
Salah satu kota yang ada di Amerika serikat, jarak kota itu lumayan jauh dari California dan dikota itulah terdapat banyak transaksi gelap.
Disana terdapat banyak transaksi barang-barang ilegal seperti narkotika, senjata seludupan, organ manusia dan satu lagi, gadis muda yang siap dibawa kerumah pelacuran.
Disalah satu gedung ditempat inilah Marry berada, dia dibawa oleh pelayan pribadi Lucas dan diperintahkan oleh Lucas untuk menjual Marry dengan harga tinggi.
Gadis sekecil Marry sangat berharga, bisa dihitung jika ada yang membutuhkan organ? Harga organ didalam tubuhnya sangat fantastis tapi jika tidak? Gadis seperti Marry juga sangat laku dijual untuk dijadikan pel*cur.
Saat itu pelelanganpun sudah dimulai, barang-barang bagus mulai dikeluarkan sedangkan Marry masih menunggu giliran. Kondisinya sedang terikat sedangkan mulutnya ditutupi dengan lakban, tidak hanya itu kepalanya ditutup dengan sebuah kain hitam.
Marry hanya bisa menangis, dia tidak tahu dia dimana dan dia hanya bisa bergumam tidak jelas memanggil ibunya, dia berharap ibunya segera datang untuk menolong dirinya dari tempat yang menakutkan itu.
Pelelangan itu berjalan cukup lama karena tawar menawar antar pembeli yang ada dipelelangan itu, para pembeli yang berjumlah dua pulahan orang berlomba-lomba memberikan harga terbaik untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan.
Mereka tidak perduli dengan uang yang penting mereka mendapatkan barang yang mereka inginkan malam ini.
Berberapa jam telah berlalu barang-barang yang dilelang sudah mulai terjual, sekarang tinggal pelelangan yang terakhir,barang yang ini memang sengaja dilelang untuk bagian terakhir, yang akan dilelang adalah Marry.
Gadis itu memang sengaja disiapkan untuk bagian penutup dan siapa yang menawar gadis itu paling tinggi dialah yang dapat.
Saat Marry dibawa keluar semua mata tertuju padanya, gadis kecil yang sangat menggiurkan. Harga awal yang dibuka untuk menawar Marry adalah lima ratus ribu dolar.
Saat harga awal dibuka semua yang ada disana mulai meneriakkan harga dari satu juta dolar kedua juta dolar dan terus meninggi.
Sementara itu diluar sana, ditempat pelelangan itu Alice dan Marcos sudah bersiap didepan tempat itu dengan beberapa rekan Marcos yang masih aktif diagen FBI.
Walaupun lengan kirinya belum bisa digerakkan Alice akan tetap berusaha menyelamatkan Marry, setidaknya dia bisa menembak dengan tangan kanannya.
Saat dia mengatakan lokasi keberadaan Marry kepada Marcos, Marcos menghubungi rekannya dan meminta bantuan rekannya untuk memantau pasar gelap itu.
Setelah diselidiki oleh rekan Marcos benar saja disana akan diadakan pelelangan besar yang diadakan secara tertutup.
Alice berharap Lucas tidak menipunya karena Lucas mengatakan jika Marry akan dilelang dikota itu malam ini, hal inilah yang membuatnya tidak punya banyak waktu dan untungnya dia kembali kerumahnya walaupun sudah menjadi puing dan bertemu dengan Marcos.
Dia berharap Marry benar-benar ada disana kalau tidak dia tidak tahu harus kemana lagi mencarinya.
Marcos menggangguk kepada Alice memberikan kode sedangkan Alice membalas anggukan Marcos sebagai tanda jika dia sudah siap, dia segera mengangkat senjata api dihadapannya.
Beberapa orang sudah siap untuk mendobrak pintu besar yang terbuat dari kayu itu sedangkan senjata juga siap ditangan, Marcos menghitung sebagai aba-aba.
__ADS_1
"Treee...two..one..!" saat hitungan kesatu pintu kayu itu didobrak dan pada saat pintu itu terbuka Marcos dan Alice bersama yang lainnya masuk kedalam ruangan yang digunakan untuk mengadakan pelelangan dan mulai menembaki setiap orang yang ada disana.
"Dor...dor...dor.!!" terdengar suara tembakan yang saling bersahutan dari senjata api mereka.
Para pembeli hendak melarikan diri tapi naas bagi mereka yang sudah ditembak bahkan tidak ada yang luput dari tembakan.
"Wah, kau boleh juga bagaimana jika aku mengajarimu? Kau bisa jadi agen FBI hebat." tawar Marcos pada Alice.
