
Kota Bodie 04.30 Am.
Saat itu helikopter Edward sudah mendarat, untuk menuju kota itu memang memakan waktu 5 jam 2 menit jika ditempuh melalui jalur darat, tapi jika melalui udara maka akan cepat tiba.
Edward melompat turun dari helikopternya saat benda itu belum benar-benar menyentuh tanah, dia khawatir jika terjadi sesuatu dengan adiknya.
Dia berjalan dengan cepat memasuki kota Bodie itu, tapi bangunan disana banyak, dimana dia harus mencari adiknya?
Edward melihat sekelilingnya dan benar saja kata adiknya saat dia tiba dia sudah ketinggalan permainan, bisa dia lihat mayat-mayat yang bergelimpangan sedangkan anak buah adiknya mulai menggeledah setiap bangunan untuk mencari sesuatu.
Tapi bukan itu tujuannya datang kesana, dia ingin memastikan keadaan adiknya dan tidak akan dia ampuni jika ada yang berani melukai adiknya.
Edward berjalan dengan cepat dan pada saat dia berjalan mendekati sebuah bangunan dia melihat Andrew berdiri disebuah jendela yang ada dibangunan itu dan sedang memasukkan sebuah peluru kedalam sebuah senjata api, dengan sedikit berlari Edward mendekati Andrew.
"Hei siapa yang ada didalam sana?" tanyanya dengan pelan.
"Tuan Edward."
"Katakan padaku apa yang telah terjadi didalam sana?"
Saat Edward sedang bertanya terdengar seseorang berteriak dari dalam sana.
"Maaf tuan Edward aku tidak bisa mejelaskan karena aku harus menembakkan senjata ini pada pria yang sedang berdiri dibelakang Ms Alice." jelas Andrew.
Edward mengintip sejenak, ternyata adiknya sedang menghadapi situasi yang sulit dan dia bisa mendengar pembicaraan adiknya dari luar sana dengan jelas.
"Berikan senjata itu padaku." pinta Edward.
Andrew mengangguk dan memberikan senjata itu pada Edward, setelah menerima senjata dari Andrew, Edward mulai mendekati pintu dan lagi-lagi dari dalam sana terdengar suara teriakan.
Oke sekarang gilirannya walaupun dia terlambat karena jarak, Edward masuk kedalam tempat itu dengan diam-diam dan langsung menembakkan senjata apinya kearah pria yang sedang berdiri dibelakang pacar adiknya tapi sialnya senjata api yang ada ditangan pacar adiknya juga ditembakkan secara bersamaan.
"Dor!!" terdengar suatu dua tembakan secara bersamaan.
Alice membuka matanya saat merasakan Lucas ambruk dibawah kakinya, dia segera melihat kearah lucas dan tampak sebuah senjata bius menancap didahi Lucas.
Setelah itu dia melihat kearah Jacob yang tersenyum kearahnya, apa tembakan tadi meleset?
Tapi beberapa detik kemudian darah mulai mengalir dari dada Jacob dan pada saat itu jacob memegangi dadanya yang tertembak.
"Brother!!" Edward segera berlari kearah Jacob dan memapah tubuhnya agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Saat melihat itu Alice merasa dunia hancur dan tampak begitu gelap, dia jatuh terduduk disamping tubuh Lucas yang sudah tidak sadarkan diri.
"Gara-gara aku..gara-gara aku." gumamnya ketakutan.
"Kak Ed, kau terlambat!" Jacob memegangi lukanya yang terus mengeluarkan darah.
"Dasar bodoh!" Edward membuka jas yang dipakainya untuk menekan luka dibahu adiknya agar darah tidak terus mengalir dari lukanya.
Andrew masuk kedalam tempat itu dengan wajah pucat dan berkata dalam hati:
"Habislah aku diamuk tuan besar!"
"Andrew apakah kau menemukan Marry?" Jacob melihat kearah asitennya.
"Maaf master, semua bangunan sudah digeledah tapi Marry tidak ada."
"Sialan! Kemana Lucas menyembunyikan Marry?" umpatnya kesal, tapi nanti dia akan mengintrogasi Lukas dan menanyakan keberadaan Marry.
