
"Ms Alice apa kau belum mau pulang?"
Jane masuk kedalam ruang itu karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Saat masuk Kedalam sana Jane sangat kaget karena Alice sibuk mengusap bibirnya dengan punggung tangannya sampai memerah.
Alice melakukan hal itu sejak Lucas keluar dari ruangannya, walaupun dia sudah mencuci mulutnya tapi perasan jijik itu masih ada. Setiap kali mengingat itu membuat Alice menyeka mulutnya terus menerus sampai tanpa dia sadari bibirnya menjadi merah dan lecet karena terkena gesekan punggung tangannya.
Alice menatap Jane dan masih menyeka bibirnya yang mulai terasa perih, tapi walau begitu dia masih saja tidak menghentikan tangannya.
"Ms Alice ada apa dengan mulutnya?" Jane tampak begitu penasaran.
Alice menghentikan tangannya, entah kenapa dia selalu menyeka bibirnya.
"Tidak apa-apa Jane. Mulai sekarang jangan biarkan pria itu masuk kemari karena aku tidak mau bekerja sama dengannya."
Alice tampak kesal saat mengatakan itu apalagi saat mengingat ciuman itu.
"Baik Ms, tapi bibirmu?"
"Kenapa?"
"Bibirmu tampak merah dan bengkak."
"Benarkah?"
Jane menjawab dengan sebuah anggukan.
Alice segera bangkit berdiri dan berjalan kearah kamar mandi yang ada diruanganya, Alice melihat bibirnya dari cermin kamar mandi, benar saja bibirnya tampak sedikit bengkak dan lecet.
Pantas saja terasa perih ternyata bibirnya sudah lecet, seharusnya dia tidak menggosok bibirnya tapi dia memang sangat jijik karena dicium oleh pria aneh itu.
Alice keluar dari kamar mandi dan tampak Jane masih menunggunya disana.
"Jadi apa Ms Alice mau pulang denganku?"
"Tidak perlu Jane, terima kasih. Tapi bisa kau antar aku ketoko obat? Aku ingin membeli beberapa obat disana."
"Baiklah Ms, ayo."
Alice menyambar tasnya dan keluar dari ruangannya, pekerjaannya masih menumpuk tapi besok akan dia lanjutkan lagi.
Jane mengantar Alice kesebuah toko obat, setelah itu Jane pulang kerumahnya meninggalkan Alice seorang diri disana.
Alice membeli beberapa obat untuk bibirnya dan sebuah masker, gadis itu keluar dari toko obat itu dengan pikiran bimbang.
Bagaimana jika sampai Jacob tahu? Apa dia perlu mengatakan hal ini? Tapi dia tidak harus laporan bukan hanya karena sebuah ciuman. Tapi entah kenapa dia jadi merasa bersalah terhadap pria itu.
Seharusnya dia tidak mengusap bibirnya sampai bengkak, bagaimana jika Jacob mau menciuminya nanti?
Pria itu pasti akan curiga dan menanyakan hal itu dan dia merasa tidak bisa menghindar dari pertanyaan pria itu.
Selama berjalan Alice hanya menunduk melihati jalanan yang dilaluinya, saat Alice mendongak sebuah tokoh aneh bin ajaib tertangkap oleh matanya.
Alice melangkah mendekati toko itu,saat dia berdiri didepan toko itu semua mata yang ada disana tertuju padanya. Alice menelan ludahnya dengan kasar tapi dengan penuh keberanian Alice masuk kedalam toko itu dan tidak lama kemudian gadis itu keluar dari toko itu sambil membawa sebuah kotak ditangannya.
Karena malu Alice segera menyetop taxi yang lewat, Alice segera pulang kerumahnya sedangakan sebuah masker menutupi mulutnya.
Saat tiba dirumahnya Alice masuk kedalam rumahnya dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Dia tahu Jacob pasti ada disana dan dia belum siap untuk bertemu dengan pria itu karena merasa bersalah.
Alice hendak masuk kedalam kamar dan pada saat itu panggilan Jacob menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Alice sayang, kenapa kau masuk kedalam rumahmu sendiri seperti seorang pencuri?"
Alice tidak berani memalingkan wajahnya untuk melihat kearah Jacob, dia benar-benar merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, aku takut mengganggu Marry." katanya beralasan.
"Alasan macam apa itu? Marry sedang menonton televisi dikamarnya seperti biasa dan kau bilang tidak ingin mengganggunya?"
Jacob mendekati Alice dan memeluk gadis itu dari belakang? Kenapa Alice tampak aneh bahkan gadis itu tidak berani melihatnya.
"Alice sayang ada apa denganmu?" Jacob melihat Alice yang tampak menunduk dengan sebuah masker yang menutupi mulutnya.
"Tidak ada." Alice masih tidak berani menatap Jacob.
"Hei kenapa kau pakai masker?" Jacob melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Alice agar menghadap kearahnya tapi gadis itu tetap menunduk.
"Alice sayang, kau benar-benar aneh ada apa denganmu?"
"Maaf Jacob, aku?" Alice ragu mengatakannya.
"Ada apa?katakan padaku!apa terjadi sesuatu diperusahaan?"
Alice menggeleng dan masih menunduk.
"Lalu?"
"Aku?"
"Hmm?" Jacob memeluk Alice dan membelai rambutnya.
"Tadi aku?" Alice menarik nafasnya.
