Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Penyesalan yang teramat dalam


__ADS_3

Setelah operasi untuk mengeluarkan peluru dari dada Jac-Jac telah selesai, dia langsung dipindahkan kesebuah ruangan terbaik yang ada dirumah sakit itu.


Jac-Jac tampak tertidur karena kelelahan, dia tidak tidur semalam dan dia butuh istirahat. Keluarganya menunggunya diruangan itu, mereka tampak lega karena Jacob dalam keadaan baik-baik saja walau tadi sempat kekurangan darah tapi semua bisa diatasi.


Setelah beberapa jam Jacob tersadar, dia berusaha bangun dari tidurnya sambil memegangi lukanya.


"Jacob." Samantha menyadari putranya sudah sadar dan segera menghampirinya dengan yang lainnya.


"Mom, kenapa kalian berkumpul disini?"


"Tentu untuk menunggumu, bodoh." Samantha memeluk putranya dan kembali menangis, dia sangat lega melihat putranya telah sadarkan diri


"Ya ampun, kalian terlalu berlebihan!aku baik-baik saja, okay."


"Hei jawaban macam apa itu, mommymu begitu menghawatirkanmu begitu juga kami." sela ayahnya.


"Oke, maaf telah membuat kalian khawatir." Jacob memeluk ibunya dan mengusap punggungnya.


"Berjanjilah pada mommy jika kau tidak akan terlibat lagi dengan sesuatu yang serius, okay?"


"Aku berjanji pada kalian."


"Itu bagus, jika kau berani tidak akan aku ampuni!"


"Kakak, maaf gara-gara aku." Olivia menghampiri kakaknya dengan wajah bersalah.


"Ck, sudahlah."


"Inilah akibatnya kau tidak mengajak kakek, jika ada kakek sudah kakek pukul orang yang telah menembakmu dengan tongkat kakek!" Michael Smith juga menghampiri cucunya.


"Ya ampun kakek!"


Tapi walau begitu Jacob tersenyum melihat kearah keluarganya yang tampak begitu lega, saat itu Andrew masuk kedalam ruangan itu, dia datang untuk mengantarkan pakaian bersih milik bosnya.


"Andrew, apa Alice baik-baik saja?"


Semuanya terdiam, sedari tadi tidak ada yang melihat Alice karena semua yang ada disana diliput kepanikan dan rasa khawatir yang luar biasa.


"Oh ya, bagaimana keadaan Alice? Apa kau menemukan Marry?" tanya Samanta dengan cemas.


"Mom, apa kalian tidak melihat Alice?"


"Tidak."


"Kak Ed, kemana Alice pergi?" Jacob melihat kearah kakaknya.

__ADS_1


"Mungkin ada disebuah ruangan, tadi waktu tiba dia mengikuti seorang perawat."


"Baiklah, aku ingin menemuinya." Jacob hendak bangkit berdiri tapi langsung ditahan oleh ayahnya.


"Hei, kau mau kemana?"


"Mencari Alice dad, apa lagi? Aku harus menghiburnya,dia pasti trauma dengan kejadian ini dan menyalahkan dirinya."


"Diam disini!"


"Andrew kau pergi cari putri Adam Walker dan pindahkan dia disini!!" perintah Jhon.


"Baik tuan."


"Huh, sepertinya kita harus menyiapkan sebuah ranjang king size disini." gerutu Jhon.


Jacob melihat kepergian Andrew sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia berharap Alice tidak menyalahkan dirinya saat ini.


Sedangkan saat itu, Alice sedang berada di Pemakaman Katolik Holy Cross Mausoleum Salib Suci yang terletak di Mapan 1887 Lokasi Colma, California.


Dia sedang duduk dimakan keluarganya dan meratapi kebodohannya, dia tidak berani menemui keluarga Jacob karena dia takut, takut membuat keluarga itu kecewa akan dirinya.


Alice memandangi langit biru yang ada diatas sana sambil berkata:


"Dad, maaf aku telah mengecewakanmu. Aku tidak bisa menjadi seperti dirimu dan sepertinya benar kata kak Jay, aku tidak cocok menjadi polisi."


Dia tidak akan pernah mengenal Jacob dan mereka tidak mungkin akan saling jatuh cintai, seandainya dia tidak mengenal Jacob pasti dia sudah mati ditangan Lucas dan semua itu lebih baik dari pada menyeret Jacob dalam permasalannya bahkan mencelakainya.


Alice memejamkan matanya, mengingat pertemuan pertamanya dengan Jacob disebuah bank saat dia mengira pria itulah pencurinya.


"Lihatlah bahkan aku tidak bisa menilai mana orang baik mana orang jahat, hal inilah yang telah membuatku tidak menyadari jika Lucaslah yang telah menghabisi kalian."


