
Saat itu tampak pelayan pribadi Lucas sedang membantu majikannya memakai obat diluka bekas tembakan yang didapatnya, setelah keluar dari rumah sakit, Lucas segera kembali keapartemennya untuk menyembuhkan lukanya disana.
"Como está a ferida?"
(Bagaimana dengan lukanya?) tanyanya.
"É bom o suficiente, senhor."
(Sudah terlihat baik, tuan.)
"Muito agradável."
(Bagus.)
Lucas menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya, dia membiarkan pelayan pribadinya mengganti perban dilengan kanan dan bahunya.
Lucas menghembuskan asap rokoknya keatas, matanya yang tajam memandangi langit-langit apartemennya, sampai sekarang dia belum mendapat Jawaban apa milk Jacob Smith yang telah disentuhnya?
Hal itu membuatnya berpikir dengan keras beberapa hari ini dan dia belum juga menemukan jawabannya, selama dia kembali ke California dia tidak melakukan apapun selain mencari keberadaan adiknya dan mendekati Alice Walker.
Saat itu juga, Lucas langsung mematikan api rokoknya, apakah mungkin? Sepertinya dia harus mencari tahu.
"Está feito, senhor."
(Sudah selesai, tuan.)
Lucas mengangguk, dia segera memberi isyarat supaya pelayannya pergi, saat melihat tanda dari bosnya, pelayannya membungkuk dan mengundurkan dirinya.
Lucas segera memakai kemejanya, lukanya sudah mulai membaik dan sudah tidak begitu terasa sakit lagi, lebih baik dia pergi mencari Alice Walker dan hari ini dia akan memaksa gadis itu untuk mengatakan padanya siapa pacarnya. Apakah pacar gadis itu adalah Jacob Smith? Dia curiga dengan hal itu!
"Para onde você quer ir, senhor?"
(Anda mau pergi kemana, tuan?) tanya pelayan pribadinya saat melihat Lucas meraih kunci mobilnya.
"Saia por um minuto."
(Keluar sebentar.) jawabnya singkat.
"Eu preciso ir?"
(Apa perlu aku ikut?) pelayannya bertanya demikian karena khwatir dengan bosnya yang masih terluka.
"Não há necessidade!"
(Tidak perlu!)
Lucas segera keluar dari apartemennya, dia ingin pergi menemui Alice Walker dan menanyakan siapa pacar dari gadis itu. Jika kecurigaannya benar maka terjawab sudah kenapa Jacob Smith menjebaknya yang pasti dia harus segera merencanakan sesuatu nantinya.
Saat tiba dirumah Alice, Lucas menghentikan mobilnya, memarkirkannya agak jauh dari rumah Alice. Dia segera keluar dari sana dan berjalan kearah rumah itu.
Lucas berdiri disana, memperhatikan rumah itu. Setahun yang lalu dia berada disana untuk menghabisi keluarga Adam Walker dan sekarang dia tidak menyangka akan berdiri didepan rumah itu lagi untuk menjerat Alice Walker.
"Adam Walker kau tidak menyangka aku akan kembali lagi bukan? Aku harap arwahmu yang berada didalam sana tidak kaget saat melihat kedatanganku!" gumamnya sambil menyeringgai.
Lucas mengetuk pintu rumah itu,dia berharap Alice Walker ada dirumah dan membukakan pintu untuknya, jika gadis itu yang membuka pintu akan dia serang langsung tanpa basa basi.
Beberapa saat telah menunggu,pintu itu tidak juga terbuka, Lucas kembali mengetuk tapi lagi-lagi hening, sepertinya memang tidak ada orang. Apa Alice sedang berada diperusahaannya saat ini?
__ADS_1
Lucas melihat jam diarlojinya, sebaiknya dia menunggu Alice didalam mobil, siapa tahu saja Alice akan segera kembali.
Dia masuk kedalam mobilnya, untuk menghilangkan kebosanan Lucas menyalakan sebatang rokoknya, menghisapnya dan menerawang jauh. Dia berharap Alice Walker segera kembali sehingga dia tidak perlu menunggu gadis itu terlalu lama.
Sementara itu dipernikahan Edward.
Alice tampak duduk dengan Marry sedangkan Jacob juga berada disampingnya, dia sudah mengutarakan niatnya untuk membawa Marry pulang kepada orang tua Jacob.
Ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan Marry tapi tidak hanya itu, besok Marry harus pergi kesekolah dan lagi pula, dia tidak bisa menitipkan Marry begitu lama.
Saat Edward dan Amanda telah mengucapkan janji pernikahan mereka, Olivia menarik tangan Alice dan mengajaknya menemui Amanda untuk memberikan hadiah yang telah mereka siapkan.
"Alice, ayo kita berikan hadiah ini." ajak Olivia.
"Baiklah, Jac-Jac aku kesana ya." Alice memberitahu Jacob.
