
Hari yang dinantikan oleh keluarga Smithpun tiba, hari ini adalah hari yang telah mereka tunggu.
Setelah sibuk menyiapkan hari baik ini mereka semua berada disebuah kapal pesiar yang cukup besar, kapal pesiar itu bisa menampung enam ribu lebih penumpang.
Tidak hanya itu kapal pesiar yang mereka gunakan difasilitas dengan berbagai pilihan restoran sebanyak 18 buah, didalam kapal juga terdapat sebuah simulator skydiving dalam ruangan dan kapsul kaca berbentuk permata yang menjulang lebih dari 300 meter di udara yang memberi para penumpang pemandangan 360 derajat.
Ada pula Bionic Bar didalam kapal, di mana bartender robotlah yang menyiapkan koktail untuk semua para penumpang.
Tamu undangan tidak sembarangan bisa naik keatas kapal jika tidak menunjukkan kartu undangan yang didesain khusus oleh seorang perancang yang tentunya disetiap kotak undangan yang diterima para tamu undangan terdapat tiket untuk mengikuti kapal pesiar itu berlayar kebeberapa negara.
Mengenai souvenir yang pasti para tamu akan mendapatkan hadiah istimewa seperti pernikahan Samantha dulu karena memang dia yang memilih souvenirnya,anting berlian untuk para tamu wanita sedangkan penjepit dasi dari emas yang dihiasi berlian kecil diujungnya untuk para tamu laki-laki.
Mereka juga tidak sembarangan mengundang orang, semua keluarga besar keluarga Smith hadir diatas kapal itu, tidak saja rekan bisnis tapi para sahabat mereka juga turut diundang karena ini pernikahan paling bersejarah dikeluarga Smith.
Diatas kapal para tamu sudah hadir dan bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan, yah, tapi siapa yang berani mengomentari pernikahan bersejarah itu maka kepala mereka melayang karena disetiap sudut ruangan terdapat orang-orang yang berjaga-jaga supaya pernikahan itu dapat berjalan dengan lancar.
Sebuah ruangan yang ada didalam kapal juga sudah disulap sedemikian rupa untuk melangsungkan acara pernikahan itu dan seorang pendeta juga sudah disiapkan disana.
Kursi-kursi untuk para tamu juga tampak sudah rapi begitu juga dengan makanan, semua makanan tampak sudah terhidang ditempatnya dan pada saat kapal mulai berangkat maka pesta pernikahan itu akan langsung dimulai.
Didalam sebuah ruangan yang sudah disiapkan, tampak para wanita sedang sibuk mempersiapkan diri, tidak perlu khawatir karena mereka mendatangkan perias profesional untuk mendandani penampilan mereka.
Mereka tampak begitu bersemangat dari yang tua sampai yang muda, mereka sudah siap dengan gaun pilihan mereka begitu juga dengan Alice.
Hari ini hari paling membahagiakan dalam hidupnya karena sebentar lagi dia akan menjadi istri Jacob, dia sudah tidak sabar menantikannya walaupun pernikahan mereka akan menjadi pernikahan paling kontroversial atau akan menjadi pernikahan paling bersejarah yang pernah ada.
Seharusnya mereka memanggil perwakilan Guinness Word Record supaya pernikahan mereka dicatat dan mendapat penghargaan.
"Hei Alice, ini hari pernikahanmu, kau harus semangat."
Olivia mendekati Alice dan memegangi bahunya, begitu juga dengan Amanda, dia juga mendekati Alice sambil tersenyum.
"Thanks, ini hari bahagia untuk kita semua."
"Jangan pikirkan kami, kami hanya pemanis, okay?" ujar Olivia.
"Hei Alice, apa kau sudah siap? Aku sudah menyiapkan obat encok untukmu." goda Amanda.
"Benar, aku juga sudah menyiapkannya dan?"
Olivia tersenyum dengan usil begitu juga dengan Amanda, mereka mendekati Alice sambil berbisik:
__ADS_1
"Saat malam pertama jangan sampai pingsan ya." bisik mereka secara bersamaan.
"Hei apa-apaan? Memangnya akan pingsan saat melakukan itu?" tanya Alice tidak percaya.
"Ya, gitu deh!"
Setelah menjawab demikian Olivia dan Amanda berjalan pergi sambil tertawa sedangkan Alice melihat kepergian mereka sambil berkata dalam hati.
"Dasar ingin menakutiku saja!"
Saat acara pernikahan telah dimulai mereka tampak bersiap-siap untuk menuju ruangan pesta, Marry tampak berdiri disamping Alice dan memegangi tangannya, gadis itu juga tampak begitu senang.
