Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Keisengan yang gagal


__ADS_3

Saat itu diruangan rapat, tidak ada yang berani membuka suaranya bahkan membuat suara sedikit saja mereka tidak berani.


Bagaimana tidak, bos mereka hanya melotot pada mereka tanpa membuka suaranya sedari tadi, bahkan rapat yang seharusnya sejak tadi sudah dimulai jadi tertunda.


Walau begitu, semua yang ada disana hanya bisa menunduk. Suasana yang tegang membuat para karyawan yang ada disana menjadi tegang juga.


Mood Jacob benar-benar hilang saat kedatangan Becca bahkan sampai saat ini, pria itu malas memulai rapat dan hanya melotot pada karyawannya yang ada disana.


Setengah jam telah berlalu, ruangan sunyi itu semakin mencekam. Para karyawan yang tidak tahu apa-apa malah kena imbasnya.


Pada saat itu Andrew membuka pintu ruangan rapat itu, mendekati Jacob dan membisikkan sesuatu ditelinga bosnya.


Hanya pria itu yang berani melakukan hal itu disaat suasana hati Jacob sedang buruk.


"Master, aku sudah melakukan perintahmu dan menyiapkan semuanya."


Saat itu juga air muka Jacob langsung berubah, senyum kembali menghiasi wajahnya.


Jacob mengetukkan jarinya diatas meja, senyum semakin mengembang saat ide gilanya kembali diotaknya.


"Baiklah, mari kita mulai rapat."


Para karyawan bernafas lega karena mereka sudah tidak tahan dengan suasana disana, apalagi harus menahan haus dan rasa ingin kebelakang.


Mereka benar-benar tidak berani melakukan apapun jika tidak mau membuat pria itu marah dan pada akhirnya akan dipecat.


Setelah selesai rapat, Jacob segera keluar dari ruangan itu. Dia juga memerintahkan Andrew untuk menyiapkan mobil karena dia sudah tidak sabar menemui Alice.


Selama diperjalanan senyum Jacob terus mengembang, dia sudah tidak sabar untuk tiba dirumah Alice, seharusnya dia naik helikopter saja supaya cepat sampai.


Saat sudah tiba Jacob segera keluar dari mobilnya dan masuk kerumah Alice, tidak menunggu lagi pria itu langsung masuk kedalam kamar Alice, dia tahu gadis itu pasti ada disana.


Benar saja tampak Alice sedang membolak balikan badannya diatas ranjang dengan gelisah.


Saat melihat Jacob masuk kedalam kamarnya, Alice segera bangun dari tidurnya dan menghampiri pria itu.


"Jacob, bagaimana ini?" terdengar nada kawatir dari suaranya.


"Apanya?" Jacob malah bertanya dengan santai.


"Aku tidak mungkin hamilkan?" Alice tambah kawatir.


"Memangnya kenapa? Jika kau hamil aku akan bertanggung jawab."


"Jangan asal bicara, aku tidak mau menikah denganmu!"


Jacob terkekeh dan memeluk Alice.


"Sayang, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau masih merasa mual?"


Jacob bertanya demikian karena dia kawatir Alice benar-benar keracunan bubur yang dibuatnya.


"Tentu saja, perutku juga sakit bahkan kepalaku masih terasa pusing."


"Kalau begitu kau harus kembali tidur diatas ranjang." Jacob mengangkat tubuh Alice dan membawanya keatas ranjang.

__ADS_1


Jacob meletakkan plastik obat yang dibelinya diatas ranjang dan mulai mengeluarkan obat dari sana.


"Minum ini sayang, supaya perutmu membaik dan mualmu hilang." sambil memberikan obat itu pada Alice.


Alice mengambilnya dan meminum obat itu dengan cepat.


"Apa obat ini bisa mengurangi rasa mual dimasa kehamilan?"


Senyum Jacob langsung mengembang, Alice benar-benar membuatnya gemas!


"Maybe." jawabnya asal.


Sepertinya permainannya berjalan seperti yang dia harapkan tanpa bersusah payah.


"Jacob,vapa kau membeli?" Alice ragu mengatakkannya.


"Tentu saja sayang." senyum Jacob semakin mengembang.


Jacob memberikan testpack pada Alice, dengan ragu Alice mengambilnya dan melihat cara penggunaannya.


Alice bangkit berdiri dan berjalan kearah kamar mandi dan Jacob mengikutinya.


"Jangan mengikutiku!"


"Sayang aku hanya ingin melihat saja."


Alice melirik kearahnya dan langsung masuk kedalam kamar mandi sedangkan Jacob berdiri didepan pintu kamar mandi itu.


