
Saat itu pasawat pribadi Jacob sudah mendarat di bandara internasional Jhon F Kennedy kota New York.
Mereka segera turun dari pesawat itu dan segera keluar dari bandara, didepan sana sebuah mobil telah menunggu mereka tentu semua itu sudah disiapkan oleh Andrew sesuai dengan perintah bosnya.
Mereka menuju kesebuh hotel yang tentu saja sudah Andrew booking atas perintah Jacob, jika ada uang tidak akan sulit mendapatkan apa yang kita mau.
Jacob memerintahkan Andrew menyewa kamar hotel terbaik yang ada di New York City, mereka menginap di The Plaza Hotel.
The Plaza Hotel Menawarkan akomodasi berkualitas di distrik berbelanja, restoran, dan menawarkan tempat strategis untuk melihat-lihat kota New York (NY), The Plaza Hotel adalah pilihan populer bagi para wisatawan bisnis dan plesiran.
Dari sini, para tamu dapat menikmati akses mudah ke semua hal yang dapat ditemukan di sebuah kota yang aktif ini. Hotel modern ini terletak di sekitar obyek wisata populer kota ini seperti FAO Schwartz, A La Vieille Russie,dan Edwynn Houk.
Hotel The Palaza menawarkan Kesempatan untuk menikmati pelayanan dan fasilitas yang tidak tertandingi di hotel kota New York (NY), Sejumlah pilihan fasilitas kelas atas seperti layanan kamar 24 jam, layanan kebersihan harian, toko oleh-oleh/cinderamata, akses mudah untuk kursi roda, resepsionis 24 jam dapat dinikmati di hotel ini.
Sebagai tambahan, semua kamar tamu memiliki sejumlah kenyamanan seperti ruang penyimpanan pakaian, handuk, ruang keluarga terpisah, televisi layar datar, sofa untuk menyenangkan semua tamu. Hotel ini menawarkan berbagai pengalaman hiburan unik seperti pusat kebugaran dan spa.
Jacob memerintahkan Andrew untuk menyewa kamar dengan ranjang king size yang pastinya dangan fasilitas terbaik karena dia ingin memanjakan Alice dan ingin bermesraan dengan pacarnya itu selama di New York.
Pokoknya kali ini dia tidak boleh gagal menabur benihnya kalau tidak dia akan kalah taruhan dengan kakaknya Edward.
Saat itu Alice tampak sedang berdiri didepan jendela besar yang terdapat dikamar hotel itu, gadis itu sedang melihat kota New York yang indah dari kaca jendela hotel itu.
Kamar dengan nuansa klasik sungguh membuatnya senang, apalagi fasilitas kamar itu sungguh wah. Begitu masuk kedalam kamar itu tak henti-hentinya Alice mengagumi interior yang ada dikamar itu.
Senyum Jacob mengembang diwajahnya saat melihat Alice sedang mengagumi kota New York yang indah, dengan cepat pria itu melangkah menghampiri kekasihnya.
"Apa kau senang sayang dengan kamar ini?" Jacob memeluk Alice dari belakang dan melihat pemandangan diluar sana.
"Jacob ini terlalu berlebihan." Alice memegangi lengan Jacob yang melingkar diperutnya.
"Tentu tidak sayang karena aku ingin membuatmu nyaman."
"Terima kasih Jacob tapi kenapa kau ada dikamarku?"
"Tentu saja ini kamar kita berdua sayang." bisik Jacob ditelinganya.
Wajah Alice merona, apakah nanti dia akan melakukannya dengan Jacob? Tapi bukankah mereka sudah melakukannya? Tapi saat itu dia lupa.
"Alice sayang." Jacob mulai menciumi leher kekasihnya sedangkan tangannya sudah mulai masuk kedalam baju yang dipakai oleh Alice.
"Hmmm.." Alice memejamkan matanya menikmati sentuhan Jacob.
__ADS_1
"Apakah kau sudah siap menjadi nyonya Smith?"
"Tidak!"
"Sebentar lagi kau tidak akan berkata demikian sayang."
Alice memutar tubuhnya hingga menghadap pada Jacob, tangannya mulai mengusap wajah tampan pria itu dan mengecup bibirnya.
