Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Bisa kau ajari aku?


__ADS_3

Pagi itu tampak Marry sedang mendekati Alice yang sedang sibuk membuat bekal untuk dia bawa kesekolah.


Sejak Alice berhenti jadi polisi, Alice setiap pagi membuatkan sarapan dan bekal untuk Marry sedangkan bibi Carol membersihkan rumahnya.


Marry memegangi ujung celemek yang dipakai oleh Alice hingga Alice menghentikan pekerjaannya, dia melakukan itu karena dia ingin menanyakan sesuatu pada ibunya.


"Mommy Alice, sebentar lagi natal apa kita tidak mau memasang pohon natal?" Marry melihat kearah Alice dengan mata penuh harapan.


Alice segera berjongkok untuk mengusap kepala Marry dan tersenyum padanya.


"Marry sayang, apa kau ingin sebuah pohon natal?"


"Tentu saja mom, aku ingin kita memasang pohon natal. Semua teman-temanku sudah memasang pohon natal dirumah mereka."


"Oke baiklah, bagaimana jika kita membeli pohon natal dan hiasannya saat kau pulang sekolah nanti?"


Mata Marry langsung berbinar mendengarnya, Marry tampak begitu senang, gadis manis itu langsung memeluk Alice.


"Apa mommy Alice berjanji?"


"Tentu saja Marry sayang." Alice mengusap kepala Marry dengan lembut.


"Mommy Alice, i love you." tiba-tiba air mata Marry jatuh dari kedua matanya.


"Marry sayang, kenapa kau menangis?" Alice mengusap air mata Marry dengan lembut menggunakan punggung tangannya.


"Mommy Alice, berjanjilah pada Marry jika mommy Alice tidak akan meninggalkan Marry seperti mommy and daddy."


"Aku berjanji padamu sayang." Alice kembali memeluk Marry.


Dia tahu sepertinya Marry rindu dengan ayah dan ibunya karena saat gadis manis itu kehilangan kedua orang tuanya pada saat menjelang natal.


"Marry,aku berjanji padamu akan selalu menjaga dan melindungimu. Walaupun nyawaku taruhannya karena aku sangat sayang padamu." katanya lagi.


Marry mengangguk dalam pelukannya, tangan kecilnya mulai mengusap air matanya yang masih mengalir.


Marry melepaskan pelukannya dan menatap Alice dengan lekat.


"Mommy janji tidak akan meninggalkan Marry."


"Tentu sayang."


"Jika mommy sudah menikah dengan uncle Jacob apakah Marry masih boleh tinggal dengan mommy?"


"Tentu saja Marry, dimanapun aku pergi disitu juga kau berada karena aku tidak akan meninggalkanmu." Alice terseyum dan mengusap kepala Marry.


"Jadi jangan menangis lagi.mommy dan daddymu sudah bahagia disurga sana, sebaiknya Marry mendoakan mereka."


Senyum mulai mengembang diwajah Marry, gadis manis itu menjawab Alice dengan sebuah anggukan.


"Jadi, segera makan sarapanmu. Nanti siang kita akan pergi membeli hiasan natal."


"Oke mom." Marry segera berjalan kearah meja makan, menarik sebuah kursi dan duduk disana.


Marry menarik sebuah kursi dan duduk disana, pada saat itu Jacob mendekati Marry dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


"Uncle Jacob."


"Hei kenapa wajahmu terlihat begitu senang?"


Jacob segera duduk disamping Marry.


"Mommy Alice ingin mengajakku pergi membeli hiasan natal nanti siang." jawaban Marry dengan ceria.


"Oh ya, boleh aku ikut?"


"Tidak!" Alice menjawab dengan cepat.


"Kenapa?"

__ADS_1


Alice tidak menjawab dan meletakkan segelas kopi beserta sepotong sandwich yang dibuatnya diatas meja, gadis itu segera berlalu pergi dengan sebuah kotak makan ditanganya, Alice ingin menyimpan kotak bekal Marry kedalam tasnya.


Setelah Marry selesai memakan sarapannya gadis itu segera bangkit berdiri.


"Uncle aku mau pergi." ujarnya.


"Ya." Jacob menjawab dengan santai, pria itu masih disana menikmati kopi buatan kekasihnya.


Saat itu ponselnya berbunyi karena Andrew mengirimkan pesan untuknya, Andrew mengatakan jika ayahnya akan menemuinya hari ini.


Setelah membaca pesan dari Andrew, Jacob meletakkan ponselnya diatas meja dan menikmati kopinya kembali.


Dia ingin mencari Alice saat kopinya sudah habis tapi ponselnya bergetar diatas meja, Jacob mengurungkan niatnya dan segera meraih ponselnya.


"Kak Edward?" katanya saat melihat orang yang menghubunginya.


Dengan cepat Jacob menjawab pangilan dari kakaknya itu, dia jadi penasaran kenapa kakaknya menghubunginya.


"Kak Ed, ada apa kau mencariku?"


"Jacob adikku apa kau sedang sibuk?" (part ini sebelum Edward pulang nemuin Amanda kena racun)


"Tidak."


"Baguslah karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Wow, apa yang ingin kau bicarakan?" Jacob tambah penasaran.


