
Saat tiba diperusahaan milik almarhum kakaknya Alice segera turun dari mobil Jane, mereka menuju ketempat itu menggunakan mobil Jane.
Selama ini Alice selalu naik taxi atau bus, dia lebih suka menggunakan kendaraan umum dari pada mobil pribadi.
Bukannya dia tidak punya, mobil peninggalan ayah dan kakaknya masih tersimpan digarasi rumahnya dengan baik tapi dia lebih suka naik taxi atau bus.
Mereka berjalan bersama masuk kedalam bangunan itu, saat para karyawan melihatnya, mereka langsung menyapanya karena sekarang dia yang memimpin perusahaan itu walaupun dia jarang datang kesana tapi mungkin sebentar lagi dia akan sering datang kasana.
"Jane, siapa yang ingin bertemu denganku?" tanyanya selama mereka manaiki sebuah lift untuk menuju keruangannya.
"Aku juga tidak tahu Ms, dia bilang dia kenalan Ms Alice dan ingin membicarakan bisnis." jawab Jena pula.
Alice mengernyitkan dahinya, kenalan? Siapa?
"Pria atau Wanita?" tanyanya lagi karena dia penasaran.
"Pria."
"Tampan atau jelek?"
"Lumayan." jawab Jane lagi.
"Oke baiklah, kenalanku banyak cuma tidak terekspos oleh media." katanya bercanda.
"Ms Alice Memangnya artis?" celetuk Jane.
Alice hanya tertawa, selama mereka berada didalam lift Alice meggoda Jane dengan apa yang baru saja dia lakukan dengan Andrew.
Tentu saja hal itu membuat Jane malu, tapi Alice terus menggodanya sampai lift mereka berhenti dilantai yang mereka tuju.
Alice masuk kedalam ruangannya, disana tampak dokument sudah menumpuk diatas mejanya, Alice segera menarik kursinya dan duduk disana.
"Jane apa ini?" Alice sudah terlihat frustasi.
"Ini yang harus Ms Alice kerjakan hari ini." jawab Jane.
"Oh My God, lebih baik aku jadi polisi dan menangkap penjahat." celetuknya.
Jane tersenyum padanya, dia tahu Alice bukan tipe orang yang tahan melihat banyak tulisan dan bukan tipe orang yang betah duduk dikantor seharian.
Alice menghembuskan nafasnya dengan kasar, tangannya mulai meraih dokument dari tumpukkannya.
Alice mulai membuka dokument itu dan melihatnya, matanya serasa berputar saat melihat tulisan disana.
"Jane kapan orang itu akan datang?" tanyanya.
Lebih baik dia menemui orang itu terlebih dahulu dari pada harus berperang dengan tulisan.
"Aku akan segera menghubunginya."
Jane segera keluar dari ruangan itu sedangkan Alice kambali fokus pada tulisan yang ada.
Selama satu Jam Alice mengecek dokument yang ada dan pada saat pintu ruangannya terbuka, tampak Jane muncul dari sana dan mempersilahkan seseorang masuk kedalam ruangan itu.
"Ms Alice, tamunya sudah datang."
"Oh ya, suruh saja masuk." Alice Menjawab demikian tanpa menganggkat kepalanya karena matanya sibuk dengan dokument ditangannya.
"Silahkan tuan."
Pria itu mengangguk dan masuk kedalam ruangan itu, Jane menutup pintu itu kembali dan pergi dari sana.
__ADS_1
Pria itu tersenyum saat melihat Alice yang tampak konsentrasi dengan pekerjaannya dan melangkah mendekati Alice.
"Olá senhorita, apa begitu caramu menyambut tamu?"
Mata Alice membulat saat mendengarnya, suara ini?
Dengan cepat Alice mengangkat kepalanya, matanya langsung beradu dengan sepasang mata yang menatapnya dengan tajam tapi pria itu tersenyum padanya.
"Kau!" Alice begitu kaget dan langsung bangkit berdiri.
"Masih ingat denganku nona manis?" Lucas kembali mendekati Alice, meletakkan kedua tangannya diatas meja dan menatap Alice yang ada disebrang meja dengan tajam.
Alice menelan ludahnya dengan kasar, mana mungkin dia lupa dengan pria yang dia tendang kemarin.
"Tuan ada urusan apa anda datang kemari?" tanyanya tanpa basa basi.
"Tentu untuk membicarakan bisnis denganmu nona manis."
"Jangan memanggilku nona manis! Jika kau ingin membicarakan bisnis kau bisa membicarakannya dengan seketarisku tadi." jawab Alice dengan ketus.
"Wow, kalau begitu jangan memanggilku tuan, aku punya nama."
Lucas mengulurkan tangannya kearah Alice dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Ingat baik-baik, namaku Lucas."
Alice hanya menatap pria itu dengan tajam tanpa menyambut uluran tangan dari Lucas, hal itu membuat Lucas sedikit gusar dan tentunya membuatnya semakin penasaran dengan gadis itu.
"Jadi, boleh aku tahu namu nona manis?"
Dengan terpaksa Alice menyambut uluran tangan Lucas dan dengan terpaksa pula gadis itu tersenyum pada Lucas.
"Alice." jawabnya dengan cuek.
"Bisa kau lepaskan tanganku?" pintanya.
"Oh tentu saja Alice, aku terlalu senang bisa memegangi tangan gadis cantik sepertimu." godanya.
Alice hanya mendengus dalam hati, dengan cepat pula Alice menarik tangannya dari genggaman tangan pria itu saat Lucas melonggarkan pegangnya.
