
Saat itu terlihat tiga orang gadis sedang sibuk membuat sesuatu didalam dapur, gadis itu Olivia Smith, Alice Walker dan si manis Marry Walker.
Entah dapat ide gila dari mana Olivia Smith mengajak sahabatnya membuat kue gingerbread hari itu.
Semula Alice menolak tapi Olivia memaksanya dan Marry tampak begitu bersemangat ingin membuat kue itu sehingga dia tidak bisa menolaknya.
Bukan tanpa alasan Alice menolaknya, itu karena dia tidak bisa membuat kue itu, tapi karena Marry memohon padanya membuat Alice terpaksa mengikuti permintaan Olivia dan Marry.
Alice dan Olivia pergi membeli bahan-bahan yang mereka tahu dari sebuah situs di internet, setelah membeli bahan-bahan mereka menjemput Marry dari sekolahnya.
Jadilah ketiga gadis itu tampak sibuk membuat kue gingerbread yang mereka inginkan.
Jacob melihat ketiga gadis itu sambil menggeleng, jangan sampai makanan yang mereka buat membunuh seseorang.
"Olivia, sebaiknya kau hentikan ide gilamu itu!" Jacob memperingati adiknya.
"Kak Jacob diam saja!" jawab Olivia kesal.
"Ini hanya kue gingerbread Jacob, tidak mungkin membunuh orang." sela Alice pula.
"Semoga saja." jawab Jacob dengan santai.
Apa Alice lupa dengan bubur waktu itu yang dia makan? Bubur itu sebagian besar hasil kreasi Olivia dan bubur itulah yang membuatnya hampir keracunan.
Jacob bangkit berdiri meninggalkan ketiga gadis itu, jangan sampai Olivia membawa kue itu pulang kerumah dan meracuni ayah dan ibunya nanti.
Ketiga gadis itu kembali serius membuat adonan kue gingerbread, mereka membuat dua adonan sedangkan Alice sibuk membaca bahan untuk gingerbread dari ponselnya begitu juga dengan Olivia.
Mereka memasukkan bahan-bahan ditempat yang telah mereka sediakan dan tampak serius dengan takaran yang diperlukan.
Marry berdiri disamping Alice, gadis itu terlihat sudah tidak sabar untuk menghiasi kue gingerbread yang sudah jadi nantinya.
"Olivia apa kau sudah memasukkan gula kedalam adonanmu?" tanya Alice saat dia melihat sahabatnya itu sedang sibuk mengaduk adonan yang telah menjadi satu.
Olivia menghentikan tangannya, dia tampak sedang berpikir karena dia lupa apa dia sudah memasukkan gulanya atau belum. Karena begitu banyak bahan yang harus dia masukkan sampai membuatnya lupa.
"Sepertinya belum." jawabnya.
"Hei kalau tanpa gula bagaimana kue buatanmu bisa enak?"
"Kau benar, maaf." Olivia mendekati bahan yang ada diatas meja dan melihatnya.
"Sepertinya ini juga belum, ini juga." gumamnya dalam hati.
Setelah mengambil gula dan bahan-bahan yang dirasa belum dimasukkan kedalam adonan Olivia kembali mendekati adonannya yang tertunda, tanpa dia takar lagi Olivia memasukkan bahan yang diambilnya dengan sembarangan saja.
Alice sudah tampak mencetak adonan yang dibuatnya sedangkan Marry membantunya mencetak kue itu dengan penuh semangat.
Saat Alice memasukkan kue yang sudah dicetaknya kedalam oven Alice segera menghampiri sahabatnya itu, matanya terbelalak kaget saat adonan yang dibuat oleh Olivia tampak begitu berwarna coklat.
"Olivia apa kau membuatnya sesuai dengan resep?" tanyanya penasaran
"Tentu saja." jawab Olivia dengan yakin.
Alice hanya mengangguk dan melangkah mendekati oven untuk melihat kuenya sedangkan Olivia sudah tampak mencetak kue buatannya, saat sudah jadi Olivia tampak begitu puas dengan hasilnya.
Setelah kue yang dibuat Alice jadi, Marry langsung menghiasi kue itu dengan memberikan mata, kancing dan sebuah pita.
__ADS_1
Saat Alice sedang sibuk menghiasi kuenya ponsel yang dia letakkan diatas meja bergetar, Alice segera meraih ponselnya dan membaca pesan yang masuk kedalam ponselnya.
"Ms Alice, apa kau bisa datang sekarang karena ada dokument penting yang perlu kau tanda tangani." itu pesan dari Jane.
"Baiklah Jane, aku akan segera pergi kesana."
Setelah membalas pesan itu Alice melepaskan celemeknya dan mendekati Olivia.
"Olivia, maaf aku ada urusan penting, bisa kau menemani Marry sebentar?" pintanya.
"Tentu saja Alice, aku akan menjaga Marry untukmu."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Ingat jangan sampai membakar rumahku."
"Kau tidak perlu khawatir."
Alice mendekati Marry yang tampak belum selesai menghiasi kue gingerbreadnya.