"Iya." Jacob juga bangkit berdiri, dia segera menghampiri kakaknya untuk memberikan hadiah yang di minta oleh kakaknya karena dia sudah kalah taruhan sedangkan Marry pergi mengambil minuman.
"Kak Ed, Selamat untukmu." ujarnya saat dia sudah menghampiri kakaknya.
"Hei kenapa wajahmu seperti itu!" tanya Edward.
"Memangnya kenapa dengan wajahku?"
"Kau seperti tidak senang." goda Edward sambil tertawa.
Jacob memutar bola matanya malas.
"Jangan menggodaku!"
"Kalau begitu mana hadiahku?" tanyanya.
Jacob mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya, dia langsung memberikan kunci mobil itu pada kakaknya.
"Ini, sesuai keinginanmu. Mobil ferrari Edisi terbatas."
Edward menerima kunci itu dan melihatnya, sesuai permintaannya.
"Hei kenapa kau memberikan mobil itu disini, kenapa tidak kau kirimkan ke Colorado?"
"Ha.ha..kak Ed, itu jadi tugasmu membawa mobil itu kesana." ujar Jacob sambil tertawa.
"Kau ya! Tidak niat!" gerutu Edward kesal.
Jacob hanya terkekeh, sebenarnya dia bisa mengirimkan mobil itu ke Colorado tapi dia ingin mengerjai kakaknya karena dia belum bisa menerima kekalahannya.
Saat melihat kekasih adiknya yang berjalan kearah mereka, saat itu sebuah ide terbesit dikepala Edward, dia ingin menggoda adiknya itu.
"Hei my brother." Edward masih merangkul bahu adiknya.
"Aku yang akan memberikan pertaruhan padamu." ujarnya.
"Apa?"
"Jika kau bisa menikah dengan kekasihmu dalam waktu satu minggu lagi maka aku akan menghadiahkan helikopter untukmu."
"Kau serius kak Ed?"
__ADS_1
"Tentu saja." Edward menjawab sambil melirik kearah Alice yang sudah berdiri dibelakang mereka dengan kedua tangan yang sudah mengepal.
"Aku terima tantanganmu." Jawab Jacob dengan percaya diri, dia tidak tahu jika Alice mendengar pembicaraan mereka.
"Jac-Jac!!" Alice menekan panggilannya.
"Oh my!" Jacob melihat datangnya suara, matanya melotot saat melihat Alice sedang menekan kepalan tangannya dengan kemarahan diwajahnya.
"Kurang ajar kau!! Menjadikan pernikahan sebagai taruhan!!!" Alice tampak marah.
"Alice sayang, akan aku jelaskan."
"Tidak perlu!!" Alice segera melangkah pergi.
"Hei!!"
"Kejar dia brother." ujar Edward.
"Kak Ed, kau menjebakku awas kau ya!!"
Edward hanya tertawa, sekali-kali harus menggoda adiknya.
"Sana kau kejar, ingat satu minggu lagi nikahi dia maka aku akan memberikan helikopter untukmu." katanya sambil tertawa.
"Tidak perlu!!" Jacob segera mengejar Alice yang tampak sedang meminta ijin kepada orang tuanya.
Setelah mendapat ijin Alice segera membawa Marry, dia kesal karena Jacob menjadikan pernikahan sebagai alat pertaruhan.
Dia segera melangkah pergi bersama Marry tapi tangannya langsung Jacob tahan.
"Alice sayang, kau mau kemana?"
"Pulang!!" Jawab Alice kesal.
"Ayo pulang denganku."
"Huh!!" Alice segera melangkah pergi sedangkan Jacob mengikutinya.
Selama diperjalanan Jacob berusaha menjelaskan pada Alice jika kakaknya hanya bercanda saja tapi Alice diam saja, dia hanya mendengarkan penjelasan Jacob tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Jacob sudah lelah menjelaskan jadi dia mulai diam, tapi dalam hatinya memaki kakaknya.
"Kak Ed, awas saja!!"
Saat sudah tiba dirumahnya, Alice segera keluar dari mobil Jacob dengan Marry. Dia segera menarik tangan Marry untuk masuk kedalam rumah itu sedangkan Jacob mengikutinya, sepertinya dia harus berusaha keras menjelaskannya pada Alice lagi.
Mereka masuk kedalam sana tanpa menyadari seseorang yang menatap kearah mereka dengan tangan mengepal distir mobilnya.
Mata pria itu memancarkan api kemarahan, terjawab sudah pertanyaannya selama ini. Ternyata kekasih Alice Walker adalah Jacob Smith dan ternyata milik Jacob Smith yang dia sentuh adalah Alice Walker.
Lucas segera meraih ponselnya untuk menghubungi pelayan pribadinya.
"Reúna imediatamente subordinados."
(Segera kumpulkan anak buah.) perintahnya.
Setelah berkata demikian Lucas segera pergi dari sana, dia akan menyusun rencana untuk kedua orang itu.
__ADS_1