
Alice menyendok bubur yang baru dimasaknya kedalam sebuah mangkuk yang sudah dia siapkan.
Dimeja makan tampak Marry sedang memakan makanannya dengan lahap, Alice menghampiri Marry dan meletakkan bubur yang dibawanya keatas meja.
Alice menarik sebuah kursi dan duduk disana.
"Marry, bagaimana sekolahmu?"
"Baik mom." jawab Marry pula.
"Baguslah, setelah makan jangan lupa untuk mengerjakan tugasmu dan tidur siang."
"Yes mom."
Alice mulai mengambil makanan diatas meja dan memakannya.
"Mom."
"Yes."
"Bagaimana keadaan uncle Jacob?"
"Entahlah, aku belum melihatnya lagi?"
"Kenapa uncle Jacob tinggal dirumah kita?" tanya Marry lagi.
Alice diam saja, sedang memikirkan Jawaban untuk menjawab pertanyaan Marry.
"Uncle Jacob sahabat mommy, jadi mommy hanya membantunya saja."
"Benarkah?" Marry mulai melihat ibu sambungnya itu sambil memakan makanannya.
"Yes." jawab Alice singkat.
Alice mengusap kepala Marry, tersenyum pada gadis itu dan kembali memakan makanannya.
Setelah mereka makan, Alice segera membereskan piring kotor yang ada sedangkan Marry kembali kedalam kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolahnya.
Setelah mencuci piring Alice mengambil mangkuk bubur yang dia letakkan tadi diatas meja, tinggal satu orang lagi yang belum makan.
Dengan pelan Alice membuka kamar dimana Jacob berada dan didalam sana tampak Jacob sedang bersandar dikepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
Saat melihat kedatangan Alice, Jacob segera menyimpan ponselnya dan tersenyum pada gadis itu.
"Jacob, bagaimana keadaanmu?"
"Oh my darling, apa kau mengkhawatirkan aku?" goda Jacob.
"Tidak!!" Alice menjawab dengan ketus.
Alice melangkah kearah Jacob, duduk disisi ranjang dan memberikan mangkuk bubur yang dibawanya pada pria itu.
__ADS_1
"Oh no, lagi-lagi bubur!" Jacob mengeluh saat melihat bubur itu.
"Hei, kau sedang sakit jadi harus makan bubur!" Alice mulai kesal.
"Tidak sayang, aku sudah bosan makan makanan ini." kata Jacob frustasi.
Alice menatap Jacob dengan tajam, kenapa diotak pria ini banyak sekali akal licik yang selalu membuatnya kesal!
"Jacob, makan saja supaya kau cepat sembuh."
Jacob tersenyum usil, rasanya sangat menyenangkan menggoda Alice dan melihatnya kesal.
"Oke baiklah, tapi bisa kau bantu aku mengelap badanku?" pintanya.
"Tidak mau!!" Alice menolak dengan cepat.
Mengelap badan pria itu? Yang benar saja!
"Oh ayolah, aku hanya minta itu karena badanku sudah sangat lengket, cuma mengelap badan saja. Kau tahukan jika aku mandi maka sakitku ini akan semakin parah?"
Alice mendengus kesal dan bangkit berdiri, jika sampai Jacob mandi dan sakitnya itu tidak sembuh-sembuh maka pria itu tidak akan pergi-pergi dari rumahnya.
Dia tidak mau hal itu terjadi dan lebih baik saat ini dia menuruti keinginan Jacob, lagi lupa selama dia sakit, Jacob juga sudah menjaga dan merawatnya dengan biak.
Jadi anggap saja saat ini dia sedang balas budi pada Jacob.
Alice mulai berjalan pergi tapi tidak lama kemudian Alice kembali lagi dengan sebuah handuk dan air hangat ditangannya.
"Jacob, lepaskan bajumu." pintanya sambil tersipu malu.
Saat melihat wajah Alice yang merona, Jacob jadi ingin menggoda Alice.
"Tidak bisa sayang, aku tidak punya tenaga untuk membuka kancing bajuku." tipunya.
"Hei jangan menipuku, tadi kau bisa memainkan ponselmu dan sekarang kau bilang tidak ada tenaga, kau kira aku akan percaya!"
"Itu tenaga terakhirku sayang, percayalah padaku." Jacob melebarkan senyumnya.
