
Pekerjaan menumpuk diatas meja membuat kepala Alice semakin berdenyut tidak karuan, dia benar-benar tidak mengerti kenapa belakangan ini dia selalu merasakan sakit kepala.
Bahkan terkadang rasanya dia ingin pingsan apalagi saat dia tiba-tiba bangkit berdiri, penglihatannya langsung buram dan itu sudah terjadi untuk kesekian kalinya.
Karena dia menganggap itu hanya sakit kepala biasa dan tidak ingin membuat suaminya khawatir jadi dia diam saja.
Tapi hari ini kepalanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, bukan itu saja dia juga sering mual akhir-akhir ini dan tidak berselera makan.
Alice merebahkan dirinya diatas sofa, mungkin dengan beristirahat keadaannya akan lebih baik, mungkin sebaiknya dia pulang setelah ini.
Selama dia sedang memejamkan matanya dia langsung teringat sesuatu, dulu dia pernah membaca gejala seperti ini sewaktu Jacob menipunya. Apakah mungkin?
Alice mulai menghitung dan mengingat-ingat sesuatu dan pada saat itu senyum langsung mengembang diwajahnya.
Alice mengusap perutnya dan jika benar seperti yang dia perkirakan maka ini akan jadi kejutan bagus untuk suaminya nanti.
Walaupun kepalanya masih terasa sakit tapi dia berusaha berjalan kearah mejanya, dia ingin meminta Jane melakukan sesuatu untuknya.
Alice mengangkat telephone diatas meja untuk menghubungi Jane tapi tidak lama kemudian Jane masuk kedalam ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Alice apakah benar?" Jane bertanya dengan penuh semangat.
"Tidak....tidak..aku harus memastikannya terlebih dahulu."
"Oh ya Tuhan, tunggulah aku akan membelikan apa yang kau inginkan."
Jane keluar dari ruangan itu dengan penuh semangat, dia pergi untuk membeli benda yang diinginkan oleh Alice,semoga saja ini kabar gembira.
Alice menunggu dengan gembira, jika seperti yang dia harapkan maka dia akan membuat rencana memberikan kejutan untuk suami tercintanya nanti.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya Jane kembali dengan testpack yang Alice inginkan, Jane memberikan benda itu dengan cepat dan meminta Alice langsung menggunakannya.
Alice juga sudah sangat penasaran jadi dia tidak membuang-buang waktu dan masuk kedalam kamar mandi, tidak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan wajah muram.
"Bagaimana?" Jane tampak sudah tidak sabar ingin tahu hasilnya.
Alice hanya menggelang, pada saat melihatnya wajah Jane juga berubah muram.
"Sayang sekali, tapi kalian baru menikah dan kalian masih punya banyak waktu untuk berusaha." hiburnya. Ternyata mereka salah tapi tidak lama kemudian senyum mengembang diwajah Alice.
Alice melompat kedalam pelukan Jane dan bekata:
"Jane, tidak salah lagi aku hamil."ujarnya dengan gembira.
"Apa? Apa?" Jane jadi sedikit linglung, bukannya tadi?
"Lihat ini?" Alice melepaskan pelukannya dan memberikan testpack yang ada ditangannya pada Jane.
Jane melihatnya dan pada saat itu senyum menghiasi wajahnya.
"Oh, Alice selamat untukmu dan Mr Smith."
"Thank you Jane, sekarang aku harus pulang. Aku ingin menyiapkan kejutan untuk suamiku."
"Baiklah, suamimu pasti senang mendengarnya."
"Tentu." Alice berjalan kearah mejanya kembali untuk mengambil tasnya.
Dia ingin segera pulang untuk menyiapkan makan malam, tentu untuk memberikan kejutan pada suaminya nanti.
Seorang supir pribadi membukakan pintu untuk Alice saat melihat kedatangannya, itu supir yang disiapkan oleh suaminya.
Walaupun kepalanya masih terasa sakit tapi itu tidak akan menghalangi dirinya untuk menyiapkan sebuah kejutan kecil yang pasti akan membuat suaminya bahagia.
__ADS_1
Begitu tiba dirumahnya Alice membersihkan dirinya terlebih dahulu barulah setelah itu dia langsung menyibukkan diri didalam dapur, Marry sedang tidak ada dirumah karena dibawa oleh ibu mertuanya.
cukup membuat makanan yang mudah saja untuk makan malam mereka karena selama membuat makanan Alice sudah beberapa kali lari kedalam kamar mandi dan kepalanya semakin pusing.
Oh sepertinya ini bukan hal yang bagus dan sepertinya dia akan gagal karena dia sudah lelah mondar mandir antara kamar mandi dan dapur.
"Nyonya, apa yang ingin anda buat?" Ben menghampiri Alice karena sedari tadi dia melihat Alice tidak menyelesaikan apapun yang akan dibuatnya.
"Oh Ben, aku hanya ingin membuat makan malam, bisa kau membantuku?"
"Tentu nyonya muda."
"Terima kasih, aku ingin makan malam romantis, kau tahu?"
"Serahkan padaku." jawab Ben dengan penuh percaya diri.
Ben menjentikkan jaringan sebagai tanda supaya para pelayan berkumpul, Ben mulai memerintahkan para pelayan disana untuk mengambil kendali. Alice hanya tersenyum melihatnya, padahal dia ingin membuat sendiri makanannya tapi ya sudahlah.
Dia berjalan masuk kedalam kamarnya, lebih baik dia beristirahat disana dan memberi tahu suaminya jika dia sudah kembali.
