
Alice tampak bersiap untuk melawan pegulat yang sedang berdiri didepannya, dia bernegosiasi kepada Lucas untuk melawan satu orang terlebih dahulu karena tadi Lucas memerintahkan kedua anak buahnya untuk langsung melawannya.
Jika dia harus sekaligus melawan kedua pegulat itu bisa-bisa dia mati, tadinya dia ingin langsung melawan Lucas tapi Lucas mengancamnya.
Alice tampak serius, semoga dia bisa merobohkan pegulat berbadan besar itu dengan cepat.
"Ayo sini maju nona."
"Always ladies first!!" cibir Alice.
Tapi dia harus cepat untuk menyelamatkan Marry dan Olivia, jika dia menunda terlalu lama dia takut Lucas memerintahkan anak buahnya untuk melakukan sesuatu terhadap mereka.
Alice mulai menendangi si pegulat tapi ditahan oleh si pegulat dengan lengan kekarnya, pegulat itu bahkan tertawa menghinanya.
Dengan kelincahan yang ada Alice kembali memukul wajah si pegulat dan berkat kelincahannya dia bisa menghindar dari tangkapan mantan pemain wwf itu.
Sepuluh menit telah berlalu nasib malang bagi Alice karena dia tertangkap oleh lawannya, dia tidak berdaya saat tubuhnya dibanting diatas lantai.
"Gubraak!!" Alice hanya bisa meringis menahan sakit dipungungnya tapi yang lebih mengerikan adalah? Sipegulat naik keatas tali ring dan melompat kearahnya yang masih tergeletak diatas lantai.
Dengan tenaga yang ada Alice segera berguling kesamping untuk menghindari tubuh pegulat yang hendak menimpanya, jika dia tidak menghindar maka habislah sudah.
Dia segera bangkit berdiri untuk melawan pegulat itu kembali dengan tendangan dan pukulan yang dia pelajari ditaekwondo.
Alice memukul dan menendang, tentu saja sasarannya wajah, perut dan dada orang yang dia lawan. Tapi pegulat itu? Seperti gorila yang sulit dia tumbangkan.
Bukan berarti dia tidak mendapat pukulan dari pegulat yang marah, saat dirinya tertangkap kembali, dia mendapat pukulan dan pegulat itu kembali membanting tubuhnya diatas lantai berkali-kali. Yang paling parah adalah, tangannya dipelintir kebelakang oleh pegulat yang sedang marah sampai Alice berteriak kesakitan.
Alice tidak berdaya dengan satu lengan yang sulit dia gerakkan, sedari tadi dia melawan satu pegulat itu selama berjam-jam, pegulat itu tumbang saat dia menendang selangkangannya. Pegulat itu langsung pingsan saat Alice menendang asetnya yang berharga, seharusnya dia melakukan hal itu sedari tadi dan sepertinya dia harus menendang sel***kangan pegulat yang satunya lagi saat dia melawannya supaya cepat menang.
Berberapa jam telah berlalu, Lucas tampak tersenyum dengan puas melihat dari tepat duduknya.
Itu adalah tempat duduk terbaik untuk menonton sebuah pertunjukkan,pertunjukkan gulat, tapi bukan gulat.
Diatas ring yang telah dipasang oleh anak buahnya tampak Alice sudah kewalahan sedangkan anak buahnya? Yang satunya sudah terkapar diatas ring sedangkan yang satunya lagi, baru naik keatas ring untuk melawan Alice.
Alice memegangi tangan kirinya yang terasa sakit, dia tidak bisa menggerakkan tangannya karena sakit yang luar biasa saat pegulat yang dia lawan memelintir tangannya.
__ADS_1
Dia berharap tangannya hanya keseleo dan tidak patah! Tapi tubuhnya sudah babak belur dan dia sudah kehabisan tenaga.
Dengan nafas terengah-engah Alice melihat pegulat yang baru naik keatas ring dan berdiri dihadapannya, ini adalah pertarungan yang paling sulit dia hadapi selama dia berlatih taekwondo.
Lucas tersenyum puas, ternyata aksi Alice Walker tidak buruk, dia bahkan bisa menumbangkan satu pegulat itu dengan tubuh kurusnya.
Tadi itu pertarungan yang sangat sengit dan menegangkan, seorang ahli taekwondo melawan seorang pegulat yang biasanya menjatuhkan lawan dengan cara membanting tubuh lawan keatas lantai.
Tapi dengan lincahnya, Alice menghindari pegulat yang dia lawan, setidaknya dia lebih gesit dari pria bertubuh besar dengan otot-otot yang mengerikan ditubuhnya.
"Bagaimana? Apa kau masih tidak mau menyerah?" Lucas bertanya padanya.
Alice tidak menjawab, dia masih berfokus pada pria berbadan besar didepannya. Jika dia bisa mengalahkan pria itu maka selanjutnya dia akan membunuh Lucas, membalas kematian keluarganya dan menyelamatkan Olivia juga Marry.
Tapi keadaan tubuhnya? Tidak dipungkiri dia sudah lelah dan tubuhnya terasa sakit luar biasa.