Apapun yang terjadi Alice harus membuka bajunya karena Jacob sangat senang melihat ekspresi gadis itu.
Alice melolot padanya, walau begitu tangannya mulai membuka kancing baju Jacob satu persatu. Lagipula dia sudah pernah melihatnya jadi untuk apa dia malu?
"Pokoknya Jacob harus segera sembuh agar bisa secepatnya pergi dari rumahku!" itu yang ada dipikiran Alice.
Alice menelan ludahnya saat kancing baju Jacob sudah terbuka semua dan memperlihatkan dada bidang dan otot perut pria itu.
Alice menunduk malu, mengambil handuk dari baskom dan mulai menyeka dada Jacob. Dia harus menyelesaikan itu dengan cepat karena jantungnya mulai berdetak tidak karuan dan dia tidak ingin Jacob mendengar detakkan jantungnya.
Senyum Jacob mengembang diwajahnya saat melihat reaksi Alice, dia sangat suka melihatnya dan jujur saja rasanya dia sangat ingin menerkam Alice dan memberikan kenikmatan untuk gadis itu.
Rasanya sudah tidak sabar ingin memiliki Alice dan tentu saja dia juga ingin memiliki hati gadis itu. Apapun caranya akan dia lakukan untuk mendapatkan Alice Walker.
__ADS_1
"Alice dimana kau bekerja?" Jacob sangat ingin menanyakan hal ini sejak lama.
"Di Torrance Police Departement, untuk apa kau tahu?" jawab Alice dengan ketus.
"Aku hanya ingin tahu saja sayang."
Alice kembali membersihkan dada Jacob, saat selesai Alice meletakkan kembali handuk itu dan bangkit berdiri. Gadis itu mulai berjalan mendekati Jacob untuk membuka baju yang dipakainya karena dia harus mengelap bahu pria itu, bagaimanapun Jacob memang harus mengganti bajunya yang basah.
Saat baju yang dipakai oleh Jacob telah terbuka, Alice kembali menelan ludahnya saat melihat punggung pria itu.
Tidak mau berlama-lama karena dia memang sudah tidak tahan lagi melihat tubuh Jacob, Alice segera mengambil handuk basah dan mulai mengelap punggung Jacob.
Tapi tunggu dulu, kok rasanya dia melupakan sesuatu!
Saat sedang mengelap bahu Jacob, Alice menghentikan tangannya dan mendorong tubuh Jacob dengan kencang untuk melihat punggung Jacob dengan teliti.
"Hei, apa yang kau lakukan?" gerutu Jacob kesal.
"Jacob!" Alice mencengkram handuk basah yang dipegangnya.
"Yes darling." Jacob memalingkan wajahnya melihat kearah Alice yang sedang tersenyum dengan manis.
"Bukankah waktu itu kau tertembak?" Alice semakin melebarkan senyumnya.
"Oh my God, i'm forget!" kata Jacob dalam hati.
"Tentu, kau lihat sendirikan sayang."
"Lalu mana bekas lukanya, sayang!" Alice menekan perkataannya.
Jacob menelan ludahnya, kenapa dia begitu bodoh dan melupakan masalah ini.
"Alice sayang, selama kau sakit aku pergi operasi ke Korea Selatan untuk menghilangkan bekas lukanya, kau tahukan operasi plastik disana sangat bagus." tipunya.
"Oh ya?"
"Yes darling."
"Dasar kau penipu, kenapa tidak wajahmu saja kau operasi jadikan joker!!!"
Alice melemparkan handuk yang dipegangnya keatas lantai dan langsung melompat keatas bahu Jacob, tanpa basa basi Alice langsung menggigit bahu pria itu dengan kencang.
"Owh sayang, percayalah padaku!!" teriak Jacob.
"Akan aku lubangi punggungmu dengan gigiku ini!" Alice kembali menggigiti bahu Jacob dan tidak memperdulikan teriakan pria itu.
Jacob memaki dalam hati, seharusnya dia tidak meminta Alice mengelap tubuhnya, tapi sudah terlambat gadis itu terus menggigiti bahunya dengan kencang seperti singa yang sedang kelaparan.
Alice benar-benar marah!
Rasakan, siapa suruh jadi seorang penipu!
__ADS_1