"Maaf Uncle, ini aksi terakhirku dan aku pensiun dini." Alice masih menembaki orang yang berlarian dan melihat seorang gadis berada diatas panggung dalam kondisi terikat dan kepala ditutupi kain hitam.
"Marry?" tidak salah lagi, baju gadis itu sama dengan baju yang dikenakan oleh Marry terakhir kali.
Dirasa sudah aman, Alice segera berlari menghampiri panggung dimana gadis yang dia yakini Marry berada, dia segera naik keatas panggung dan membuka kain yang menutupi kepala Marry.
"Marry." dia langsung menangis melihat keadaan Marry yang tampak ketakutan dan menangis.
Dengan cepat Alice membuka lakban yang menutupi mulut Marry dan pada saat itu Marry berteriak dengan kencang dan menangis.
"Mommy!!"
"Marry.....maaf..maafkan aku." Alice memeluk Marry dengan erat, untung saja mereka tidak terlambat jika tidak? Mungkin Marry sudah berada dirumah pelacuran atau diambil organ tubuhnya.
"Jangan takut, sekarang sudah ada mommy, okay!"
Marry mengangguk dan pada saat itu Marcos mendekati mereka dan membuka ikatan yang mengikat tangan dan kaki Marry.
"Ayo kita pergi, tempat ini tidak aman." ajaknya.
Alice mengangguk dan menggandeng tangan Marry, mereka keluar dari tempat pelelangan itu dengan cepat.
Selama diperjalanan menuju kota Julian, Marry memeluk Alice dengan erat dan terus menangis.
"Mommy, kita mau pergi kemana?"
"Kerumah uncle Marcos."
"Mommy Marry tidak mau pulang kerumah, Marry tidak mau diculik lagi. Marry tidak mau tinggal disana lagi jadi Marry minta mommy bawa Marry pergi yang jauh" Marry mengangkat kepalanya menatap Alice dengan tatapan memohon.
Alice hanya bisa berusaha tersenyum, kemana? Dia bahkan tidak punya tujuan.
__ADS_1
"Mommy, kita tidak akan pulang lagi bukan? Mommy akan membawa Marry pergi yang jauh bukan?"
"Jangan khawatir, aku akan membawamu. Katakan kau ingin pergi kemana?"
"Nak Alice jika kau tidak punya tujuan bagaimana tinggal dirumah kakakku saja, disana tempatnya nyaman dan sangat pas untuk menghilangkan trauma Marry." tawar Marcos.
"Apa kami tidak merepotkan Uncle?"
"Tidak kau tenang saja, aku akan segera menghubungi kakakku. Dia pasti sangat senang menerimamu apalagi dia tidak punya suami dan anak."
Alice berpikir sejenak, mungkin bukan ide yang buruk.
"Apa kau mau Marry?"
"Marry mau mom, asal Marry tidak pulang kerumah lagi."
"Baiklah, maafkan aku karena semua kejadian yang kau alami gara-gara aku."Alice memeluki Marry dengan erat.
"Uncle bolehkah aku meminjam ponselmu nanti? Aku ingin menghubungi seseorang dan ini sangat penting." pintanya.
"Tentu saja." Marcos memberikan ponselnya kepada Alice.
Setelah mereka tiba dirumah Marcos, mereka disambut oleh istri dan anak Marcos dengan senyuman.
Marcos memberikan sebuah kamar untuk Alice dan Marry tempati dan pada saat Marry sudah tertidur, Alice segera mengambil ponsel yang diberikan Marcos padanya dan mulai menekan beberapa nomor dari sana.
Dia segera menghubungi nomor itu karena ada hal penting yang akan dia bicarakan, beberapa detik telah berlalu tapi panggilannya tidak dijawab.
Tidak mau menyerah Alice kembali mencoba, bagaimanapun dia harus berbicara dengan orang itu, tapi kenapa tidak dijawab?
Sudah lebih sepuluh kali dia mencoba dan dia sudah mulai putus asa, mungkin sekarang dia sudah dibenci dan dia akan menerima semua itu karena dia memang pantas dibenci.
"Baiklah untuk terakhir kali, jika kau tidak mau menjawab panggilan ini maka aku tidak bisa berbuat apa-apa." katanya sambil menangis.
Alice kembali menghubungi orang yang sangat ingin dia dengar suaranya, orang yang sangat ingin dia tahu keadaannya saat ini tapi begitu pangilan itu dijawab? Dia mendapat teriakan yang menakutkan.
"Hei bre**sek! Apa kau mau mati!!!"
Alice memejamkan matanya, bibirnya yang ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba menjadi kelu.
__ADS_1