
Dikamarnya, tampak Alice sedang memakai pakaiannya. Hari ini Alice hendak kembali bekerja karena dia sudah cuti beberapa hari.
Tentu saja dia harus kembali bekerja karena sakitnya sudah sembuh, Alice segera keluar dari kamarnya, berjalan menuju dapur untuk sarapan.
Disana tampak Marry sedang menyantap sarapannya sedangkan bibi Carol sedang menyiapkan bekal untuk Marry.
"Good morning Marry, bibi Carol."
Alice mendekati Marry dan menciumi wajahnya.
"Good morning mom." balas Marry.
Alice menarik sebuah kursi dan duduk disana, gadis itu menuang segelas susu didalam gelas dan meneguknya.
"Bibi Carol, dimana Jacob?" tanyanya.
Kemana pria itu? Biasanya Jacob sudah ada disana dengan Marry.
"Entahlah, sepertinya tuan Jacob belum bangun." jelas bibi Carol.
Alice hanya mengangguk dan menyeruput susunya kembali.
"Alice apa kau sudah sehat?" bibi Carol bertanya padanya.
"Yah, begitulah."
"Baguslah, aku senang mendengarnya."
Bibi Carol meletakkan makanan didepan Alice dan duduk didepan gadis itu.
"Alice, setelah ini aku ingin cuti karena aku harus pergi menemui putriku."
"Berapa hari bibi Carol akan cuti?"
"Tenang saja Alice tidak akan lama, paling lama dua atau tiga hari."jelas bibi Carol.
"Baiklah bibi, kau boleh cuti dan aku bisa meminta bantuan pada seseorang untuk menjaga Marry." Alice tersenyum dengan licik.
Tentu saja orang yang dia maksud adalah Jacob.
"Terima kasih Alice." bibi Carol bangkit berdiri dan kembali membuat bekal untuk Marry.
Setelah meminum susu dan memakan sarapannya, Alice bangkit berdiri, sebelum pergi Alice mengacak rambut Marry dan kembali menciumi wajahnya
"Marry, jangan nakal disekolah ya." pesannya.
"Yes mom."
Alice tersenyum dan melangkah keluar dari dapurnya tapi langkahnya terhenti saat melewati kamar ayah dan ibunya.
Alice berjalan mendekati kamar itu dan mengetuk pintu kamar itu.
"Jacob."
Ya selama tinggal dirumah Alice, Jacob tidur dikamar bekas ayah dan ibu gadis itu tempati, semula pria itu ingin tidur dengan Alice tapi Alice tidak mengijinkan apalagi mereka bukan suami istri. Dia takut hal itu akan memberikan pandangan buruk untuk Marry yang sudah mengerti dengan apa yang dilihatnya.
Alice kembali mengetuk pintu kamar itu tapi tidak ada jawabnya dari sana.
"Jacob."
Alice kembali memanggil, tapi lagi-lagi hening, apa Jacob sudah pergi dari rumahnya?
Dengan ragu Alice membuka pintu kamar itu dan masuk kedalamnya, didalam sana masih tampak gelap.
__ADS_1
Alice berjalan kearah jendela dan membuka horden yang ada, setelah itu Alice berjalan kearah ranjang,disana tampak Jacob masih tidur.
"Hei Jacob, wake up." Alice menarik selimut yang menutupi tubuh Jacob.
Jacob membuka matanya dan melihat Alice yang berdiri disamping tempat tidur.
"Sayang, bisakah kau membiarkan aku tidur?" Jacob kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Jacob sebaiknya kau segera bangun, jika kau tidak punya pekerjaan sebaiknya kau bangun dan membantuku membersihkan rumahku!"
"Alice sayang, jangan bercanda denganku karena aku sedang tidak enak badan." Jacob kembali meringkuk dan memeluk bantal guling yang ada.
"Tidak mungkin, jangan menipuku!"
"Untuk apa aku menipumu sayang, kau bisa lihat sendiri aku sudah seperti singa yang tidak berdaya."
Alice naik keatas ranjang, tangannya mulai menyentuh dahi Jacob dan benar saja dahi pria itu terasa panas.
"Jacob, apa kau sakit?"
Jacob segera menarik tangan Alice dan memeluknya.
"Bukankah sudah aku katakan,jadi kau harus bertanggung jawab."