"Andrew, bawa Lucas kemarkas." perintahnya.
"Siap master."
Andrew segera memerintahkan anak buahnya untuk masuk dan membawa tubuh Lucas.
Dia hanya bisa menangis sambil memegangi tangannya kirinya yang masih terasa sakit.
"Hei mau kemana? Cepat kita pergi kalau tidak kau akan kehabisan darah!"
"Kak Ed, aku harus berbicara dengannya."
"Ck!" dengan berat hati Edward membiarkan adiknya mendekati kekasihnya.
Jacob berjalan menghampiri Alice sambil memegangi lukanya, dia berusaha meraih tangan Alice yang tidak jauh dari sisi ring.
"Hei, jangan menangis." Jacob meraih tangan Alice untuk menghiburnya, dia tahu Alice pasti terpukul dan sangat merasa bersalah.
"Maaf Jac-Jac, maafkan aku!"
"Sudahlah, aku tidak mati bukan? Lagi pula bukan kau yang menembakku."
Wajah Alice semakin pucat saat mengingat kejadian tadi, dia segera menarik tangannya dari pegangan Jacob dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Semua yang terjadi gara-gara dirinya!
"Hei, jika kau tidak cepat kau akan mati karena kehabisan darah!" ujar Edward kesal.
"Alice sayang ayo ikut denganku."
Alice kembali melihat kearah Jacob, dia juga melihat darah yang terus mengalir dari dada Jacob.
Jika dia terus seperti ini bisa-bisa Jacob mati jadi dengan kekuatan yang masih tersisa Alice bangkit berdiri, dia juga turun dari ring dengan susah payah.
Edward memapah adiknya keluar dari tempat itu sedangkan Alice mengikuti langkah mereka dari belakang.
Andrew memerintahkan anak buahnya untuk membawa tubuh Lucas yang sudah pingsan kemarkas, yang pasti setelah ini dia harus bersiap menerima amukan dari Jhon Smith.
Diluar sana helikopter sudah menyala dan sudah siap, helikopter itu terparkir tidak jauh dari bangunan yang ada. Semua itu perintah dari Andrew.
Edward membantu adiknya untuk naik keatas helikopter karena darah adiknya semakin banyak yang hilang sedangkan Andrew membantu Alice untuk naik keatas helikopter.
Helikoper itu segera terbang setelah Edward memerintahkan pilotnya, mereka harus segera menuju rumah sakit jika tidak adiknya bisa mati kehabisan darah.
Selama diperjalanan Edward menekan luka didada adiknya supaya darah tidak terus mengalir, dia berharap peluru yang bersarang didada adiknya tidak mengenai organ vitalnya.
Andrew menghubungi sebuah rumah sakit untuk menyiapkan ruang operasi dan dokter ahli, semua itu perintah dari Edward karena dia tidak mau terlambat sebab nyawa adiknya sedang dipertaruhkan.
Alice hanya duduk diam sedangkan matanya menerawang jauh melihat keluar, tatapannya kosong bahkan api kehidupan tidak terpancar dari sana, dia juga tidak sedang berpikir apa-apa dan otaknya juga kosong.
Jacob kembali menghampiri Alice sambil menekan lukanya, dia duduk disisinya dan menarik Alice kedalam pelukkannya.
"Hei kenapa diam saja?"
Alice diam saja tidak menjawab apa-apa, dia sudah seperti boneka tanpa nyawa.
"Hei!!" Jacob sedikit berteriak, ada apa dengan kekasihnya?
Alice sedikit kaget, pada saat itu air matanya kembali mengalir dari kedua matanya.
"Maaf Jac-Jac,maaf." cuma itu yang bisa dia katakan.
"Jangan seperti ini, jangan berkata seperti itu lagi, semua bukan salahmu!" Jacob menciumi dahi Alice dengan lembut.
"Jangan menangis lagi, kita akan mencari Marry bersama, okey?"
__ADS_1
Alice mengangguk dalam pelukannya tapi air matanya terus mengalir sedangkan didalam hatinya, dipenuhi dengan penyesalan.
Semua gara-gara dirinya! Lagi-lagi kata-kata itu muncul dibenaknya.