Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Are you ready to play with me?


__ADS_3

Saat itu helikopter Jacob sudah mendarat, dia langsung pulang karena selama diperjalanan perasaannya benar-benar tidak enak.


Jacob memerintahkan seorang supir untuk mengantar uncle Billy sedangkan Andrew mengantarnya pulang.


Selama diperjalanan menuju rumah orang tuanya, Jacob menghubungi ponsel Alice tapi tidak dijawab, sekarang perasaannya semakin khawatir.


Dia juga menghubungi ponsel adiknya tapi tidak juga di jawab, apa mereka berdua sedang melakukan sesuatu dan tidak membawa ponsel?


"Andrew, bawa mobilnya dengan cepat."perintahnya.


"Baik master." Andrew memacu mobil sport itu dengan cepat untuk segera sampai ditempat tujuan.


Andrew melewati beberapa mobil begitu saja karena bisa dia lihat sedari tadi bosnya tampak tidak tenang.


Tidak butuh lama, mobil itu sudah tiba.Jacob memerintahkan Andrew untuk menunggu disana sedangkan dia berlari masuk kedalam rumah orang tuanya.


Dia sudah tidak sabar ingin melihat apakah Olivia dan Alice sudah kembali? Jika menurut perkiraannya setelah dia menghubungi Alice tadi seharusnya sudah.


Jacob masuk kedalam dan berjalan dengan cepat, didalam sana tampak ayah dan ibunya sedang berbincang dengan kakek dan neneknya, Jacob segera mendekati mereka dan bertanya:


"Hai guys, apa Olivia sudah kembali?"


"Bukankah Olivia sedang pergi dengan Alice saat ini?" Samantha bangkit berdiri dan menghampiri putranya, dia juga merapikan rambut putra yang sedikit berantakan.


"Ya, tapi aku sudah memerintahkan Olivia untuk mengajak Alice pulang."


"Hei boy, kenapa kau tampak begitu khawatir?" Jhon melihat kearah putranya begitu juga dengan yang ada disana, mereka melihat kearah Jacob dan menunggu jawaban darinya.


"Jacob ada apa? Kenapa kau tampak khawatir?" Samantha mengusap wajah putranya, belum pernah dia melihat kekhawatiran yang begitu besar dari wajah putranya.


"Mom, ini mengenai Alice. Saat ini dia..?"


Sebelum Jacob dapat menyelesaikan ucapannya pintu rumah mereka dibuka oleh seseorang dari luar sana, tampak supir pribadi Olivia masuk kedalam dengan wajah pucat.


"Tu...tuan besar, tuan muda" Steve mendekati mereka dengan nada bergetar sedangkan Andrew berdiri dibelakang Steve karena saat melihat Steve turun dari mobil dengan ketakutan dia juga turun dari mobil dan mengikuti Steve.


"Hei ada apa denganmu? Mana adikku?"


Jacob mendekati Steve dan menatapnya dengan tajam sedangkan Steve tambah ketakutan.


Dia tidak tahu nona mudanya masih hidup atau tidak karena saat dia sadar, rumah dimana nonanya masuk tadi sudah habis dibakar api dan hanya menyisakan puing-puing saja.


Jhon menghampiri supir putrinya begitu juga dengan Samantha, sekarang mereka khawatir dan takut telah terjadi sesuatu pada putri mereka.


"Steve katakan dimana putriku?" Jhon berdiri didepan Steve dan pada saat itu Steve langsung bersimpuh dibawah kakinya.


"Tuan besar, maafkan aku. Saat aku mengantar nona Olivia kerumah sahabatnya seseorang membuatku pingsan dan pada saat aku sadar, rumah sahabatnya telah hancur karena ledakan dan terbakar."

__ADS_1


Saat mendengar perkataan Steve semua yang ada disana kaget bukan kepalang, Samantha langsung tampak lemas membayangkan nasib putrinya dan hendak jatuh.


"Mom!!" Jacob langsung menangkap tubuh ibunya yang sudah limbung.


Samantha memeluk putranya dan menangis,bdia tidak sanggup


membayangkan jika putrinya mati meledak.


Jacob sangat heran, kenapa bisa? Mana kedua anak buah yang dia tugaskan untuk menjaga Alice?


"Steve,kenapa bisa? Bukankah aku sudah memerintahkan orang untuk mengawal mereka?"


"Maaf tuan muda,aku tidak tahu tapi pada saat nona Olivia keluar dari restoran dengan sahabatnya mereka hanya bertiga, tidak dengan satu pengawalpun."


"Apa?"