"Hei apa maksudmu?"
Alice menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya dan memandangi Jacob yang menatap kearahnya.
"Asal kau tahu sayang, leherku sakit gara-gara kau dan asal kau tahu juga, penyakit bodoh ini aku dapatkan darimu!"
"Jadi salahku?" Alice langsung bangkit berdiri.
"Tentu saja, jadi kau harus bertanggung jawab dan menjagaku."
"Tidak bisa Jacob, aku harus pergi bekerja." tolaknya.
"Oh sayang, apa kau ingin aku mati dirumahmu?"
"Kenapa kau tidak pulang saja?"
"Bagaimana aku bisa pulang sayang?"
"Aku akan menghubungi Andrew dan memintanya membawamu pulang."
Alice mengulurkan tangannya kearah Jacob.
"Apa?" tanya Jacob.
"Berikan ponselmu karena aku ingin menghubungi Andrew." pinta Alice.
"Sayang, Andrew juga sedang sakit."
"Berikan!" pinta Alice lagi.
"Cih." Jacob memberikan ponselnya pada Alice, dia berharap Andrew tidak mau mengikuti permintaan Alice.
Alice mulai mencari nama Andrew dari ponsel Jacob, setelah menemukan nomor ponsel pria itu Alice segera menghubunginya.
"Yes master."
"Andrew."
Saat mendengar suara Alice dari ponsel bosnya Andrew langsung menelan ludahnya.
__ADS_1
"Yes Ms?"
"Segera datang dan jemput majikanmu!" perintah Alice.
"Sory Ms Alice, aku sedang berada diruang gawat darurat, aku hampir mati karena kopimu jadi maaf."
Andrew segera mematikan ponselnya, jangan sampai dia terlibat dengan dua orang itu lagi.
"Ah, hei?" Alice melihat ponsel Jacob karena panggilan itu telah diputus oleh Andrew.
Senyum Jacob mengembang diwajahnya dan kembali memeluk bantal guling dengan erat.
"Good job Andrew." katanya dalam hati.
"Jadi sayang, kau harus menjagaku sampai aku sembuh." ujarnya.
"Jangan bermimpi karena aku harus pergi bekerja."
Alice mencari nama Olivia dari ponsel Jacob dan segera menghubunginya.
"Kak Jacob, ada apa?" terdengar suara Olivia dari sebrang sana.
"Olivia bisa kau datang kerumahku?"
"Alice kanapa kau menghubungiku menggunakan ponsel kakakku?"
"Itu tidak penting, Jacob sedang sakit jadi bisakah kau menjemputnya?"
"Sory Alice dia bukan kakakku lagi jadi berjuanglah." Olivia langsung mematikan ponselnya.
"Ah, hei? Ada apa dengan orang-orang hari ini?" gerutu Alice kesal.
Alice melempar ponsel Jacob didekat pria itu sedangkan senyum Jacob semakin lebar.
"See honey, kau memang harus menjagaku!"
"Jangan bermimpi Mr Smith, dimana rumahmu?"
Alice berjalan kearah meja dan mengambil sebuah buku kecil dan bolpoin disana, setelah itu Alice memberikan kedua benda itu pada Jacob.
"Apa kau ingin pergi kerumahku?"
"Tentu saja, aku akan pergi kesana untuk meminta ayah atau ibumu datang untuk menjemputmu."
"Apa kau yakin sayang?"
"Tentu saja, jadi tuliskan alamat rumahmu disini, aku akan segera pergi kesana sekalian aku berangkat bekerja."
Senyum licik langsung mengembang diwajah Jacob, saat itu ide gila lainnya muncul dikepalanya.
"Kau akan menyesali ini honey."
Jacob mengambil kertas yang diberikan oleh Alice dan menuliskan alamat rumahnya disana, setelah itu Jacob memberikan kertas itu kembali pada Alice.
Alice melihat kertas itu dan melangkah pergi tapi sebelum itu dia berkata:
"Tunggu disini sampai ayah dan ibumu datang menjemputmu!"
Setelah Alice keluar dari kamar itu, Jacob segera meraih ponsel yang dilemparkan Alice didekatnya.
Jacob mulai menekan ponselnya untuk menghubungi ayahnya.
"Daddy, i need your help."
__ADS_1