Edward diam saja disebrang sana sedangkan Jacob tambah penasaran, hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh kakaknya?


"Kak Ed kau tidak tidur bukan?"


"Tidak."


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan? Jangan membuatku mati penasaran!"


Edward terkekeh dari sebrang sana, dia ingin meminta saran pada adiknya.


"Apa?"


"Hahahahhaha!!" Jacob tertawa terbahak-bahak, apa-apaan permintaan kakaknya itu?


Jacob tidak bisa menghentikan tawanya sampai Alice masuk kedalam dapurnya untuk melihat apa yang terjadi, Jacob tampak berbicara dengan seseorang sambil tertawa terbahak-bahak bahkan pria itu sedang memegangi perutnya.


"Hei, bisa kau hentikan tawamu?" Pinta Edward dari sebrang sana.


"Oke baiklah maaf."


Jacob menghentikan tawanya tapi tidak lama kemudian dia kembali tertawa terbahak-bahak sampai Alice melotot kearahnya.


Entah dengan siapa Jacob berbicara tapi dia segera pergi masuk kedalam kamarnya.


"Jacob!" Edward menekan perkataannya.


"Oke baiklah, old man. Aku akan serius sekarang." katanya disela-sela tawanya.


"Jadi kau ingin menyatakan perasaanmu begitu?"


"Ya."


"Dan kau tidak bisa?"


"Seperti yang kau tahu!"


"Kak Ed, pantas saja sampai sekarang kau belum juga menikah, ternyata kau benar-benar membosankan."


"Aku tahu, jadi bisa kau ajari aku?"


"Kak Ed, untuk pria sepertimu tidak perlu banyak basa basi, cukup kau beri dia dua pilihan. Jadi pacarmu atau langsung jadi istrimu."

__ADS_1


"Begitu?" Edward tampak memikirkan perkataan adiknya.


"Tentu saja, kau pria kaku sebaiknya langsung saja. Kalau bisa langsung kau jadikan saja wanita yang kau sukai menjadi istrimu."


"Jika dia tidak yakin barulah kau katakan isi hatimu." saran Jacob lagi.


"Baiklah, kalau begitu siap-siap kalah adikku."


"Wah kak Ed, kau tidak perlu kawatir karena aku sudah menyiapkan hadiah yang kau inginkan."


"Wah bagus, jadi tunggulah karena sebentar lagi aku akan menikah dengannya."


"Oke baiklah, kau curang. Kau meminta saran dariku supaya kau menang dariku."


Edward terkekeh disebrang sana.


"Baiklah adikku, aku harus segera pergi."


"Oke, jika kau tidak mau kalah dariku jadi jangan berlama-lama, nanti kau bertambah tua."


Setelah mematikan panggilan itu Jacob segera keluar dari dapur sambil tertawa, rasanya dia tidak tahan untuk tidak menertawakan kakaknya.


Sepertinya taruhan yang dia buat membuat kakaknya mau menikah juga. Sepertinya ayah dan ibunya sebentar lagi akan punya menantu.


Jacob masuk kedalam kamar Alice, disana tampak Alice sedang mengerjakan pekerjaan yang dia bawa pulang diatas ranjang.


Jacob langsung naik keatas ranjang dan menerkam kekasihnya.


"Jacob mau apa kau?" Alice mendorong tubuh Jacob yang sedang memeluknya dengan erat.


"Tentu saja ingin bermanja deganmu sayang."


"Dasar." Alice menciumi wajah Jacob dengan lembut.


"Dengan siapa kau berbicara barusan?"


"Kenapa? Apa kau cemburu?"


"Tidak!"


"Alice sayang, I love you."


"Aku tahu."


"Cih, jawabanmu selalu itu dasar menyebalkan!" kata Jacob kesal.


Alice hanya terkekeh, Memangnya jawaban apa yang Jacob inginkan?


Alice segera melepaskan diri dari pelukan Jacob dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.


"Alice sayang." Jacob duduk disisi Alice, dia juga mengambil dokument yang ada untuk membantu kekasihnya.


"Hmm?"


"Kau mau kemana hari ini?"


"Aku ingin mengajak Marry pergi membeli pernak pernik natal dan mengajak adikmu."


"Baiklah, tapi kau harus berhati-hati diluar sana."


"Jangan kawatir Jacob." Alice mulai merebahkan diri dan meletakkan kepalanya dipaha Jacob.


Jacob mengelus kepala Alice dengan lembut sedangkan matanya sibuk melihat dokumen yang dipegangnya.


Alice juga melihat dokumennya tapi tidak lama kemudian Alice malah tertidur karena belaian tangan Jacob, tentu saja karena dia pusing melihat tulisan yang begitu banyak.


"Alice."


Jacob melihat Wajah kekasihnya yang ditutupi oleh dokumen, saat dia menyingkirkan dokumen dari wajah Alice, tampak gadis itu sudah tertidur.

__ADS_1


Jacob tersenyum melihatnya, dia kembali tenggelam dalam pekerjaannya yang pasti pekerjaan Alice diselesaikan oleh kekasihnya dan setelah itu Jacob harus pergi keperusahaannya untuk menemui uncle Billly, tentu saja untuk meminta pria itu mencari sebuah informasi.


__ADS_2