Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Penguntit


__ADS_3

Saat itu Alice tampak sedang merenggangkan otot-otot tangannya setelah memeriksa dokument yang ada, sisa satu lagi sebaiknya segera dia kerjakan sampai selesai barulah dia pulang.


Dia kira dia akan cepat kembali tapi ternyata? Dia sudah berada disana sampai sore. Alice jadi tidak enak hati karena harus menitipkan Marry kepada Olivia.


Alice segera bangkit berdiri saat dia merasa pegal karena sudah terlalu lama duduk, dia berjalan kearah jendela dan melihat keluar sana.


Matahari sudah tampak hendak tenggelam sedangkan lampu-lampu kota California sudah terlihat dan mempercantik kota itu.


Saat itu Jane masuk kedalam ruangannya dengan dokument lainnya, saat melihat itu Alice langsung tampak stress.


"Ms Alice, ini sudah sore apa kau belum mau kembali?" tanya Jane padanya.


"Sebentar lagi Jane, aku ingin menyelesaikan yang satu itu." sambil menunjuk sebuah dokumen yang berada diatas meja.


"Baiklah, sebaiknya yang ini Ms Alice kerjakan besok." Jane meletakkan dokument yang dia bawa keatas meja.


"Ms Alice jika sudah selesai sebaiknya segera pulang dan aku sudah harus pulang karena Andrew memintaku pergi kerumah sakit."


"Untuk apa?"


"Entahlah, katanya ayahnya keracunan makanan."


"Malang sekali, segeralah kau pergi."


"Terima kasih Ms Alice." Jane segera keluar dari sana sedangkan Alice kembali duduk dikursinya kembali.


Dia kembali tenggelam dalam pekerjaannya sampai mengabaikan ponselnya yang terus berbunyi sedari tadi.


Saat pekerjaannya selesai, Alice merasa sangat puas, ternyata dia bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa dibantu oleh siapa-siapa.


Alice segera mengambil ponselnya yang kembali berbunyi, dengan cepat Alice menjawab panggilan yang masuk itu.


Sambil menjawab panggilan ponselnya Alice berjalan keluar dari ruangannya dan berjalan menuju lift.


"Alice sayang, kenapa kau tidak menjawab panggilanku sedari tadi?" terdengar suara Jacob yang marah disebrang sana.


"Maaf Jacob, aku sedang menyelesaikan pekerjaanku."


"Kau ya!"


"Maaf, aku akan segera pulang."


Jacob menarik nafasnya dengan berat, apa Alice tidak tahu ini sudah jam berapa?


"Alice sayang, kau lihat jammu. Apa kau pikir ini masih siang?"


Alice melirik jam dipergelangan tangannya, matanya terbelalak kaget saat melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.

__ADS_1


"Oh my God, aku terlalu serius bekerja sampai lupa waktu."


"Sekarang aku akan pergi menjemputmu." kata Jacob lagi dari sebrang sana.


"Tidak perlu Jacob, aku bisa pulang sendiri jadi sebaiknya kau jaga Marry."


"Sayang, Marry menginap dirumah ibuku jadi kau tidak perlu khawatir."


Alice memasuki lift yang telah terbuka dan menutup pintu lift itu dengan cepat, ini sudah malam, para karyawan sudah pulang semuanya dan dia tidak menyadari itu.


"Loh, kok bisa?" tanya Alice selama dia berada didalam lift.


"Olivia membawanya pulang jadi katakan padaku dimana kau berada, aku akan segera menjemputmu."


Alice merasa heran, kenapa Olivia tidak memberitahukan hal ini padanya? Jika dia tahu Olivia membawa Marry pulang kerumah orang tuanya mungkin dia akan langsung pulang karena dia tidak mau merepotkan ibu mereka.


"Aku masih dikantor Jacob."


"Kau gila ya!!" teriak Jacob kesal. Pantas saja Alice tidak pulang sedari tadi bahkan tidak juga menjawab telephonenya.


"Maaf, aku sedang banyak pekerjaan."


"Sudahlah, tunggu aku baik-baik disana. Ini sudah malam bahaya jika kau pulang sendirian."


"Jacob tidak perlu." Alice ingin mencegah kekasihnya tapi sambungan telephone itu sudah dimatikan oleh Jacob.


Alice memasukkan ponselnya kedalam tasnya, saat pintu lift telah terbuka dengan cepat Alice berjalan menuju lobi.


"Olá senhorita."


Saat mendengar panggilan itu Alice segera memalingkan wajahnya kearah datangnya suara, dia tidak kaget karena dia sudah tahu siapa itu.


Tapi yang membuatnya kesal kenapa Lucas bisa berada disana?