"Aku hanyalah orang tidak berguna, aku hanyalah seorang pecundang yang membawa malapetaka untuk semua orang dan aku telah mencelakai Marry."


"Maaf kak Jay, aku tidak bisa menjaga Marry dengan baik.maaf kak Rose."


"Semuanya maafkan aku, maaf telah mengecewakan daddy. Padahal aku ingin menjadi orang hebat seperti daddy tapi apa yang terjadi?" Alice mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Bahkan karirku menjadi polisi hanya seumur jagung, masih terhitung menggunakan jari. Aku hanya seorang amatiran yang tidak berguna, sia-sia usahaku selama ini. Aku hanya bisa mencelakai orang disekitarku saja."


Untuk sesaat Alice membiarkan air matanya mengalir, dia hanya diam saja masih melihat langit biru didepannya.


Sejak malam itu dia tidak mau melihat siapapun terluka lagi didepannya, dia tidak sanggup lagi tapi lihatlah, dia telah melukai orang yang telah mencintainya dengan tulus menggunakan tangannya sendiri bahkan hampir membunuhnya dan dia tidak akan memaafkan dirinya sampai kapanpun juga.


"Maaf Jac-Jac, maafkan aku. Seharusnya aku sudah mati dengan keluargaku setahun yang lalu dan tidak mencelakaimu." Alice tersenyum dengan pahit.

__ADS_1


"Aku..aku sangat menyesal, semuanya maafkan aku yang tidak berguna ini tapi aku berjanji pada kalian aku akan mencari Marry sampai ketemu, aku berjanji." Alice bangkit berdiri dan melihat makan keluarganya.


"Aku bersumpah pada kalian sebelum Marry aku temukan aku tidak akan kembali kekota ini, aku akan mencarinya sampai akhir hidupku dan menjaganya dengan baik. Kali ini aku akan melakukannya, membawa Marry ketempat yang jauh dan hidup tenang dengannya."


Alice mengusap air matanya,dia harus segera mencari Marry dan tidak mau menunggu lagi jika tidak, dia takut terlambat. Tapi bagaimana dia bisa pergi dimana Marry berada?


Alice kembali kerumahnya, dia ingin melihat puing rumahnya, apakah masih ada yang bisa diambil disana? Dia berharap surat-surat pentingnya tidak terbakar.


Saat dia turun dari taxi yang ditumpanginya, didekat puing rumahnya Terlihat seorang pria paruh baya sedang berdiri melihat puing-puing rumahnya.


Alice mendekati rumah yang sudah rata dan pada saat itu pria paruh baya yang berdiri didekat reruntuhan rumahnya berjalan kearahnya dengan wajah yang tampak khawatir.


"Alice, ini aku Marcos sahabat ayahmu."


Alice diam saja tapi matanya melihat kearah Marcos, dia harus belajar menilai orang sekarang.


"Jangan takut,aku tidak menipumu. Aku sahabat ayahmu sewaktu kami di FBI. Jika tidak percaya?" Marcos mengeluarkan selembar foto bersama Adam Walker bersama dirinya dan menunjukkan foto itu pada Alice.


"Uncle, untuk apa datang kemari?"


"Maaf, ini salahku karena telah melarikan diri setahun yang lalu. Seharusnya aku datang mencarimu dan melindungimu dari pembunuh itu."


"Tidak apa-apa uncle, ini bukan salah uncle. Lagi pula tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi."


"Kau benar, sebab itu ikutlah denganku ke kota Julian. Aku akan menebus kesalahanku dengan menjagamu disana, istri dan putraku pasti akan menerimamu."


"Terima kasih uncle, tapi aku harus pergi untuk mencari keponakanku."


"Apa?"


Alice kembali melihat kearah Marcos, dia teman ayahnya mungkin dia bisa membantu.


"Uncle maukah kau membantu aku?"


"Katakan, aku pasti akan membantumu."


Alice mulai mengatakan jika dia harus mencari Marry ditempat yang telah Lucas katakan padanya, dia berharap Lucas tidak berbohong dan dia berharap bisa tepat waktu sebelum Marry dijual kerumah pelacuran.


Setelah mendengar permintaan dari Alice, Marcos mengangguk setuju. Dia akan membantu putri sahabatnya itu tapi sebelum itu dia akan membawa Alice ke kota Julian.


Sebelum meninggalkan tempat itu Alice melihat reruntuhan rumahnya, semua kenangan akan keluarganya ada disana dan kenangannya dengan Jac-Jac juga ada disana.


Dan sekarang dia akan melupakan semuanya seperti rumahnya yang telah hancur dan berfokus untuk mencari Marry, setelah itu dia akan menjaga Marry dengan baik.


Tapi sebelum pergi dia berkata dalam hati:

__ADS_1


"Maaf Jac-Jac tapi aku harus segera pergi untuk mencari Marry."


__ADS_2