Jadi kemana pengawal yang dia tempatkan untuk menjaga Alice? Apa Alice memerintahkan pengawal yang dia tempatkan untuk pergi? Oantas saja ponsel mereka tidak bisa dihubungi, dia yakin ketiga gadis bodoh itu sudah ditangkap oleh Lucas.


"Kurang ajar, siapa yang berani melakukan ini!!" geram Jhon marah.


"Maaf tuan saya tidak tahu!" jawab Steve dengan cepat.


"Andrew, lacak posisi mereka cepat!aku yakin mereka masih hidup dan semua ini pasti ulah Lucas."


"Baik master." Andrew segera berlalu pergi masuk kedalam sebuah ruangan yang ada dirumah itu tentu untuk melacak keberadaan Olivia dan Alice karena disana terdapat begitu banyak perangkat komputer yang sudah disiapkan untuk melacak seseorang jika terjadi sesuatu.


"Dad, aku sedang menghadapi Lucas Marcelo, dialah yang telah membunuh keluarga Walker."


"Wow, kau sedang bermain dengan seseorang yang sangat berbahaya tapi ini sangat menarik!"


"Jacob, Selamatkan adikmu dan Alice." pinta ibunya.


"Tenang saja mom, aku akan menyelamatkan mereka bertiga."


"Bertiga?" Samantha melihat putranya kembali dengan heran.


"Mom, kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan membawa Olivia dan Alice, aku juga akan membawa Marry."


"Ya Tuhan!" Samantha kembali lemas, Marry juga jadi korban? Dia semakin takut, takut jika terjadi sesuatu dengan Marry.


Dulu dia pernah mengalaminya saat melihat Edward trauma, bagaimana jika sampai Marry mengalami hal yang sama dengan yang dialami Edward dulu?


Tidak lama kemudian Andrew keluar dari ruangan yang dia masukki tadi dengan cepat, dia segera mendekati Jacob dan berkata:


"Master, aku sudah menemukan posisi mereka tapi tempatnya berbeda-beda."


"Begitu?" ternyata Lucas tidaklah bodoh, siapa yang harus dia selamatkan terlebih dahulu? Adiknya atau Alice? Mereka berdua sama-sama penting untuknya.

__ADS_1


"Jacob selamatkan adikmu." Samantha memeluk putranya dan kembali menangis.


"Tentu mom, aku akan menyelamatkan Olivia terlebih dahulu jadi kau jangan khawatir." bagaimanapun adiknya lebih penting dan dia tidak ingin membuat ibunya tambah khawatir.


Jacob berharap Alice dapat menjaga dirinya selama dia menyelamatkan adiknya dan dia berharap tidak terjadi sesuatu pada mereka.


"Baby, tunggulah dirumah.aku dan Jacob akan pergi menyelamatkan Olivia."


"Tapi Jhon?" Samantha melepaskan pelukannya dan melihat kearah suaminya.


"Percayalah pada kami."


"Baiklah, tapi kalian harus kembali padaku dengan selamat tanpa terluka sedikitpun"


"Kau tenang saja baby, tidak akan ada yang bisa melukai kami walau seujung kukupun."


"Aku harap begitu." Samantha mengusap air matanya, dia berharap dalam hati semua dapat kembali dengan selamat.


"Steve, bangun!" perintah Jhon karena supir pribadi putrinya itu masih berlutut.


Steve bangun dan menunduk, dia tidak berani melihat siapapun disana.


"So dad, are you ready to play with me?"


"Of course."


Jhon menjawab dengan penuh semangat, sudah lama tidak bermain dan rasanya darahnya mulai mendidih.


"Andrew, siapkan anak buah dan senjata. Hari ini kita akan berburu dan jangan sampai ada yang terlepas, tangkap Lucas Marcelo hidup-hidup." perintahnya.


"Siap master."


Mereka bertiga berjalan dengan gagah hendak keluar dari rumah tapi pada saat itu Michael Smith menghentikan langkah mereka.


"Hei kalian tunggu!"


"Ada apa kakek?" Jacob memalingkan wajahnya dan melihat kakeknya.


"Aku juga ikut."


"Ck, kakek, untuk memegang tongkat saja tanganmu sudah bergetar memangnya siapa yang bisa kau bunuh!"


"Setidaknya aku bisa memukul seseorang dengan tongkatku ini." jawab kakeknya.


"Daddy diam saja dirumah!" perintah Jhon.


"Sialan, menjadi tua bangka sangat tidak menyenangkan!" gerutu Michael Smith kesal.

__ADS_1


Setelah itu mereka keluar dari sana untuk berburu!


__ADS_2