"Marry, mommy pergi sebentar ya dan kau awasi kakak Olivia."
"Yes mom."
Alice keluar dari dapurnya dan masuk kedalam kamarnya untuk mengambil tasnya, setelah memakai mantelnya Alice keluar dari sana.
"Alice sayang, kau mau pergi kemana?" Jacob mendekatinya saat Alice sedang memakai sepatu bootsnya.
"Aku harus pergi menemui Jane sebentar."
Jacob merapikan mantel yang dipakai oleh Alice dan menciumi wajah kekasihnya dengan lembut.
"Aku antar."
Jacob terkekeh dan memeluk Alice dengan erat.
"Hati-hati diluar sana sayang." pesannya.
"Kau tidak perlu kawatir Jacob, aku hanya sebentar dan akan segera kembali lagi."
"Baiklah." Jacob melepaskan pelukannya dan mengecup bibir kekasihnya.
Alice tersenyum dan keluar dari rumahnya, saat Alice menaiki sebuah taxi tampak mobil Andrew berhenti didepan rumahnya.
Dia datang kesana karena ingin mengatakan hal penting pada bosnya, saat Andrew masuk kedalam rumah itu wangi kue didalam rumah itu membuatnya menelan ludahnya.
"Andrew, untuk apa kau datang?" Jacob melihat asistennya itu dengan malas.
"Master Lucas Marcelo ingin bertemu denganmu untuk membicarakan bisnis"
"Oh, kapan?"
"Sekarang, dia sudah menunggu."
"Baiklah, sepertinya ikan sudah masuk kedalam jaring." Senyum licik mengembang diwajah Jacob.
Saat itu Olivia menghampiri kakaknya dengan beberapa kue gingerbread ditangannya.
"Loh Andrew, kenapa kau ada disini?"
__ADS_1
"Ms Olivia apa kabar?" tanya Andrew basa basi.
"Kebetulan kau ada disini, cobalah kue buatanku ini." Olivia memberikan kue itu pada Andrew.
"Apa benar ini Ms Olivia yang membuatnya?" tanya Andrew tidak percaya.
"Tentu saja, jadi coba kau cicipi."
Andrew menelan ludahnya dengan kasar, dengan ragu pria itu mengambil sebuah kue gingerbread dari atas piring yang disodorkan oleh Olivia untuknya.
Jacob melihat adiknya itu, mudah-mudahan Andrew tidak berakhir dirumah sakit.
Andrew mulai mengigit kue itu, matanya langsung terbelalak kaget saat kue itu menyentuh lidahnya.
"Wow, ini enak." gumamnya
"Benarkan aku tidak bohong. Kakak mau?" Olivia memberikan kue itu pada kakaknya.
"Aku tidak mau." tolak Jacob dengan cepat.
"Master ini benar enak, ayahku saja sangat suka makan kue ini." kata Andrew penuh semangat.
"Benarkah uncle Billy menyukai kue ini?" tanya Olivia.
"Tentu saja Ms Olivia, ibuku sering membuatnya dirumah."
"Baguslah, aku membuatnya banyak jadi bawalah pulang untuk uncle Billy."
Olivia meletakkan kue yang dia bawa keatas meja, dia segera masuk kedalam dapur dan mencari tempat untuk menyimpan kue hasil buatannya untuk diberikan pada uncle Billy.
Kue yang dia bawa keluar tadi adalah kue hasil buatan Alice, sedangkan kuenya? Dia sudah mencobanya dan rasanya kacau balau karena kelebihan bahan.
Untuk menyombongkan diri pada kakaknya Olivia membawa kue buatan Alice, mumpung Alice sedang pergi jadi dia membawa kue buatan Alice untuk ditunjukkan pada kakaknya.
Sekarang kue hasil karyanya akan dia berikan pada uncle Billy agar dia tidak malu pada kakaknya dan Alice.
Setelah memasukkan semua kue buatannya kedalam tempat, Olivia kembali keluar untuk menghampiri Andrew.
"Ini untuk uncle Billy." Olivia memberikan kue itu pada Andrew.
"Terima kasih Ms Olivia, ayahku pasti senang." Andrew mengambil kue itu dari tangan Olivia sedangkan dia sibuk memakan kue yang Olivia letakkan tadi diatas meja.
"Hei Olivia apa kau sudah selesai?"
"Sudah, kenapa?"
"Aku mau pergi jadi kau jagalah Marry." Jacob langsung bangkit berdiri.
"Serahkan padaku."
Andrew bangkit berdiri untuk mengikuti bosnya keluar dari sana, tapi sebelum itu Andrew mengambil kue gingerbread yang tersisa satu diatas piring.
"Ms Olivia, terima kasih ya."
Olivia tersenyum pada Andrew dan berkata dalam hati:
"Uncle Billy, tolong kau buangkan kue itu, jika kau memakannya aku harap kau tidak masuk rumah sakit."
__ADS_1
Setelah kepergian kakaknya dan Andrew, Olivia kembali kedalam dapurnya untuk menemani Marry.