Lucas tersenyum pada Alice,dia sudah menunggu Alice sedari tadi. Dia menunggu di cafe yang ada didekat gedung itu, saat dia melihat Alice, dia segera keluar untuk mendekati Alice.


Sebenarnya dia ingin menemui Alice didalam sana tapi dia tahu, Alice pasti tidak mau menemuinya jadi dia menunggu diluar sana sampai Alice keluar dari tempat itu.


"Penguntit!!" kata Alice kesal sambil mengibaskan tangannya yang dipegang oleh Lucas.


Lucas terkekeh dan berdiri disamping Alice, sontak saja Alice langsung menjauh, jangan sampai pria itu menciuminya lagi.


"Hei bagaimana jika kita pergi makan?" tanya Lucas padanya.


"Tidak perlu terima kasih."


"Ayolah, aku traktir." ajak Lucas lagi.

__ADS_1


Alice diam saja tidak menjawabi Lucas, dia berharap Jacob cepat datang. Apa dia pulang naik taxi saja?


Alice hendak melangkah pergi tapi Lucas kembali memegangi tangannya.


"Ayo ikut denganku!"


"Hei lepaskan!!" Alice menahan kedua kakinya dan berusaha menarik tangannya dengan sekuat tenaga.


"Ayolah, jangan menyakiti dirimu sendiri." Lucas masih berusaha menarik tangan Alice.


"Hei aku sedang menunggu pacarku jadi bisa kau tidak menggangu aku?" Alice semakin kesal, apa dia pukul saja?


"Memangnya siapa pacarmu? Aku ingin lihat sehebat apa pacarmu?"


"Kau tidak akan bisa mengalahkannya karena pacarku malaikat maut!"


Saat mendengar itu Lucas tertawa terbahak-bahak, Alice Walker gadis yang sangat lucu dan jujur saja dia sudah tidak sabar untuk bermain dengan gadis itu.


"Kalau dia malaikat maut lalu aku adalah raja neraka." kata Lucas tidak mau kalah.


Alice sangat kesal, dia segera berdiri dengan tegak dan berusaha tersenyum manis kearah Lucas.


"Kalau begitu kembalilah kedalam neraka!"


Alice memutar tubuhnya dan tanpa Lucas duga Alice segera memutar kakinya hendak menendang Lucas tapi pada saat Lucas melihat itu, dia langsung melepaskan tangan Alice untuk menahan kaki Alice yang mengarah padanya.


"Wow nona manis, kau benar-benar hebat. Aku suka itu dan asal kau tahu saja, aku tidak akan bisa kau pukul untuk kedua kalinya."


"Jangan ganggu aku lagi!!" Alice segera berlari menjauhi Lucas tapi Lucas tidak menyerah, dia segera mengikuti Alice dari belakang.


Alice benar-benar kesal, dia bisa gila terlibat dengan Lucas. Tanpa pikir panjang lagi Alice mempercepat larinya tapi malang baginya, kaki Lucas lebih cepat.


"Wah, aku tidak menyangka kau mengajakku joging dimalam yang dingin ini." goda Lucas.


"Sialan kau!!" Alice menghentikan larinya dan berusaha mengatur nafasnya. Jika dia masih punya senjata sudah dia tembak Lucas sedari tadi


Coba saja dia masih jadi polisi, sudah dia tangkap Lucas dan masukkan kedalam penjara.


"Apa tidak mau lari lagi?" goda Lucas lagi.


Selama Alice mengatur nafasnya, matanya tak henti-hentinya mencari taxi yang lewat, tapi kenapa tidak ada?


Saat mobil dijalan sedang melaju dengan cepat, tanpa pikir panjang Alice segera berlari untuk menyebrangi jalan. Persetan dengan ditabrak, yang penting dia bisa melarikan diri dari Lucas.


"Hei itu bahaya!" Lucas berteriak saat melihat Alice menyebrangi jalanan dengan nekat.


Tapi Alice tidak perduli, dia terus berlari menyebrangi jalanan itu sampai beberapa mobil berhenti mendadak karena ulahnya, para pengendara membunyikan klakson mobil mereka dan memaki pada Alice.

__ADS_1


Saat sudah tiba disebrang jalan Alice segera berlari dikegelapan malam, Lucas hanya melihat kepergian Alice dengan senyum mengembang diwajahnya.


Lucas segera melangkah pergi, lagi pula dia masih punya banyak waktu untuk mendekati Alice Walker. Jika dia sudah mendapati Alice Walker dan sudah puas bermain-main dengannya maka pada saat itu, dia akan langsung melenyapkan Alice Walker dan rasanya dia sudah tidak sabar menantikan hari itu tiba.


__ADS_2