"Jacob aku mau mengajak Marry dan Jane jalan-jalan dibawah sana untuk melihat souvenir."
"Hei tapi?" Jacob hendak meraih pinggang Alice tapi gadis itu sudah melangkah pergi.
"Oh iya." Alice menghentikan langkahnya.
"Jacob sayang, sudah tiba dikota ini aku tidak mau menghabiskan waktu dihotel saja jadi aku ingin menikmati pemandangan kota ini sampai malam dan?"
Alice melihat kekasihnya dan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
"Aku akan tidur dengan Marry dan Jane karena aku ingin melakukan hal menyenangkan dengan mereka." katanya lagi.
"What, Alice sayang jangan bercanda denganku!"
"Aku tidak bercanda sayang." jawab Alice pula.
"Sialan!!" Jacob mengumpat kesal.
Jane dan Marry sepertinya bisa menggagalkan rencananya, pokoknya rencananya tidak boleh gagal lagi.
Apapun caranya dia akan menjauhkan dua pengganggu itu dari Alice agar dia bisa menjalankan rencananya untuk menabur benih.
Jacob segera meraih ponselnya untuk memanggil Andrew masuk kedalam kamarnya dan tidak lama kemudian Andrew mengetuk pintu kamar itu.
Jacob membuka pintu kamarnya dan langsung memberikan perintah untuk Andrew.
"Andrew malam ini kau harus menjauhkan Jane dan Marry dari Alice, kau tahukan apa yang harus kau lakukan?"
"Siap master, serahkan saja padaku." Andrew terdengar begitu bersemangat.
Setelah mendapat perintah Andrew segera melangkah pergi, dalam hatinya berkata:
"Sepertinya menyenangkan menggangu wanita membosankan itu, kebetulan aku juga ingin membalas perbuatannya saat didalam pesawat."
__ADS_1
"Wanita tua, tunggu saja!!"
Andrew berkata demikian dengan senyum jahat menghiasi wajahnya.
Sedangkan saat itu Alice sudah berada didalam kamar yang ditempati oleh Jane dan Marry, didalam sana tampak Jane sedang mengerutu dan memaki Andrew dengan tajam, dia masih tidak terima Andrew menghinanya dan memanggilnya wanita tua.
"Pria jelek awas saja, akan aku balas kau!!" geram Jane kesal.
Alice mendengar umpatan Jane dan menghampiri wanita itu.
"Jane, are you okay?"
"Oh ms Alice, maaf, aku hanya terbawa emosi." Jane menarik nafasnya dengan panjang untuk menenangkan emosinya.
"Memangnya apa yang Andrew katakan padamu?" Alice jadi penasaran.
Biasanya Jane terlihat pendiam dan jarang terlihat mengexspresikan amarahnya, tapi sepertinya Andrew telah mengatakan sesuatu yang membuat Jane sakit hati.
Memang sejak kejadian itu Jane menatap Andrew penuh dengan kebencian, wanita itu seperti singa yang sedang mengincar mangsanya.
"Pria si*lan itu mengataiku wanita tua dan jelek, beraninya dia menghinaku!!" geram Jane marah.
Alice menatap Jane dengan lekat, saat itu muncul ide dikepalanya. Alice mendekati Jane dan berbisik ditelinganya.
Jane terlihat mengangguk saat mendengar ide dari Alice, setelah itu Alice memegangi tangan Jane.
"Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan keluar sana untuk melihat souvenir? Kalian pasti bosankan dikamar saja?" ajaknya.
"Tentu Ms Alice.,
"Marry kau mau ikut?"
Saat mendengar pertanyaan ibunya Marry segera meletakkan ponsel yang dimainkannya dan beranjak mendekati ibunya.
"Of course mom."
"Good, ayo kita pergi."
Ketiga wanita itu pergi dari sana untuk menikmati waktu mereka sedangkan kedua pria yang ada sedang dalam rencana mereka.
Apakah Jacob berhasil mengikat Alice nantinya?
__ADS_1
Apakah Andrew bisa membalas perbuatan Jane nantinya?
Tunggu episode selanjutnya.