"Aku sudah mengalahkan satu anak buahmu jadi lepaskan sahabatku!" pinta Alice, dia masih memegangi tangannya yang yang tidak bisa dia gerakkan.
"Itu bukan masalah." Lucas bangkit berdiri dan berjalan kearah ring, dia berdiri disamping ring dan menatap Alice.
"Aku akan membebaskannya sekarang juga." dia berkata demikian karena dia tahu markasnya sudah diserang. Tidak perlu dia lihat dia pasti yakin markasnya sudah meledak bersama dengan Olivia Smith dan juga Jacob Smith.
Dia memang sengaja memisahkan sanderanya ketiga tempat tentu dia melakukan hal itu untuk membuat Jacob Smith sibuk. Dia tahu pria itu tidak mungkin mendatangi lokasinya saat ini dan dia yakin pria itu akan menyelamatkan adiknya terlebih dahulu. Lagi pula mana mungkin Jacob Smith bisa tahu lokasinya saat ini?
Dia memang sengaja membawa Alice kekota Bodie supaya Jacob tidak bisa menemukan Alice Walker dengan mudah karena jarak kota itu yang jauh, itu juga dia lakukan supaya pelayan pribadinya bisa menemukan penerbangan untuknya besok pagi untuk pulang ke Brazil.
Sekarang, dia akan membiarkan Alice kelelahan sambil menunggu matahari terbit karena saat ini sudah pukul tiga pagi, dia memang sengaja supaya Alice tidak bisa melawannya lagi nanti dan pada saat itu Alice tidak akan punya tenaga untuk melawannya saat dia membawa gadis itu ke Brazil.
Pada saat anak buahnya kembali dengan seorang pendeta dia akan menikahi Alice secara paksa, begitu mereka sudah selesai menikah dia akan membawa Alice dari kota mati itu untuk berangkat ke Brazil.
Lucas pura-pura mengambil ponselnya dan pura-pura memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Olivia, setelah itu dia kembali melihat kearah Alice.
"Tapi apa kau masih bisa mengalahkannya?" tanyanya.
Alice melihat pegulat yang masih tersisa, tubuhnya lebih besar dari yang tadi.
"Asal kau tahu, kau tidak akan bisa mengalahkannya hanya dengan menendang selangkangannya dan aku tidak ingin calon istriku mati ditangannya." katanya lagi.
__ADS_1
"Lebih baik aku mati dari pada aku menikah denganmu!!" jawab Alice dengan sinis.
"Sebaiknya kau pikirkan baik-baik perkataanmu karena masih ada seseorang ditanganku, jika kau mati ditangannya aku masih bisa menunggu gadis itu dewasa dan menikah dengannya."
"Apa?" Alice tidak percaya mendengarnya.
"Gadis itu masih polos, aku bisa mencuci otaknya."
"Jangan coba-coba kau! Setelah aku mengalahkan pria ini maka kau yang akan habisi selanjutnya!" geram Alice kesal.
Jika saja Lucas tidak mengancam akan membunuh Marry mungkin dia sudah memukul pria itu terlebih dahulu.
"Ha...ha..ha..ha...!! Aku sangat takut sampai merinding rasanya saat mendengar ancamanmu." ledek Lucas.
"Jangan remehkan aku!!" teriak Alice, dia hendak berjalan kearah Lucas tapi tiba-tiba saja Lucas mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Hei jangan lupa, nyawa gadis kecil itu ada ditanganku! Jika kau berani menyentuhku tanpa melawan dia maka aku akan memerintahkan orangku untuk menghabisinya." ancamnya.
"Kau hanya seorang ba*ci!!!" teriak Alice frustasi.
"Aku akan membuktikan apa aku b*nci atau tidak setelah ini, tapi setelah kau dapat melawannya untuk menyelamatkan keponakanmu karena kau tahu, jika kau tidak mengalahkannya maka keponakanmu mati dan aku akan tetap menikah denganmu."
"Kau pria paling ba**ngan yang pernah aku temui!!!"
"Ha....ha..ha...ha..!" ba**ngan inilah yang akan memuaskanmu diatas ranjang jadi cepatlah kau lawan dia sebelum matahari terbit jika sampai saat itu kau masih belum bisa mengalahkannya, kau tahukan apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Cih, seperti yang tadi aku juga akan mengalahkannya!!"
"Semoga kau berhasil dengan tubuhmu yang seperti ini."
Setelah berkata demikian Lucas memutar langkahnya tapi sebelum dia melangkahkan kakinya Lucas berpesan pada anak buahnya.
"Ingat jangan sampai kau bunuh calon istriku, kau cukup membuatnya lelah dan kehabisan tenaga saja!" perintahnya.
"Siap tuan!"
Lucas segera melangkah kembali kekursinya untuk menonton petunjukkan selanjutnya.
__ADS_1
Sebelum memulai pertarungan itu Alice memejamkan matanya dan berdoa dalam hati, semoga dia dapat mengalahkan pegulat itu dengan kondisinya saat ini.
Sedangkan diluar sana Jacob sedang memantau kota itu untuk melihat situasi yang ada bersama dengan Andrew dan anak buahnya.