aku tk." jangan Jacob asal.
"Hei yang benar kau!!"
"Apa daddy tidak tahu cara menaklukkan benda seperti ini?" Jacob menatap kearah ayahnya.
"Hng, musuhku dulu tidak ada yang bermain dengan benda seperti ini!"
"Itulah perbedaan ikan teri dan ikan tongkol." Jacob kembali melihat rangkaian kabel yang ada dibom itu kembali.
"Hei jadi orang tua kakakmu kau sebut ikan teri?"
"Daddy yang bilang demikian." jawab Jacob sambil terkekeh.
"Jika kakakmu dengar aku yakin dia akan menendang bokongmu saat ini."
"Untung saja kak Ed tidak ada." Jacob kembali melihat ayahnya dan tersenyum.
Tapi setelah itu dia melihat kabel-kabel itu lagi dengan wajah yang terlihat serius.
"Andrew." Jacob mengangkat satu tangannya meminta sesuatu kepada Andrew dan pada saat itu Andrew memberikan sebuah pisau kecil untuknya.
"Kak Jacob apa kau yakin kau bisa?" tanya Olivia pada kakaknya saat kakaknya mulai memegang-megang rangkain kabel yang ada dibom itu.
"Hei boy apa kau yakin?" Jhon juga ragu dengan putranya.
"Aduh kalian berisik!" Jacob menggigit pisau kecil yang diberikan oleh Andrew tadi untuk melepaskan Jas yang dipakainya dan melemparkan jasnya begitu saja.
__ADS_1
Setelah itu dia menggulung kemejanya hingga kesiku dan mengambil pisau kecil yang digigitnya.
"Semua orang juga tahu jika ingin menjinakkan benda ini tinggal potong kabel berwarna merah tapi?" gumamnya.
Jacob mulai meneliti dengan seksama disetiap kabel yang dia sentuh dengan jarinya sambil bergumam:
"Red for blood, green for melons, blue for sky and gold for?" sambil meraba setiap warna kabel yang dia sebutkan tadi.
"Hei boy, apa yang kau katakan? Jika tidak bisa jangan sok bisa."
"Aha..daddy jangan meremehkan aku!" sambil memperlihatkan sebuah kabel halus berwarna emas yang terselip diantara kabel merah.
Jhon melihatnya tapi dia belum mengerti, apa maksud dari kabel berwarna emas itu?
"Seperti yang aku katakan tadi, tinggal potong kabel berwarna merah tapi bom ini, sudah dimodifikasi dan pada saat aku memotong kabel merah ini dengan terburu-buru maka kabel halus berwarna emas yang tersembunyi dibalik kabel berwarna merah ini akan ikut terpotong. Daddy tahukan apa yang akan terjadi selanjutnya? Pada saat itu kita akan mati meledak." jelasnya panjang lebar.
"Wow aku sungguh tidak menyangka kau sungguh pintar." puji ayahnya, dia benar-benar tidak menyangka putranya bisa mengetahui hal seperti itu.
"Keahlianku tidak saja menjinakkan benda ini tapi aku paling ahli menjinakkan perempuan." katanya sambil terkekeh.
"Dasar kau!!!"
Jacob mulai memotong kabel berwarna merah dengan hati-hati supaya tidak mengenai kabel berwarna emas yang menempel pada kabel merah itu.
Lucas Marcelo sungguh pintar dan dia jadi kawatir dengan Alice saat ini, dia berharap dia bisa datang tepat waktu.
Setelah memotong kabel itu, Jacob segera memerintahkan adiknya untuk membuka bom itu dengan cepat karena bom itu masih bisa meledak sewaktu-waktu jika ada yang memencet pemicunya dengan manual.
"Kak Jacob, maafkan aku semua ini gara-gara aku telah mengusir dua penjaga yang menjaga Alice."
"Aku benar-benar tidak tahu jika Alice sedang diincar oleh seseorang." kata Olivia sambil menangis.
"Ck sudahlah, sudah terjadi. Lagi pula jika tidak ada yang bodoh diantara kalian maka permainan ini tidak akan menarik."
"Kakak aku benar-benar minta maaf."
"Hei boy, ini sudah sangat larut sepertinya aku harus membawa adikmu kembali dulu supaya mommymu tenang."
"I know dad, bawalah sibodoh ini kembali jika kita mengajaknya dia hanya akan menjadi beban."
"Katakan padaku dimana lokasinya? Setelah mengatar adikmu aku akan kembali membantumu."
"Dad, aku takut jika kau datang semua sudah terlambat, jadi sebaiknya kau beristirahat dirumah karena kau sudah tua!"
"Oh my, kau!!"
"Dad, aku sudah tidak punya banyak waktu lagi." wajahnya kembali khawatir.
"Baiklah, dengarkan aku."bJhon mendekati putranya dan memeluknya.
__ADS_1
"Daddy ini sangat memalukan."
"Diam kau! Dengarkan aku baik-baik."
"Aku percaya kau lebih hebat dari pada aku jadi pergilah selamatkan gadis bodoh itu tapi ingat satu hal, kau harus kembali padaku dalam keadaan hidup dan tanpa terluka sedikitpun. Jika ada yang berani melukaimu walau menggores kulitmu sedikit saja maka tidak akan aku ampuni."
"Daddy terlalu berlebihan,bluka dalam berburu adalah hal wajar tapi aku berjanji padamu bahwa aku akan kembali padamu hidup-hidup."
"Itu bagus." Jhon melepaskan pelukannya, dia tahu putranya sedang menghadapi orang yang berbahaya tapi dia harus kembali pada istrinya untuk menenangkannya dan dia percaya dengan kemampuan putranya.
"Andrew, jaga dia baik-baik jika sampai terjadi sesuatu padanya maka kepalamu melayang." ancam Jhon.
"Baik tuan."
"Ya ampun daddy." Jacob jadi kesal.
"Kalian yang terluka ikut ayahku pulang dan sisanya ikut denganku!" perintah Jacob.
"Siap bos."
Mereka hendak keluar dari sana tapi pada saat itu Jacob melihat bom yang ada ditangannya.
"Tunggu sebentar daddy."
Dia mulai kembali melakukan sesuatu pada bom itu dan pada saat sudah selesai Jacob melemper bom itu begitu saja.
"Ayo segera keluar."bajaknya.
"Hei apa yang kau lakukan?"
"Ini kejutan daddy, jadi ayo cepat."
Mereka semua segera keluar dari tempat itu dengan cepat, mereka keluar dan berdiri didepan gerbang tua itu.
"Hei kau tidak berniat mele?" sebelum Jhon menyelesaikan perkataanya tiba-tiba saja?
"Duaaarr!!!!"bgudang tua itu meledak dan terbakar.
"Daddy bilang apa?"
"Tidak!"
"Ternyata putraku lebih gila!" kata Jhon dalam hati.
"Baiklah, daddy segeralah kembali dan aku harus segera pergi."
"Jaga dirimu baik-baik boy."
"Tentu saja, Andrew ayo."
__ADS_1
Jacob segera meninggalkan tempat itu bersama dengan Andrew dan para anak buahnya sedangkan Jhon, pulang membawa putrinya untuk menenangkan istrinya.