Setelah mengirimkan pesan untuk suaminya Alice naik keatas ranjang, lebih baik dia tidur supaya saat Jacob kembali keadaannya sudah baik-baik saja.
Saat menerima pesan dari istrinya Jacob sedang meeting saat itu, dia ingin pulang untuk melihat keadaan istrinya tapi meeting belum selesai.
Jadi dia harus bersabar dan pada saat sudah selesai waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, tanpa menunggu lagi dia langsung pulang, rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istri tercintanya.
Pada saat dia tiba Alice sedang berada didalam kamar, dia baru selesai mandi dan sedang memakai bajunya.
Tentu dia sudah menyiapkan hadiah kecil yang akan dia berikan untuk suaminya nanti, dia jadi tidak sabar melihat Ekspresi suaminya.
"My honey." Jacob memelukinya dari belakang.
"Jac, akhirnya kau pulang."
"Sorry honey, aku ada meeting penting."
"Oh ya, apa itu?"
Alice memutar tubuhnya dan tersenyum, dia juga mengusap wajah tampan suaminya dengan lembut.
"Ayolah, kau pasti akan senang."
"Oh ya, aku jadi tidak sabar."
"Jadi, segeralah mandi."
"Siap sayang, tapi?"
Jacob mengusap pipi Alice, dia heran melihat wajah istrinya yang tampak pucat. Apa Alice sakit?
"Honey, apa kau baik-baik saja?"
"Yes, aku baik-baik saja Jac, ini gejala biasa okey."
"Apa aku terlalu berlebihan menyengatmu?" godanya.
"Ck, kenapa pikiranmu selalu kearah sana?"
Jacob menciumi pipi istrinya sambil terkekeh, dia jadi tidak sabar melihat hadiah yang disiapkan oleh istrinya. Apa nanti Alice ingin menggodanya dengan pakaian seksi? Dia sangat ingin melihatnya.
"Oke, aku akan mandi jadi persiapkan hadiahmu honey."
"Itu bagus, aku tunggu diruang makan."
__ADS_1
"Okay."
Sebelum pergi mandi Jacob mencium bibir istrinya sejenak, setelah itu dia masuk kedalam mandi sedangkan Alice keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan.
Disana hidangan sudah tersedia dan sebuah lilin juga sebotol anggur sudah tersedia diatas meja, Ben benar-benar menyiapkan makan malam dengan suasan romantis seperti yang dia pinta.
Itu agak berlebihan tapi tidak apa-apa dia suka, jadi dia menunggu suaminya disana. Setelah jacob selesai mandi dia langsung mencari istrinya, senyum mengembang diwajahnya saat melihat Alice sedang duduk dimeja makan menunggunya.
"Wow honey, apa kau yang menyiapkan semua ini?"
"Tadinya aku ingin menyiapkan sendiri tapi kepala dan perutku tidak bisa diajak kompromi, jadi aku meminta Ben menyiapkannya."
"Honey, aku serius apa kau baik-baik saja?" Jacob semakin khawatir mendengar ucapan istrinya.
Alice bangkit berdiri dan menghampiri suaminya dengan sebuah senyuman mengembang diwajahnya. Alice menarik tangan suaminya dan membawanya mendekati meja makan, dia juga menarik kursi untuk suaminya.
"Dont worry Jac, ayo kita makan malam setelah itu aku akan memberikan hadiahnya untukmu."
"Wah, aku sudah tidak sabar."
Mereka berdua memulai makan malam romantis mereka berdua, selama makan Jacob memperhatikan istrinya dengan curiga. Alice tidak terlihat memakan makanannya dengan benar bahkan Alice menolak Anggur yang ada. Apa Alice sedang sakit maag?
Setelah selesai makan Alice langsung bangkit berdiri dan pada saat itu sakit kepalanya kumat, Alice memegangi kepalanya dan ujung meja, rasanya dia mau pingsan.
Saat melihat keadaan istrinya Jacob segera menghampiri istrinya dan menggendongnya, ini tidak boleh dibiarkan dan dia akan memanggil dokter pribadinya.
"My honey, jika kau tidak sehat jangan memaksakan diri!"
"Sory Jac, padahal aku hanya ingin memberimu sedikit kejutan."
"Sudahlah, aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu."
"Tidak perlu Jac."
"Kenapa?"
Jacob menghentikan langkahnya dan melihat wajah istrinya yang tampak begitu pucat.
"Jac." Alice mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya.
"Aku hamil."
Jacob terbelalak kaget tapi pada saat itu senyumnya mengembang diwajahnya.
"Are you serious my honey?"
"Ya, aku sudah mengeceknya dengan testpack."
"Oh my honey."
Jacob memutar tubuh istrinya, dia begitu senang mendengarnya dan ini hadiah yang paling indah yang pernah dia terima.
"Jac!!" Alice memeluki leher suaminya dengan erat, dia jadi mual dan kepalanya tambah pusing.
Jacob begitu senang sampai dia lupa dengan keadaan istrinya, dia terus memutar tubuh istrinya sampai dia sendiri jadi pusing.
Jacob mulai berhenti kalau dia teruskan bisa-bisa mereka berdua jatuh diatas lantai.
"Oh my honey aku sangat senang mendengarnya."
Jacob mengusap punggung istrinya tapi istrinya hanya diam saja tidak menjawabnya.
"Honey." Jacob sangat heran.
__ADS_1
"Hei!" dia menurunkan tubuh istrinya dari gendongannya dan melihat istrinya yang ternyata sudah pingsan karena ulahnya.
Waduh, sepertinya dia terlalu bersemangat!