Saat suara music mulai terdengar diluar sana mereka segera keluar dari ruangan itu secara bersama-sama dengan buket bunga ditangan mereka masing-masing dan berjalan menuju ruangan pesta akan digelar.
Mereka berjalan dengan pelan mengikuti langkah Xiau Yu sedangkan Samantha menggandeng tangan ibu mertuanya menuju Altar, ya sesuai ide hari ini adalah hari dimana keluarga Smith menikah masal tapi Silvia tidak mau ikutan, dia cukup jadi penonton saja dengan keluarganya.
Didepan altar yang sudah disiapkan tampak lima orang pria sudah menunggu para pengantin mereka dengan seorang pendeta yang tampak kebingungan, apa-apaan ini?
Kenapa tidak ada yang mengatakan jika dia haru menikahkan lima pengantin sekaligus? Ini benar-benar gila, mungkin mereka yang gila.
Saat para pengantin wanita sudah berdiri didepan altar pendeta itu melihat pasangan pengantin satu persatu dengan frustasi.
"Ya Tuhan, apakah ada yang mau menampar aku supaya aku bisa bangun dari mimpi gila ini?" tanyanya dalam hati.
"Oh Tuhan, dunia ini sudah tua." gumamnya lagi.
Tapi kemudian pendeta itu melihat kearah Alice dan Jacob, oke baiklah inilah pengantin sesungguhnya dan abaikan yang lainnya.
Untungnya Marry ada bersama dengan Jane kalau tidak pendeta itu akan semakin frustasi.
"Hmm..apa kita bisa mulai acara ini?" tanya pendeta itu.
"Tentu." jawab mereka secara serempak.
"Jadi kalian satu keluarga?" tanya pendeta itu lagi.
"Yes." jawab mereka secara serempak.
"Apa ada yang masih belum bergabung?" pendeta itu bertanya lagi.
Semua mata langsung menatap Silvia yang tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Hei aku tidak mau mengikuti kegialaan kalian!" tolak Silvia dengan cepat.
"Oke baiklah kalau begitu, ayo kita mulai karena aku ingin segera turun dari kapal." kata pendeta itu, untuk seumur hidupnya baru kali ini dia menikahkan pengantin yang isinya satu keluarga dan pengantinnya dari yang muda sampai yang tua.
Pendeta itu mulai membacakan janji pernikahan untuk kelima pengantin yang berdiri didepannya.
"Baiklah, untuk semua pengantin yang ada disini, apakah kalian bersedia menerima pasangan kalian dalam suka maupun duka?" tanyanya.
"Kami bersedia." jawab mereka secara serempak.
"Singkat saja, kalau begitu?" perkataan pendeta itu tertahan karena Jacob mengangkat tangannya menghentikan perkataan pendeta itu.
Jacob menghampiri pendeta dan memberikan sebuah kertas padanya, setelah itu dia kembali kesisi Alice sedangkan semua mata tertuju padanya.
"Hei Jac-Jac, apa yang kau berikan pada pendeta itu?" bisik Alice pelan.
"Ikuti saja honey."
Pendeta itu berdehem pelan dan kembali berkata:
"Baiklah karena pernikahan ini diadakan satu keluarga untuk menebus dosa lama dari sumbernya jadi diharapkan setelah ini generasi berikutnya tidak mengalami hal buruk dalam percintaan/kutukan lagi." pendeta itu berkata demikian sambil membaca tulisan dikertas yang diberikan Jacob untuknya.
"Jac-Jac!!" Michael Smith dan Jhon melotot pada Jacob.
"Hei ini supaya anakku nanti tidak mengalami percintaan tragis lagi." jawab Jacob dengan santai.
"Kau ya!!"
"Jadi sana, sekarang giliranku dengan Alice dan inilah pernikahan yang sesunguhnya."
"Oke baiklah, karena ini memang hari pernikahanmu." ujar ayahnya.
"Bagus, jadi lanjutkan."
Pendeta itu hanya mengeleng dengan tingkah keluarga yang aneh, tapi kemudian dia mulai memberikan pertanyaan kepada pengantin yang sesungguhnya.
Alice menjawab dengan yakin saat pendeta bertanya padanya begitu juga dengan Jacob, mereka bersumpah untuk menjadi suami istri tanpa keraguan.
Jacob memakaikan cincin berlian dijari manis Alice begitu juga dengan Alice, dia juga memakaikan cincin dijari Jacob, Setelah mereka saling bertukar cincin Jacob menciumi bibir Alice dengan mesra sambil berbisik.
"I love you my honey."
__ADS_1
"I love you too, my hubby."
Mereka kembali berciuman sedangkan tepuk tangan terdengar dari para tamu undangan sebagai ucapan Selamat untuk mereka berdua.