Tidak lama kemudian Alice keluar dari kamar mandi sambil membawa hasil tes ditangannya.


"Kau menipuku!" Alice memberikan testpack itu pada Jacob.


Alice hendak berjalan kearah ranjang dan pada saat itu Jacob menukar testpack itu dengan yang sudah dia siapkan.


Ya, kembali lagi saat Jacob memerintahkan Andrew membeli obat dan test pack.


Sesuai perintah bosnya, Andrew berdiri disebuah apotek sambil menunggu seseorang membeli testpack disana, dia akan berpura-pura meminta bantuan pada wanita yang membeli taspack hari itu.


Cukup lama pria itu berdiri disana dan pada akhirnya seorang wanita mengambil testpack yang terpajang dirak apotek itu.


Tidak Andrew sia-siakan, pria itu segera mendekati wanita yang sedang mengambil testpack disana.


Sungguh beruntung ternyata wanita itu membeli barang itu untuk mengecek kehamilannya, tidak disia-siakan oleh Andrew pria itu berpura-pura hendak membeli barang itu untuk istrinya dirumah, padahal dia tidak punya istri apalagi pacar. Semua itu dia lakukan karena ide gila bosnya.


Andrew meminta bantuan wanita itu, membeli beberapa testpasck dan meminta wanita itu menggunakannya dikamar mandi yang ada diapotek itu, dia berbohong jika dia ingin tahu bagaimana cara memakainya dan tentu saja memberi wanita itu imbalan sehingga wanita itu tidak keberatan.


Jadilah testpack palsu itu ada pada Jacob, dia tidak akan kehabisan akal untuk menjahili Alice walau ujung-ujungnya akan ketahuan juga.


Jacob kembali mendekati Alice dan menunjukan testpack yang telah ditukarnya.


"Look honey, dua garis merah." sambil memberikan testpack palsu itu.


Alice mengambilnya dan wajahnya langsung pucat.


"Tidak mungkin!" gumamnya.

__ADS_1


"Jadi?"


Jacob memeluk Alice dan dan berbisik ditelinganya.


"Bagaimana jika kita menyuburkan anak kita malam ini." godanya.


"Apa? Tidak mau!"


Alice membantah tapi Jacob sudah menggendongnya dan membawanya menuju ranjang.


"Jacob."


"Sttttss....!" Jacob membaringkan Alice diatas ranjang dan segera me**mat bibir Alice.


Alice berusaha memberontak dan pada saat itu kakinya menendang plastik obat yang Jacob letakkan diatas ranjang.


"Jacob, lepas! Obatnya jatuh." Alice berusaha mendorong tubuh Jacob.


"Biarkan saja sayang."


"Jacob!" Alice mendorong sekuat tenaga.


"Ck!" Jacob berdecak kesal dan melepaskan Alice.


Alice segera memunguti plastik obat itu dan mengangkatnya.


"Apa yang kau beli, kenapa banyak sekali?" Alice mengangkat plastik itu dan?


"Brrukkkk!" isinya tumpah keluar dan jatuh diatas lantai.


"Itu hanya obat sayang." Jacob hendak mendekati Alice.


"Jacob!!" Alice menggeram marah saat melihat isi plastik yang tumpah diatas lantai.


"What?" Jacob sangat penasaran dan melihat isi plastik itu karena dia juga tidak begitu tahu apa isinya.


Matanya terbelalak kaget saat melihat isi plastik yang ternyata isinya tidak hanya obat-obatan tapi disana juga terdapat beberapa testpack bergaris merah dan semuanya bergaris dua.


Alice memalingkan wajahnya, tersenyum dengan manis dan menekan kepalan tangannya hingga berbunyi didepan dadanya.


"Jacob!"


"Aku bisa jelaskan sayang." Jacob mulai memundurkan tubuhnya.


"Dasar kau penipu!!" Alice langsung melompat keatas tubuh Jacob dan memelintir lehernya.


"Owh Alice sayang, akan aku jelaskan!"


"Aku akan mematahkan lehermu!!" geram Alice kesal.


"Alice, maafkan aku, aku akan jelaskan."


Alice tidak perduli, gadis itu menjepit leher Jacob dan duduk diatas punggungnya.


Jacob hanya berteriak, yah sebenarnya dia bisa melawan tapi dia hanya pura-pura saja. Tapi Alice benar-benar marah, gadis itu masih menjepit lehernya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Jacob hanya bisa menerima kemarahan gadis itu dan memaki dalam hati:


"Andrew, stupid! Awas kau!!" makinya.


__ADS_2