Saat mendengar itu rahang Jacob langsung mengeras, matanya melotot karena amarah.
Jacob langsung mendorong tubuh Alice dan memegangi bahunya sedangkan tangan satunya langsung membuka masker yang dipakai oleh Alice.
Matanya memancarkan api kemarahan saat melihat lecet dibibir kekasihnya itu, siapa yang telah berani menyentuh miliknya? Jika dia tahu maka tidak akan dia lepaskan.
"Katakan padaku Alice, siapa yang menciummu dan mengapa kau bisa dicium begitu saja?" tanyanya dengan penuh emosi.
"Aku mana tahu Jacob jika aku akan dicium, pria itu menciumku tiba-tiba dan memelukku dengan erat hingga aku tidak bisa bergerak."
"kenapa? Bukankah kau jago bela diri?" Jacob mengcengkram kedua bahu Alice dengan kencang dan menatap matanya dengan tajam.
"Apa kau pikir aku bisa melepaskan diri dari tenaga seorang lelaki? Jika kau tidak percaya maka kau peluk aku sekarang dengan erat, aku pasti tidak bisa melepaskan diri dari cengkramanmu apalagi pria itu memelukku dengan tiba-tiba." jawab Alice pula, dia sudah merasa bersalah dan sekarang dia tambah merasa bersalah.
"Oke baiklah, lalu apa gunanya kedua kakimu itu? Kenapa tidak kau tendang saja seperti yang pernah kau lakukan terhadapku?"
Alice diam saja, dia juga tidak kepikiran.
"Maaf Jacob, maaf." Alice mulai menangis.
Jacob menarik nafasnya dengan berat untuk menenangkan emosinya.
"Sekarang katakan padaku siapa pria itu? Akan aku patahkan lehernya!" katanya marah.
"Aku tidak tahu Jacob, aku baru bertemu dengannya dua kali."
"Baru dua kali tapi dia berani menciummu sampai bibirmu seperti ini?" Jacob mengangkat dagu Alice untuk melihat bibir gadis itu yang tampak lecet dan memerah.
"Tidak ini akibat perbuatanku karena aku merasa jijik dengan ciuman itu."
__ADS_1
"Alice sayang, katakan padaku dengan jelas siapa pria itu?" Jacob berusaha menahan emosinya.
"Aku tidak tahu, tapi pria itu menyebut namanya Lucas."
Rahang Jacob kembali mengeras, Lucas? Lucas yang mana? Entah kenapa dia jadi mengingat satu nama.
Jangan bilang pria yang dimaksud oleh Alice adalah Lucas Marcelo? Apa pria itu sudah kembali dari Brazil?
"Alice apa maksudmu namanya Lucas Marcelo?" Jacob masih menatap Alice dengam tajam.
"Aku tidak tahu Jacob, pria itu hanya menyebut namanya Lucas."
"Sialan!!!" maki Jacob kesal.
Lucas itu banyak, tapi jika Lucas Macelo telah kembali untuk apa pria itu mendekti Alice? Sepertinya dia harus menyelidiki hal ini lebih lanjut.
Pastinya jika pria itu telah kembali, dia yakin Lucas akan menemuinya sebentar lagi untuk menanyakan keberadaan Becca padanya.
Jacob kembali memeluk Alice dan mengusap rambut gadis itu.
"Bodoh kenapa kau melukai dirimu sendiri? Lihat bibirmu ini."
Jacob melepaskan pelukannya dan menatap bibir kekasihnya itu yang dipenuhi dengan luka.
"Maaf Jacob."
"Sudahlah, tapi mulai sekarang aku akan memerintahkan anak buahku untuk menjagamu."
Alice hanya mengangguk,mungkin itu lebih baik dari pada dicium paksa lagi oleh pria aneh itu.
Jacob hendak menunduk dan menciumi bibir Alice tapi langsung Alice tahan.
"Jacob bibirku sakit."
"Sialan!!" umpat Jacob lagi.
"Lihatlah karena kobodohanmu ini, aku jadi tidak bisa menciummu!"
"Maaf, tapi aku sudah membeli ini sebagai gantinya."
Alice membuka kotak yang dibawanya sedari tadi dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Untuk sementara kau bertahan saja menggunakan ini." Alice menyodorkan sebuah boneka kearah Jacob dan memalingkan wajahnya yang merona.
Mata Jacob melotot,apa-apaan boneka karet berbentuk wanita seksi dengan bibir super tebal itu? Itukan boneka s*ks!
"Alice sayang, dari mana kau dapatkan boneka seperti ini?" Jacob menyambar boneka itu dari tangan Alice.
"Itu aku beli ditoko aneh yang aku lihat, aku tahu kau tidak akan bisa menciumku jadi bertahanlah pakai itu."
"Apa? Kau kira aku maniak!" Jacob kembali kesal.
"Maaf." Alice memasang wajah bersalah.
"Kau ini ya!"
Jacob menarik nafasnya frustasi, sepertinya dia tidak bisa menciumi bibir Alice untuk berhari-hari.
"Ya sudahlah." Jacob kembali memeluk Alice dan mengusap punggungnya tapi dari matanya terpancar api kemarahan.
Sepertinya dia punya saingan sekarang dan dia tidak akan kalah, Alice Walker adalah miliknya! Jika sampai dia tahu siapa pria yang telah mencium Alice maka akan dia cincang sampai habis!
__ADS_1