"Anda datang kemari untuk membicarakan bisnis atau untuk menggodaku?" Alice bertanya dengan kesal.
"Untuk kedua-duanya."
Lucas segera berjalan kearah sofa yang ada diruangan itu dan duduk disana tanpa permisi.
Alice memicingkan matanya, menatap Lucas dengan tajam, apa maksud dari pria aneh itu?
"Tuan Lucas, aku akan memanggil sekertarisku sebentar!" Alice segera memanggil Jane dan tidak lama kemudian Jane kembali masuk kedalam ruangannya.
Saat Jane telah datang barulah Alice duduk dididepan Lucas bersama dengan Jane. Selama Jane dan Lucas membicarakan bisnis Alice cuek saja sambil memainkan anak rambutnya dengan jarinya karena Jane lebih berpengalaman dibanding dirinya.
Pada saat itu mata Lucas tidak berpaling dari Alice Walker,orang yang seharusnya dia bunuh kini malah menarik perhatiannya. Ambisinya semakin besar saat melihat gadis yang semakin terlihat cantik dimatanya itu, dia pasti akan mendapatkan Alice Walker apapun caranya.
Anggap saja gadis itu sebagai penebus atas kematian adiknya George Marcelo, jika dia bisa mendapatkan gadis itu bukankah dendamnya akan terasa sangat manis.
Bisa mengikatnya bahkan bisa menikmati tubuh dari putri musuhnya, jangan panggil dia Lucas Marcelo jika dia tidak bisa mendapatkan gadis itu.
Banyak wanita yang sudah berakhir diatas ranjangnya dan dia yakin Alice Walker juga akan berakhir diatas ranjangnya nanti, rasanya sudah tidak sabar menantikan hari itu tiba.
Lagi pula Alice Walker tidak akan pernah tahu siapa yang membunuh keluarganya jika gadis itu sudah terpikat dengannya.
__ADS_1
"Ms Alice, bagaimana menurutmu?"
Alice langsung memalingkan matanya menatap Lucas sedangkan pria itu tersenyum padanya.
"Jane, aku tidak bisa memutuskan begitu saja. Lebih baik nanti kita bicarakan lagi." jawabnya.
"Baiklah." jawab Jane.
"Jadi Mr Lucas, seperti yang kau dengar, nanti aku akan menghubungimu untuk memutuskan kerja sama ini." kata Jane dengan sopan.
"Baiklah, aku anggap nona Alice mengundangku dan ingin mengajakku bertemu lagi." kata Lucas percaya diri.
Alice tersenyum terpaksa pada Lucas,dalam hatinya berkata:
"Dalam mimpimu pria aneh!"
"Kalau begitu aku akan menunggu kabar baik darimu nona manis." Lucas bangkit berdiri begitu juga dengan Alice dan Jane.
Lucas berjalan kearah pintu ruangan itu diikuti oleh Jane sedangkan Alice berjalan kearah mejanya.
Saat didepan pintu Lucas menghentikan langkahnya dan menatap Jane dengan tajam.
"Bisa aku berbicara berdua dengannya?" tanyanya.
Jane mengangguk dan keluar dari ruangan itu, dia mana tahu apa yang hendak dibicarakan oleh pria itu?
"Ada yang aku lupakan!" Lucas kembali melangkah mendekati Alice.
"Tuan Lucas kau bisa bicarakan hal itu pada Jane." Alice memundurkan langkahnya saat Lucas semakin mendekat kearahnya.
"Aku ingin melakukan ini denganmu!"
Lucas segera menarik pinggang Alice, memeluk gadis itu dengan erat. Mata Alice membulat saat Lucas mendunduk dan mamanggut bibirnya.
Alice mengangkat tangannya hendak memukul Lucas tapi dengan cepat Lucas menahan kedua tangan Alice dan memeluk Alice dengan erat sampai Alice tidak bisa bergerak.
Alice berusaha memberontak sedangkan Lucas menciumi bibirnya dengan paksa, hal itu membuat Alice sangat marah. Beraninya pria aneh itu menciuminya?
Setelah berapa menit Lucas melepaskan bibir Alice dan tersenyum pada gadis itu.
"Bibirmu sangat menggoda." ujarnya.
"Tuan, beraninya kau!!" geram Alice marah.
"Aku tidak tahan untuk tidak merasakan bibirmu nona manis." Lucas melepaskan pelukannya dan melangkah pergi.
"Bye, sampai jumpa lagi." ujar Lucas dengan santai.
"Ba**ngan!!!!"
Alice mengepalkan tangannya dengan kesal, dengan cepat gadis itu meraih sebuah dokument yang ada diatas mejanya dan melemparkan benda itu kearah Lucas.
"Bhuk!" dokument itu mengenai kepala Lucas tepat sasaran.
Lucas membalikkan badannya dan bergumam.
"Wow, i like it."
"Keluar!! Jangan kembali lagi karena aku tidak mau bekerja sama denganmu!!" teriak Alice marah.
"Baiklah, tapi sampai jumpa lagi." Lucas melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan itu. Lagi pula kerja sama itu cuma alasan saja untuk bertemu dengan Alice Walker dan pastinya dia akan menemui gadis itu lagi.
__ADS_1
Alice menatap kepergian Lucas dengan api amarah dimatanya, dengan cepat Alice mengusap bibirnya dengan kasar, terus dan terus karena dia merasa jijik.
"Kurang ajar, ba**ngan!! Benar-benar hari yang sial!" umpatnya.